Archive for marufmnoor

Apologi Hari Ketujuh

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, Feature, Patriot Negeri with tags , , , , on June 17, 2017 by mr.f

Tidak ada yang boleh memastikan masa depan selain kenyataan. Orang boleh punya ambisi yang besar bahkan punya kuasa untuk menaklukkan hari esok, tapi tidak lebih sebatas keinginan saja. Seperti lazimnya pepatah, yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift.

Ketika saya menyakini kekuatan saya untuk mampu mengikuti tantangan #15HariMenulis ini, saya mengesampingkan semua halangan. Tiga hari berturut saya menjadi yang pertama menyelesaikan tulisan dari sembilan blogger tersisa. Namun kemudian kemarin, akhirnya tertinggal satu postingan di hari ketujuh.

Kendala teknis selalu bisa menjadi kambing hitam seorang blogger. Tapi mental dan stuck-nya inspirasi bisa lebih menghentikan suatu komitmen menulis setiap hari. Kenapa juga harus menantang diri untuk menulis hal-hal yang kadang tidak informatif, bahkan bisa menjadi “sampah” digital bagi orang lain. Saya ulangi bagi orang lain. Sebab bagi penulisnya, seperti saya, postingan apapun itu, selama masih murni dari tarian jemari sendiri, juga dari olah pikir dan imajinasi pribadi, sudah pantas penulisnya mengapresiasi dirinya sendiri dengan cara publikasi.

Postingan kemarin saya, sejujurnya hingga jam 9 malam, sudah rampung separuhnya. Tetapi urusan muamalah jauh lebih saya utamakan. Saya datang kedatangan tamu yang mewajibkan saya menyalakan laptop (pinjaman) hingga baterainya low. Sementara separuh naskah sedang menunggu diselesaikan dan tak sempat di back up di internet. Saya juga luput mengecek kondisi aki yang menjadi sumber listrik di tempat tinggal saya yang ternyata sudah fault. Dan taka ada cara lain, selain menunggu matahari esok memapar modul surya untuk mengisi aki.

Kemudian hari ini terjadi, sanga surya redup setelah tengah hari. Setelah itu, hujan dan angin kencang belum berhenti hingga saya menyelesaikan tulisan ini. Bersyukurnya, itu sudah cukup bagi inverter kecil saya untuk mengkonversi arusnya menjadi arus AC yang telah mengisi full baterai laptop dan baterai handphone saya.

Tulisan ini adalah tulisan yang sesuai tema yang diberikan di tantangan #15HariMenulis, Kenapa Saya (tidak) Ngeblog?. Dan lihatlah, isi tulisan ini hanya memuat alibi dan apologi saya sebagai blogger yang melewatkan satu hari tantangan. Tetapi saya tetap harus merampungkan separuh naskah tulisan semalam setelah apologi ini.

Sudah tiga tulisan saya posting menggunakan laptop yang di-tethering dengan smartphone yang diletakkan di tempat tinggi untuk menjangkau sinyal internet yang nyasar di pulau. Tiga postingan sebelumnya, saya kerjakan di smartphone, saya tulis di note, kemudian saya posting di aplikasi wordpress. Biasanya, tahapan memposting saya adalah menulis catatan di note handphone, lalu mengirimkan catatan itu ke wall facebook sendiri yang hanya saya yang melihatnya, dan saya mengambilnya kembali melalui facebook di notebook dan mengcopy-nya, kemudian terakhir memposting di wordpress notebook.

Atau kadang juga draft-draft tulisan saya yang note handphone itu saya kirim melalui email, dari yahoo ke gmail atau sebaliknya. Kalau draft-nya agak panjang dan butuh back-up yang lebih kuat, maka saya memilih cara email.

Namun, tepat hari pertama dimulainya tantangan #15HariMenulis ini, tetiba notebook andalan saya mengalami black screen lalu kemudian tak mampu menyala lagi hingga sekarang. Tentu banyak hal yang bisa saya khawatirkan dari musibah ini, tetapi bulan ramadhan itu datang untuk melatih kesabaran kita. Urusan duniawi seperti ketakutan  sudah dijanjikan Tuhan di dalam kitab suci. Ketakutan harta benda adalah sebuah keniscayaan. Silakan lihat terjemahan Al Quran surah Al Baqarah ayat 155.

Hari ketiga tantangan menulis, seorang guru SD di pulau menyampaikan maksud untuk dikenalkan dengan aplikasi photoshop. Saya menyanggupi, dan laptopnya disimpan di rumah saya. Di antara aktivitas ibadah dan bermuamalah yang tidak perlu dipublikasi, laptop ini sangat membantu saya dalam aktivitas blogging dan menyelesaikan misi #15HariMenulis. Juga untuk urusan-urusan administrasi Patriot Negeri.

