Archive for the Opini Category

Jangan Mendaki Sendiri!

Posted in Opini, Petualangan with tags , , on April 22, 2017 by mr.f

Pernah saya singgung di postingan sebelumnya tentang pentingnya tertaut dengan komunitas positif. Komunitas yang bisa berfungsi sebagai alarm terhadap pegiatnya. Setiap manusia tentu punya komunitas, semandiri apapun manusia itu mampu memenuhi kebutuhan hidup dan harapannya.

Menjadi pemimpi ulung, lalu berubah pejuang mimpi, lalu penakluk mimpi, kemudian suatu saat mendapat gelar sebagai orang sukses atau orang yang menduduki posisi puncak dari mimpi-mimpinya. Meskipun dalam kamus keserakahan manusia, tidak mungkin ada orang yang mampu menaklukkan semua mimpinya. Selagi nafas dikandung badan, keinginan demi keinginan terus ada di pelupuk mata.

Namun tidak sedikit juga orang-orang bekerja keras meraih impian dan cita-citanya dengan menempuh segala usaha dan cara-cara yang mungkin tidak fair atau culas. Semua daya dikerahkan untuk mengubah harapan menjadi kenyataan. Banyak yang berjuang sendiri atau bahasa klisenya adalah mandiri, melepas diri dari ikatan-ikatan atau perkumpulan-perkumpulan. Atau kalau menjalin hubungan sosial, maka hanya akan menjadi seutas tali memuluskan jalan mencapai keinginan. Semua interaksi sosial berubah menjadi begitu pragmatis.

Maka menurut saya, ketika seseorang telah menempuh jalan mandiri dan tidak terlihat dan terlibat di komunitas sosial positif atau perkumpulan orang-orang terdekatnya, maka disitulah cikal bakal mental koruptor mewarisi kerja otak dan langkah-langkahnya menjadi orang sukses. Orang sukses yang koruptor, atau orang sukses dengan cara koruptor.

Saya ingat nasehat mantan Menteri ESDM Pak Sudirman Said, di pelepasan program Patriot Negeri Berau. Beliau mewanti wanti untuk tidak mendaki gunung sendirian. Pesan itu sebagai ilustrasi kuat dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk para pejuang mimpi.

Bahwa orang yang mendaki gunung dan menaklukkan puncak sendirian sangatlah rentan bahkan cenderung tidak memiliki kontrol atas perilaku dan cara-cara yang ditempuh sampai ke puncak. Kita paham, mendaki gunung dan menapaki tangga kehidupan sangat tepat sebagai analogi.

Di pendakian, tentu kita akan menanjak, menemui persimpangan, jalan berbatu, atau sesekali turun lembah dan kembali menanjak di tepi tepi jurang. Namun disitulah juga ada sensasi dan pemandangan indah yang tidak banyak orang menyaksikannya. Jangan kira kelelahan yang didapatkan, capek sekali.

Kalau pendakian gunung dan puncak dilakukan sendiri, maka segala pertimbangan dan beban ada pada diri sendiri. Terpeleset, tertatih, terjatuh, atau bahkan resiko paling mengintai adalah tersesat hilang arah. Begitulah gambaran para pejuang mimpi yang melepas diri dari komunitas. Lepas kontrol dan tak ada alarm apabila jalan yang dilalui telah melenceng dari nilai kebaikan atau ketika sedang berada dalam ancaman serius yang bisa mematikan fitrah dan karakter kebajikan yang kita bawa sejak lahir.

Maka dari itu, penting sekali untuk merawat pertemanan positif, terbenam dalam lingkungan positif, terlibat di komunitas yang suatu hari nanti akan menjadi kontrol dan alarm. Bila suatu hari ternyata komunitas menjadi ladang pragmatism atau nepotism, maka tengoklah dari sisi berbeda, tengoklah komunitas itu sebagai area luas ladang silaturahim dan sebagai networking. Manfaat praktis atau materi hanyalah dampak, bukan menjadi tujuan.

