Cerita Lama Energi Terbarukan

Posted in #15HariCeritaEnergi, Blogger Kampus, Feature, patriot energi with tags , , on August 21, 2017 by mr.f

Terlalu banyak yang menyenangkan dari sebuah hubungan pertemanan. Hal-hal yang tidak terduga adalah bagian tidak terpisahkan seolah menjadi kado dari kehidupan pertemanan. Saya mengalami banyak kejutan dalam hidup yang memang sudah takdirnya harus seperti itu. Pertemanan mengantarkan kita dari takdir yang satu menuju takdir yang lain. Meskipun sebenarnya pertemanan bukanlah hal pragmatis yang kita berhitung soal ada tidaknya manfaat praktis yang kita dapatkan dari keakraban itu.

Karenan pertemanan juga, saya seringkali sampai pada titik tercerahkan. Termotivasi dari tindakan-tindakan teman yang lain. Juga tidak jarang aktivitas teman-teman membuat saya harus menggali lubang memori  hingga akhirnya menemukan makna yang dalam dari masa lalu. Kemudian karena teman juga beberapa potongan bayangan masa depan bisa dirangkai.

Beberapa bulan yang lalu, teman kuliah S1 saya dulu di Jurusan Fisika Universitas Negeri Makassar (UNM) memposting gagasannya yang berhasil diterbitkan di koran lokal, Tribun Timur  Makassar. Tulisannya sekitar bidang energi baru terbarukan, yakni potensi energi panas bumi atau geothermal di Indonesia. Ini potongan tulisannya;

“Apabila kita analisis dari jumlah geothermal yang terpakai saat ini sebesar 807 Mwe maka sisa yang belum terpakai dari total potensi sebesar 27.357 Mwe adalah 26.650 Mwe. Bisa dibayangkan 1 Mwe sama dengan sejuta watt yang bisa digunakan oleh 100 rumah dengan penggunaan fasilitas batas wajar dalam sehari. Keberadaan geothermal sebagai energi terbarukan sangat memungkinkan potensinya semakin bertambah setiap hari di dalam perut bumi. Apalagi wilayah Indonesia tingkat curah hujannya sangat tinggi. Air hujan yang meresap ke dalam tanah sangat memengaruhi terbentuknya geothermal secara cepat akibat konveksi panas dari batuan. Potensi yang semakin hari semakin bertambah ini suatu saat bisa menjadi devisa negara apabila inovasi geothermal untuk diekspor telah ditemukan. Hal yang perlu dilakukan untuk pemenuhan program 35 ribu MW tersebut yakni dengan memaksimalkan potensi yang telah ada serta menjalin komunikasi antara pemerintah, perusahaan maupun akedemisi untuk sama-sama pendorong percepatan pelaksanaannya demi kesejahteraan pembangunan di masa depan.”

Nama teman saya itu Andi Syamrizal, sekarang sedang intens bimbingan untuk menyelesaikan tesis yang sebentar lagi akan mengantarkannya menjadi Magister Teknik Geofisika di Institut Teknologi Bandung. Dulu di jaman-jaman kuliah S1, dia termasuk teman yang cukup dekat dengan saya. Kemudian setelah selesai S1, masing-masing menerjang kehidupan dengan caranya sendiri. Ternyata dia berhasil masuk ke Pascasarjana ITB setelah beberapa kali ikut seleksi. Dan saya, karena jejaring pertemanan, mendapatkan informasi perekrutan Patriot Energi pada pertengahan tahun 2015. Patriot Energi adalah program pendampingan masyarakat penerima hibah fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tak disangka, saya dan Ical, sapaan Andi Syamrizal, adalah dua orang alumni Fisika Bumi Jurusan Fisika UNM yang hingga saat ini terus bersinggungan dengan bidang energi. Saya ditakdirkan menyaksikan realitas respon masyarakat di tiga kampung penerima PLTS dan teman saya Ical, digariskan menekuni bidang energi panas bumi di Indonesia.

Waktu kuliah dulu, di periode-periode pengajuan judul penelitian  untuk tugas akhir, di pikiran saya begitu bergejolak keinginan untuk meneliti potensi energi panas bumi di daerah di Sulawesi Selatan. Begitu sering membayangkan bagaimana tingkat kerumitan pengambilan data lapangan di daerah sumber panas bumi dengan menggunakan alat ukur sederhana yang tersedia di laboratorium kampus seperti Geolistrik. Namun sayangnya, saat itu gagasan-gagasan pemikiran tentang penelitian panas bumi harus gugur bahkan sejak dalam isi kepala. Salah satu sebabnya, pada saat itu lingkungan terdekat, teman-teman yang sedang sibuk mengurusi penelitian untuk tugas akhir dibatasi oleh tembok pemikiran bahwa penelitian seorang calon sarjana tidak perlu sampai serumit itu, toh data hasil penelitian seorang sarjana kebanyakan berakhir hanya sebagai karya yang akan memenuhi ruang perpustakaan yang selanjutnya menjadi referensi bagi adik kelas yang mengambil tema penelitian serupa dengan tugas akhir kita.

