Archive for the Komunitas Daeng Blogger Category

Orang-Orang Proyek dan Orang-Orang Saleh

Posted in Blogger Kampus, features, Komunitas Daeng Blogger, Opini with tags , , , , , , on August 3, 2016 by mr.f

orang-orang-proyek

Kadang-kadang saya merasa bersalah pada diri saya sendiri setelah menyelesaikan bacaan buku tanpa jeda hari. Bagi saya, kejadian ambisius itu tidak menghargai usaha saya memiliki buku. Konfliknya di dalam diri saya sendiri.

Dua hari lalu saya tuntas membaca novel Ahmad Tohari yang berjudul Orang-Orang Proyek. Novel ini saya beli di Jakarta sejak sebulan lalu, bersama beberapa buku pilihan batin saya lainnya. Buku ini jadi yang pertama saya selesaikan. Selain karena penulisnya yang terus memanggil saya membacanya, rasa-rasanya judul novel itu punya kemiripan dengan situasi yang sekarang saya jalani. Mungkin tidak tepat sebagai orang-orang proyek, sebab saya memang bukan orang proyek, akan tetapi anggapan itu sangat bisa melekat pada saya dalam beberapa waktu ke depan. Selebihnya buku yang lain menunggu antrian untuk mengisi hari-hari saya yang mungkin akan jadi ruang imajinasi yang baik di desa nanti.

Novel ini isinya sudah bisa ditebak dari judulnya saja. Sebagaimana Ahmad Tohari, penulis sepuh yang konsisten menulis apik tentang peristiwa yang dialami orang-orang desa pada periode orde baru, juga selalu sibuk mengkonfrontir pembacanya untuk menemukan kebenaran dan kemanusiaan di balik peristiwa 65.

Buku ini memang menarik, tahu sendirilah bagaimana karya Ahmad Tohari kebanyakan. Cuma menurut saya, beberapa kondisinya telah jauh berbeda, yang paling kontras adalah kondisi dan mental sosial rakyat. Saya lumayan bisa mempertanggungjawabkan perkataan saya ini. Rakyat boleh dikata sudah cerdas untuk urusan proyek, malahan orang-orang proyek kini yang harus berurusan dengan rakyat yang semakin pragmatis dan bermental proyek.

Sedangkan untuk urusan ide cerita memang bikin penasaran untuk terus diikuti hingga akhir. Tokoh utamanya lebih banyak galau meskipun pada akhirnya mampu menampilkan sosok tegas idealis eks aktivis kampus. Beberapa metafora ala Ahmad Tohari gampang dideteksi.

Tapi saya tidak begitu suka mengkristal kisah dilematis orang-orang proyek di dalam novel, atau pada isu 65 yang sepintas jadi fondasi masalah, atau pada ironi situasi desa yang diceritakan penulis di novel itu. Saya tertarik pada satu bagian kecil yang cukup memberi titik cerah pada cara pandang saya selama ini.

Saya cukup imajinatif me-reka-ulang diskusi aktivis yang jadi tokoh dalam cerita. Tentang alasan Tuhan mengirimkan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam ke muka bumi. Melalui sepotong ayat yang dinukil di dalam cerita, dan menjadi debat semantik yang begitu menarik.

Tentang kata “kecuali”. Bahwa Nabi tidak diutus ke muka bumi “kecuali” untuk menyempurnakan ahlak manusia. Kata ini memang layak menjadi bagian dalam narasi cerita yang sebagian besar situasi dan mental orang desa sudah berkebalikan dengan kehidupan saat ini.

Dalam novel ini, diskusi tentang kata “kecuali” menyisakan ingatan yang layak didiskusikan lanjut. Atau sekadar diteruskan dengan niat mencerahkan ummat. Sebab bagian itu, selalu relevan dengan tema keseharian kehidupan beragama umat Islam di dunia.

Baiklah saya memuat sedikit cuplikan isi novel itu kesini, pada halaman 47;
“Perhatikan lagi kata ‘kecuali’. Dengan demikian kita yakin bahwa tujuan keberagamaan kita adalah penyempurnaan budi luhur. Sedangkan kelima rukun itu hanya sarana untuk mencapai tujuan itu. Sarana, atau jalan, atau syariah. Tapi sepenting-pentingnya syariah, dia hanya jalan, bukan tujuan.”

