Archive for the Opini Category

Iri Bicara Energi

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Blogger Kampus, Feature, lomba blog, Opini with tags , , , on August 22, 2017 by mr.f

Beberapa bulan yang lalu sebagian besar masyarakat Indonesia meributkan perihal kenaikan tarif dasar listrik. Gejolak itu begitu nampak di beranda-beranda sosial media. Kenaikan tarif dasar listrik seperti biasa akan memunculkan spekulasi tentang ketidakbecusan pemerintah mengurusi persoalan listrik di negeri ini. Ditambah lagi dengan pemadaman bergilir yang kerap terjadi di daerah-daerah tertentu yang pasokan energi listriknya mengalami ketidakstabilan karena suatu gangguan teknis menambah alasan untuk mempertanyakan hubungan antara tarif listrik dan layanannya yang semakin tidak memperlihatkan kurva yang linear. Tarif semakin mahal, tetapi layanan listrik masih saja sering padam secara berkala.

Di tempat saya sekarang tentu saja keributan itu tidak terjadi. Di kampung pulau seperti ini, yang seringkali diributkan malahan hanya persoalan bantuan sosial yang terkadang lambat ataukah tidak tepat sasaran. Tidak ada tarif lsitrik di pulau, dan yang ada hanyalah harga bahan bakar minyak yang harus dikeluarkan setiap malam untuk menerangi rumah, mungkin juga sekaligus untuk menerangi rumah tetangga atau keluarga. Jangkan di kampung pulau seperti di Pulau Balikukup yang berjarak dua jam perjalanan perahu ke daratan, kampung-kampung di daratan saja masih sangat banyak yang menggunakan alat penerang sendiri, alias  belum tersambung aliran listrik negara. Sedangkan daratan di Kalimantan adalah daratan yang di bawahnya tersimpan batu bara yang menjadi sumber listrik. Kita di Kalimantan dan kita sama tahu, begitu banyak kampung di hulu-hulu sungai yang belum merasakan listrik. Kita lantas boleh bertanya, batu bara yang disedot di Kalimantan apakah memang tidak layak untuk dinikmati oleh masyarakat di Kalimantan sendiri?

Kenapa bangsa ini masih saja ada soal tentang krisis energi, padahal bangsa kita adalah bangsa yang teramat kaya sumber daya alam dan potensi energinya. Mungkin ada baiknya kita sedikit membuka hati tidak mengapa menyatakan diri sebagai bansa yang iri pada bangsa lain di dunia ini, bangsa lain yang meskipun potensi energinya tidak seberapa, tetapi tidak terbayang dengan ancaman krisis energi.

Mari kita lihat bagaimana rasa iri bangsa ini dalam persoalan energi menjadi bukanlah hal yang sia-sia. Menjadi bukan hal bodoh yang harus kita lakukan. Rasa iri kita melihat bangsa lain mampu sedangkan kita baru saja merangkak dari kata kemauan. Kita belum selesai pada persoalan rasio elektrifikasi, angka yang memperlihatkan seberapa persen masyarakat indonesia telah menikmati listrik dari jumlah penduduk Indonesia itu sendiri. Masing-masing instansi mengeluarkan angka yang berbeda. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), belum lama ini melansir berita  tentang rasio elektrifikasi yang sudah mencapai angka 93%. Angka ini tentu masih sangat boleh kita perdebatkan kevalidannya, melihat angka lain yang dikeluarkan oleh lembaga lain, seperti IBEKA atau Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan yang menyatakan masih ada 33000 desa di Indonesia yang masih belum dialiri listrik. IBEKA sendiri adalah organisasi yang aktif menangani persoalan listrik di desa-desa terpencil dan berusaha untuk melistriki desa tersebut dengan menggunakan potensi air atau dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

Kita masih berdebat dengan angka ketidakpastian yang menyangkut hak dasar warga negara ini. Kita belum berdebat soal sumber energi yang digunakan oleh bangsa ini untuk menyalakan negara. Kita sadar bahwa selama ini listrik yang kita nikmati adalah bersumber dari energi fosil. Sumber energi yang sama kita ketahui sebagai sumber energi yang tidak terbarukan, kotor, dan akan habis suatu saat. Sedangkan bangsa lain, mari kita tengok, bagaimana Kosta Rika pada tahun 2015 menjadi satu-satunya negara yang 75 hari berturut-turut menggunakan sumber energi terbarukan, memecahkan rekor dunia. Kita menonton bagaimana India menyuplai konsumsi energinya dari tenaga air.

Kita sama menyaksikan bagaiaman China sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia juga menjadi negara yang mampu memaksimalkan potensi energi matahari yang sebenarnya di negara kitalah justru yang semestinya paling layak untuk memaksimalkan potensi ini, mengingat negara kita berada di garis khatulistwa yang mana menjadi daerah dengan tingkat paparan matahari paling maksimal. China mampu mengembangkan kapasitas solar power hingga 43 GWyang menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan kapasitas penyerapan energi matahari terbesar di dunia.

Kita lihat Jerman mampu menerangi negaranya dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti air dan biomassa, yang kemudian menjadikan Jerman sebagai negara nomor 1 di dunia penghasil energi terbarukan untuk biomassa. Kita lihat bangsa-bangsa lain di Eropa dan di Amerika bagaimana mampu terlepas dari ketergantungan sumber energi fosil, dan beberapa negara mampu menjadi menjadi negara-negara yang berdaulat energi, tidak bergantung dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan energinya. Kita lihat bagaimana bangsa-bangsa lain sudah mencita-citakan carbon-neutral di negaranya. Bangsa kita wajar iri membicarakan persoalan energi.

