Archive for pulau balikukup

Melebur Apatisme

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, lomba blog, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , , , , on August 29, 2017 by mr.f

Ribuan pendar bintang menghias langit di atas Pulau Balikukup. Suara ombak dan suara mesin diesel bersaing mengambil tempat di ruang dengar manusia. Saat-saat ketika saya mulai membuka sosialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 100 Kwp dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, saya terlebih dahulu mengajak seluruh masyarakat yang datang di lokasi sosialisasi untuk memanjatkan puji syukur yang terukur atas karunia Tuhan pada Pulau Balikukup. Walau jumlah masyarakat tidak mampu saya kalkulasi sebab  lokasi sosialisasi di lakukan di tempat outdoor, tetapi saya menyakini banyak mata dan telinga yang diam-diam tak terlacak oleh mata saya turut menyimak materi sosialisasi pada malam itu.

Persiapan mental dan penyebarluasan informasi sebelum PLTS beroperasi sangat penting dilaksanakan dalam pembangunan suatu proyek atau fasilitas negara  yang akan dinikmati oleh masyarakat sendiri, sebagai bagian dari skema untuk keberlanjutan fasilitas tersebut dan demi tercapainya tujuan mulia melihat masyarakat di tempat-tempat terisolir mampu memahami hakikat dari sebuah pembangunan fasilitas pembangkit listrik dan demi terwujudnya keberdayaan masyarakat di bidang energi.

Sosialisasi yang saya lakukan di Pulau Balikukup didesain dengan nuansa nonformal di masing-masing RT, kecuali di RT 02 yang saya buat menjadi dua malam sosialisasi di tempat berbeda. Hal itu dilakukan untuk memaksimalkan penyerapan informasi dasar tentang PLTS Terpusat kepada masyarakat dan juga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dalam sosialisasi tersebut. Tentu saja modul surya bukan lagi hal baru bagi masyarakat pulau sebagaimana yang telah saya uraikan di tulisan saya yang dulu tentang SHS yang berumur pendek. Namun modul surya yang akan menjadi media terserapnya energi matahari pada PLTS Terpusat offgrid berbeda dengan SHS yang telah lazim mereka ketahui.

Terutama pada poin perawatan yang harus dilakukan bersama-sama dan dikontrol juga secara bersama-sama. Saya menjadi lebih bersyukur ketika menyaksikan sendiri respon masyarakat yang  begitu antusias menyimak materi sosialisasi dan keinginan merawat fasilitas pembangkit listrik yang akan segera terbangun di ujung pulau. Tentu saja terjadi komunikasi dan interaksi pada saat sosialisasi berjalan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terprediksi juga disampaikan langsung oleh masyarakat.

Beberapa pertanyaan yang umumnya muncul ketika sosialisasi PLTS Terpusat selalu menyangkut tentang besarnya daya yang diterima oleh masing-masing rumah. Pertanyaan tentang skema pembagian listrik juga tak ketinggalan ditanyakan oleh masyarakat pulau. Apa syarat rumah yang akan dialirkan listrik PLTS, apakah ada uang harus dibayarkan kepada pemasang instalasi rumah, bagaimana jika masyarakat ingin menambah daya karena volume rumah bertambah, dan masih banyak sekali pertanyaan yang memang wajar tersampaikan di acara sosialisasi tersebut.

Akan tetapi di saat-saat sosialisasi PLTS Terpusat tersebut setelah satu persatu pertanyaan masyarakat terjawab saya kemudian banyak menekankan akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan PLTS Terpusat tersebut. Masyarakat pulau harus menyumbangkan sedikit banyak energinya untuk bergotong royong pada pembangunan fasilitas pembangkit tersebut. Partisipasi masyarakat sangatlah diharapkan untuk menciptakan sense of belonging pada fasilitas apa saja yang akan dibangun di kampung. Sebab kecenderungan pola pembangunan fasiitas selama ini banyak terjadi dengan metode top down, dimana ada kegiatan yang diprogramkan oleh pemerintah dan masyarakat tidak terlibat sedikitpun dalam prosesi pembangunan tersebut, dan akhirnya masyarakat menjadi apatis dan bahkan oportunis pada setiap program yang dikerjakan oleh pemerintah. Sesungguhnya mental proyek masyarakat  atau mengharap bantuan itu diciptakan oleh pemerintah sendiri. Pola-pola pemberdayaan masyarakat tidak diterapkan oleh program-program yang dicanangkan dan yang dilaksanakan oleh pemerintah di kampung-kampung.