Kediri, 9 februari 2017

Jujur Lebih Baik daripada Pintar

Posted in features, Opini, patriot energi with tags , , on February 8, 2017 by mr.f

jujur-lebih-baik-daripada-pintar

Apa perbedaan antara kejujuran dan integritas? Pertanyaan ini pernah dilempar oleh Ibunda Tri Mumpuni ke forum pembekalan Patriot Negeri Berau. Lalu dijawab sendiri oleh Ibu Tri Mumpuni. Saya tidak ingat betul redaksi jawabannya. Tapi yang saya garis bawahi adalah pada soal imfact-nya. Kejujuran lebih berimfact pribadi sedang integritas cenderung berdampak sosial yang lebih luas. Ini hanyalah terminologi  akumulasi experience.

Kejujuran bukan hal yang dituturkan. Kejujuran ditunjukkan. Di sekitar kita saat ini begitu sulit melabel kejujuran. Apalagi integritas. Ketika seseorang berlaku jujur, yang tahu sebenarnya hanyalah dia sendiri. Jujur bisa berdiri sendiri. Namun tak bisa menampilkan diri.

Ada yang saya ingat dengan kata jujur. Di dua kali berkunjung dan tinggal beberapa bulan di kampung pedalaman Suku Dayak dan Papua. Jujur adalah kata yang tidak biasa diucapkan. Malah kebalikan dari jujurlah yang lebih populer di lidah masyarakat. Kalau anak Dayak sering bilang “botek” yang tebakan saya, kata ini adalah serapan dari bahasa bugis. Sedang di Papua anak-anak paling fasih bilang “jan tipu tipu”.

Nah, di satu kesempatan saya membuat semacam poster, tapi dilukis, untuk dipajang di sekolah dasar. Saya menulis frase “Jujur Lebih Baik daripada Pintar”. Sepintas bisa dibaca bahkan dimengerti secara harfiah. Tapi saya masih harus bekerja untuk memahamkan makna frase itu ke pikiran anak anak.

Saya tegaskan, tidak ada nilai yang lebih tinggi di dunia pada sikap manusia selain kejujuran. Kepintaran atau kecerdasan menjadi tak ada harganya jika tanpa kejujuran. Kejujuran adalah pengali nilai. Kejujuranlah muasal dari kepercayaan. Bahkan kesuksesan. Walau orang seringkali berkata “tak ada kejujuran di depan uang”. Siapa saja yang menemui kesempatan berhadapan dengan uang atau materi atau posisi, maka tergadailah kejujurannya saat itu pula.

Pada anak-anak tingkat dasar, pemahaman kejujuran harus lebih praktis. Saya bilang, pekerjaan atau hasil belajar yang dikerjakan tanpa mencontek punya teman akan lebih saya hargai, walaupun banyak salah, ketimbang nilai tinggi yang didapatkan dengan meniru. Maka disinilah nampak jelas bahwa “kebenaran tidak selalu berisi kejujuran”. Jawaban yang benar belumlah mutlak mengandung kejujuran.

Pada tingkat yang lebih advance, kejujuran yang dibenarkan bukan hanya pribadi melainkan orang lain pun bisa tau kalau kita sedang mempraktekkan kejujuran, itulah yang artikan dengan bahasa “integritas”. Integritas tak bisa dilekatkan tanpa kejujuran. Integritas berkomposisi konsistensi dosis tinggi. Kejujuran yang dilakukan terus menerus. Bila sekali saja keluar dari jalur konsistensi, maka reputasi  kejujuran akan sangat mungkin lenyap di pandangan khalayak.

