Archive for the Petualangan Category

Mi Instan dan Bulan Terang

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Patriot Negeri, Petualangan with tags , , , , , on June 17, 2017 by mr.f

Bulan terang telah lewat. Maka langit malam di pulau akan dipenuhi gemintang. Mungkin tidak banyak warga pulau yang menaruh takjub pada pemandangan malam. Tiada yang perlu diserukan untuk hanya sekadar melihat limpahan bintang-bintang yang menghambur. Bagi warga pulau, malam tanpa bintang atau sekalipun mungkin penampakan milkyway, bukanlah hal yang layak diperbincangkan.

Bulan terang hanyalah menjadi periode jedah bagi warga untuk melaut malam. Sedangkan malam gelap bagi nelayan-pancing, adalah kesempatan yang baik menakar rejeki di tengah laut. Tentu bila bukan musim angin.

Sejak awal ramadhan hingga bulan terang, tak banyak ikan yang mendarat di pulau. Sebagian warga memang beristirahat melaut. Serupa tradisi untuk menghormati bulan suci. Namun setelah lewat bulan terang, ada banyak perlengkapan sebelum lebaran yang harus dibeli. Sehingga pemandangan pagi yang ramai di pantai kembali terjadi.

Bagi kaum pendatang yang berprofesi bukan sebagai nelayan, seperti saya. Istrahatnya warga melaut, bisa berarti istrahatnya pula memakan ikan segar. Sebab ikan segar di pulau, adalah barang yang tidak perlu dibeli. Asal sedikit mau bermuka tebal, bisa makan ikan segar. Saya sendiri sebenarnya bisa saja memancing ikan bawis di samping rumah, tapi masih ada hal yang lebih produktif selain memancing yang bisa saya kerjakan.

Dengan kebiasaan kota yang masih sedikit melekat, saya tentu tidak merasa apa-apa bila berhari-hari tidak mengkonsumsi ikan. Di kotak logistik, mi instan selalu tersedia, juga bumbu nasi goreng kemasan. Mi instan adalah jawaban, meskipun bertentangan dengan ideologis yang menolak secara batiniah penjajahan ekonomi kapitalis juga penjajahan atas ketergantungan pada MSG. Namun selalu bisa dimaklumi, bahwa mi instan adalah perbekalan seorang petualang. Dalam kesendirian atau lebih seru dalam keramaian. Sehingga untuk seorang perantau yang punya idealis melawan kapitalisme dan mendambakan kedaulatan pangan dan ekonomi masyarakat, setiap kali mengkonsumsi mi instan, setiap kali itu juga terbesit rasa bersalah yang juga selalu dimaafkan sendiri.

Intensitas mengkonsumsi mi instan saya selama di Pulau Balikukup jauh lebih rendah dibanding di tempat lain. Bahkan beberapa bungkus mi instan yang saya beli untuk persiapan, bertahan hingga melewati tanggal kadaluarsa yang tertera di kemasan. Sudah jadi hal biasa di pulau begini, makanan-makanan kemasan sampai pada umur kadaluarsa. Lebih dua bulan mi instan itu tak tersentuh sampai akhirnya menjadi makanan ikan di samping rumah.

Kalau ada orang yang bilang bahwa mi instan kurang jika hanya sebungkus dan jika dua bikin eneg, maka cobalah hidup di pulau. Sebungkus mi instan itu bisa untuk beberapa orang, sebab hanya menjadi pengganti sayur saja yang begitu langka di pulau ini. Apalagi untuk jenis mi kuah. Sebungkus itu bisa untuk untuk membasahi nasi satu keluarga. Beberapa hari yang lalu saya malah membagi sebungkus mi instan untuk dua kali masak. Itupun tak mampu saya habiskan perseparuh mi itu. Ini pertama kalinya saya lakukan. Memakan sebungkus mi untuk dua kali, terpaut beberapa hari pulak.

Kadang muncul pikiran di kepala, di pulau ini kita boleh pegang banyak uang, tapi tidak punya pilihan untuk memenuhi selera makan. Namanya juga pulau terluar. Mi instan berperan besar menggantikan sayur mayur yang tidak tumbuh di pulau berpasir ini. Sehingga suplay mi instan di pulau ini tidak boleh terputus, setingkat dengantidak boleh terputusnya sembako.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

 

Menakar Air Tawar di Pulau Balikukup

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Petualangan with tags , , , , on June 14, 2017 by mr.f

Tentang air tawar di pulau. Sesungguhnya tidak benar-benar tawar. Seperti kebanyakan air tawar di pulau-pulau. Namun untuk mata air utama yang terletak hampir di tengah pulau, mata air inilah yang paling tawar. Mata air ini juga yang diswakelola oleh masyarakat pulau, hingga memiliki instalasi air ke rumah-rumah. Meski begitu, lebih dari separuh warga tidak memanfaatkan air tawar ini, terutama bagi warga yang letak rumahnya di ujung timur atau ujung barat pulau. Sebab bentuk pulau yang menyerupai teripang, melintang. Selain karena memang jaringan instalasi air tawar ini tidak menjangkau daerah ujung-ujung pulau, air ini tidak mampu mengalir terlalu jauh karena tekanan yang ditimbulkan dari air yang ditampung di sembilan profil tank bervolume masing-masing 5200 liter diletakkan pada ketinggian sekitar 4 meter di atas daratan pulau. Sedangkan jarak terjauh rumah dengan mata air ini sekitar 450 meter.

