Archive for the lost word

Ketika Hujan di Kotamu

Posted in Sajak with tags , , , , , on October 18, 2016 by mr.f

ketika-di-kotamu-hujan

Kudengar kotamu mulai disapu hujan.
Sebentar lagi akan kulihat gerutumu di sela-sela nada sendu yang mengantarmu dekat pada dirimu yang sejujurnya.
Juga menjauh dari remah-remah rindu yang ditabu sekian lama.
Hujan menjelma bait-bait penanda kenangan yang telah larut.
Aku di sini melamunkan hujanmu di sana.
Hidupku separuhnya bersisa di kota itu.
Sedalam-dalamnya bekas luka yang patah dan tumbuh seiring musim berganti,
aku masih ingin berteduh disana.
Tetapi nadiku dialiri darah yang juga mungkin dari tumpahan hujan di kota itu,
pada dahulu.

Maka jangan turutkan dirimu membenci hujan yang tulus membumi.
Akan kuiring banyak doa ke langit tujuh moga moga hujan turun di waktu kamu ingin dirimu bersyukur.
Hiruplah dalam dalam semua senyawa di udara,
agar kau tau napasmu dicipta bersama tak bisa tanpa hujan.
Aku di sisi seberang dimana manusia juga suka menggerutu kepada hujan,
sama di kotamu.
Bahkan terdengar lebih sadis saat gerutu dibubuhi makian pedas,
mungkin semacam protes kepada Tuhan yang dianggap tidak adil membagi dingin dan panas.
Tetapi manusia disini dan di kotamu sama-sama ada yang menadah hujan.

Hujan tak boleh sampai ke tanah.
Sebab-sebab yang begitu beberapa orang ingin basah oleh air langit.
Panas tak cukup,
juga hujan dekat dengan banyak hal yang harus dipeluk.

 

~Kampung Bamana di hujan yang lama bulan september

Advertisements

Kakak Beradik yang Sibuk

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , , , on September 12, 2016 by mr.f

kakak-beradik-yang-sibuk

Masihkah kita saling mengenal dengan cara seperti ini. Kakak beradik yang sudah lama tak saling berkabar. Semoga cara seperti inilah yang baik, yang terpenting masih ada nama kita masing-masing manakala kita sedang berhadap memohon kebaikan paling baik kepada diri sendiri, muslim lain, dan juga kepada seluruh manusia.

Kita telah lama memang berjarak. Sibuknya masing-masing diri membenahi perjalanan ke masa depan. Keakraban bukan lagi milik kita. Tak pernah lagi juga kujumpai tulisan-tulisan terbaru di tempatmu menulisnya yang tidak banyak orang membacanya. Aku mungkin saja sudah tidak mengenalmu yang sekarang tanpa tulisanmu. Sebab cara kita menghadapi tantangan tidak sama. Saya masih suka membuat tulisan kamuflase dan cerita-cerita semata untuk keperluan mengisi blog atau juga kadang sedang iseng dengan imajinasi.

Ah kamu mungkin sudah tidak perlu lagi dengan keakraban yang kumaksud. Toh hidup masing-masing tanpa berkabar dan akrab juga berjalan baik. Bahagia masih nampak di wajah yang teraplot di beranda sosial media. Hanya aku saja yang posesif dengan kata keakraban masa lalu yang sebenarnya juga mungkin hanya aku saja yang merasa akrab.

Tapi aku masih boleh tersenyum mengingat-ngingat banyak juga hal lucu yang terlewati. Jika aku yang benar tentang prasangka-prasangka, mungkin kita sudah boleh tersorot pembicaraan orang lain. Walau kita bukan siapa-siapa. Tapi dulu lain ceritanya, saat aku merasa akrab. Semua berlalu dengan baik sebagai kakak beradik.

Cerita-cerita lama yang kalau aku himpun cukup panjang sebagai seorang yang menolak galau dan menganggap menulislah ajang pelampiasan banyak kata-kata yang akan hilang sirna. Aku yang pemalu pada dunia memilih mengenalmu dengan cara menulis, itu dahulu. Tetapi kenapa pula, aku yang menulis lalu aku bisa mengenalmu. Tentu itu cara aku berharap tulisan akan bersambut dengan kabarmu yang terbaru. Aku menikmati yang dulu-dulu itu, ya semoga kamu juga, aku sebagai kakak beradik.

Yang kini sedang aku lakukan tidak lain juga hanyalah bukti bahwa kamu masih memiliki ruang dalam ingatanku. Aku boleh jadi tidaklah orang yang berperasaan tetapi aku tidaklah orang yang gampang melupakan. Semoga jalan di hadapan kita masing diterangi Tuhan dengan keberkahan, dan sampai kapan saja aku tetaplah pernah menjadi kakak beradikmu.