Archive for pulau balikukup

SHS (Solar Home System) yang Berumur Pendek

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, lomba blog, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , on August 19, 2017 by mr.f

Di pulau ini, pemandangan modul surya di atap rumah adalah pemandangan lazim. Karena Pulau Balikukup terkategori sebagai pulau kecil terluar, maka wajar saja pulau ini sudah beberapa kali menerima bantuan Solar Home System (SHS) atau pembangkit listrik standing alone. Pulau Balikukup sendiri adalah pulau kecil padat penduduk, dengan luas daratan pulau kurang lebih 15 ha yang kemudian dihuni oleh lebih dari seribu penduduk. Ada sekitar 334 unit bangunan yang berdiri di pulau ini, dan lebih dari separuhnya berada di jalur hijau atau di atas pantai. Pulau Balikukup berada cukup jauh dari daratan terdekat, sekitar 32 mil laut jauhnya dari daratan yang menjadi pusat kecamatan.

Tentu saja PLN tidak mampu menjangkau pulau ini dengan alasan apapun, termasuk hitungan kalkulasi ekonomis atau nilai komersial dari listrik yang akan dijual ke masyarakat pulau. Maka pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti energi matahari adalah jalan yang dinilai paling tepat untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia di pulau ini. Solar Home System atau SHS adalah jenis pembangkit listrik yang biasanya ditujukan ke kampung-kampung yang letak rumah atau bangunan terpaut jarak yang begitu jauh atau kampung-kampung yang dengan jumlah bangunan rumah tidak begitu banyak. SHS dipasang di masing-masing rumah atau standing alone dengan komponen yang umum adalah modul surya dengan kapasitas penyerapan energi di bawah 200 wattpeak, aki atau baterainya berkapasitas dibawa 100 Ah, dan kemudian dilengkapi dengan Solar Charge Controller (SCC) atau system kendali pengisian baterai dan juga tentunya adalah instalasi rumah berstandar nasional. Kemudian tentu saja arus listriknya masih menggunakan arus DC (direct current).

Di Pulau Balikukup, rumah yang terpasang SHS sudah berjumlah puluhan namun yang masih beroperasi normal hingga sekarang dapat dihitung jari. Salah satu rumah yang keseluruhan komponennya masih berfungsi dengan baik ada di rumah Ketua RT 02, Pak Wahyan. Pak Wahyan sendiri sangat menyayangkan bantuan dari pemerintah itu tidak mampu dirawat baik oleh warganya. Dalam satu kesempatan, Pak Wahyan menuturkan bahwa ada beberapa warganya yang justru menjual modul suryanya ketika sudah merasa SHS tersebut tidak mampu berfungsi optimal. Sungguh situasi seperti ini bukanlah menjadi kabar yang baik untuk si pemberi bantuan.

Akan tetapi mari kita telusuri beberapa gejala yang mungkin saja menjadi penyebab aksi jual menjual bantuan ini. Situasi pertama adalah terdapat pada persoalan data penerima bantuan. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi kampung-kampung pedalaman, bahwa sistem data base kampung sangatlah amburadul. Tidak adanya database yang menjadi pangkalan data bagi kampung dalam membuat dan menerapkan kebijakan menyebabkan setiap stakeholder atau aparatur kampung masing-masing memiliki data yang berbeda untuk persoalan yang sama. Situasi pertama ini adalah indikasi terjadinya nepotisme dalam pelaksanaan suatu kegiatan, projek atau bantuan.

Di Kampung Pulau Balikukup, situasi pertama ini tidak mampu kita menutup mata untuk menyaksikannya. Penerima-penerima bantuan SHS kebanyakan tidak lagi berdasarkan kondisi ekonomi rumah dalam hal memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari atau berdasarkan data sosial ekonomi, melainkan para penerima SHS adalah rumah-rumah yang memiliki kedekatan secara personal dengan aparat penentu penerima bantuan.

Situasi selanjutnya adalah tidak meratanya pengetahuan para penerima bantuan dalam hal perawatan dan cara mengoptimalkan fungsi SHS dengan baik. Rendahnya pemahaman terhadap sistem SHS menyebabkan kebanyakan SHS berumur pendek. Bahkan hanya dalam hitungan bulan saja, fungsi aki atau baterai sudah tidak baik lagi. Para penerima bantuan selalu bermental bahwa bantuan yang diberikan adalah bantuan yang tidak lagi perlu untuk dipelihara. Dan yang berhak mengetahui cara memelihara barang-barang bantuan adalah hanya dari para enjiner dari luar pulau yang biasanya dari Jakarta atau Bandung.

Kemudian situasi yang lain yang turut membuat SHS menjadi bantuan berumur pendek adalah mutu atau kualitas barang yang didatangkan. Dua komponen SHS yang paling rentan atau paling cepat rusak di tangan penerima adalah aki dan SCC-nya. Padahal di kedua komponen inilah justru menentukan umur pakai SHS. Rendahnya kualitas aki dan dipadu dengan mental merawat yang tidak baik, maka jadilah SHS menjadi sebuah prasasti di dalam rumah.

Ada juga kondisi yang menentukan optimal atau tidaknya SHS beroperasi adalah kondisi cuaca atau faktor alam. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sumber energi dari SHS adalah dari alam atau dari matahari. Bila alam tidak bersahabat maka tentu bisa saja mengakibatkan SHS tidak memberikan kepuasan bagi pemilik rumah. Seperti contoh di Pulau Balikukup, justru intensitas matahari begitu tinggi, sehingga bila komponen SCC yang bermasalah dan tidak bermutu baik, maka bisa dipastikan aki atau baterai juga akan cepat jebol.

