Archive for the Petualangan Category

Menyaksikan Respon Masyarakat Pedalaman Terhadap PLTS

Posted in #15HariCeritaEnergi, Feature, kampung bamana, lomba blog, patriot energi, Petualangan with tags , , , , on August 18, 2017 by mr.f

Setiap orang punya standar untuk bersyukur. Kenikmatan-kenikmatan yang dirasakan sudah memiliki ukuran sehingga tahu kadar kenikmatan tersebut berada di level biasa saja atau telah menjadi suatu keadaan yang diluar kebiasaan. Namun mungkin tidak semua orang tahu cara bersyukur. Dan mungkin juga tidak semua orang punya kemauan untuk bersyukur. Sebabnya bisa saja adalah karena tidak semua orang memiliki kadar kebutuhan, atau bahkan tidak semua orang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan.

Kesempatan ini akan saya gunakan untuk menuliskan dua respon situasi yang berbeda terhadap pemberian kadar kenikmatan yang sama. Dasar tulisan ini tentu saja adalah pengalaman saya sendiri selama bertugas menjadi Patriot Energi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia di dua tempat yang berbeda. Kondisi kampung bisa dibilang sama-sama terpencil dan sangat susah akses. Tempat yang pertama di Kelompok Kampung Sumentobol di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan tempat yang kedua adalah di Kampung Bamana, Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat.

Kedua kampung ini sama-sama menerima paket bantuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 30 Kwp dari Kementerian ESDM namun berbeda tahun pembangunan. Di Kelompok Kampung Sumentobol di Nunukan, pembangunan PLTS 30 Kwp tersebut dimulai pada akhir tahun 2015 hingga bulan maret 2016 sedangkan di Kampung Bamana di Papua Barat PLTS dibangun sejak pertengahan tahun 2016 hingga bulan desember 2016. Kedua kampung ini masing-masing memiliki kontur tersendiri yang membuatnya terkategori sebagai kampung terpencil sehingga dinyatakan layak untuk menerima bantuan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik.

Di Kampung Sumentobol, letak kampungnya berada di hulu sungai yang cukup dekat dengan garis batas dua negara, Indonesia dan Malaysia. Kampung Sumentobol sendiri adalah kampung yang sangat unik karena merupakan kampung yang di dalamnya terdiri dari tujuah kampung berbeda yang ketujuh kampung tersebut masing-masing memiliki struktur pemerintahan. Ketujuh kampung tersebut berada dalam satu hamparan di tepi sungai Lumbis yang masing-masing kampung maksimal memiliki 30 kepala keluarga, bahkan ada dua kampung yang jumlah kepala keluarganya kurang dari sepuluh kepala keluarga. Kalau dari segi bangunan rumah, maka ada kampung yang hanya memiliki lima bangunan rumah saja. Sehingga total bangunan rumah dari ketujuh kampung tersebut pada akhir tahun 2015 hanya 85 unit saja, termasuk fasilitas umum seperti tiga Balai Adat, Puskesmas Pembantu, dan Sekolah Dasar.

Tentu saja karena Kampung Sumentobol hanya dapat diakses melalui jalur sungai selama kurang lebih 5 jam menggunakan perahu tempel dari pusat kecamatan yang memiliki jalan darat menjadikan kampung ini layak menerima fasilitas pembangkit listrik, yang memang merupakan program Nawacita Presiden Jokowi, yakni membangun dari desa, terutama desa-desa terpencil.

Begitu juga dengan Kampung Bamana di Papua Barat yang letaknya hampir tepat di leher Pulau Irian dan tidak memiliki akses darat, membuat kampung ini harus ditempu dengan mengarungi Laut Aru selama kurang lebih 12 jam lamanya menggunakan kapal perintis. Maka hampir bisa dipastikan kalau kampung ini adalah termasuk dalam salah satu dari belasan ribu kampung di Indonesia yang tidak terjangkau oleh listrik negara. Sehingga pembangunan fasilitas pembangkit listrik yang merupakan pembangunan yang menggunakan anggaran murni dan langsung dari Kementerian ESDM telah tepat pada tempatnya.

Situasi demografi kedua kampung ini memiliki kemiripan dalam hal jumlah penduduk. Di Kampung Bamana ada kurang lebih 73 bangunan termasuk fasilitas umum. Begitu pula dengan kondisi topografi kedua kampung ini, kampung memanjang tidak lebih dari dua kilometer. Sehingga pembangkit listrik dengan kapasitas 30 kwp sudah sangat cukup menjawab kebutuhan penerangan rumah dan kampung.

Tetapi mari kita cermati respon masyarakat kedua kampung ini menerima pembangunan PLTS di kampung mereka. Tentu saja respon yang akan saya tuliskan ini adalah reduksi yang sangat subjektif dari pengalaman saya mengamati perilaku masyarakat kedua kampung dengan durasi live in yang hampir sama, yakni kurang lebih 5 bulan lamanya.

Masyrakat kedua kampung sama-sama memahami bahwa kampung mereka merindukan hak akan listrik yang sama dengan masyarakat di perkotaan. Menikmati listrik dari PLN dengan daya tinggi. Setelah puluhan tahun mendiami kampung tersebut, tentulah mereka juga menginginkan listrik hadir guna menjawab berbagai kebutuhan. Namun bagaimana mereka merespon pembangunan begitu berbeda. Masyarakat di Kampung Sumentobol, sangat bisa diklaim begitu antusias dan dengan tangan terbuka menerima pembangunan PLTS di tengah kampung mereka. Dan dengan kehadiran saya mempersiapkan mental mereka untuk membantu pembangunan secara swadaya dan mempersiapkan organisasi pengelola PLTS, maka keberadaan PLTS di Kampung Sumentobol menjadi sebuah karunia yang senantiasa mereka syukuri.