Seyogiyanya, setiap program pembangunan haruslah mengacu pada keinginan masyarakat atau bottom up. Kalaupun ternyata tidak semua program harus bottom up, maka pola-pola persiapan mental sebelum program dijalankan haruslah dikerjakan terlebih dulu. Kesemuanya untuk melihat keberlanjutan atau sustainibility dari program yang dilaksanakan. Sebab jika program tidak dilakukan dengan pola bottom up atau tidak dilakukan persiapan mental, maka tunggu saja umur pakai dari fasilitas atau umur porgram tersebut akan sangat pendek.

Cukup sudah beberapa contoh kasus yang ada di depan mata masyarakat Pulau Balikukup. Fasilitas pemancar jaringan selular di tengah pulau yang usianya hanya hitungan bulan  dan kini menjadi prasasti atau bukti sejarah akan pernah adanya program pembangunan menara pemancar jaringan selular di Pulau Balikukup. Padahal jaringan selular adalah salah satu kebutuhan masyarakat pulau untuk memenuhi tuntutan komunikasi dan informasi yang semakin hari semakin mendesak. Kegagalan masa lalu selalu layak menjadi guru yang baik untuk menapaki masa depan.

Sehingga tahapan sosialisasi dan agitasi untuk menciptakan mental merawat dan mengelola bersama fasilitas negara atau fasilitas kampung memiliki peran yang mendasar untuk menciptakan keberdayaan kampung memenuhi apa saja jenis kebutuhan masyarakatnya. Pada sosialisasi yang empat kali saya laksanakan di Pulau Balikukup, tentu saja penekanan akan pentingnya masyarakat sendiri yang saling mengontrol dan merawat listrik dari PLTS Terpusat ini saya ulang beberapa kali dan semoga bisa menjadi retensi dan berbekas di long term memory  masyarakat pulau.

Sesungguhnya semua kampung memiliki potensi yang sama untuk menjaga dan merawat fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Hanya saja banyak diantara kampung-kampung menerima bantuan secara simultan dan kemudian lahirlah mental manja pada masyarakatnya. Apatisme adalah musuh terberat pada semua program pemerintah yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Tetapi apatisme ternyata dilahirkan secara tidak sadar oleh pemerintah sendiri. Semoga di Pulau Balikukup ini, sikap apatis dan oportunis itu bisa perlahan melebur dalam setiap agenda gotong royong yang dilaksanakan selama masa pembangunan PLTS Terpusat.

Ditulis di Pulau Balikukup, Kalimantan Timur pada akhir bulan agustus 2017.

#15HariCeritaEnergi

 

Advertisements

SHS (Solar Home System) yang Berumur Pendek

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, lomba blog, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , on August 19, 2017 by mr.f

Di pulau ini, pemandangan modul surya di atap rumah adalah pemandangan lazim. Karena Pulau Balikukup terkategori sebagai pulau kecil terluar, maka wajar saja pulau ini sudah beberapa kali menerima bantuan Solar Home System (SHS) atau pembangkit listrik standing alone. Pulau Balikukup sendiri adalah pulau kecil padat penduduk, dengan luas daratan pulau kurang lebih 15 ha yang kemudian dihuni oleh lebih dari seribu penduduk. Ada sekitar 334 unit bangunan yang berdiri di pulau ini, dan lebih dari separuhnya berada di jalur hijau atau di atas pantai. Pulau Balikukup berada cukup jauh dari daratan terdekat, sekitar 32 mil laut jauhnya dari daratan yang menjadi pusat kecamatan.

Tentu saja PLN tidak mampu menjangkau pulau ini dengan alasan apapun, termasuk hitungan kalkulasi ekonomis atau nilai komersial dari listrik yang akan dijual ke masyarakat pulau. Maka pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti energi matahari adalah jalan yang dinilai paling tepat untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia di pulau ini. Solar Home System atau SHS adalah jenis pembangkit listrik yang biasanya ditujukan ke kampung-kampung yang letak rumah atau bangunan terpaut jarak yang begitu jauh atau kampung-kampung yang dengan jumlah bangunan rumah tidak begitu banyak. SHS dipasang di masing-masing rumah atau standing alone dengan komponen yang umum adalah modul surya dengan kapasitas penyerapan energi di bawah 200 wattpeak, aki atau baterainya berkapasitas dibawa 100 Ah, dan kemudian dilengkapi dengan Solar Charge Controller (SCC) atau system kendali pengisian baterai dan juga tentunya adalah instalasi rumah berstandar nasional. Kemudian tentu saja arus listriknya masih menggunakan arus DC (direct current).

