Archive for blogger makassar

Mimpi Anak-Anak Pulau

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Patriot Negeri with tags , , , , , on June 18, 2017 by mr.f

Berkaca mata Sela ketika tau dia dapat video sapaan dari luar negeri. Bocah kelas 5 SD di pulau ini punya mimpi menjadi seorang polisi wanita yang sukses.

Katanya, “aku ingin keliling dunia, kalau aku sukses nanti”.

Satu teman di samping duduknya membenarkan, “iyya, makanya kamu harus jadi polwan biar bisa keliling dunia”.

Teman duduknya melanjutkan, “aku saja yang tidak dapat video dari kakak di luar negeri, harus bisa meraih cita-cita, apalagi kamu dapat video dari Australia”.

Percakapan ini saya dengar ketika dua bocah SD ini selesai mengintip folder video sapaan yang saya koleksi dari beberapa Negara untuk memotivasi dan menginspirasi anak-anak di Pulau Balikukup.

Sela hanya satu dari puluhan anak pulau yang masih memiliki mimpi besar dalam hidupnya, menjadi polwan. Selainnya, anak-anak pulau merasa tidak perlu tau apa cita-cita mereka sendiri. Cita-cita tidak lebih hanyalah bahasa kiasan yang basa-basi dalam percakapan orang dewasa kepada anak yang masih bersekolah. Sebab, tak pernah ada pertanyaan cita-cita kepada bocah yang patah pensil.

Mimpi anak pulau adalah mimpi profesi yang lazim bagi bocah-bocah. Menjadi polisi, dokter, TNI, guru, dan sebagainya. Untung disini, dari 19 bocah yang menyetor mimpinya, tak ada bocah yang berminat menjadi pilot. Sebab jika itu hal itu terjadi, berarti pola pengenalan tentang cita-cita dan dunia mimpi di jenjang pendidikan dasar belum bergeser sejak puluhan tahun yang lalu. Saya dulu termasuk korban, bocah yang percaya bahwa hidup di masa depan (yang saya alami saat ini) hanya indah dengan menjadi profesional profesional di buku baku bahan bacaan guru, karena itulah, sekali saya pernah bermimpi menjadi pilot.

Kembali ke mimpi anak-anak pulau. Sangat penting untuk merawat dan membantu mewujudkannya. Pun kita sendiri mungkin tidak sedang berjalan menuju mimpi ideal kita. Tetapi jangan sampai, anak-anak pulau atau bahkan orang-orang di sekitar kita bertumbuh menjalani hidup tanpa punya visi dan mimpi yang mereka tuju.

Laut yang mereka lihat sehari-hari bisa saja telah menjadi kontrol diri bagi anak-anak pulau. Bahwa mimpi mereka terbatasi oleh lautan dan sekolah hanya mungkin mengantar mereka sampai pada gerbang pengetahuan saja. Setelah tahu berbagai ilmu dasar kehidupan, mereka berhak lupa dan tidak menyadari bahwa dari sekolah yang kemudian memiliki pengetahuan itulah yang akan menjadi titian untuk bisa meraih mimpi-mimpi besar di masa kecil mereka.

Satu situasi yang mewajarkan pikiran anak-anak pulau ini untuk acuh pada mimpi adalah anak-anak pulau ini tidak memiliki role model dari pendahulunya. Cita-cita yang mereka tulis itu rata-rata adalah cita-cita yang sampai saat ini belum ada orang pulau yang mewujudkannya. Mental anak pulau ini seakan terselubung oleh lautan, sehingga sungguh butuh pendobrak untuk memperlihatkan betapa besar kemungkinan anak-anak pulau ini bisa mewujudkan mimpinya. Dan tidak perlu mengutarakan argumentasi kuno, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini selagi ada kemauan. Sebab, kemauan sendiri telah menjadi ketidakmungkinan bagi sebagian anak pulau yang mimpinya belum tumbuh bahkan belum mereka tahu.

Karena itulah, berbagai jurus untuk mengenalkan betapa tidak terbatasnya dunia mimpi bagi anak-anak pulau harus diterapkan di sini. Lewat kiriman video-video motivasi dan inspirasi mimpi yang sedang saya kumpulkan dari berbagai kawan di lintas benua semoga bukanlah hal sia-sia bagi anak-anak pulau. Lewat inisiasi projek video lintas benua ini pula sekaligus saya meluncurkan gagasan turunan untuk #melawanpatahpensil di Pulau Balikukup.