Bagian ini sungguh layak jadi renungan. Di tengah-tengah semakin menggejalanya kekeliruan keberagamaan kita. Kesibukan mengejar simbol dan ritual keagamaan namun luput pada penerapan pesan moral dari agama itu sendiri. Di sekitar kita tentu banyak sekali kita temukan kesibukan-kesibukan saleh ritual, juga bersamaan dengan banyaknya penyimpangan ahlak yang tidak sesuai anjuran agama.

Dalam hari yang sama ketika saya selesai membaca novel Orang-Orang Proyek, saya menerima kiriman bacaan yang ditulis oleh Nadirsyah Hosen yang merupakan Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan seorang dosen Senior Monash Law School. Tulisan itu sangat terkait dengan perihal kesalehan ritual yang didiskusikan dalam novel. Tulisan itu memuat pencerahan ummat terkait kesalehan ritual dan kesalehan sosial yang kedua istilah itu awal mula dipopulerkan oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri.

Di beberapa bagian pada postingan di bawah ini, saya menyadur dari penulis Nadirsyah Hosen. Tentang istilah saleh ritual dan saleh sosial, istilah yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitupula sebaliknya. Begitu menurut Gus Mus.

Tulisan kritis itu juga mencatut pendapat Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam buku Fiqh al-Awlawiyat. Tentang kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng (istiqamah) daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh Syekh berpendapat:

“Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, “Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat.” Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual.

Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum’at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan: shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu?

Atau mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan: menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu’. Wudhu’ itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa maish bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ‘ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama.

Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah: “kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!

Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis:

“…kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai’ yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”

Dengan tegas beliau menyatakan:

“Saya sendiri memperhatikan –dengan amat menyayangkan– bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya –Saya tidak berkata mereka semuanya– mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu’minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”

Pada akhirnya kita tentang penting menjadi orang saleh ketimbang tidak menjadi orang saleh. Kita saat ini memang berhadapan dengan iman kita sendiri, keislaman kita sendiri. Saleh pun masih dipertanyakan, apatah lagi jika kita tak mengenal kesalehan jenis apapun. Mari tetap niatkan menjadi orang saleh, kesalehan total. Kesalehan ritual yang mengimplikasi kesalehan sosial.

Dan bila kenyataan mengatakan beberapa orang hanya memiliki salah satu kesalehan itu, maka saya subjektif lebih memilih pada kesalehan ritual. Saya masih percaya bahwa kesalehan rituallah yang mengantar orang untuk menjadi saleh sosial. Banyak orang yang mungkin saleh secara sosial dan mantap dalam penerapan pesan moral keagamaan tetapi tidak punya identitas simbol keagamaan, atau bahasa sederhananya krisis ritual. Bisa jadi juga terkategori sebagai orang baik tanpa agama. Di antara pesohor kita, lihatlah banyak yang sejenis ini, agnostik.

Tidak saleh secara ritual, maka standar nilai yang digunakan mungkin akan mengatakan itu wajar saja berbuat tidak benar sebab dia memang bukan orang yang saleh. Tetapi coba tebak bagaimana reaksi dan persepsi yang terbentuk ketika seorang yang saleh secara ritual lalu melakukan tindakan tidak benar, maka yang dipersalahkan pertama adalah keagamaannya, dimana letak aplikasi kesalehan ritualnya. Bukan mempersoalkan manusianya. Begitulah standar nilai yang mungkin akan kita gunakan, dan barangkali begitulah yang terjadi saat ini. Oleh karena itu, kesalehan ritual sangat mungkin mengantar seseorang menempati kesalehan sosial.