Integritas itu berpadu dengan nilai positif lainnya setelah kejujuran. Termasuk, kepeduliaan dan belas kasih. Maka dari itu, di awal saya bilang integritas memiliki impact luas pada tatanan sosial kemasyarakatan. Integritas menurut saya bukanlah ambisi yang musti dikejar, melainkan sebuah perilaku yang tidak bisa terukur dan terawat tanpa basis komunitas atau lingkungan positif.

Maka dari itu, penting sekali untuk selalu membenamkan diri di dalam lingkungan positif. Postingan selanjutnya akan saya tulis betapa pentingnya berkomunitas.

Gambar; koleksi pribadi

Dari Patriot Energi ke Patriot Negeri

Posted in Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , on February 1, 2017 by mr.f

patriot-negeri

Kembali saya menyelam ke dalam kesadaran hakiki setelah hampir sebulan ditempah perspektif multidimensi tentang bagaimana memandang bangsa dan sejumlah agenda perubahan. Tancapan terdalam terdapat pada frase “integritas dan keterampilan”. Siapapun dan dimanapun kita sebagai anak bangsa berada dalam tatanan kemasyarakatan, maka di benak dan lubuk hati paling suci mustilah ada keinginan menyaksikan perubahan di negara ini.

Maka dua kata inti dalam frase pamungkas itu yakni integritas dan keterampilan adalah bekal yang wajib dimiliki oleh setiap kita sebagai warga negara yang memiliki kesadaran akan penting dan mendesaknya perubahan harus dilakukan.

Keyakinan saya itu tidak berlebihan.  Akan tetapi tidak semua orang mampu melibatkan diri dalam agenda perubahan itu. Pun, semua orang pada kerangka makronya adalah titik penghubung garis lingkar perubahan itu.

Integritas menganjurkan jiwa kita selalu tulus dan tingkah budi yang luhur. Lurus dan seiya sekata dalam kata dan kerja. Punya empati dan belas kasih pada setiap kali mata menjumpai ketidakberdayaan atau ketidakberuntungan. Tersentaknya nurani seketika menyadari perihal ketimpangan sosial.

Tetapi itu belum cukup, masih perlu satu langkah lagi untuk meraih perubahan. Menjadi bagian dari republik ini, masing masing jiwa mutlak punya keterampilan hidup. Keterampilan untuk menaklukan tantangan dalam mewujudkan perubahan. Keterampilan bukan terminologi yang serupa bakat, bukan. Keterampilan itu diasah, diuji, dan dilaksanakan.

Saya akui, sayalah salah satu orang beruntung di negeri ini bisa terselip di dalam komunitas idealis yang begitu tegas mengusung tema perubahan dari desa untuk bangsa. Setahun lebih melebur diri, melibatkan diri, berbaur dan coba bersinergi terjun langsung ke “lapangan” menyaksikan suasana bangsa di pedalaman nun jauh tak tersentuh. Ikut irama dan ritme harmonis kampung kampung ironis di tanah air subur ini.

Awalnya bergabung dalam program sekaligus gerakan pemberdayaan masyarakat penerima bantuan listrik dari negara yang bernama “Patriot Energi” lalu terpanggil kembali mengikuti hasrat untuk menyaksikan dan terlibat dalam perubahan bangsa di kegiatan pemberdayaan dan pedampingan masyarakat yang dilabeli “Patriot Negeri”. Kedua nama itu hanyalah nomenklatur atau bungkusan dari misi dan aksi nyata untuk menerjunkan pemuda pemudi ke desa, memberi warna pada corak perubahan bangsa.

Bila di Patriot Energi terkesan menunjuk pada satu sektor penting yakni energi, maka di Patriot Negeri akan mencoba melebarkan salam perubahan dari segala sektor yang memungkinkan untuk diubah. Termasuk ranah pangan dan demokratisasi ekonomi di tingkat desa. Agenda dan strateginya dari desa untuk bangsa. Kemandirian, kedaulatan dan keberkuasaan desa adalah hakikat dari program pendampingan masyarakat ini.

Gambar; koleksi pribadi