Seorang calon sarjana hanya dibebankan sebatas kompetensi tahu saja. Aplikasi daripengetahuan itu diyakini akan banyak berhadapan dengan tantangan-tantangan yang belum sepadan dengan kemampuan seorang calon sarjana. Selain itu penelitian seorang calon sarjana menggunakan dana pribadi, sehingga penelitian dengan tingkat kerumitan tertentu pasti akan menguras kantong seorang calon sarjana. Pertimbangan bijaksana itu akhirnya gagal membuat saya mempetakan potensi energi panas bumi. Pada saat itu, ingin sekali rasanya saya meneliti potensi energi panas bumi yang ada di sekitar kampung halaman saya sendiri, di Palopo. Ada sebuah spot yang cukup terkenal dengan keberadaan permandian air panas, namanya Permandian Air Panas Pincara, cukup dekat dengan pusat kota Masamba, di wilayah utara Palopo.

Setahun yang lalu, ketika pulang kampung, saya menyempatkan diri mengunjungi kenangan pikiran itu, untuk melihat sendiri lokasi yang dulu nyaris saya perjuangan menjadi lokasi penelitian, yang sebenarnya pada saat itu saya sendiri belum pernah melihat lokasi yang saya maksudkan. Dan tibalah saya di Permandian Air Panas Pincara tersebut, kesyukuran saya meningkat begitu menyaksikan potensi panas bumi yang dulu ingin saya teliti. Ternyata secara kasat mata saja, sudah bisa diprediksi bagaimana potensi energi yang bisa ditimbulkan dari keberadaan air panas di sekitar permandian tersebut. Dulunya saya berespektasi begitu tinggi membayangkan potensi energi yang bisa ditimbulkan dari panas bumi di tempat ini. Namun realitas yang ada di lapangan begitu jauh  dari apa yang saya bayangkan, sehingga saya mantap mengutuk semua prasangka-prasangka dahulu yang sangat sering keliru. Saya kemudian menyadari nasihat-nasihat bijaksana bahwa untuk melakukan sesuatu, yang harus kita miliki terlebih dahulu adalah ilmunya.

#15HariCerita Energi

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Lampu di Mata Bocah Pedalaman

Posted in #15HariCeritaEnergi, Feature, patriot energi, Petualangan with tags , , , on August 20, 2017 by mr.f

Belum selesai saya sholat isya, beberapa bocah datang mengetuk pintu. Setelah menyebut nama saya dengan awalan Abang, mungkin satu persatu seperti mendapat giliran. Kemudian dengan tidak lagi kumembaca wirid, saya segera membuka pintu rumah. Ternyata ada lima bocah tersenyum-senyum. Sudah  saya tahu maksud mereka datang. Bocah-bocah ini ingin belajar,ada sedang semangatnya belajar mengeja, sebagian senang berhitung dengan metode undian, sebagian senang mewarnai gambar yang  saya buat, dan sebagian lainnya lagi mungkin hanya senang saja berkumpul dengan teman-temannya.

Bocah-bocah ini tahu kapan mereka bisa datang berkunjung ke rumah untuk belajar. Ada simbol yang secara tak sengaja mereka memahaminya sebagai isyarat bahwa saya sedang ingin mereka datang belajar. Sebab rumah-rumah di kampung pedalaman Dayak ini tidak memiliki penerangan di teras rumah, sehingga jika saya mengeluarkan lampu atau senter di teras rumah maka mereka segera menyadari bahwa lampu itu adalah untuk menerangi mereka ketika belajar.

Kampung Dayak ini memang pada saat itu belum ada penerangan, hanya rumah-rumah tertentu saja yang mampu membeli bensin untuk menyalakan mesin. Maklum saja, harga-harga barang di tempat terdalam seperti ini mengalami perbedaan yang cukup besar dengan harga di kota-kota. Pernah bensin menyentuh angka 17.000 rupiah perliter yang sebenarnya pada saat itu bensin di SPBU harganya tidak sampai mencapai 7000 rupiah. Jadi ada selisih lebih dari 10000 rupiah, lebih dari dua kali lipat harga dasarnya.