Kesemua situasi tersebut dapat ditemui di Pulau Balikukup. SHS berumur pendek dan berujung dengan aksi jual menjual. Komponen yang semula bermasalah hanya SCC-nya mengkibatkan aki juga turut bermasalah. Namun tidak juga kita bisa menyudutkan satu pihak saja, semisal penerima SHS, sebab di tempat terluar seperti di Pulau Balikukup ini, ada banyak sekali keinginan yang terbatasi oleh lautan. Mungkin bisa saja, komponen yang rusak tersebut diperbaiki, namun karena akses ke pusat kota sangat tidak terjangkau, membuat rasa malas meningkat dan terjadilah kerusakan-kerusakan di komponen lain. Selanjutnya bila SHS sudah menjadi prasasti di dalam rumah, maka mungkin dirasa ada baiknya untuk menjual modul suryanya.

Beruntungnya di Pulau Balikukup, pada tahun 2017 ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bermurah hati membangun fasilitas  Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dengan kapasitas 100 Kwp, sehingga kabar tidak mengenakkan tentang SHS ini bisa teredam. Di lain postingan akan saya gunakan untuk menceritakan pengalaman saya mensosialisasikan sistem PLTS.

Ditulis di Pulau Balikukup, 19 Agustus 2017

#15HariCeritaEnergi

Gambar: dokumentasi pribadi

Mimpi Anak-Anak Pulau

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Patriot Negeri with tags , , , , , on June 18, 2017 by mr.f

Berkaca mata Sela ketika tau dia dapat video sapaan dari luar negeri. Bocah kelas 5 SD di pulau ini punya mimpi menjadi seorang polisi wanita yang sukses.

Katanya, “aku ingin keliling dunia, kalau aku sukses nanti”.

Satu teman di samping duduknya membenarkan, “iyya, makanya kamu harus jadi polwan biar bisa keliling dunia”.

Teman duduknya melanjutkan, “aku saja yang tidak dapat video dari kakak di luar negeri, harus bisa meraih cita-cita, apalagi kamu dapat video dari Australia”.

Percakapan ini saya dengar ketika dua bocah SD ini selesai mengintip folder video sapaan yang saya koleksi dari beberapa Negara untuk memotivasi dan menginspirasi anak-anak di Pulau Balikukup.

Sela hanya satu dari puluhan anak pulau yang masih memiliki mimpi besar dalam hidupnya, menjadi polwan. Selainnya, anak-anak pulau merasa tidak perlu tau apa cita-cita mereka sendiri. Cita-cita tidak lebih hanyalah bahasa kiasan yang basa-basi dalam percakapan orang dewasa kepada anak yang masih bersekolah. Sebab, tak pernah ada pertanyaan cita-cita kepada bocah yang patah pensil.

Mimpi anak pulau adalah mimpi profesi yang lazim bagi bocah-bocah. Menjadi polisi, dokter, TNI, guru, dan sebagainya. Untung disini, dari 19 bocah yang menyetor mimpinya, tak ada bocah yang berminat menjadi pilot. Sebab jika itu hal itu terjadi, berarti pola pengenalan tentang cita-cita dan dunia mimpi di jenjang pendidikan dasar belum bergeser sejak puluhan tahun yang lalu. Saya dulu termasuk korban, bocah yang percaya bahwa hidup di masa depan (yang saya alami saat ini) hanya indah dengan menjadi profesional profesional di buku baku bahan bacaan guru, karena itulah, sekali saya pernah bermimpi menjadi pilot.

Kembali ke mimpi anak-anak pulau. Sangat penting untuk merawat dan membantu mewujudkannya. Pun kita sendiri mungkin tidak sedang berjalan menuju mimpi ideal kita. Tetapi jangan sampai, anak-anak pulau atau bahkan orang-orang di sekitar kita bertumbuh menjalani hidup tanpa punya visi dan mimpi yang mereka tuju.

Laut yang mereka lihat sehari-hari bisa saja telah menjadi kontrol diri bagi anak-anak pulau. Bahwa mimpi mereka terbatasi oleh lautan dan sekolah hanya mungkin mengantar mereka sampai pada gerbang pengetahuan saja. Setelah tahu berbagai ilmu dasar kehidupan, mereka berhak lupa dan tidak menyadari bahwa dari sekolah yang kemudian memiliki pengetahuan itulah yang akan menjadi titian untuk bisa meraih mimpi-mimpi besar di masa kecil mereka.

Satu situasi yang mewajarkan pikiran anak-anak pulau ini untuk acuh pada mimpi adalah anak-anak pulau ini tidak memiliki role model dari pendahulunya. Cita-cita yang mereka tulis itu rata-rata adalah cita-cita yang sampai saat ini belum ada orang pulau yang mewujudkannya. Mental anak pulau ini seakan terselubung oleh lautan, sehingga sungguh butuh pendobrak untuk memperlihatkan betapa besar kemungkinan anak-anak pulau ini bisa mewujudkan mimpinya. Dan tidak perlu mengutarakan argumentasi kuno, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini selagi ada kemauan. Sebab, kemauan sendiri telah menjadi ketidakmungkinan bagi sebagian anak pulau yang mimpinya belum tumbuh bahkan belum mereka tahu.

Karena itulah, berbagai jurus untuk mengenalkan betapa tidak terbatasnya dunia mimpi bagi anak-anak pulau harus diterapkan di sini. Lewat kiriman video-video motivasi dan inspirasi mimpi yang sedang saya kumpulkan dari berbagai kawan di lintas benua semoga bukanlah hal sia-sia bagi anak-anak pulau. Lewat inisiasi projek video lintas benua ini pula sekaligus saya meluncurkan gagasan turunan untuk #melawanpatahpensil di Pulau Balikukup.

#15HariMenulis

Gambar; dokumentasi pribadi