Archive for the Petualangan Category

Patriot Energi Sebelum ke Lokasi

Posted in #15HariCeritaEnergi, Blogger Kampus, Feature, lomba blog, patriot energi, Petualangan with tags , , , , on August 26, 2017 by mr.f

Di hari ke sepuluh tantangan 15 hari menulis cerita tentang energi, saya akan melanjutkan cerita yang saya tulis di hari ke sembilan kemarin, tentang peristiwa-peristiwa yang dialami Patriot Energi sebelum diberangkatkan ke lokasi penempatan. Cerita kemarin berakhir perpisahan dengan Wanadri selaku intsruktur lapangan pelatihan hidup di alam bebas.  Setelah perpisahan di Rancaopas, kami kembali ke Subang, tepatnya di Desa Panaruban, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya kami sempat ke Jakarta selama tiga hari untuk memulihkan diri, tetapi lebih tepatnya disebut mengecek diri. Sebab kami berdelapanpuluh melakukan medical check up (MCU) di Rumah Sakit TNI Angkatan Darat di Jakarta. Barulah ketika usai MCU kami langsung diangkut lagi pakai truk tentara ke Subang, ke desa Panaruban.

Panaruban juga begitu terkenang, banyak pertemuan terjadi di tempat ini. Banyak sekali fasilitator dari berbagai bidang keahlian, namun semuanya menyangkut kompetensi pemberdayaan masyarakat, kompetensi ketiga. Walaupun nanti ada pula beberapa kali materi tentang kompetensi kedua, kompetensi keteknikan.

Saya akan menyebut orang-orang berkapasitas di bidangnya yang berhasil saya ingat hingga hampir dua tahun setelah pertemuan itu. Di Panaruban, kami bergaul dengan fasilitator hebat, saya sebut ada Kak David, Kak Mike, Kang Jalil, Kang Herri, Kak Kurnia, Kak Sintia, Kak Alvi, Kak Gabon, dan banyak lainnya yang belum sempat saya ingat lagi. Di Panaruban kami juga kedatangan beberapa pembicara, ada Pak Kuntoro Mangkusubroto, Menteri Pertambangan di Kabinet Pembangunan dan di Kabinet Reformasi Pembangunan. Ada Ibu Sri Palupi konsen membela tanah rakyat dari serobot pertambangan. Kang Suroto yang masih muda tapi sudah bergelut aktif di dunia perkoperasian Indonesia, dan juga kami kedatangan kembali Pak Hendro Sangkoyo, atau Pak Yoyok yang di kemudian hari menjadi teman korespondensi email saya yang panjang-panjang untuk mengkonsultasikan strategi pengorganisasian masyarakat yang releable sesuai dengan kondisi sosial masyarakat kampung, yang waktu itu saya belum lama di Kampung Sumentobol, Nunukan, Kalimanatan Utara. Oh tentu saja, saya tidak berkorespodensi di Kampung Sumentobol, sebab jangankan jaringan internet, listrik saja tidak ada di Sumentobol pada saat itu, hingga PLTS berhasil menerangi kampung yang pada hingga hari ini masih beroperasi dengan baik.

Selain itu ada orang-orang IBEKA, institusi yang didirikan oleh Ibu Tri Mumpuni dan Bapak Iskandar Kuntoadji. Fasilitator IBEKA adalah fasilitator kawakan yang sudah malangmelintang di dunia sosial pemberdayaan masyarakat, terutama pada aktivasi potensi energi terbarukan di tanah air. Sayangnya saya tidak mampu mengingat semua nama fasilitator IBEKA tersebut pada hari, akan tetapi beberapa fasilitator yang terus menjalin komunikasi dengan Patriot Energi hingga di tengah-tengah masa tugas atau di purna tugas, yaitu Kang Gun Gun dan Kang Iwak.

