Archive for the Penalaran Category

Surat Terbuka untuk Ketum Baru Penalaran

Posted in Opini, Penalaran with tags , , on November 10, 2015 by mr.f

image

Hari ini, bila tidak ada aral melintang, maka Penalaran telah memiliki ketua umum baru. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di luar dari radius pantau penglihatan dan pendengaran secara inderawi. Apalagi sampai bisa menebak siapa yang telah terpilih menjadi ketua umum di Penalaran.

Seperti biasa, saya tidak akan mengucap selamat kepada yang terpilih. Tapi saya mengisyaratkan harap dan semoga yang banyak pada pemimpin baru ini. Hal paling awal yang harus di pahami adalah setiap hasil pemilihan ketua umum dalam Musyawarah Besar Penalaran, tidak akan memuaskan semua pihak yang berkepentingan dalam musyawarah. Fenomena ini adalah dampak dan konsekuensi logis dari dilakukannya sistem pemungutan suara dalam penjaringan kandidat calon ketua umum.

Seorang ketua umum hasil Musyawarah Besar dengan apapun metode keterpilihannya, tidak pernah boleh menyangka untuk bisa diterima oleh semua warga Penalaran. Namun yang semestinya senantiasa dipahami, bahwa keterpilihannya adalah amanah dari dan untuk semua warga Penalaran. Perihal yang saya sampaikan ini bukanlah isyarat adanya indikasi pihak oposisi dalam tubuh besar Penalaran. Perbedaan adalah keniscayaan dalam berorganisasi. Nah, dalam hal seperti inilah ketua mengambil peran urgen mengolah keragaman-keragaman itu menjadi sebuah potensi dan bahan diskusi yang tak berakhir. Bukan malah menjadi bom peretak bangunan kekeluargaan di Penalaran.

Ketua umum terpilih, diterima, tidak diterima atau belum diterima oleh semua, tetap akan mendapat kontrol kekuasaan dan pergerakan. Baik dari arus bawah-junior, arus tengah-pengurus, terlebih arus atas-senior yang seringkali mengalir lebih deras dari arus yang lainnya.

Kontrol dari arus atas-senior, seringkali mudah disalah-tafsirkan. Sehingga, kadang bernada keikut-campur-tanganan senior mengurus dapur kepengurusan. Standar kategori ikut campur tangan memang tidak diatur tegas dalam Pedoman Lembaga Penalaran. Ketidak-tegasan kategori itu, dalam kacamata hukum sangat rentan terbaca sebagai gejala post power syndrome atas senior-senior. Tetapi, dari tinjauan lain, jika semua kontrol dan indikasi ikut campur diperjelas dengan garis tegas dalam konstitusi lembaga, maka ikatan kekeluargaan yang selama ini menjadi sumbu poros hubungan lintas generasi, akan mudah renggang bahkan lepas dari tubuh lembaga ini.

Kepada Ketua Umum Baru LPM Penalaran yang saya harapkan membawa banyak bahan konstruktif organsisasi. Anda tidak perlu tahu semua tentang Penalaran, karena perihal itu tidak akan selesai mungkin sampai satu periode kepengurusan Anda. Yang Anda perlukan adalah Anda tahu apa yang Penalaran butuhkan saat ini untuk menjadi Lembaga Penelitian Mahasiswa yang sejati dan sesuai dengan visi misi organisasi.

Mulailah berhitung tentang perubahan-perubahan dan terobosan-terobosan visioner yang mungkin Anda kerjakan dalam satu masa periode kepengurusan.

Saya sangat berharap, dalam forum rapat kerja nantinya dirundingkan banyak agenda perubahan yang mengarah pada signifikansi pemulihan dan peningkatan kondisi. Coba renungkan peribahasa ini, “lebih baik merencanakan kegagalan, daripada gagal merencanakan”. Saya menyakini, agenda-agenda kebaikan yang telah direncanakan dan dipersiapkan dengan matang namun berbuah kegagalan, itu lebih baik daripada ketakutan-ketakutan yang menyelimuti pikiran kita, sehingga untuk membuat rencana pun kita tak sanggup. Dan disitulah letak kegagalan yang hakiki.

Surat ini tidak berpretensi mengajari anda sebagai ketua umum yang saat ini menjadi pangkal segala urusan di Penalaran. Percayalah dengan prasangka baik. Bahwa saat ini, semua orang yang memiliki kepedulian terhadap Penalaran, sedang bersinergi dengan cara dan sudut pandang terbaiknya sendiri. Prasangka baik akan mengantar kita pada langkah besar untuk menebus spekulasi titik nadir Penalaran di periode yang lalu.

Ingat saja, bahwa setiap masa kerja kepengurusan, absolut memiliki corak warna dan dinamika nya sendiri. Juga kadang nampak seperti gelombang yang bermain amplitudo. Bangkitlah dari titik nadir terendah itu, lalu lampaui puncak gelombang tertinggi sebelumnya. Bukankah pelangi akan merona setelah ada hujan yang mendera bumi sebelumnya.

