Archive for ma’ruf m noor

Dari Blogger ke Patriot Energi

Posted in Blogger Kampus, lomba blog, patriot energi, Petualangan with tags , , , , on October 18, 2016 by mr.f

????????????????????????????????????

Sudah hampir lima tahun saya aktif menulis di blog. Dalam sebulan ada saja yang saya posting. Awalnya hanya menulis catatan-catatan pendek atau puisi-puisi tanpa arah. Lalu, waktu itu saya ikut beberapa kelas menulis termasuk Blogshop Kompasiana waktu itu di Makassar. Perlahan-lahan keterampilan menulis terasah dan mulai bisa membuat catatan perjalanan yang lebih panjang dari biasanya. Juga mulai ada beberapa komentar yang menyiratkan sebagai pembaca setia blog saya. Sejak itu saya semakin menganggap bahwa menulis itu bisa memberikan manfaat pada orang lain. Tapi saya belum bisa menobatkan diri sebagai penulis meskipun tahun 2012 saya pernah menerbitkan sendiri buku kumpulan puisi saya bersama kawan-kawan blogger mahasiswa Makassar. Lalu, karena kesamaan hobi, saya menginisiasi sebuah komunitas Blogger Kampus Makassar dan masih eksis sampai sekarang.

Tahun-tahun berikutnya setelah lulus dari kampus, saya mulai bertualang ke beberapa tempat di luar Makassar. Tentunya saya tak lupa menulis apa yang telah saya temui di petualangan itu. Termasuk ketika melakukan perjalanan panjang dari Kediri sampai ke Pulau Sumbawa, melintasi lima pulau dengan menggunakan motor. Saya rekam peristiwa itu dengan tulisan di blog.

Dua tahun terakhir saya makin berselera untuk membagikan tulisan-tulisan panjang saya di blog. Ada catatan saat mendaki gunung, catatan selepas mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, juga pernah dalam sebulan mengikuti tantangan menulis surat setiap hari. Dua tahun terakhir saya mengajak beberapa kawan untuk membuat buku kumpulan cerita perjalanan yang sampai saat ini belum kelar-kelar juga. Saya pernah mengajak beberapa kawan sesama alumni organisasi kampus yang sedang studi di luar negeri atau berada di tempat jauh dari Makassar untuk membuat surat cinta dari seluruh penjuru pada organisasi itu, dan sekarang belum juga rampung.

Tepat setahun dari sekarang, saya diterima menjadi Patriot Energi, program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Saya terima tantangan menjadi Patriot Energi, tantangan untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangunkan oleh Kementerian ESDM di desa-desa yang terisolir. Lalu dikirimlah saya ke pedalaman Kalimantan. Tepatnya di Desa Sumentobol, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Desa itu termasuk remote area. Hanya ada satu akses masuk ke desa hulu sungai itu, yaitu dengan menyusuri sungai berjeram selama kurang lebih enam jam dengan perahu longboat. Di desa itu tidak ada sinyal, gelap gulita dan desa itu murni dihuni oleh masyarakat Dayak Agabag yang beradat, maka jadilah saya paham betul rasanya menjadi petualang sunyi yang terdampar di tengah hutan.

Tetapi saya tidak lantas menjadi diam dengan situasi penuh keterbatasan itu. Di sela-sela mensosialisasikan pentingnya perawatan PLTS, saya masih menulis setiap hari di catatan harian. Selama hampir lima bulan di kampung itu saya menghabiskan enam buku harian, di luar dari tulisan yang saya posting di blog secara berkala setiap bulan ketika keluar desa untuk mengirim laporan. Saat ini tulisan tangan itu diketik sambil direvisi oleh kawan saya dan semoga tahun ini niat saya untuk menerbitkannya secara indie bisa terealisasi.

Di desa hulu sungai itu saya mendapat banyak sekali informasi dan inspirasi untuk dijadikan tulisan. Apalagi Desa Sumentobol adalah desa yang tepat berada di garis batas dua negara. Saya beberapa kali mengikutkan tulisan saya tentang situasi desa di kompetisi menulis. Dua kali diganjar juara, pertama waktu itu Awardee Beasiswa LPDP BPI Kemenkeu RI mengapresiasi tulisan saya sebagai pemenang kedua dalam lomba bertema pendidikan yang diselenggarakannya. Hadiah dari lomba itu saya pakai buat beli camera action dan sebagian saya belanjakan alat belajar untuk anak-anak di desa. Hasil jepretan kamera itu kembali saya ikutkan lomba foto di Instagram, juga dua kali menjadi pemenang. Alhamdulillah.

Dengan tulisan-tulisan di blog yang saya sebar di social media, teman-teman dekat akhirnya ada yang bersimpati. Lalu dengan berbagai saran, di bulan ketiga di desa itu, saya berhasil mengumpulkan donasi, buku, dan alat belajar untuk mendirikan ruang baca bagi anak-anak desa yang haus akan pendidikan. Akhirnya anak-anak di desa bisa belajar di ruang baca itu, sebab lampu dari PLTS juga sudah menyala.