Dua minggu kami bergelut dengan materi dan praktek pemberdayaan masyarakat di Panaruban. Lalu kami akhirnya melangsungkan upacara pelepasan Patriot Energi ke ujung-ujung negeri. Kami dilepas langsung oleh Menteri ESDM yang pada saat itu adalah Sudirman Said, di sebuah malam bergantinya tanggal di puncak bukit bersama dengan penaikan bendera besar. Namanya Bukit Santiong. Bendera itu dikhtiarkan untuk dikibarkan terus dan akan diturunkan ketika para Patriot Energi usai melaksanakan tugasnya di ujung negeri, sekitar akhir Maret 2016 bila waktu-waktu itu tanpa halangan. Sayangnya bendera itu, di pertengahan masa tugas Patriot Energi angkatan pertama diturunkan secara paksa oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Ada banyak makna dari seremonial-seremonial yang dkerjakan selama pembekalan. Upacara bendera setiap pagi, olahraga di subuh yang dingin, makan menggunakan omprengan, minum dengan gelas bambu, kedisipilinan memanajemen diri sendiri, dan masih banyak aktivitas yang dilatihkan kepada Patriot Energi. Sebab pembekalan itu memanglah sangat aplikatif ketika saya berada di kampung-kampung yang dipenuhiketerbatasan dan menuntut penyesuaian diri yang cepat. Semua materi tentang pemberdayaan masyarakat itu menjadi begitu berperan untuk memudahkan pengorganisasian masyarakat penerima hibah bantuan pembangunan PLTS Terpusat.

Sebenarnya, inti keberadaan Patriot Energi di tengah-tengah masyarakat kampung di pedalaman negeri ini adalah bagaimana seorang Patriot mampu menyentuh alam kesadaran masyarakat yang mungkin selama ini merasa tidak dipedulikan oleh negara atau sebaliknya, merasa serba bergantung dengan negara. Saya mengalami kedua situasi sosial masyarakat itu, di Sumentobol, Nunukan, masyarakat menganggap negara tidak mampu hadir di tengah kesulitan-kesulitan yang terjadi di daerah-daerah terdepan, sebab Sumentobol sendiri termasuk kampung di daerah perbatasan yang menjadi jendela untuk melihat negara Indonesia. Sehingga kehadiran PLTS Terpusat berkapasitas 30 Kwp pada saat itu di Sumentobol menjadi indikasi yang baik bahwa negara telah melirik kampung-kampung terdepan yang selama ini terabaikan. Sebaliknya di Kampung Bamana, di Papua Barat, masyarakat justru sangat terbiasa dengan bantuan-bantuan yang diberikan oleh negara. Sehingga di semua kampung yang dibangun fasilitas pembangkit listrik, maka kata kuncinya tetaplah masyarakat sendiri harus mampu merawat dan mengelola fasilitas hibah tersebut. Di situlah peran besar Patriot Energi sebagai external activator, pihak luar yang mencoba mengajak masyarakat kampung untuk mengurusi PLTS yang dibangunkan. Kita sama-sama melihat begitu banyaknya fasilitas negara yang dibangun di kampung-kampung yang usianya sangat pendek dan masyarakat merasa tidak bertanggung jawab terhadap fasilitas tersebut.

Ada hal yang paling penting dari semua perkenalan Patriot Energi ini. Saya tidak mungkin luput mengenalkan orang-orang pemrakarsa Patriot Energi ini. Meskipun sudah sempat saya mention namanya sebagai pendiri IBEKA di bagian atas, tapi saya mutlak menghaturkan banyak terima kasih atas inisiatif pasangan ini mendeklarasikan Patriot Energi untuk para insinyur-insinyur muda di Indonesia. Pasangan inilah yang bekerja siang malam, menyiapkan segala hal yang bertalian dengan misi Patriot Energi ini. Beginilah jalan takdir meniti dan mempertemukan manusia-manusia dari berbagai tempat dan pulau-pulau se Indonesia. Bila ada yang belum mengenal Ibu kami Ibu Tri Mumpuni (yang ada di gambar postingan ini)  silakan searching di google dan pasti akan menemukan ketakjuban-ketakjuban pada profil beliau. Di samping pasangan Ibu Puni dan Pak Is, ada Kang Yan Yan orang kepercayaan pasangan itu yang bertindak lincah menyelesaikan urusan-urusan.

Bagian akhir dari tulisan ini, tentunya saya ingin menyebut dengan segala itikad baik kepada Kementerian ESDM yang memberikan ruang faedah bagi insinyur-insinyur muda mendapati dirinya di tengah keterasingan dan perbedaan yang banyak. Terima kasih Kementerian ESDM atas kesempatan yang diberikan kepada kami Patriot Energi, mengabdikan diri untuk negeri. Patriot Energi, Siap Membangun Bangsa!!!