Kita perlu iri melihat bangsa lain mampu berdaulat energi, sedangkan kita belum semua rakyat merasakan listrik. Kita perlu iri melihat bangsa lain mampu memaksimalkan potensi energi terbarukan sedangkan kita masih menjadi bangsa yang begitu ngotot menghabiskan semua energi fosil yang terkandung di bawah tanah negara ini. Mungkin dengan rasa iri, bangsa kita bisa bereaksi lebih cepat menyelesaikan persoalan energi. Mungkin dengan rasa iri, bangsa kita tidak perlu gaduh dengan skema tarif dasar listrik yang dinaikkan untuk mensubsidi pembangunan fasilitas pembangkit listrik di desa-desa terpencil. Mungkin dengan rasa iri, kita bisa bergandeng tangan untuk sama-sama mau berhemat energi demi masa depan bangsa. Kita perlu iri yang begitu besar, juga tindakan-tindakan nyata yag sesegera mungkin. Sebab, sudah pasti iri saja tidak cukup.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; http://madyapalaumb.blogspot.co.id

Advertisements

Jangan Mendaki Sendiri!

Posted in Opini, Petualangan with tags , , on April 22, 2017 by mr.f

Pernah saya singgung di postingan sebelumnya tentang pentingnya tertaut dengan komunitas positif. Komunitas yang bisa berfungsi sebagai alarm terhadap pegiatnya. Setiap manusia tentu punya komunitas, semandiri apapun manusia itu mampu memenuhi kebutuhan hidup dan harapannya.

Menjadi pemimpi ulung, lalu berubah pejuang mimpi, lalu penakluk mimpi, kemudian suatu saat mendapat gelar sebagai orang sukses atau orang yang menduduki posisi puncak dari mimpi-mimpinya. Meskipun dalam kamus keserakahan manusia, tidak mungkin ada orang yang mampu menaklukkan semua mimpinya. Selagi nafas dikandung badan, keinginan demi keinginan terus ada di pelupuk mata.

Namun tidak sedikit juga orang-orang bekerja keras meraih impian dan cita-citanya dengan menempuh segala usaha dan cara-cara yang mungkin tidak fair atau culas. Semua daya dikerahkan untuk mengubah harapan menjadi kenyataan. Banyak yang berjuang sendiri atau bahasa klisenya adalah mandiri, melepas diri dari ikatan-ikatan atau perkumpulan-perkumpulan. Atau kalau menjalin hubungan sosial, maka hanya akan menjadi seutas tali memuluskan jalan mencapai keinginan. Semua interaksi sosial berubah menjadi begitu pragmatis.

Maka menurut saya, ketika seseorang telah menempuh jalan mandiri dan tidak terlihat dan terlibat di komunitas sosial positif atau perkumpulan orang-orang terdekatnya, maka disitulah cikal bakal mental koruptor mewarisi kerja otak dan langkah-langkahnya menjadi orang sukses. Orang sukses yang koruptor, atau orang sukses dengan cara koruptor.

Saya ingat nasehat mantan Menteri ESDM Pak Sudirman Said, di pelepasan program Patriot Negeri Berau. Beliau mewanti wanti untuk tidak mendaki gunung sendirian. Pesan itu sebagai ilustrasi kuat dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk para pejuang mimpi.

Bahwa orang yang mendaki gunung dan menaklukkan puncak sendirian sangatlah rentan bahkan cenderung tidak memiliki kontrol atas perilaku dan cara-cara yang ditempuh sampai ke puncak. Kita paham, mendaki gunung dan menapaki tangga kehidupan sangat tepat sebagai analogi.

Di pendakian, tentu kita akan menanjak, menemui persimpangan, jalan berbatu, atau sesekali turun lembah dan kembali menanjak di tepi tepi jurang. Namun disitulah juga ada sensasi dan pemandangan indah yang tidak banyak orang menyaksikannya. Jangan kira kelelahan yang didapatkan, capek sekali.

Kalau pendakian gunung dan puncak dilakukan sendiri, maka segala pertimbangan dan beban ada pada diri sendiri. Terpeleset, tertatih, terjatuh, atau bahkan resiko paling mengintai adalah tersesat hilang arah. Begitulah gambaran para pejuang mimpi yang melepas diri dari komunitas. Lepas kontrol dan tak ada alarm apabila jalan yang dilalui telah melenceng dari nilai kebaikan atau ketika sedang berada dalam ancaman serius yang bisa mematikan fitrah dan karakter kebajikan yang kita bawa sejak lahir.

Maka dari itu, penting sekali untuk merawat pertemanan positif, terbenam dalam lingkungan positif, terlibat di komunitas yang suatu hari nanti akan menjadi kontrol dan alarm. Bila suatu hari ternyata komunitas menjadi ladang pragmatism atau nepotism, maka tengoklah dari sisi berbeda, tengoklah komunitas itu sebagai area luas ladang silaturahim dan sebagai networking. Manfaat praktis atau materi hanyalah dampak, bukan menjadi tujuan.

Kediri, 9 februari 2017