Langkah Anda memang mungkin baru akan Anda mulai. Corak Anda mungkin baru akan diukir. Dan semoga hujan Anda juga baru saja usai. Sekali lagi lakukan semua ikhtiar Anda atas dasar kebaikan. Hilangkan segala prasangka buruk. Karena hal baik dan buruk berawal dari prasangka yang menggerakkan langkah.

Menjadi pangkal segala urusan mustahil akan terasa berat jika Anda punya pengikut yang loyal terhadap lembaga.  Ketua umum harus punya pengikut dan ketua umum mutlak diikuti. Pengikut adalah buah dari kepercayaan atau trust yang disaksikan. Kepercayaan adalah hal yang dilakukan, bukan diomongkan. Tak ada pengikut tanpa ada rasa percaya pada pemimpinnya. Keprcayaan dapat bertambah subur manakala ada kompetensi dan integritas di dalamnya. Dilakukan dengan tulus dan terus menerus sehingga muncul keintiman di antara pangkal dan semua organ gerak. Lalu timbullah kepercayaan yang tetap kritis antara pemimpin dan pengikut. Bukan hanya loyalitas tanpa batas yang buta garis kritis.

Semoga ketua umum yang baru, mampu menampung harap dari pemerhati Penalaran serupa saya. Karena sejatinya, pemerhati saat ini adalah orang yang pernah mengecap manis buah Penalaran dan tidak pernah lupa betapa rindang dan teduhnya di bawah pohon mangga Rumah Nalar.

Bekerjalah dengan usaha terbaik dan mengatakan, “masa setahun inilah masa kerja berorganisasi terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup”. Yakin, Tuhan tidak sedang bermain dadu menjadikan Anda Ketua Umum di Penalaran. Hebat dan terbang tinggilah Penalaran atas kendali Anda. Semoga selamat sampai akhir.

Tertanda,
@marufmnoor Angkatan 12

Ditulis di Sumentobol, Bumi Dayak Perbatasan. 03 November 2015

Advertisements

Di Antara Mereka

Posted in Aliansi, Blogger Kampus, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Penalaran with tags , , , on September 1, 2015 by mr.f

Di Antara Mereka

Saya selalu punya kawan yang akrab dalam berbagai lingkar pergaulan. Sejak masih sekolah dasar, saat mulai mengenal emosi dan marah, saya telah punya kawan pelarian dan bolos sekolah untuk pergi mencari durian “orang” yang jatuh. Di hukum bersama, di jemur di lapangan upacara. Kawan yang selalu mau diajak ribut dan gaduh di kelas. Kawan yang punya peduli dengan tulus dan belum memahami individualism.

Di tingkat sekolah lainnya, saya berkawan akrab dengan beberapa orang dari berbagai desa berbeda. Kawan bersepeda ke sekolah, pulang dan pergi saling menunggu. Makan di kantin berbagi nasi. Bersaing meraih peringkat di kelas. Bersama ikut-ikutan les bahasa inggris, walaupun tak ada yang bisa di pahami. Mandi telanjang di sungai yang dilewati saat pulang sekolah. Dengan semua itu, saya belum berani mengatakan kalau saya dan beberapa kawan telah saling memahami. Kekonyolan bersama yang saya lakukan adalah kekonyolan yang akan dilakukan oleh semua orang saat keadaan memang mengizinkan untuk berbuat konyol.

Saat berseragam abu-abu, yang kejadiannya telah lampau sepuluh tahunan yang lalu, hingga sekarang kawan akrab di masa itu masih berstatus sahabat. Seingat saya, hanya tersisa saya seorang yang belum berani menerapkan teori percintaan yang dirangkum saat ada kegiatan malam mingguan di sekolah bertajuk Mabit “Malam Bina Iman dan Taqwa”. Tema pembicaraan di bangku sekolah saat jeda jam belajar memang lebih hidup dengan melibatkan nama-nama perempuan yang telah diujicobakan teori pendekatan emosional sebelum memacarinya.

Di tingkat yang lebih dewasa, ketika orang masing-masing ribut mengeja cita-citanya. Masa kuliah tidak hanya menjadi masa menuntut ilmu atau menerapkan teori percintaan yang lebih kompetitif dibanding saat masih bersekolah. Kuliah lebih menjadi seperti kertas putih tanpa bercak. Saya memberi warna yang banyak sekali. Di saat berkuliahlah saya bergaul tidak hanya dengan satu lingkar persahabatan.

Saya punya banyak teman kelas yang sangat solid. Pada masanya. Teman hedon dan menghabiskan waktu sisa kuliah, hingga kembali bertemu pagi keesokannya.Teman bepergian yang addict. Teman hura-hura di studio music, sampai simbal drum berhasil pecah-pecah karena emosi yang meledak melebihi dentuman bas. Teman yang suka berpura-pura serius di kelas saat ada tugas kuliah. Selama kurang lebih lima tahun, hampir semua soliditas itu menguap kembali terpapar oleh urusan yang lebih kini. Hanya tersisa sedikit saja kedekatan. Waktu adalah musuh yang nyata dalam perkara kenangan. Kalau bukan karena semakin canggihnya teknologi yang mendukung kekalnya pertemanan, maka mungkin ingatan saya tentang sahabat di lingkar kelas kuliah telah sirna tergerus jaman.