#15HariCeritaEnergi

Gambar; tim dokumentasi Patriot Energi

Advertisements

Pembekalan Patriotisme Patriot Energi

Posted in #15HariCeritaEnergi, Feature, lomba blog, patriot energi, Petualangan with tags , , , , on August 25, 2017 by mr.f

Hari kesembilan di tantangan 15 hari menulis cerita bertema energi, saya memilih untuk menerangkan lebih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Patriot Energi diterjunkan ke kampung yang akan didampingi pembangunan dan pengelolaan PLTS-nya. Meskipun hari ini Patriot Energi yang tersisa hanya cerita sejarah tapi akan saya gunakan gaya cerita seolah saya adalah Patriot Energi yang selamanya Patriot Energi. Akan saya awali dengan perkenalan dengan gaya tutur yang berbeda. Perkenalkan, saya seorang patriot. Bukan patriot dari militer. Saya Patriot Energi Indonesia dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Tugas saya menggerakkan energi tanah air. Terdengar begitu heroik, berciri seorang calon pahlawan. Bila betul, saya menggerakkan energi di tempat bertugas dan energi itu berkelanjutan, maka boleh jadi saya betul-betul layak mendapat gelar kehormatan patriot energi yang sejati. Akan tetapi gelar dan kehormatan bukanlah menjadi tujuan dari misi kedatang Patriot di kampung-kampung.

Sebelum bertugas di daerah yang tertinggal energi listrik, untuk membantu masyarakat mencapai kedaulatan energi. Selama sebulan saya mendapat pembekalan dan internalisasi nilai patriotisme. Empat kompetensi dasar seorang patriot penggerak energi tanah air. Yang pertama kompetensi kejuangan, yang di dalamnya tertanam ketahanan fisik, kekuatan mental dan kebaikan moral. Kompetensi kedua seorang patriot energi adalah tentunya kompetensi keteknikan, yang bermuatan akan pengetahuan teknik, kemampuan rekayasa teknik, dan kemampuan transfer pengetahuan teknik.

Kompetensi yang ketiga adalah kompetensi pembangunan berbasis masyarakat. Kompetensi ketiga ini meliputi pengetahuan keberlanjutan, kemampuan seputar kemasyarakatan, dan kemampuan perberdayaan masyarakat. Kompetensi terakhir, sekaligus menjadi kunci kompetensi patriotisme adalah kompetensi keikhlasan. Kompetensi ini mencakup hal abstrak dan mahaluas, tapi ada beberapa poin penting yang harus dipahami seorang patriot energi dalam menjalankan tugasnya. Poin-poin itu seperti pemahaman tentang posisi diri dan tanggung jawab sosial, empati dan akal sehat, serta kemampuan egaliter atau demokratisasi.

Selama pembekalan dan internalisasi nilai patriotisme itu, jiwa saya memang telah mengalami pergolakan sepanjang hari. Meleburkan kebiasaan-kebiasaan individulisme bawaan dari kehidupan sebelumnya, bukanlah hal mudah. Tidak hanya sampai di pergolakan jiwa itu, integritas yang murni juga diuji. Integritas yang selama ini tak lebih dari integritas semu yang miskin kejujuran, kini harus menampakkan wajah sejatinya. Wajah integritas yang sebenar-benarnya tanpa kamuflase. Saya suka dengan semua metode pelatihan yang diterapkan selama pembekalan.

Di mulai dengan pertemuan bersama beberapa tokoh nasional. Diskusi dengan Bang Ricky Elson (pencipta mobil listrik Indonesia), dengan Pak Hendro Sangkoyo, Menteri ESDM Sudirman Said pada saat itu dan mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan , dan masih banyak tokoh nasional lainnya yang kini tidak mampu saya tuliskan namanya, namun tentunya ilmu yang didiseminasikan kala itu masih membekas di ruang ingatan.