Kampung Dayak ini bernama Sumentobol. Berada di hulu sungai dan di tengah-tengah hutan perawan yang menjadi batas negara Indonesia dan Malaysia. Saya berada di kampung ini kurang lebih lima bulan lamanya, merasakan banyak sekali hal-hal baru. Saya bisa sampai di kampung ini karena saat itu saya bertugas sebagai Patriot Energi yang mendampingi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang merupakan hibah dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga mengorganisir masyarakat supaya masyarakat ikut terlibat dalam proses pembangunan PLTS sehingga muncul kesadaran memelihara atas dasar rasa memiliki fasilitas hibah tersebut. Selain itu saya juga membentuk organisasi pengelola PLTS yang akan mengurus PLTS ketika pengelolaan PLTS diserahkan ke pihak kampung.

Saya tinggal di rumah penduduk, yang juga tak memiliki penerangan yang memadai. Hanya ada dua lampu yang pada siang hari dicharger dengan menggunakan modul surya bekas SHS yang berumur pendek. Ketika malam, satu lampu digunakan di dapur dan satunya lagi biasanya untuk menerangi aktivitas saya di ruang tengah. Lampu-lampu ini tidak mampu bertahan hingga pagi, sebab kapasitas baterainya memang tidak didesain untuk waktu yang lama. Tetapi akan cukup jika sebagai penerang pada ruang berukuran kecil. Sebab itulah, sebelum PLTS di kampung ini menyala, lampu-lampu semacam inilah yang banyak menghiasi rumah-rumah penduduk.

Sebenarnya, di kampung hulu ini ada potensi energi terbarukan lain yang bisa dimanfaatkan. Ada sungai kecil yang debit dan konturnya cukup untuk menerangi beberapa rumah. Sayang sekali potensi energi tersebut tidak mampu dikelola dengan baik. Beberapa tahun sebelum PLTS dari Kementerian ESDM dibangun, ada “orang asing” yang datang ke kampung ini untuk menebang pohon dan membuat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sehingga berhasil menerangi beberapa rumah di sekitar pembangkit. Hanya beroperasi beberapa bulan, dinamonya terbakar, menurut warga sekitar pembangkit yang pernah menikmati aliran listrik tersebut, dinamo itu sudah beberapa kali diganti oleh warga yang patungan setelah “orang asing” meninggalkan Kampung Sumentobol. Setelah saya meninjau lokasi PLTMH tersebut, desain dan peralatannya memang masih sangat sederhana dan dipenuhi keterbatasan. Maka wajar saja sumber listrik yang dulu pernah menerangi kampung tersebut kini menjadi peninggalan sejarah. Masih bisa kita jumpai turbin kayu, pipa, dan dinamonya di lokasi PLTMH tersebut.

Kampung Sumentobol kembali merasakan malam-malam gelapnya. Membuat kampung ini ketika malam begitu mencekam ditambah dengan bunyi jangkrik dan lolongan anjing di sepanjang kampung. Bertahun-tahun kegelapan itu seolah menjadi takdir yang membuat lumpuhnya aktivitas di malam hari. Aktivitas perekonomian berhenti, aktivitas sosial pun tak ada interaksi, dan aktivitas pendidikan terlebih lagi, lumpuh sama sekali. Tidak akan kita jumpai anak-anak belajar malam atau mengerjakan PR-nya. Tidak akan kita dengar suara anak-anak mengeja karena belajar membaca.

Gelapnya kampung hampir secara psikologis mensugesti anak-anak untuk melihat masa depannya segelap situasi kampung. Belajar hanyalah peristiwa yang terjadi di sekolah, selain itu kegelapan menjadikan semua keinginan untuk belajar tertutup rapat. Kegelapan malam merenggut cita-cita anak-anak pedalaman. Meskipun idealnya, tantangan sebesar apapun tidaklah pernah layak untuk menghentikan langkah anak-anak untuk belajar dan menggapai cita-cita.

Saya melihat secara langsung betapa pesimisnya anak-anak di pedalaman ini untuk bersekolah tinggi. Saya melihat betapa tingginya angka pernikahan dibawah umur di kampung pedalaman ini. Saya melihat di mata orang tua mereka, bersekolah bagi anak-anak adalah  hanya agar supaya anak-anak mereka bisa membaca dan berhitung, sehingga bisa menjadi bekal di kehidupannya. Tapi saya juga melihat perubahan situasi psikologis itu ketika mereka telah menyaksikan kampungnya terang benderang ketika malam karena listrik yang bersumber dari PLTS Terpusat 30 Kwp yang merupakan bantuan dari Kementerian ESDM.

Saya hingga turut merasakan betapa rasa syukur mereka akan kehadiran pembangkit listrik di tengah kampung telah menjalar ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Anak-anak bisa belajar di rumah masing-masing. Aktivitas masyarakat tak perlu menunggu pagi ketika masih ada yang harus diselesaikan di waktu malam. Betapa energi listrik begitu menjadi kunci perputaran roda-roda kemajuan kehidupan masyarakat.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; Dokumentasi Pribadi