#15HariMenulis

Gambar; dokumentasi pribadi

Apologi Hari Ketujuh

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, Feature, Patriot Negeri with tags , , , , on June 17, 2017 by mr.f

Tidak ada yang boleh memastikan masa depan selain kenyataan. Orang boleh punya ambisi yang besar bahkan punya kuasa untuk menaklukkan hari esok, tapi tidak lebih sebatas keinginan saja. Seperti lazimnya pepatah, yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift.

Ketika saya menyakini kekuatan saya untuk mampu mengikuti tantangan #15HariMenulis ini, saya mengesampingkan semua halangan. Tiga hari berturut saya menjadi yang pertama menyelesaikan tulisan dari sembilan blogger tersisa. Namun kemudian kemarin, akhirnya tertinggal satu postingan di hari ketujuh.

Kendala teknis selalu bisa menjadi kambing hitam seorang blogger. Tapi mental dan stuck-nya inspirasi bisa lebih menghentikan suatu komitmen menulis setiap hari. Kenapa juga harus menantang diri untuk menulis hal-hal yang kadang tidak informatif, bahkan bisa menjadi “sampah” digital bagi orang lain. Saya ulangi bagi orang lain. Sebab bagi penulisnya, seperti saya, postingan apapun itu, selama masih murni dari tarian jemari sendiri, juga dari olah pikir dan imajinasi pribadi, sudah pantas penulisnya mengapresiasi dirinya sendiri dengan cara publikasi.

Postingan kemarin saya, sejujurnya hingga jam 9 malam, sudah rampung separuhnya. Tetapi urusan muamalah jauh lebih saya utamakan. Saya datang kedatangan tamu yang mewajibkan saya menyalakan laptop (pinjaman) hingga baterainya low. Sementara separuh naskah sedang menunggu diselesaikan dan tak sempat di back up di internet. Saya juga luput mengecek kondisi aki yang menjadi sumber listrik di tempat tinggal saya yang ternyata sudah fault. Dan taka ada cara lain, selain menunggu matahari esok memapar modul surya untuk mengisi aki.

Kemudian hari ini terjadi, sanga surya redup setelah tengah hari. Setelah itu, hujan dan angin kencang belum berhenti hingga saya menyelesaikan tulisan ini. Bersyukurnya, itu sudah cukup bagi inverter kecil saya untuk mengkonversi arusnya menjadi arus AC yang telah mengisi full baterai laptop dan baterai handphone saya.

Tulisan ini adalah tulisan yang sesuai tema yang diberikan di tantangan #15HariMenulis, Kenapa Saya (tidak) Ngeblog?. Dan lihatlah, isi tulisan ini hanya memuat alibi dan apologi saya sebagai blogger yang melewatkan satu hari tantangan. Tetapi saya tetap harus merampungkan separuh naskah tulisan semalam setelah apologi ini.

Sudah tiga tulisan saya posting menggunakan laptop yang di-tethering dengan smartphone yang diletakkan di tempat tinggi untuk menjangkau sinyal internet yang nyasar di pulau. Tiga postingan sebelumnya, saya kerjakan di smartphone, saya tulis di note, kemudian saya posting di aplikasi wordpress. Biasanya, tahapan memposting saya adalah menulis catatan di note handphone, lalu mengirimkan catatan itu ke wall facebook sendiri yang hanya saya yang melihatnya, dan saya mengambilnya kembali melalui facebook di notebook dan mengcopy-nya, kemudian terakhir memposting di wordpress notebook.

Atau kadang juga draft-draft tulisan saya yang note handphone itu saya kirim melalui email, dari yahoo ke gmail atau sebaliknya. Kalau draft-nya agak panjang dan butuh back-up yang lebih kuat, maka saya memilih cara email.

Namun, tepat hari pertama dimulainya tantangan #15HariMenulis ini, tetiba notebook andalan saya mengalami black screen lalu kemudian tak mampu menyala lagi hingga sekarang. Tentu banyak hal yang bisa saya khawatirkan dari musibah ini, tetapi bulan ramadhan itu datang untuk melatih kesabaran kita. Urusan duniawi seperti ketakutan  sudah dijanjikan Tuhan di dalam kitab suci. Ketakutan harta benda adalah sebuah keniscayaan. Silakan lihat terjemahan Al Quran surah Al Baqarah ayat 155.

Hari ketiga tantangan menulis, seorang guru SD di pulau menyampaikan maksud untuk dikenalkan dengan aplikasi photoshop. Saya menyanggupi, dan laptopnya disimpan di rumah saya. Di antara aktivitas ibadah dan bermuamalah yang tidak perlu dipublikasi, laptop ini sangat membantu saya dalam aktivitas blogging dan menyelesaikan misi #15HariMenulis. Juga untuk urusan-urusan administrasi Patriot Negeri.