Di lingkar pertemanan lainnya, kehidupan kos-kosan di kota ternyata memberi ruang kita untuk berbaur dan mengenal lebih banyak suku. Percakapannya mungkin tidak tiap hari, tapi saat tak ada teman kuliah, aktivitas bersendagurau sesama penghuni kos bisa menjadi meningkat. Taraf kebaikan tetangga kos berbeda-beda, tak ada yang bisa dirangking dengan soliditas atau solidaritas. Satu-satunya hal yang bisa saya sebut adalah hanya kebaikan. Mereka semua teman kos yang baik. Baik untuk saya, dan semoga perbuatan meraka juga baik untuk mereka. Saya mulai lupa dengan banyak kebaikan mereka, meski lingkar pertemanan dengan mereka belum berlalu lama. Juga komunikasi dengan mereka, sekarang saya tak tahu bagaimana dan dari mana saya harus menyambung atau memulai.

Saat mahasiswa, bila ada angka yang menggenapkan kesempurnaan, maka organisasilah angka itu. Salah satu hal yang ingin saya bicarakan disini tentu hanya seputar garis singgungnya dengan pertemanan. Saya tidak ingin mengkhianati kebersamaan saat berada di payung organisasi dengan enteng menganggap bahwa semua itu terjadi karena pragmatism pertemanan. Sangat tidak etis menghitung untung dan rugi dalam urusan pertemanan. Apalagi dalam sebuah frame yang secara real berjuang bersama mencapai visi organisasi.

Namun sekali lagi, ingatan boleh diasah, sayangnya waktu menganjurkan kita untuk lupa. Kita boleh kuat mengingat, tapi dalam perihal merawat, kenangan tak mungkin lagi sedahsyat rasanya yang dahulu saat berbalut rasa bersama. Saya punya beberapa lingkaran pertemanan organisasi yang terkorelasi dengan wujud keberadaan saya berstatus mahasiswa.

Di organisasi tingkat jurusan, cukup lama saya mengekor dan mulai mengakar saat angka semester telah mencapai dua digit. Beberapa orang adik junior yang kali ini saya sebut sebagai teman akrab, tidak begitu sulit memvisualkannya. Di antara banyak orang yang bergabung dalam sebuah organisasi, tak ada motivasi yang lebih jernih selain keinginan belajar dan menyerap banyak cerita dan memperkaya jiwa. Bukan hanya ingin mengejar dialektika kata-kata yang berujung wacana hampa.

Lalu ada satu organisasi yang begitu dalam menancap ke rongga ingatan. Rasa-rasanya, tidak hanya sekadar menjadi ingatan, tapi justru menjelma menjadi masa depan. Bertahun-tahun saya hidup dalam satu atap, bahkan bantal dan piring makan, maka bila ada kemungkinan yang mustahil, maka kemungkinan untuk melupakan organisasi ini adalah kemustahilan.

Bahkan hingga saat ini, saat saya telah menjadi alumni sejak dua tahun lebih yang dahulu. Maka, jerat tali dan keterikatannya masih mempunyai rasa, walaupun jelas sekali sudah ada niat untuk menjauh dan menarik diri secara teknis.

Saya di antara mereka, adalah satu titik yang membentuk sebuah garis lingkar persaudaraan. Tidak peduli apakah saya adalah sebuah titik kecil yang terjepit atau bahkan menjadi titik besar yang menonjol dalam sebuah garis. Walaupun saya sangat menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa setiap hal yang diawali di dunia ini, maka mutlak akan ada akhir yang memutuskannya. Soal keabadian dalam pertemanan tidak mungkin lepas dari soal waktu yang menjadi dimensinya. Semua orang akan sepakat, bahwa di antara kami, kepergiaan dan kehilangan tinggal menghitung hari. Satu persatu sahabat menjauh, ada yang melangkah, berlari, melompat, atau bahkan ada yang terbang ke tempat setinggi bintang. Inilah hukum alam yang sangat nampak, ditambah selera melankolis kita yang membantu untuk mengakui sebuah kenyataan.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu di antara meraka, menggaris waktu tidak lebih dari dua tahun yang akan datang, sudah tidak ada keadaan yang semacam gambar di atas. Lalu saya memepetkannya, menggaris lebih dekat, tidak cukup setahun mendatang, saudara-saudara saya yang di atas itu akan mengalami pemisahan yang begitu jauh. Faktor usia menopang teori saya. Hampir semua saudara saya yang di atas, tidak lagi berada di wajah remaja. Pembicaraan nikah dan berkeluarga akhir-akhir ini mutlak akan segera dirasakan. Bantu saya mengaminkan perkataan saya sebelum kalimat ini.

Inilah lingkaran persaudaraan saya yang paling terakhir saat saya menulis cerita ini. Berada di antara mereka, dengan apa dan siapa saya yang paling murni dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena, mereka juga berada di antara saya dengan apa adanya saya yang paling asli.

“Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dialah ladang hatimu yang dengan kasih kau taburi, dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kau menghampirinya di kala gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan, kecuali saling memperkaya jiwa.” –Kahlil Gibran