Dapat saya ceritakan bagaimana peran Kepala Adat Kelompok Kampung Sumentobol begitu dominan dalam hal membentuk opini membantu pembangunan PLTS secara swadaya, walaupun Kepala Adat tersebut harus berhadapan dengan tujuh kepala kampung. Kepala Adat tidak perlu dua kali memanggil masyarakatnya untuk ikut gotong royong menarik kabel ke sepanjang kampung, atau mengangkat aki dari tepi sungai yang miring ke lokasi shelter PLTS, atau ketika seluruh tiang-tiang harus diletakkan di posisi yang telah ditentukan. Masyarakat tidak begitu sulit untuk diarahkan mengambil peran dalam pembangunan PLTS.

Sedangkan situasi begitu berbeda di Kampung Bamana. Saya tidak bermaksud sinis dan menghakimi watak dan perilaku masyarakat di sana, tetapi memang seperti itulah kejadian di lapangan. Masyarakat kampung sama sekali tidak memiliki peran dalam pembangunan PLTS. Seluruh aktivitas pembangunan dipandang sebagai sebuah aktivitas proyek dimana setiap tetes keringat masyarakat harus memiliki imbalan uang. Mental proyek begitu kuat di tengah masyarakat. Dalam hal pemindahan material PLTS, semua gerakan yang dilakukan warga terukur dengan uang. Aki yang dipindahkan ke lokasi shelter, kabel yang ditarik, tiang yang diangkat. Semua harus dibicarakan persoalan imbalannya. Maka waktu itu, usaha saya mempersiapkan mental masyarakat tidak membuahkan hasil yang serupa dengan Kampung Sumentobol.

Sehingga sampailah saya pada kesimpulan bahwa cara orang bersyukur begitu jauh berbeda, bahkan bila kebutuhan yang telah lama diidamkan telah terpenuhi.

Ditulis di Pulau Balikukup, Berau, Kalimantan Timur

18 Agustus 2017

#15HariCeritaEnergi

 

Mi Instan dan Bulan Terang

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, Patriot Negeri, Petualangan with tags , , , , , on June 17, 2017 by mr.f

Bagi kaum pendatang yang berprofesi bukan sebagai nelayan, seperti saya. Istrahatnya warga melaut, bisa berarti istrahatnya pula memakan ikan segar. Sebab ikan segar di pulau, adalah barang yang tidak perlu dibeli. Asal sedikit mau bermuka tebal, bisa makan ikan segar. Saya sendiri sebenarnya bisa saja memancing ikan bawis di samping rumah, tapi masih ada hal yang lebih produktif selain memancing yang bisa saya kerjakan.

Dengan kebiasaan kota yang masih sedikit melekat, saya tentu tidak merasa apa-apa bila berhari-hari tidak mengkonsumsi ikan. Di kotak logistik, mi instan selalu tersedia, juga bumbu nasi goreng kemasan. Mi instan adalah jawaban, meskipun bertentangan dengan ideologis yang menolak secara batiniah penjajahan ekonomi kapitalis juga penjajahan atas ketergantungan pada MSG. Namun selalu bisa dimaklumi, bahwa mi instan adalah perbekalan seorang petualang. Dalam kesendirian atau lebih seru dalam keramaian. Sehingga untuk seorang perantau yang punya idealis melawan kapitalisme dan mendambakan kedaulatan pangan dan ekonomi masyarakat, setiap kali mengkonsumsi mi instan, setiap kali itu juga terbesit rasa bersalah yang juga selalu dimaafkan sendiri.

Intensitas mengkonsumsi mi instan saya selama di Pulau Balikukup jauh lebih rendah dibanding di tempat lain. Bahkan beberapa bungkus mi instan yang saya beli untuk persiapan, bertahan hingga melewati tanggal kadaluarsa yang tertera di kemasan. Sudah jadi hal biasa di pulau begini, makanan-makanan kemasan sampai pada umur kadaluarsa. Lebih dua bulan mi instan itu tak tersentuh sampai akhirnya menjadi makanan ikan di samping rumah.

Kalau ada orang yang bilang bahwa mi instan kurang jika hanya sebungkus dan jika dua bikin eneg, maka cobalah hidup di pulau. Sebungkus mi instan itu bisa untuk beberapa orang, sebab hanya menjadi pengganti sayur saja yang begitu langka di pulau ini. Apalagi untuk jenis mi kuah. Sebungkus itu bisa untuk untuk membasahi nasi satu keluarga. Beberapa hari yang lalu saya malah membagi sebungkus mi instan untuk dua kali masak. Itupun tak mampu saya habiskan perseparuh mi itu. Ini pertama kalinya saya lakukan. Memakan sebungkus mi untuk dua kali, terpaut beberapa hari pulak.

Kadang muncul pikiran di kepala, di pulau ini kita boleh pegang banyak uang, tapi tidak punya pilihan untuk memenuhi selera makan. Namanya juga pulau terluar. Mi instan berperan besar menggantikan sayur mayur yang tidak tumbuh di pulau berpasir ini. Sehingga suplay mi instan di pulau ini tidak boleh terputus, setingkat dengantidak boleh terputusnya sembako.

Gambar; dokumen pribadi

#15HariMenulis