Gambar; dokumentasi pribadi

 

Ketidakrinduan yang Ditakutkan

Posted in Blogger Kampus, Feature, Patriot Negeri with tags , , , , on June 13, 2017 by mr.f

Hari ini, untuk kedua kalinya saya luput untuk sahur. Padahal sejak malam saya sudah menyiapkan makanan yang siap disantap. Cumi-cumi hasil pancing saya sendiri di samping rumah, gagal saya nikmati. Pun dengan sayur bayam yang terlanjur dimasak dan tak mungkin dipanasi hari ini. Dan yang tak lebih menyedihkan adalah kealfaan saya menghadiri shalat subuh berjamaah di masjid satu-satunya di pulau ini. Absen shalat subuh tadi adalah menjadi ketiga selama ramadhan ini.

Di pulau ini, saya senang berkarib dengan para jamaah masjid yang kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Ketika saya melewatkan dua shalat fardu berjamaah secara berturut-turut, maka kehadiran saya pada shalat setelah itu akan menjadi waktu dimana saya mendapatkan pertanyaan, “kenapa nda datang shalat berjamah tadi, saya kira Bapak sakit atau kenapa-kenapa?”

Kehidupan sosial seperti ini adalah kebutuhan bathin bagi saya. Saat-saat dimana peran keluarga hadir walau hanya dalam bentuk pertanyaan. Selain itu, berkerabat dengan jamaah dan masjid bagi saya adalah suatu pola exist strategy yang selalu saya terapkan. Masjid bukan hanya tempat menunaikan ibadah ritual, tapi di masjid saya menjalin habluminannas dengan begitu cepat dan lekat.

Lihat kaligrafi kuning emas di gambar sampul postingan ini, itu adalah karya saya bersama takmir masjid di pulau ini. Bukan karya murni, karena polanya saya tiru dari seorang kaligrafer Malaysia. Dengan kaligrafi itu terpasang di mihrab masjid, bukan membuat saya menjadi bangga, tapi menjadikan saya malu untuk melalaikan satu waktu shalat di masjid ini.

Menjadi takmir masjid juga pernah saya jadikan sebagai judul tulisan ketika bertugas di Papua Barat. Sangat penting untuk tidak mengambil jarak dengan masjid. Ada seribu alasan melalaikan panggilan shalat berjamaah di masjid, yang hanya lima kali dalam sehari. Tapi tidak ada secuil kuasa kita untuk mengingkari kebesaran Tuhan pada tiap takbir yang dikumandangkan.

Memakmurkan masjid adalah tuntunan dan merupakan konsekuensi kita menganut Islam, pun kita belum menyadari kenapa kita beragama Islam, apakah hanya warisan atau telah menjadi pilihan jalan hidup yang telah melewati lorong panjang pemikiran kritis. Atau kita cukup menyadari agama adalah hidayah, dengan begitu kita telah memikul tanggungjawab sebagai ummat, dilakukan atau diabaikan.

Masjid dimana saja adalah tetap masjid, yang harus dimakmurkan. Tidak peduli, kecil atau besar, megah ataukah sederhana, ber-AC atau hanya angin jendela, berlantai marmer atau berpasir, imamnya merdu atau sayup-sayup, jamaahnya banyak atau merangkap. Sebagai muslim, ketika uzur shalat di masjid sudah lebih besar dibanding keinginan melangkah, disitulah awal mula kita menjadi muslim yang tidak taat.

Makanya, hal yang paling saya takutkan di dunia ini adalah hilangnya kerinduan saya pada masjid. Naudzubillah. Dimanapun, di usia kapanpun nantinya, ingatkan saya tentang ketakutan saya ini. Ketika telah tercabut rindu pada masjid maka sama artinya bahwa hati telah menjauh dari Tuhan. Telah nadir pula iman di dada. Mungkin juga telah tiada cinta lagi kepada Nabi dan Ilahi. Telah menjadi mahluk kufur pada nikmat.

Sehingga, untuk melawan ketakutan itu, saya justru menumbuhkan rindu yang tidak pernah saya utarakan sebelumnya, rindu serindu-rindunya pada masjid-masjid di tanah haram. Memupuk rindu pada masjid di tanah haram adalah usaha memupuk iman, usaha untuk menerabas uzur-uzur duniawi yang menghalau langkah kaki ke masjid-masjid terdekat. Wallahu alam bisshawab.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

.