Cinta Pertama Perempuan Dayak Agabag

Posted in #15harimenulis, Blogger Kampus, features, patriot energi with tags , , , , on June 15, 2017 by mr.f

Bunyi gong bertalu-talu, lama sekali. Saya coba menerka-nerka, apa gerangan maksud gong dibunyikan di waktu sore. Di tengah masyarakat adat begini, pasti ada arti dari semua aktivitas yang tidak terjadi sehari-hari. Oh, rupanya sore ini ada tamu dari kampung lain yang hendak membicarakan pernikahan anak lelaki mereka dengan anak perempuan di kampung ini.

Saya bertanya ke salah satu warga, anak yang mana yang mau dinikahkan?

“itu anaknya si anu, yang pas di samping balai adat” jawab warga itu.

Saya menggali ingatan, anak perempuan yang dimaksud adalah anak yang masih sangat belia. Pernah saya lihat bermain volley di halaman sekolah. Usia anak itu saya pastikan belum cukup 15 tahun.

Pernikahan usia belia di kampung ini adalah sudah menjadi bagian dari tradisi. Tidak perlu ada orang yang menganggap pernikahan semacam ini menyalahi kaidah. Hanya orang luar dan dari kota yang selalu sinis melihat tradisi masyarakat adat di pelosok-pelosok. Orang kota selalu menganggap perlu memberi wejangan pelajaran biologis, memberi pertimbangan psikologis atau aturan-aturan pernikahan menurut negara. Padahal orang kota, tidak pernah belajar sejarah kehidupan masyarakat-masyarakat pedalaman, betul-betul tidak memahami kausalitas kejadian-kejadian.

Bagi masyarakat Kampung Sumentobol, kampung yang total penduduknya bersuku Dayak Agabag, cinta pertama tidak perlu ada. Setelah tanda biologis telah nampak pada seorang anak perempuan, maka itu artinya telah datang waktunya menyiapkan pasangan. Terkecuali untuk orang tua yang memiliki keinginan dan jaringan yang lebih untuk menyekolahkan anak perempuannya. Tetapi kebanyakan, dibanding menyekolahkan, menikahkan jauh lebih melegakan bagi orang tua. Terjadi untuk anak perempuan dan laki-laki.

Menyekolahkan anak perempuan sama halnya mempertaruhkan harga diri orang tuanya. Sekolah lanjutan yang bagus hanya ada di kecamatan yang jaraknya 6 jam perjalanan menggunakan perahu tempel melawan atau mengikuti arus sungai. Yang berarti anak perempuan mereka harus dititipkan di rumah kerabat atau lebih beresiko merelakan anak-anak mereka tinggal di rumah singgah milik kampung di jantung kecamatan. Sehingga, resiko bagi anak mereka untuk kandas atau terjangkit kehidupan dan pergaulan bebas sangat besar, yang bisa saja anak-anak mereka bukan pulang membawa ijazah, tapi datang berbadan dua. Juga begitu dengan anak lelaki mereka. Ancamannya sama. Cinta pertama yang tidak terarah bagi anak mereka akan sangat berbahaya.

Maka jalan terbaik bagi orang tua adalah menyiapkan sedari kecil anak perempuan atau anak lelaki mereka menjadi orang yang siap dewasa, dan tidak perlu merasakan cinta pertama. Anak perempuan belajar menjadi ibu dengan aktif menggantikan peran ibunya di ladang, perlahan membela kayu, menggendong berpuluh kilo singkong, membuat ilui (makanan tradisional dari singkong), juga tidak lupa harus belajar meracik isi tempayan (tempayan adalah guci yang berisi permentasi singkong yang bisa memabukkan.

Masyarakat Dayak Agabag di sepanjang sungai Lumbis, di Kabupaten Nunukan adalah masyarakat yang solid dan patuh pada aturan adat. Adat sangat menghendaki adanya tolong-menolong sesama warga. Apalagi pada urusan pernikahan. Menikahkan adalah tanggungan orang tua bahkan bisa jadi tanggungan orang sekampung. Karena pernikahan merupakan bagian dari adat, yang berarti pelaksanaan begitu kental nuansa gotong royongnya. Dalam satu acara pernikahan di kampung,nyaris seluruh aktivitas warga lumpuh total selama paling cepat tiga hari.

