Archive for the kampung bamana Category

Mencermati Makian Orang Timur

Posted in Feature, kampung bamana, Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , , on October 16, 2016 by mr.f

mencermati-makian-orang-timur

Hal yang paling terasa berbeda berada di bagian timur Indonesia ini adalah saat mendengar nada bicara yang lebih tinggi dari orang Indonesia lainnya, apalagi ditambah dengan caci maki yang seperti bahasa pelengkap pada tiap kata yang keluar dari mulut. Tidak mengenal usia, makian itu bisa dari mulut seorang bocah yang baru mengenal bicara atau orang tua ompong yang sudah terbata mengeja kata.

Telinga-telinga juga seolah biasa saja dengan umpatan dan makian kasar yang terdengar dimana-mana. Saya bergaul dengan beberapa bocah yang duduk di sekolah dasar, ketika bicara kepada teman-temannya rasanya ada yang kurang lengkap ketika tidak ada tambahan makian di tiap kalimat yang dikeluarkannya. Bagi saya, itu sungguh kurang ajar dan sebagai guru bantu di sekolah saya belum punya kekuatan dan posisi berpijak untuk sekadar menghentikan atau mengurangi anak-anak berbahasa kasar.

Akarnya tidak perlu jauh digali, orang tua di rumah punya pengaruh besar dengan menanamkan ke dalam bawah sadar anak-anak untuk melengkapi kalimatnya dengan makian. Orang tua tidak segan membentak anak ditambah makian. Lama-lama anak-anak juga menjadi kebal dan seolah tutup telinga dengan makian kasar. Tidak perlu tersinggung ketika ada yang memaki, makian itu  sudah jadi pelengkap obrolan.

Di sekolah saya mengampuh kelas satu dan dua yang digabungkan dalam satu ruangan. Beberapa kali anak-anak itu bicara dengan nada tinggi sekali kepada saya, beberapa kawannya merespon dan membela saya sebagai gurunya dalam kelas dan hampir saja menampar siswa yang berbicara keras itu. Saya panggil anak itu ke atas dan saya ingatkan baik-baik untuk tidak lagi mengulangi caranya berbicara seperti itu kepada saya. Itu baru permulaan, atau seperti sebuah perkenalan lingkungan sekolah ala orang timur.

Besoknya, saya masuk kelas membawa rotan sebagai aksesoris guru yang semua guru di sekolah juga membawanya. Guru sini bilang bahwa anak-anak musti sedikit diberi kekerasan fisik dalam proses pendidikannya. Lingkungan rumah dan keinginan tinggi di sekolah punya jurang yang sangat lebar. Itulah yang membuat betapa sulitnya mengubah kebiasaan berbicara anak-anak tanpa makian. Juga, anak-anak dalam pergaulan sosial di luar sekolah memiliki jam yang lebih panjang ketimbang waktunya di sekolah. Di sekolah, anak-anak maksimal berinteraksi dengan guru selama tiga jam setengah. Sekolah dimulai pada pukul delapan pagi dan beristirahat pada pukul 9 lewat hingga pukul 10. Untuk siswa kelas satu dan dua, akan pulang pada pukul 11, sedangkan siswa lainnya akan pulang pada pukul 12 lewat 15 menit. Kurangnya jam interaksi dengan guru-guru setidaknya turut menyumbang faktor kasarnya anak-anak berbicara dan bersosialisasi. Apalagi lingkungan rumah tidak terkontrol dengan baik oleh orang tua, juga pun beberapa orang tua tidak punya peduli untuk hal-hal keterampilan dan kesopanan berbicara pada anak-anaknya. Tidak peduli bagaimana tajamnya mulut dan kasarnya bahasa yang digunakan anak-anaknya. Anak-anak di kampung akan tumbuh menjadi dewasa seiring waktu, menggantikan orang tua dan hidup berjalan begitu saja.

Belum lagi kebiasaan mengomongkan keburukan orang lain juga adalah hal lumrah di kampung-kampung. Tidak hanya terjadi di bagian timur atau Papua saja. Tetapi disini, membicarakan keburukan orang lain disertai makian itu aromanya beda. Saya beberapa kali secara tidak sengaja terlibat mendengarkan orang-orang kampung asyik masyuk membicarakan kekurangan orang lain yang saya kenal. Hati saya mendidih mendengarnya, tapi tidak bisa bikin apa-apa kecuali tunduk dan ikut senyum saja kalau ada hal yang bisa mengundang tawa.

Mendengar orang mengomongkan orang lain itu bikin saya jadi gelisah juga dan bukan tidak mungkin suatu saat nama sayalah yang akan dibicarakan, dimaki-maki sekenanya. Sebab beberapa orang merasa tidak kerasan tinggal di kampung karena alasan tidak tahan mendengar orang kampung saling bicara dan memaki seolah tanpa batas. Bidan Pustu baru saja meninggalkan kampung karena akumulasi perlakuan masyarakat sekitar. Puncaknya ketika Pustu diserang secara fisik oleh orang mabuk, dan menghancurkan jendela kaca. Sebelumnya Bidan bercerita tidak kuat menghadapi cara orang kampung berkomunikasi menyampaikan sesuatu. Juga pernah mendengar fitnah kejam tentang dirinya.