Mari kita mulai dengan laksanakan syariah atau saleh secara ritual yang istiqomah, maka barangkali kita akan tertularkan untuk melakukan perbuatan sosial yang saleh pula. Jangan dibalik. Kita percaya pada hidayah Tuhan akan jatuh pada orang-orang yang pasrah saat melaksanakan ritual keagamaannya. Sholatlah tepat waktu, bersedekahlah dengan tulus, berangkatlah ke tanah suci ketika sanggup tanpa utang, berpuasalah jika mampu, mengajilah banyak-banyak. Ikutilah sunnah Rasul, teladani keshalehan ritualnya, sehingga tujuan diutusnya Rasul untuk menyempurnakan akhlak dan budi luhur dapat kita lihat bersama. Kita ummat Rasul, bukan ummat tanpa panutan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Kaimana-Papua Barat, 3 Agustus 2016

Gambar; dokumentasi pribadi

Advertisements

Padahal, Baru Niat!

Posted in Blogger Kampus, features, Komunitas Daeng Blogger, Opini with tags , , on August 3, 2016 by mr.f

????????????????????????????????????

Sering kita menyadari telah melakukan kekhilafan, kesalahan, kelalaian, keburukan, dosa dan apapun yang menyudutkan perasaan kita. Lalu kita merespon kesadaran itu dengan memohon maaf, kadang segera, kadang setelah beranjak lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah kita melakukan kesalahan itu. Tindakan paling responsif yang sering kita lakukan adalah mengatakan ‘astaga’ atau lebih panjang ‘astaghfirullah’.

Kesadaran responsif itu selalunya tidak mengakar kuat dan tidak menjadi pembelajaran, seperti menjadi sesuatu yang refleks saja. Terkecuali jika kesadaran itu datang melalui kontemplasi yang panjang atau penggalian memori masa lalu. Kita tidak menjadikannya sebagai proyeksi untuk membenahi diri. Ini sering saya alami sendiri dan jauh terlambat baru disadari.

Kita juga belum lama ini saling mendoakan untuk sukses dan lebih baik di hari-hari mendatang di antara permohonan maaf selepas hari raya Idul Fitri. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Tetapi sangat sedikit langkah kongkrit yang kita lakukan untuk menjadi lebih baik.

Saya mau membagikan satu cara yang saya yakini bisa membuat kita mengarahkan hidup lebih berorientasi pada kebaikan yang abadi. Bahwa segala tingkah dan laku manusia ditentukan oleh ‘niat’. Iya niat. Kita tidak asing dengan satu anjuran agama yang tegas bahwa ‘sesungguhnya amalan itu dinilai dari niatnya’.

Nah ada satu niat yang sangat mulia, yang menurut saya akan menjadi pengarah jalan kita selalu di jalur yang baik dan benar. Niat untuk menjadi penghafal Alquran. Pencerahan tentang pentingnya berniat menjadi pengafal Alquran ini saya dapatkan dari ceramah Ustad Yusuf Mansur di youtube.

Niat ini sangat penting meskipun hampir semua kita merasa mustahil melakukannya di tengah jaman yang semakin edan dan penuh godaan kemaksiatan ini. Kita bisa bikin persentase jumlah penghafal Alquran dengan jumlah muslim di dunia, saya tidak punya datanya, tapi firasat saya, itu sangat kecil rasionya.

Lalu sebelum membenamkan niat itu, kita bikin kecemasan di pikiran kita. Laah, gimana saya bisa jadi penghafal Alquran, baca Alquran saja susahnya ampun setengah mati. Huruf nun dan ba masih sering ketukar, huruf ta dan ya susah dibedakan. Huruf sa, tsa, dza, sya susah cara ngucapnya. Belum lagi panjang pendek cara baca, dan berbagai macam kendala teknis membaca Alquran. Itu baru membaca, belum menghafal. Niat kita belum berani ada sedikit pun.

Terlebih ketika kita menganggap niat ini terlalu ‘akhirat oriented’. Laah, memangnya di dunia ini ada hal yang tidak berorientasi akhirat. Semua, seluruh, dan segala hal di dunia ini, absolut pasti kita pertanggungjawabkan di akhirat. Kecuali untuk orang-orang yang tidak yakin dengan yaumul akhir.

