Archive for the lomba blog Category

Bonus Demografi dan Konservasi Energi

Posted in #15HariCeritaEnergi, Feature, lomba blog with tags , , , , on August 31, 2017 by mr.f

Menjadi keniscayaan bahwa populasi manusia di muka bumi setiap saat semakin bertambah. Indonesia pun diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030 yang akan menyebabkan lonjakan populasi penduduk secara cepat. Hari ini Indonesia menempati peringkat ke 4 di dunia sebagai negara yang memiliki populasi manusia terbanyak setelah China, India, dan Amerika. Tentu beberapa hal yang kemungkinan bisa menjadi dampak dari bonus demografi tersebut harus disiapkan bersama-sama. Saat ini saja, penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa yang didominasi oleh usia produktif. Usia-usia produktif tidak selalu berarti konstruktif atau menghasilkan produk positif akan tetapi memilki banyak peluang untuk terjadinya hal-hal destruktif yang dilakukan oleh penduduk usia produktif tersebut.

Bonus demografi bukanlah sebuah gagasan melainkan kenyataan yang harus kita hadapi bersama. Dengan tidak bermaksud mengucilkan bangsa sendiri dan menganggap hebat bangsa lain. Orang-orang di luar negeri telah jauh berpikir dan bertindak untuk kelangsungan hidup umat manusia. Kita sama melihat bagaimana Amerika dan Rusia telah jauh-jauh hari di dalam buku sejarah berebut kuasa untuk menjelajahi ruang angkasa, menjelajahi kemungkinan adanya kehidupan bagi manusia di tempat lain selain bumi. Saling berebut klaim sebagai manusia pertama yang mendarat di luar angkasa. Tentunya hari ini, negara-negara di luar sana telah semakin jauh melakukan dan mengekplorasi luar angkasa. Sementara kita masih terus berselisih di wilayah wacana bahkan hal-hal tak nyata di dunia maya.

Sebagian besar kita tentu saja pernah dengar atau bahkan telah menonton film Avatar. Film yang menggambarkan kondisi masa depan umat manusia yang semakin agresif menginvasi luar angkasa. Di Film Avatar, kita lihat bagaimana bumi pada saat itu mengalami krisis energi yang menjadi pemicu sikap agresifnya mengekploitasi sumber energi di planet Pandora. Film ini meskipun tergolong fantasi akan tetapi cukup memberikan gambaran masa depan manusia yang akan memenuhi muka bumi dan akan saling bersaing menguasai sektor energi.

Situasi masa depan yang semakin menunjukkan tren percepatan laju pertumbuhan penduduk juga menjadi bahan analisa bagi banyak penulis buku. Dan Brown misalnya, di buku Inferno-nya yang merupakan seri dari buku fiksi Da Vinci Code, memberikan solusi yang logis namun sangat tidak manusiawi untuk memecahkan persolan bonus demografi. Dan Brown di novel tersebut mengisahkan usaha seorang pemikir dan peneliti yang ingin menyelamatkan bumi dan manusia dengan cara menghentikan laju pertumbuhan penduduk melalui penyebaran virus mandul yang akan menjangkit separuh umat manusia di muka secara secara acak. Ide dari Dan Brwon yang dituliskan di dalam sebuah novel tebal  ini juga cukup membuka mata kita untuk sama-sama meyadari situasi dan ancaman masa depan.

Penulis terkenal lain, Fritjof Kapra juga pernah memberi gambaran masa depan manusia ketika bonus demografi terjadi di sebuah buku berjudul The Turning Point atau Titik Balik Peradaban. Fritjof Capra di buku ini sangat tegas memprediksi umat manusia pada suatu saat akan mengalami titik balik peradaban, dimana kehidupan-kehidupan masa lalu ingin kembali dinikmati. Cara hidup modern yang serba bergantung dengan energi listrik tergantikan secara naluriah dengan cara hidup konvensional yang alami. Kendaraan-kendaraan modern yang terus diciptakan hari ini menjadi tidak berguna pada masa depan karena krisis energi, menurut Fritjof Capra.

Pandangan-pandangan masa depan terebut selalu menyangkut di dunia soal besar, yaitu persoalan bonus demografi kemudian persoalan kedua adalah ancaman krisis energi. Kedua soal ini memang sangat bertalian dan bisa kita elaborasi secara sederhana. Energi adalah kebutuhan manusia, yang semakin ke depan, ke arah masa depan yang modern dan canggih-canggih maka semakin banyak energi yang kita butuhkan untuk memenuhinya. Semakin kita menginginkan kemajuan semakin kita juga membutuhkan sumber energi yang lebih banyak. Maka apa langkah yang mungkin bisa kita siapkan hari ini untuk menyambut tantangan masa depan tersebut.