Orang Dayak Agabag yang hidup di hulu-hulu sungai ini tidak mengenal gengsi dalam persoalan pernikahan. Meskipun hal-hal semacam berian (semacam mahar dalam Islam) juga menjadi persyaratan dalam pernikahan. Namun, berian tidak lantas membuat suatu rencana pernikahan menjadi batal jika ada permohonan yang terlalu tinggi. Berian pun akan digotong-royong oelh seluruh warga. Jadi tidak ada yang terlalu menyusahkan dalam pernikahan orang Dayak Agabag. Kalau cinta bisa menjadi sederhana, kenapa dibuat rumit.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

Menakar Air Tawar di Pulau Balikukup

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Petualangan with tags , , , , on June 14, 2017 by mr.f

Tentang air tawar di pulau. Sesungguhnya tidak benar-benar tawar. Seperti kebanyakan air tawar di pulau-pulau. Namun untuk mata air utama yang terletak hampir di tengah pulau, mata air inilah yang paling tawar. Mata air ini juga yang diswakelola oleh masyarakat pulau, hingga memiliki instalasi air ke rumah-rumah. Meski begitu, lebih dari separuh warga tidak memanfaatkan air tawar ini, terutama bagi warga yang letak rumahnya di ujung timur atau ujung barat pulau. Sebab bentuk pulau yang menyerupai teripang, melintang. Selain karena memang jaringan instalasi air tawar ini tidak menjangkau daerah ujung-ujung pulau, air ini tidak mampu mengalir terlalu jauh karena tekanan yang ditimbulkan dari air yang ditampung di sembilan profil tank bervolume masing-masing 5200 liter diletakkan pada ketinggian sekitar 4 meter di atas daratan pulau. Sedangkan jarak terjauh rumah dengan mata air ini sekitar 450 meter.

Air tawar dialirkan secara bergilir ke rumah-rumah setiap tiga hari sekali. Sehingga sebagian warga yang walaupun telah memiliki instalasi air tawar tetap membuat sumur galian untuk memenuhi kebutuhan dasar pada air. Sumur galian yang dibuat warga dalamnya hanya sekitar 2 hingga 3 meter saja, kemudian disedot dengan mesin alkon dan ditampung di profil tank masing-masing rumah. Sedangkan warga di ujung-ujung pulau, bila beruntung sumur yang digali tidak begitu payau, maka tak perlu menggunakan air laut untuk mandi, mencuci piring, dan aktivitas MCK lainnya. Sebab bukan menjadi kebiasaan bagi warga pulau untuk menadah hujan.

Sebab bukan pemandangan tabuh di pulau ini, mandi dengan menggunakan air laut, terutama bagi warga yang rumahnya memang berada di jalur hijau alias di atas laut. Cukup siapkan timba, ayunkan ke muka air laut, dan guyurlah sekujur tubuh, jangan lupa pakai sabun yang paling berbusa. Dan selesai satu perkara, mandi air laut!

Saya selama hampir dua bulan live-in di rumah kepala kampung, cukup merasakan peranan air laut pada aktivitas MCK. Buang air besar yang langsung di atas laut, juga harus cebok menggunakan air laut. Sedangkan air yang ditampung di profil tank juga kadang-kadang membuat mandi menjadi mandi yang tidak berbusa, meski telah menyapukan sabun sekian banyak. Hal ini terjadi ketika, air tawar kampung telah habis di profil tank, sementara giliran pengaliran belum tiba, maka disedotlah air dari sumur galian di sekitar rumah.

Selain air tawar yang memiliki jaringan instalasi dan sumur galian, masih ada fasilitas air tawar lainnya di pulau ini, ada fasilitas penjernihan air tawar menjadi air siap minum. Sistemnya menyerupai depot air minum di kota-kota. Sumber listriknya dari tenaga surya. Air dijual pergalon seharga 10.000 rupiah. Fasilitas ini juga diswakelola oleh warga pulau, yang merupakan hibah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Karunia air tawar inilah yang membuat pulau ini semakin dipadati penduduk setiap waktu. Selain tingkat kelahiran yang tinggi, invasi warga pendatang juga memperlihatkan tren yang meningkat. Akibat kepadatan penduduk ini, muncul begitu banyak persoalan, dan yang paling urgent adalah akan bermuara pada persoalan ketersediaan dan suplay air tawar untuk memenuhi hasrat hidup warga pulau. Kita tahu, peningkatan jumlah penduduk sama dengan peningkatan jejak ekologis manusia pada bumi. Maka, bertambah penduduk sama dengan bertambahnya sampah. Sedangkan sampah di pulau adalah jenis sampah yang begitu sulit dikendalikan.

Sebab Pulau Balikukup adalah pulau kecil, yang bila kita berdiri di salah satu tepi pantainya di sisi utara atau selatan, kita bisa melihat laut di sisi seberangnya. Maka tidak untuk tempat membuang sampah terkecuali membuangnya ke laut. Bila pun dibakar, kepadatan rumah di pulau menjadi tantangan tersendiri untuk menghindari kebakaran. Bila ditimbun secara terus menerus, maka justru bisa saja berpotensi mencemari air tawar yang begitu diandalkan di pulau ini. Begitu pula pada sampah langsung manusia dalam bentuk tinja. Bak resapan untuk tinja manusia, mungkin tidak pernah bijak diterapkan di pulau ini. Air tawar dekat, laut lebih dekat. Tapi kita lebih menjaga air tawar. Maka manusia di pulau adalah sebuah korelasi yang nyata bagi ketersediaan air tawar.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

Ketidakrinduan yang Ditakutkan

Posted in Blogger Kampus, Feature, Patriot Negeri with tags , , , , on June 13, 2017 by mr.f

Hari ini, untuk kedua kalinya saya luput untuk sahur. Padahal sejak malam saya sudah menyiapkan makanan yang siap disantap. Cumi-cumi hasil pancing saya sendiri di samping rumah, gagal saya nikmati. Pun dengan sayur bayam yang terlanjur dimasak dan tak mungkin dipanasi hari ini. Dan yang tak lebih menyedihkan adalah kealfaan saya menghadiri shalat subuh berjamaah di masjid satu-satunya di pulau ini. Absen shalat subuh tadi adalah menjadi ketiga selama ramadhan ini.

Di pulau ini, saya senang berkarib dengan para jamaah masjid yang kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Ketika saya melewatkan dua shalat fardu berjamaah secara berturut-turut, maka kehadiran saya pada shalat setelah itu akan menjadi waktu dimana saya mendapatkan pertanyaan, “kenapa nda datang shalat berjamah tadi, saya kira Bapak sakit atau kenapa-kenapa?”

Kehidupan sosial seperti ini adalah kebutuhan bathin bagi saya. Saat-saat dimana peran keluarga hadir walau hanya dalam bentuk pertanyaan. Selain itu, berkerabat dengan jamaah dan masjid bagi saya adalah suatu pola exist strategy yang selalu saya terapkan. Masjid bukan hanya tempat menunaikan ibadah ritual, tapi di masjid saya menjalin habluminannas dengan begitu cepat dan lekat.

Lihat kaligrafi kuning emas di gambar sampul postingan ini, itu adalah karya saya bersama takmir masjid di pulau ini. Bukan karya murni, karena polanya saya tiru dari seorang kaligrafer Malaysia. Dengan kaligrafi itu terpasang di mihrab masjid, bukan membuat saya menjadi bangga, tapi menjadikan saya malu untuk melalaikan satu waktu shalat di masjid ini.

Menjadi takmir masjid juga pernah saya jadikan sebagai judul tulisan ketika bertugas di Papua Barat. Sangat penting untuk tidak mengambil jarak dengan masjid. Ada seribu alasan melalaikan panggilan shalat berjamaah di masjid, yang hanya lima kali dalam sehari. Tapi tidak ada secuil kuasa kita untuk mengingkari kebesaran Tuhan pada tiap takbir yang dikumandangkan.

Memakmurkan masjid adalah tuntunan dan merupakan konsekuensi kita menganut Islam, pun kita belum menyadari kenapa kita beragama Islam, apakah hanya warisan atau telah menjadi pilihan jalan hidup yang telah melewati lorong panjang pemikiran kritis. Atau kita cukup menyadari agama adalah hidayah, dengan begitu kita telah memikul tanggungjawab sebagai ummat, dilakukan atau diabaikan.

Masjid dimana saja adalah tetap masjid, yang harus dimakmurkan. Tidak peduli, kecil atau besar, megah ataukah sederhana, ber-AC atau hanya angin jendela, berlantai marmer atau berpasir, imamnya merdu atau sayup-sayup, jamaahnya banyak atau merangkap. Sebagai muslim, ketika uzur shalat di masjid sudah lebih besar dibanding keinginan melangkah, disitulah awal mula kita menjadi muslim yang tidak taat.

Makanya, hal yang paling saya takutkan di dunia ini adalah hilangnya kerinduan saya pada masjid. Naudzubillah. Dimanapun, di usia kapanpun nantinya, ingatkan saya tentang ketakutan saya ini. Ketika telah tercabut rindu pada masjid maka sama artinya bahwa hati telah menjauh dari Tuhan. Telah nadir pula iman di dada. Mungkin juga telah tiada cinta lagi kepada Nabi dan Ilahi. Telah menjadi mahluk kufur pada nikmat.

Sehingga, untuk melawan ketakutan itu, saya justru menumbuhkan rindu yang tidak pernah saya utarakan sebelumnya, rindu serindu-rindunya pada masjid-masjid di tanah haram. Memupuk rindu pada masjid di tanah haram adalah usaha memupuk iman, usaha untuk menerabas uzur-uzur duniawi yang menghalau langkah kaki ke masjid-masjid terdekat. Wallahu alam bisshawab.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

.