Lalu ada lagi tantangan terberat membesitkan niat ini, kita masih merasa tidak layak menjadi pengafal Alquran. Diri ini masih kotor, penuh dosa, masih muda punya pacar, maksiat disana sini, masih hidup dengan makan riba, lingkungan tidak mendukung, ilmu belum cukup, cita-cita dunia lebih penting, atau masih menganggap menjadi penghafal Alquran itu bukan suatu ikhtiar yang punya manfaat praktis pada orang banyak. Dan beribu alasan yang tidak pernah habis mengalahkan niat kita menjadi penghafal Alquran. Padahal ini baru niat loh. Baru niat kita sudah gugur karena alasan.

Sehingga kita tidak pernah bisa sampai pada ikhtiar yang sesungguhnya menjadi pengafal Alquran seumur hidup kita. Yang sesungguhnya justru memulai dengan niat itu sudah menjadi langkah awal yang membimbing kita pada jalan keselamatan, kemulian di dunia dan akhirat. Padahal, pernahkah kita menyaksikan seorang penghafal Alquran di dunia ini yang dihinakan oleh Tuhan?. Hidup kita memang penuh dengan padahal-padahal.

Saya pernah suatu waktu di kapal Pelni disangka penghafal Alquran, karena waktu itu saya pakai sorban yang saya jadikan serupa kerudung menutupi kepala dan membuka Alquran kecil, lalu seketika itu saya merasa diperlakukan lebih baik oleh manusia lain, oleh dunia. Padahal itu tidak ada keinginan sedikit mendapatkan perhatian itu. Itu belum jadi pengafal, padahal.

Kita semua tidak pernah terlambat untuk meniatkan ini. Berapa umur kita saat ini, 17, 20, 22, 25, 30, 35? Atau sudah merasa terlalu tua untuk mengusahakan kalaupun kita benar-benar berniat?. Tidak, sangat tidak ada salahnya memulai meniatkan ini di berapapun usia kita, muda tua, kurang atau cukup finansialnya, sedang alim-alimnya, sedang berdosa-dosanya, sedang bergelimang maksiatnya. Kita harus memulainya. Kita harus mengikhtiarkannya. Kita hanya punya waktu saat ini juga, besok kita belum tahu, bahkan sedetik, semenit, sejam kemudian apakah kita masih bernafas.

Sebab dengan adanya niat itu, kita akan perlahan melakukan usaha. Mencari tahu cara baca Alquran, membersihkan diri dari noda dunia saat menggenggam Alquran, membenahi perilaku sedikit-sedikit atau secara signifikan. Dan segala kemudahan dan kekuatan kita pasrahkan saja pada pemberi hidayah. Hasil itu kuasa Tuhan, tapi cara dan ikhtiar, manusia yang tentukan. Kita tidak kuasa menentukan kapan kita sukses menghafal Alquran, seberapa lama kita ikhtiarkan. Itu mutlak di tangan Tuhan, sebab perihal ini perihal hidayah.

Dan apakah saat kita baru berniat menjadi penghafal Alquran, lalu kita dipanggil menghadap Ilahi niat kita diganjar syurga oleh Tuhan? Jawaban Yusuf Mansur untuk pertanyaan ini, iyya. Yang penting niatan itu telah diikhtiarkan, meskipun ustad menyerahkan urusan itu segalanya kepada Tuhan yang menentukan. Wallahu alam. Namun kita awam mendengar janji Tuhan, bahwa ada 10 orang dari keluarga terdekat yang ditarik ke syurga untuk seorang pengafal Alquran. Bukankah suatu kebermanfaatan yang haqiqi?.

Banyak di antara kita berselisih tentang apakah niat harus selalu dilafazkan, dibathinkan, atau bahkan dituliskan. Seperti yang sedang saya bikin saat ini, yang teman-teman baca. Menurut saya, tergantung kebaikan apa yang kita niatkan. Ada niat baik yang mungkin perlu disembunyikan dan hanya Tuhan yang mengetahuinya. Ada niat yang diucapkan atau dituliskan supaya kita mendapat ‘amin’ yang cukup untuk membujuk Tuhan mewujudkannya. Kali ini niat saya, saya sounding, sebagai bagian dari ikhtiar dan semoga bisa menjadi kontrol sosial kita untuk saling mengingatkan bilamana suatu saat kita melenceng dari jalur niat yang kita bangun.

Wallahu alam.

Kaimana, 26 Juli 2016