Tulisan lain tentang desa itu yang juga jadi juara adalah tentang kehidupan adat Dayak di desa. Bank BNI sebagai penyelenggara lomba menjadikan tulisan itu sebagai pemenang kedua. Hadiah hasil lomba kembali saya bendakan dengan membeli laptop dan iphone yang saat ini saya pakai untuk membuat tulisan ini. Dan tidak saya lupa, sebagian dari uang hadiah itu saya kirimkan lagi ke anak-anak Sumentobol dalam bentuk paket buku dan alat peraga edukatif untuk keberlanjutan ruang baca yang dulu saya dirikan di sana.

Dan, dua bulan terakhir ini saya telah berada di kampung pedalaman Papua, sebagai Patriot Energi lagi. Hampir serupa dengan desa penempatan saya di Kalimantan, di sini juga termasuk blankspot. Tak ada sinyal telefon dan transportasi ke kampung hanya satu cara, dengan mengarungi Lautan Aru selama 6 sampai 10 jam. Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk menjadi berguna bagi banyak orang. Dan tidak terlupa, saya tetap menulis catatan-catatan untuk mengabarkan diri dan kondisi desa.

Menjadi Patriot Energi seperti ini, bagi sebagian orang terlihat asyik dan menantang. Sedangkan bagi saya, fragmen hidup saya ini haruslah menjadi ladang pengabdian masa muda untuk menabur banyak kebaikan. Beberapa kawan dari Patriot Energi sudah pernah masuk televisi nasional, koran, majalah, dan media  publikasi lainnya. Hal itu membuktikan bahwa kebaikan-kebaikan masih selalu layak disebarkan, diceritakan, dan didiseminasikan. Dan saya memilih dengan menulisnya sendiri seperti ini. Saya sangat percaya dengan terus menulis dan mengabarkan kejadian-kejadian yang kita temui dimana saja, asalkan dengan dilandasi niat baik maka juga selalu ada balasan kebaikan disitu.

Advertisements

Pelipur Kehilangan

Posted in Blogger Kampus, features with tags , , , , on May 24, 2015 by mr.f

pelipur kehilangan

Perasaan yang tidak menyenangkan itu ketika kita merasa kehilangan begitu rupa pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita miliki. Hanya serupa kepemilikan sepihak tanpa pihak lain mengakui dan merasa dimiliki. Possesif. Ganjil. Egois. Paradoks.

Tabiat sense of belonging tidak selalu berkonotasi buruk. Seolah-olah menegasikan hasrat dan cinta yang tulus. Seringkali kita memang diuji dengan hal dan kondisi yang semacam itu. Tujuannya adalah untuk melihat bukti dan wujud dari sebuah keikhlasan dan ketulusan memiliki. Ujian itu perlu untuk mengukur diri. Sama perlunya, udara mengisi rongga paru-paru. Bila tidak, maka akan ada seonggok tubuh yang berjalan dengan keangkuhan, alamat antisocial dan over introvert.

Kita semua selalu menyangka kehilangan adalah sebuah musibah. Kehilangan selalu menerbitkan rasa sakit, lalu menyisakan ruang sedih seolah tak ada kosa-kata –pengganti dalam hidup. Kehilangan adalah keniscayaan. Bukankah setiap saat kita kehilangan umur? Sepersekian detik yang lalu. Kita selalu kehilangan udara dari tubuh setiap beberapa hitungan desimal. Tapi kita selalu diberikan pengganti dan sebuah balasan. Percayalah itu. Kehilangan adalah kehidupan itu sendiri. Sebuah pertukaran yang sunnatullah. Buanglah sesuatu bila ingin hidup. Lalu, apakah pernah kita menyadari kematian sebagai sesuatu yang pasti sekaligus tidak pasti?

Saya selalu terpukul berkali-kali lipat saat tahu seorang berilmu dan beramal baik, pergi meninggalkan kita lebih dulu. Kepergian seorang ulama tentu jauh lebih menimbulkan efek taubat ketimbang kematian seorang muda yang belum banyak mengamalkan agama. Matinya seorang ulama membutuhkan energi besar untuk memulihkan peran dan kekosongan pembimbingan ummat. Jangan bilang, bahwa ulama hanya mengikat dan membimbing sebuah komunitas atau tarekat tertentu. Suara ulama hanya bertengger di pengeras suara menara sekolah agama dan pesantren-pesantren. Ulama hanya berpikir tentang kezuhudan diri dan spiritualitas. Ulama dalam konteks kekinian adalah pengejewantahan tangan Tuhan dan mulut Nabi dalam menerangkan risalah kehidupan dunia dan akhirat. Setelah kita iman pada ulama, serahkan diri kita dengan sami’na waato’na. Namun jangan lupa sisakan ruang kritis, heran, dan ragu untuk perkara-perkara tertentu.

Catatan ini adalah satu dari banyak cara melipur rasa kehilangan saya atas seorang ulama di Makassar, yang juga tak lain adalah ayah dari seorang sahabat saya. Wafatnya beliau betul-betul menerbitkan banyak perasaan bersalah saya pada waktu dan membuat saya bercermin melihat diri. Iman, ilmu, dan amal apa yang bisa saya hantarkan di hadapan meja peradilan Tuhan?

April, 2015

 

Gambar; pelangiku4u.blogspot.com