Jika kita sama memiliki pikiran visioner, maka tak ada cara lain selain kita tidak boleh berhemat energi, sambil terus melakukan praktik-penemuan sumber energi yang ramah lingkungan dan do-able untuk digunakan banyak orang.  Konservasi energi adalah kata kunci bagi bangsa Indonesia yang dirahmati oleh Tuhan dengan sangat banyak potensi sumber energi juga sumber daya alam yang sangat melimpah. Konservasi energi dipersiapkan untuk mengoptimalkan sumber energi yang sudah ada dan menjaga sumber energi tersebut agar bisa berumur panjang , sehingga Indonesia bisa tetap mampu berdiri tegak di masa depan, di masa ketika bangsa lain tumbang mengalami krisis energi. Konservasi energi menjadi salah satu tahap bagi Indonesia untuk merasakan yang namanya kedaulatan energi. Jika bangsa Indonesia dan seluruh masyarakatnya telah mampu berjalan seirama menggaungkan kedaulatan energi, maka kita tak perlu khawatir dengan prediksi bonus demografi. Karena kita berdaulatn energi maka seberapapun banyaknya jumlah populasi penduduk Indonesia kita mampu memenuhi kebutuhan akan energinya.

Kita layak bersyukur, akhir-akhir ini kita menyaksikan upaya dari pemerintah terkhusus di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia yang begitu serius dan intens menggalakkan kondisi energi berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, pemerataan akses listrik hingga ke kampung-kampung yang paling sulit ditembus, edukasi masyarakat untuk konservasi energi, juga skema subsidi silang tarif listrik untuk pembangunan fasilitas pembangkit listrik di ribuan kampung di Indonesia yang hingga kita belum teraliri listrik. Kesyukuran kita bertambah, sebab janji Presiden Jokowi untuk membangun fasilitas pembangkit listrik hingga 35 GW dan membangun Indonesia dari pinggir atau dari kampung-kampung bisa kita saksikan bersama-sama prosesnya pada hari ini, meskipun masih banyak hal yang terus dibenahi untuk menyelesaikan misi dan janji politik itu.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; https://www.tes.com/lessons/mtDVmwNXyiDm1g/space-exploration

Advertisements

Melebur Apatisme

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, lomba blog, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , , , , on August 29, 2017 by mr.f

Ribuan pendar bintang menghias langit di atas Pulau Balikukup. Suara ombak dan suara mesin diesel bersaing mengambil tempat di ruang dengar manusia. Saat-saat ketika saya mulai membuka sosialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 100 Kwp dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, saya terlebih dahulu mengajak seluruh masyarakat yang datang di lokasi sosialisasi untuk memanjatkan puji syukur yang terukur atas karunia Tuhan pada Pulau Balikukup. Walau jumlah masyarakat tidak mampu saya kalkulasi sebab  lokasi sosialisasi di lakukan di tempat outdoor, tetapi saya menyakini banyak mata dan telinga yang diam-diam tak terlacak oleh mata saya turut menyimak materi sosialisasi pada malam itu.

Persiapan mental dan penyebarluasan informasi sebelum PLTS beroperasi sangat penting dilaksanakan dalam pembangunan suatu proyek atau fasilitas negara  yang akan dinikmati oleh masyarakat sendiri, sebagai bagian dari skema untuk keberlanjutan fasilitas tersebut dan demi tercapainya tujuan mulia melihat masyarakat di tempat-tempat terisolir mampu memahami hakikat dari sebuah pembangunan fasilitas pembangkit listrik dan demi terwujudnya keberdayaan masyarakat di bidang energi.

Sosialisasi yang saya lakukan di Pulau Balikukup didesain dengan nuansa nonformal di masing-masing RT, kecuali di RT 02 yang saya buat menjadi dua malam sosialisasi di tempat berbeda. Hal itu dilakukan untuk memaksimalkan penyerapan informasi dasar tentang PLTS Terpusat kepada masyarakat dan juga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dalam sosialisasi tersebut. Tentu saja modul surya bukan lagi hal baru bagi masyarakat pulau sebagaimana yang telah saya uraikan di tulisan saya yang dulu tentang SHS yang berumur pendek. Namun modul surya yang akan menjadi media terserapnya energi matahari pada PLTS Terpusat offgrid berbeda dengan SHS yang telah lazim mereka ketahui.

Terutama pada poin perawatan yang harus dilakukan bersama-sama dan dikontrol juga secara bersama-sama. Saya menjadi lebih bersyukur ketika menyaksikan sendiri respon masyarakat yang  begitu antusias menyimak materi sosialisasi dan keinginan merawat fasilitas pembangkit listrik yang akan segera terbangun di ujung pulau. Tentu saja terjadi komunikasi dan interaksi pada saat sosialisasi berjalan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terprediksi juga disampaikan langsung oleh masyarakat.