Lalu setelah bertatap dan bercakap dengan tokoh nasional di Jakarta, kami digiring ke daerah dingin bernama Dusun Buni Kasih. Saya tidak tahu persis letak administratif dusun ini. Selain karena kami berdelapan puluh diangkut dengan mobil tentara yang tertutup, smartphone juga tidak diperkenankan untuk dibawa pergi, saya juga asing dengan daerah-daerah baru di Jawa Barat itu. Tapi bisa saya ingat, dusun itu mungkin masih di daerah Subang. Sebab terakhir kali saya ingat, di Subang atau waktu itu ada perkebunan teh yang elok bernama Ciater. Sekitar tiga jam rasa-rasanya kami di dalam truk tentara itu, terus menanjak dan akhirnya memasuki daerah yang dingin dan sunyi. Sebelum memasuki Dusun Buni Kasih kami disajikan dengan pemandangan alam hijau yang indah. Saat itu, pertarungan fisik telah dimulai. Semua orang masing-masing membawa carrier-nya yang tidak kurang beratnya 15 kilogram. Dan berjalanlah bagai kawanan semut yang panjang sepanjang kelok jalan di perkebunan teh itu. Paling tidak, jarak sejak kami diturunkan dari truk hingga ke dusun mungkin 4 kilometer, dengan durasi perjalanan sekitar tiga jam.

Dusun Buni Kasih, dusun yang dingin, tetapi masyarakatnya sama sekali tidak dingin. Dusun ini menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Ah, hampir saya lupa, dusun ini adalah dusun terakhir bila seseorang hendak mendaki gunung gunung di belakang dusun itu. Nampaknya tidak terlalu tinggi, itu juga yang membuat saya tidak terlalu penting untuk mengingat nama-nama gunung gunung itu.

Kami melewatkan Hari Raya Idul Adha, atau Hari Kurban di dusun kecil ini, pada dua tahun yang lalu. Semuanya menjadi sederhana, sebab sudah tentu dusun tanpa PLN ini adalah dusun yang sederhana  pula. Jaringan provider apapun disini juga menjadi sederhana dan nyaris tidak ada. Orang dusun terkadang menyoalkan hal itu di antara pembicaraan kami berikutnya.

Hanya tiga hari di dusun asri ini, kami bertolak ke Ciwidey, pastilah kami berjalan lagi menggendong ransel keluar dusun selama kurang tiga jam. Ciwidey itu seingat saya sepaket dengan wisata alam Kawah Putih.

Nah, disinilah hari-hari pengujian kekuatan fisik itu berlangsung, dan masuk pula ujian ketahanan mental menghadapi alam bebas. Kami digembleng oleh Wanadri selama total enam hari, siapa anak gunung yang tidak kenal Wanadri? Betul-betul enam hari itu hari yang panjang dan melelahkan. Saat menjalani waktu itu, rasanya seperti ingin melipat jarum jam, mempercepat waktu. Tetapi bukan patriot namanya kalau tidak menyiapkan ruang lapang dalam hati untuk mengikhlaskan segala kejadian hari-hari itu. Dan satu lagi, saya tidak sendiri, kala itu saya telah menjadi kami, jadi berdiri sama tinggi duduk sama rata. Semua harus menikmati hari-hari pembekalan fisik itu. Yang bisa dirangkum dalam beberapa hari bersama Wanadri adalah bahwa kami harus terlatih berada di titik nadir, berada dalam segala keterbatasan fasilitas, survival di bumi ini. Semuanya memang bersama tapi kami harus bertanggung jawab atas diri dan kawan di samping kanan kiri. Dan tak kalah membekasnya adalah internalisasi nilai nasionalisme Indonesia, metodenya sederhana dengan menggunakan metode repetisi. Kegiatan atau ucapan yang diulang-ulang akan menimbulkan pembiasaan dan pendalaman hingga ke sukma. Saya tidak akan melupakan Indonesia yang diteriakkan setiap tiga langkah sekali, dan upacara-upacara penaikan dan penurunan bendera setiap harinya. Rupanya menjadi Patriot Energi pun harus memasukkan Indonesia yang sejati jauh ke dalam sanubari.

Hari bersama Wanadri usai bersama titik hujan di suatu upacara perpisahan di lokasi bernama Rancaopas. Sejujurnya saya tidak bisa mengatakan saat itu saya bergembira karena telah usai hari yang terasa panjang itu, tetapi sedikit dari diri saya masih tetap ingin menjalani pelatihan yang menguras energi itu. Sebab sungguh banyak pengalaman baru yang didapat selama berhari-hari di alam bebas. Tidak terhitung banyaknya ceritera yang terjalin di sepanjang hari-hari itu. Tetapi perpisahan adalah suatu keniscayaan dari sebuah pertemuan. Maka pembekalan tetap harus dilanjutkan di tempat dan dengan pendekatan yang pasti akan berbeda lagi.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; Tim Dokumentasi Patriot Energi