Air tawar dialirkan secara bergilir ke rumah-rumah setiap tiga hari sekali. Sehingga sebagian warga yang walaupun telah memiliki instalasi air tawar tetap membuat sumur galian untuk memenuhi kebutuhan dasar pada air. Sumur galian yang dibuat warga dalamnya hanya sekitar 2 hingga 3 meter saja, kemudian disedot dengan mesin alkon dan ditampung di profil tank masing-masing rumah. Sedangkan warga di ujung-ujung pulau, bila beruntung sumur yang digali tidak begitu payau, maka tak perlu menggunakan air laut untuk mandi, mencuci piring, dan aktivitas MCK lainnya. Sebab bukan menjadi kebiasaan bagi warga pulau untuk menadah hujan.

Sebab bukan pemandangan tabuh di pulau ini, mandi dengan menggunakan air laut, terutama bagi warga yang rumahnya memang berada di jalur hijau alias di atas laut. Cukup siapkan timba, ayunkan ke muka air laut, dan guyurlah sekujur tubuh, jangan lupa pakai sabun yang paling berbusa. Dan selesai satu perkara, mandi air laut!

Saya selama hampir dua bulan live-in di rumah kepala kampung, cukup merasakan peranan air laut pada aktivitas MCK. Buang air besar yang langsung di atas laut, juga harus cebok menggunakan air laut. Sedangkan air yang ditampung di profil tank juga kadang-kadang membuat mandi menjadi mandi yang tidak berbusa, meski telah menyapukan sabun sekian banyak. Hal ini terjadi ketika, air tawar kampung telah habis di profil tank, sementara giliran pengaliran belum tiba, maka disedotlah air dari sumur galian di sekitar rumah.

Selain air tawar yang memiliki jaringan instalasi dan sumur galian, masih ada fasilitas air tawar lainnya di pulau ini, ada fasilitas penjernihan air tawar menjadi air siap minum. Sistemnya menyerupai depot air minum di kota-kota. Sumber listriknya dari tenaga surya. Air dijual pergalon seharga 10.000 rupiah. Fasilitas ini juga diswakelola oleh warga pulau, yang merupakan hibah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Karunia air tawar inilah yang membuat pulau ini semakin dipadati penduduk setiap waktu. Selain tingkat kelahiran yang tinggi, invasi warga pendatang juga memperlihatkan tren yang meningkat. Akibat kepadatan penduduk ini, muncul begitu banyak persoalan, dan yang paling urgent adalah akan bermuara pada persoalan ketersediaan dan suplay air tawar untuk memenuhi hasrat hidup warga pulau. Kita tahu, peningkatan jumlah penduduk sama dengan peningkatan jejak ekologis manusia pada bumi. Maka, bertambah penduduk sama dengan bertambahnya sampah. Sedangkan sampah di pulau adalah jenis sampah yang begitu sulit dikendalikan.

Sebab Pulau Balikukup adalah pulau kecil, yang bila kita berdiri di salah satu tepi pantainya di sisi utara atau selatan, kita bisa melihat laut di sisi seberangnya. Maka tidak untuk tempat membuang sampah terkecuali membuangnya ke laut. Bila pun dibakar, kepadatan rumah di pulau menjadi tantangan tersendiri untuk menghindari kebakaran. Bila ditimbun secara terus menerus, maka justru bisa saja berpotensi mencemari air tawar yang begitu diandalkan di pulau ini. Begitu pula pada sampah langsung manusia dalam bentuk tinja. Bak resapan untuk tinja manusia, mungkin tidak pernah bijak diterapkan di pulau ini. Air tawar dekat, laut lebih dekat. Tapi kita lebih menjaga air tawar. Maka manusia di pulau adalah sebuah korelasi yang nyata bagi ketersediaan air tawar.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

Pulau-Pulau Sebelah yang Belum Saya Datangi

Posted in balikukup, Blogger Kampus, Patriot Negeri, Petualangan with tags , , , , , , on June 11, 2017 by mr.f


Ada banyak kesyukuran ditempatkan di pulau terluar. Pada awalnya saya sudah bersiap mengalami nasib serupa di dua penempatan sebelumnya, di Nunukan dan di Kaimana Papua Barat. Berhadapan dengan dunia gelap dan blank spot. Namun, disini di Pulau Balikukup, saya menikmati banyak hal sebagai seorang stranger. Tidak begitu merasakan keterasingan dan sebagai kaum minoritas. Ada fasilitas dan kenyamanan meskipun dalam keterbatasan.