Di Pulau Balikukup, rumah yang terpasang SHS sudah berjumlah puluhan namun yang masih beroperasi normal hingga sekarang dapat dihitung jari. Salah satu rumah yang keseluruhan komponennya masih berfungsi dengan baik ada di rumah Ketua RT 02, Pak Wahyan. Pak Wahyan sendiri sangat menyayangkan bantuan dari pemerintah itu tidak mampu dirawat baik oleh warganya. Dalam satu kesempatan, Pak Wahyan menuturkan bahwa ada beberapa warganya yang justru menjual modul suryanya ketika sudah merasa SHS tersebut tidak mampu berfungsi optimal. Sungguh situasi seperti ini bukanlah menjadi kabar yang baik untuk si pemberi bantuan.

Akan tetapi mari kita telusuri beberapa gejala yang mungkin saja menjadi penyebab aksi jual menjual bantuan ini. Situasi pertama adalah terdapat pada persoalan data penerima bantuan. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi kampung-kampung pedalaman, bahwa sistem data base kampung sangatlah amburadul. Tidak adanya database yang menjadi pangkalan data bagi kampung dalam membuat dan menerapkan kebijakan menyebabkan setiap stakeholder atau aparatur kampung masing-masing memiliki data yang berbeda untuk persoalan yang sama. Situasi pertama ini adalah indikasi terjadinya nepotisme dalam pelaksanaan suatu kegiatan, projek atau bantuan.

Di Kampung Pulau Balikukup, situasi pertama ini tidak mampu kita menutup mata untuk menyaksikannya. Penerima-penerima bantuan SHS kebanyakan tidak lagi berdasarkan kondisi ekonomi rumah dalam hal memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari atau berdasarkan data sosial ekonomi, melainkan para penerima SHS adalah rumah-rumah yang memiliki kedekatan secara personal dengan aparat penentu penerima bantuan.

Situasi selanjutnya adalah tidak meratanya pengetahuan para penerima bantuan dalam hal perawatan dan cara mengoptimalkan fungsi SHS dengan baik. Rendahnya pemahaman terhadap sistem SHS menyebabkan kebanyakan SHS berumur pendek. Bahkan hanya dalam hitungan bulan saja, fungsi aki atau baterai sudah tidak baik lagi. Para penerima bantuan selalu bermental bahwa bantuan yang diberikan adalah bantuan yang tidak lagi perlu untuk dipelihara. Dan yang berhak mengetahui cara memelihara barang-barang bantuan adalah hanya dari para enjiner dari luar pulau yang biasanya dari Jakarta atau Bandung.

Kemudian situasi yang lain yang turut membuat SHS menjadi bantuan berumur pendek adalah mutu atau kualitas barang yang didatangkan. Dua komponen SHS yang paling rentan atau paling cepat rusak di tangan penerima adalah aki dan SCC-nya. Padahal di kedua komponen inilah justru menentukan umur pakai SHS. Rendahnya kualitas aki dan dipadu dengan mental merawat yang tidak baik, maka jadilah SHS menjadi sebuah prasasti di dalam rumah.

Ada juga kondisi yang menentukan optimal atau tidaknya SHS beroperasi adalah kondisi cuaca atau faktor alam. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sumber energi dari SHS adalah dari alam atau dari matahari. Bila alam tidak bersahabat maka tentu bisa saja mengakibatkan SHS tidak memberikan kepuasan bagi pemilik rumah. Seperti contoh di Pulau Balikukup, justru intensitas matahari begitu tinggi, sehingga bila komponen SCC yang bermasalah dan tidak bermutu baik, maka bisa dipastikan aki atau baterai juga akan cepat jebol.

Kesemua situasi tersebut dapat ditemui di Pulau Balikukup. SHS berumur pendek dan berujung dengan aksi jual menjual. Komponen yang semula bermasalah hanya SCC-nya mengkibatkan aki juga turut bermasalah. Namun tidak juga kita bisa menyudutkan satu pihak saja, semisal penerima SHS, sebab di tempat terluar seperti di Pulau Balikukup ini, ada banyak sekali keinginan yang terbatasi oleh lautan. Mungkin bisa saja, komponen yang rusak tersebut diperbaiki, namun karena akses ke pusat kota sangat tidak terjangkau, membuat rasa malas meningkat dan terjadilah kerusakan-kerusakan di komponen lain. Selanjutnya bila SHS sudah menjadi prasasti di dalam rumah, maka mungkin dirasa ada baiknya untuk menjual modul suryanya.

Beruntungnya di Pulau Balikukup, pada tahun 2017 ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bermurah hati membangun fasilitas  Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dengan kapasitas 100 Kwp, sehingga kabar tidak mengenakkan tentang SHS ini bisa teredam. Di lain postingan akan saya gunakan untuk menceritakan pengalaman saya mensosialisasikan sistem PLTS.

Ditulis di Pulau Balikukup, 19 Agustus 2017

#15HariCeritaEnergi

Gambar: dokumentasi pribadi