Beberapa pertanyaan yang umumnya muncul ketika sosialisasi PLTS Terpusat selalu menyangkut tentang besarnya daya yang diterima oleh masing-masing rumah. Pertanyaan tentang skema pembagian listrik juga tak ketinggalan ditanyakan oleh masyarakat pulau. Apa syarat rumah yang akan dialirkan listrik PLTS, apakah ada uang harus dibayarkan kepada pemasang instalasi rumah, bagaimana jika masyarakat ingin menambah daya karena volume rumah bertambah, dan masih banyak sekali pertanyaan yang memang wajar tersampaikan di acara sosialisasi tersebut.

Akan tetapi di saat-saat sosialisasi PLTS Terpusat tersebut setelah satu persatu pertanyaan masyarakat terjawab saya kemudian banyak menekankan akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan PLTS Terpusat tersebut. Masyarakat pulau harus menyumbangkan sedikit banyak energinya untuk bergotong royong pada pembangunan fasilitas pembangkit tersebut. Partisipasi masyarakat sangatlah diharapkan untuk menciptakan sense of belonging pada fasilitas apa saja yang akan dibangun di kampung. Sebab kecenderungan pola pembangunan fasiitas selama ini banyak terjadi dengan metode top down, dimana ada kegiatan yang diprogramkan oleh pemerintah dan masyarakat tidak terlibat sedikitpun dalam prosesi pembangunan tersebut, dan akhirnya masyarakat menjadi apatis dan bahkan oportunis pada setiap program yang dikerjakan oleh pemerintah. Sesungguhnya mental proyek masyarakat  atau mengharap bantuan itu diciptakan oleh pemerintah sendiri. Pola-pola pemberdayaan masyarakat tidak diterapkan oleh program-program yang dicanangkan dan yang dilaksanakan oleh pemerintah di kampung-kampung.

Seyogiyanya, setiap program pembangunan haruslah mengacu pada keinginan masyarakat atau bottom up. Kalaupun ternyata tidak semua program harus bottom up, maka pola-pola persiapan mental sebelum program dijalankan haruslah dikerjakan terlebih dulu. Kesemuanya untuk melihat keberlanjutan atau sustainibility dari program yang dilaksanakan. Sebab jika program tidak dilakukan dengan pola bottom up atau tidak dilakukan persiapan mental, maka tunggu saja umur pakai dari fasilitas atau umur porgram tersebut akan sangat pendek.

Cukup sudah beberapa contoh kasus yang ada di depan mata masyarakat Pulau Balikukup. Fasilitas pemancar jaringan selular di tengah pulau yang usianya hanya hitungan bulan  dan kini menjadi prasasti atau bukti sejarah akan pernah adanya program pembangunan menara pemancar jaringan selular di Pulau Balikukup. Padahal jaringan selular adalah salah satu kebutuhan masyarakat pulau untuk memenuhi tuntutan komunikasi dan informasi yang semakin hari semakin mendesak. Kegagalan masa lalu selalu layak menjadi guru yang baik untuk menapaki masa depan.

Sehingga tahapan sosialisasi dan agitasi untuk menciptakan mental merawat dan mengelola bersama fasilitas negara atau fasilitas kampung memiliki peran yang mendasar untuk menciptakan keberdayaan kampung memenuhi apa saja jenis kebutuhan masyarakatnya. Pada sosialisasi yang empat kali saya laksanakan di Pulau Balikukup, tentu saja penekanan akan pentingnya masyarakat sendiri yang saling mengontrol dan merawat listrik dari PLTS Terpusat ini saya ulang beberapa kali dan semoga bisa menjadi retensi dan berbekas di long term memory  masyarakat pulau.

Sesungguhnya semua kampung memiliki potensi yang sama untuk menjaga dan merawat fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Hanya saja banyak diantara kampung-kampung menerima bantuan secara simultan dan kemudian lahirlah mental manja pada masyarakatnya. Apatisme adalah musuh terberat pada semua program pemerintah yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Tetapi apatisme ternyata dilahirkan secara tidak sadar oleh pemerintah sendiri. Semoga di Pulau Balikukup ini, sikap apatis dan oportunis itu bisa perlahan melebur dalam setiap agenda gotong royong yang dilaksanakan selama masa pembangunan PLTS Terpusat.

Ditulis di Pulau Balikukup, Kalimantan Timur pada akhir bulan agustus 2017.

#15HariCeritaEnergi