Gambar; dokumentasi pribadi

 

Advertisements

Menakar Air Tawar di Pulau Balikukup

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Petualangan with tags , , , , on June 14, 2017 by mr.f

Tentang air tawar di pulau. Sesungguhnya tidak benar-benar tawar. Seperti kebanyakan air tawar di pulau-pulau. Namun untuk mata air utama yang terletak hampir di tengah pulau, mata air inilah yang paling tawar. Mata air ini juga yang diswakelola oleh masyarakat pulau, hingga memiliki instalasi air ke rumah-rumah. Meski begitu, lebih dari separuh warga tidak memanfaatkan air tawar ini, terutama bagi warga yang letak rumahnya di ujung timur atau ujung barat pulau. Sebab bentuk pulau yang menyerupai teripang, melintang. Selain karena memang jaringan instalasi air tawar ini tidak menjangkau daerah ujung-ujung pulau, air ini tidak mampu mengalir terlalu jauh karena tekanan yang ditimbulkan dari air yang ditampung di sembilan profil tank bervolume masing-masing 5200 liter diletakkan pada ketinggian sekitar 4 meter di atas daratan pulau. Sedangkan jarak terjauh rumah dengan mata air ini sekitar 450 meter.

Air tawar dialirkan secara bergilir ke rumah-rumah setiap tiga hari sekali. Sehingga sebagian warga yang walaupun telah memiliki instalasi air tawar tetap membuat sumur galian untuk memenuhi kebutuhan dasar pada air. Sumur galian yang dibuat warga dalamnya hanya sekitar 2 hingga 3 meter saja, kemudian disedot dengan mesin alkon dan ditampung di profil tank masing-masing rumah. Sedangkan warga di ujung-ujung pulau, bila beruntung sumur yang digali tidak begitu payau, maka tak perlu menggunakan air laut untuk mandi, mencuci piring, dan aktivitas MCK lainnya. Sebab bukan menjadi kebiasaan bagi warga pulau untuk menadah hujan.

Sebab bukan pemandangan tabuh di pulau ini, mandi dengan menggunakan air laut, terutama bagi warga yang rumahnya memang berada di jalur hijau alias di atas laut. Cukup siapkan timba, ayunkan ke muka air laut, dan guyurlah sekujur tubuh, jangan lupa pakai sabun yang paling berbusa. Dan selesai satu perkara, mandi air laut!

Saya selama hampir dua bulan live-in di rumah kepala kampung, cukup merasakan peranan air laut pada aktivitas MCK. Buang air besar yang langsung di atas laut, juga harus cebok menggunakan air laut. Sedangkan air yang ditampung di profil tank juga kadang-kadang membuat mandi menjadi mandi yang tidak berbusa, meski telah menyapukan sabun sekian banyak. Hal ini terjadi ketika, air tawar kampung telah habis di profil tank, sementara giliran pengaliran belum tiba, maka disedotlah air dari sumur galian di sekitar rumah.

Selain air tawar yang memiliki jaringan instalasi dan sumur galian, masih ada fasilitas air tawar lainnya di pulau ini, ada fasilitas penjernihan air tawar menjadi air siap minum. Sistemnya menyerupai depot air minum di kota-kota. Sumber listriknya dari tenaga surya. Air dijual pergalon seharga 10.000 rupiah. Fasilitas ini juga diswakelola oleh warga pulau, yang merupakan hibah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Karunia air tawar inilah yang membuat pulau ini semakin dipadati penduduk setiap waktu. Selain tingkat kelahiran yang tinggi, invasi warga pendatang juga memperlihatkan tren yang meningkat. Akibat kepadatan penduduk ini, muncul begitu banyak persoalan, dan yang paling urgent adalah akan bermuara pada persoalan ketersediaan dan suplay air tawar untuk memenuhi hasrat hidup warga pulau. Kita tahu, peningkatan jumlah penduduk sama dengan peningkatan jejak ekologis manusia pada bumi. Maka, bertambah penduduk sama dengan bertambahnya sampah. Sedangkan sampah di pulau adalah jenis sampah yang begitu sulit dikendalikan.

Sebab Pulau Balikukup adalah pulau kecil, yang bila kita berdiri di salah satu tepi pantainya di sisi utara atau selatan, kita bisa melihat laut di sisi seberangnya. Maka tidak untuk tempat membuang sampah terkecuali membuangnya ke laut. Bila pun dibakar, kepadatan rumah di pulau menjadi tantangan tersendiri untuk menghindari kebakaran. Bila ditimbun secara terus menerus, maka justru bisa saja berpotensi mencemari air tawar yang begitu diandalkan di pulau ini. Begitu pula pada sampah langsung manusia dalam bentuk tinja. Bak resapan untuk tinja manusia, mungkin tidak pernah bijak diterapkan di pulau ini. Air tawar dekat, laut lebih dekat. Tapi kita lebih menjaga air tawar. Maka manusia di pulau adalah sebuah korelasi yang nyata bagi ketersediaan air tawar.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis