Archive for the Sajak Category

Aku, Buku, dan Ibuku

Posted in balikukup, Blogger Kampus, Sajak with tags , , , , on June 9, 2017 by mr.f

Sungguh rindu aku dengan buku,
terlebih pada ibuku.
Pada buku aku terlupa.
Pada ibuku aku terjaga.

Lelapku hampa tanpa buku.
Dulu aku sering menolak tidur,
lalu buku menutup mataku.
Buku telah jauh.
Aku juga gampang jenuh.
Imanku pada buku menuju nadir
Yang tak kutahu kapan kembali hadir.

Dulu, dulu yang lama,
aku sering menutup mata bersama ibuku.
Aku yang banyak berkisah dari kota,
dan banyak tempat yang kudatangi.
Ibuku tertawa saja
kalau ada yang lucu dalam cerita.
Aku ingin bercerita lagi,
di dekat dekat dari telinga ibuku
Biar ibuku tahu,
bahwa dialah ujung usahaku.

Aku kini berjarak jauh dengan dua itu,
buku dan ibuku.
Aku rindu tapi tak kutahu cara kembali.
Sudut pandang berubah,
dan aku terjebak di sudut itu.

 

Pulau Balikukup, Jumat 9 Juni 2017 – 14 Ramadhan 1438 H

Gambar: Dokumentasi Pribadi

 

Advertisements

Malam dan Irama Pulau

Posted in balikukup, Blogger Kampus, Patriot Negeri, Sajak with tags , , , , on April 26, 2017 by mr.f

Kulihat bintang memantul di muka air.
Lampu perahu di entah dimana juga membaur di warna malam yang ditinggalkan purnama.
Suara-suara musim yang hendak berganti pun telah bernyanyi.
Laut teduh dan nelayan beraksi menemukan rezekinya.
Di ujung dermaga, para remaja belajar mengenal perasaan.
Di atas pulau, lain pula jenis hiburannya.
Banyak fragmen terurai di sini.

Di antara kegelapan dan kecemburuan sosial.
Bintanglah yang paling setia.
Air dan kotoran yang menyatu mengisi semesta.
Kepuasan ada pada saat insting praktis itu diselesaikan.
Tidak ada kecerobohan yang paling fatal selain mengabaikan masa depan.
Dunia yang singkat juga keinginan yang silih berganti.

Orang pulau yang gerah. Sebab dingin dibawa angin.
Malam yang cemerlang. Hati yang dipenuhi ilusi kebahagiaan.
Keterbatasan dalam bingkai lautan.
Antara hal-hal yang tidak ada dan suara-suara yang di seberang sana.
Tuhan memberi banyak, juga tak selalu dianggap ada.
Maka disitulah kepuasan selalu berjarak dengan isi kepala.

Puisi malam dilambaikan pendar gemintang.
Nada tanpa irama bergaung di ruang kenyataan.
Harapan yang terpisah dari kehidupan.
Orang-orang menyangka, bahagia tidak disini.
Jauh dari lautan, itulah tempatnya bersemayamnya surga dunia.

Tapi aku tak ragu, selalu ada doa dari banyak keyakinan.
Dan di hatilah kenikmatan hidup bisa dirasa.

 

Malam di Pulau Balikukup, 16 April 2017

 

gambar; twitter @luthfihahaha