Pulau Balikukup itu pulau kecil, yang luasnya tidak lebih dari 15 ha, atau 15 lapangan sepak bola yang dijejer. Sedangkan populasinya cukup padat, penduduknya lebih seribu jiwa dengan total kepala keluarga kurang dari 300 orang. Ada lebih 300 bangunan yang sebagian besar berada di jalur hijau atau di atas laut. Pulau ini menjadi begitu ramai karena dikaruniai rahmat dengan adanya sumber air tawar di sepanjang pulau yang bentuknya menyerupai teripang ini.

Pulau Balikukup sebenarnya berada dalam gugusan Kepulauan Derawan. Namun tidak pernah disebut karena potensi pariwisata di pulau ini tidak dimaksimalkan. Gugus Kepulauan Derawan itu termasuk Pulau Derawan sendiri, Pulau Maratua, Pulau Kakaban, Pulau Sangalaki, dan pulau-pulau di Kecamatan Biduk-Biduk. Kategori ini saya dapatkan di salah satu referensi objek wisata di Kabupaten Berau.

Posisi Pulau Balikukup itu berada di selatan Kecamatan Maratua, dan di utara Kecamatan Biduk-Biduk, tentunya di antarai oleh lautan. Di sekitaran Pulau Balikukup sendiri, ada beberapa pulau kecil tidak berpenghuni yang masing-masing punya keunikan. Misalnya di sisi barat ada Pulau Manimbora, pulau yang lebih kecil dari Pulau Balikukup. 

Pulau Manimbora mengantarai Balikukup dengan daratan Pulau Kalimantan. Pulau ini tidak berpenghuni. Di Pulau Manimbora, ada pemakaman leluhur Suku Bajau, yang kini dihantam abrasi. Pemandangan di Pulau Manimbora jauh lebih menarik dibanding di Pulau Balikukup, kata warga. Sebab saya belum sempat ke Pulau Manimbora, padahal setiap kali ke darat atau dari darat ke Balikukup pasti melintasi dan melihat penampakan Pulau Manimbora. Dan hanya bisa melihat siluet pohon kelapa. 

Sedangkan di sisi timur Pulau Balikukup ada dua pulau berdekatan, namanya Pulau Mataha dan Pulau Bilang-Bilangan. Dua pulau ini juga tidak berpenghuni karena disana tidak ada sumber air tawar. Dua pulau ini merupakan habitat alami penyu untuk bertelur, sehingga pulau ini juga terkenal dengan sebutan Pulau Telur. Saat ini Pulau Telur dalam konservasi oleh Yayasan Penyu Berau atau YPB. Secara administratif, Pulau Telur masuk dalam wilayah Kampung Pulau Balikukup. Pulau Telur akan kita lintasi ketika melakukan pelayaran ke arah Pulau Sulawesi, semisal ke Toli-Toli atau ke Palu. Sama dengan Pulau Manimbora, saya juga belum berkesempatan menginjakkan kaki di Pulau Telur.

Untuk sisi selatan Pulau Balikukup, ada beberapa pulau yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Biduk-Biduk, dan yang terkenal adalah Pulau Kaniungan Kampung Teluk Sumbang. Pulau ini berpenghuni dan diproyeksi menjadi objek wisata andalan yang akan menjadi paket wisata bersama dengan Labuan Cermin, karena letaknya tidak begitu jauh dari daratan. Nah kalau untuk Pulau Kaniungan pada bulan mei lalu saya berkesempatan berkunjung kesana.

Mari kita berbicara tentang kawasan utara Pulau Balikukup. Disana ada Kepulauan Maratua yang jaraknya cukup jauh dari Balikukup. Di Maratua, ada beberapa pulau populer lainnya yang sudah saya sebut di awal, yakni Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Sedikit informasi tentang nama Pulau Maratua, Derawan, Kakaban dan Sangalaki. Kepala Dinas Pariwisata Berau pernah bercerita tentang asal muasal nama pulau-pulau tersebut. Bahwa nama Maratua diambil dari kata “mertua”, Derawan dari kata anak “perawan”, Kakaban dari kata “kakak” dan Sangalaki berasal dari kata anak “laki-laki”. Entah kebenarannya seperti apa tentang sejarah nama-nama pulau ini.

Ke Pulau Maratua adalah salah satu agenda yang belum sempat saya taklukkan. Sebab bila sudah berada di Maratua, hanya takdir buruk yang tidak membolehkan kita ke Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Pada awal ramadhan lalu, sebenarnya saya sudah diajak oleh salah satu warga Balikukup untuk menumpang di perahunya ke Maratua, sayangnya masih banyak tugas yang lebih harus didahulukan.

Demikianlah pembicaraan tentang pulau-pulau. Sebagai anak pulau, mengunjungi pulau-pulau di atas adalah suatu penaklukkan.

#15HariMenulis