Cara bertutur dan berbicara adalah masalah sosial besar di kampung ini. Pembenahannya tidak hanya bisa dilakukan pada anak-anak. Orang tua juga musti selalu diingatkan akan hal laten itu. Jika tidak, situasi sosial ini akan terus memburuk dan bisa jadi biang malapetaka dan konflik horizontal terus menerus.

 

Panggil Saya Om Daeng

Posted in Feature, kaimana, kampung bamana, patriot energi, Petualangan with tags , , , , , on October 16, 2016 by mr.f

7

Anak-anak di Kampung Bamana tidak terbiasa dengan sapaan kakak pada orang yang lebih tua. Tidak ada sapaan khusus untuk orang yang lebih tua itu. Yang paling sering digunakan adalah sapaan Om untuk orang asing atau pendatang. Sedangkan untuk orang lebih tua yang tinggal di dalam kampung maka tidak ada embel embel kakak atau sapaan khusus di depannya, melainkan langsung menyebut nama. Hal yang lazim terjadi di seluruh kampung di Indonesia, termasuk di tempat asal saya, di Sulawesi.

Sayapun datang sedikit mengambil waktu untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak, saya cermati dulu kebiasaan anak-anak kampung menyapa orang yang baru dilihatnya. Jika biasanya saya mengenalkan diri dengan sapaan abang atau kakak, tapi kali ini di kampung pedalaman Papua ini saya mau tak mau mematuhi kebiasaan anak-anak memanggil saya dengan sapaan Om. Lalu nama saya yang terdengar kearab-araban saya ujikan ke bibir anak-anak Papua ini ternyata mereka agak kesulitan mengeja nama saya dan terdengar tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Maka saya berinisiatif menyebut diri saya dengan sapaan Om Daeng. Cukup mudah untuk disebutkan. Kejadian ini hampir sama ketika saya bertugas di Sumentobol, di Kaltara sana ketika nama saya bergeser cukup jauh ketika dilafalkan oleh anak-anak. Saya kadang lucu dan tergelitik sendiri mendengar nama menjadi Bang Malok atau Bang Marus. Jadi ketika di Sumentobol itu saya pasrah saja mendengar nama saya diplesetkan secara tidak sengaja. Bahkan orang yang lebih tuapun tak luput memanggil saya dengan Bang Maruk.

Disini, di Kampung Bamana ini saya sedikit punya alternatif untuk tidak mengulang pemelesetan nama, saya juga oleh beberapa anak-anak yang ajar di sekolah dipanggil Bapak Guru. Namun lazimnya saya disapa Om saja. Itu sudah cukup memastikan bahwa yang disapa itu adalah saya.

Sapaan Om Daeng, tidak hanya dipakai oleh anak-anak tetapi juga oleh beberapa pace mace di kampung. Om Daeng seolah memberi garis tegas bahwa sukuisme atau primordialisme di kampung ini punya janin yang cukup kuat yang suatu saat bisa bertumbuh menjadi konflik sosial. Saya melihat potensi konflik primordialisme cukup besar, sebab sudah mulai dibicarakan oleh kalangan anak-anak atau remaja tanggung yang fubertas.

Orang-orang tua untuk maksud memudahakan identifikasi dan pemberian identitas pada seseorang diberi label asal atau sukunya atau apa saya yang berbau primordialisme. Ada orang yang tinggal di kampung puluhan tahun di panggil Pace Buton, ada pula yang dijuluki Pace Kei karena berasal dari Kei, ada juga yang mengerjakan pembangunan PLTS dipanggil Mas-Mas Jawa. Pemberian label asal atau suku itu menyiratkan asingnya perbedaan meskipun percobaan asimilasi ini telah berlangsung puluhan tahun.

Bapak Piara saya juga disini kerap dilabel Orang Bugis yang dipanggil Bapak Daeng. Tinggal di kampung ini nyaris dua puluh tahun, menyisakan banyak sekali kisah, apalagi terkait dengan intimidasi karena kondisi minoritas dari suku dan perbedaan lainnya. Beberapa kasus dan permasalahan seputar isu sara itu sudah terbiasa untuk dimaklumi. Saya bisa memahami hal-hal lumrah ini biasa terjadi dimana saja. Apalagi jika kaum pendatang atau perantau memperlihatkan kondisi signifikan dari segi kemapanan finansial dibanding dengan kaum asli atau penduduk lokal.

Sikap dan mental kaum minoritas memang terkadang bisa menjadi hal-hal sensitif yang sukar diterima warga asli dalam kampung. Keberadaan saya yang menampilkan perbedaan level kontras dari banyak sisi juga menimbulkan tantang tersendiri untuk menaklukan misi agitasi dan empowerment masyarakat sebagai bagian dari tugas utama seorang Patriot Energi. Bahwa tidak semua yang diomongkan orang pendatang rambut lurus seketika akan diterima dan dipercaya oleh masyarakat, namun malah akan menemui psicological barrier yang begitu tebal untuk ditembus. Rasa percaya diri dan memiliki wilayah yang dipeluk di dalam dada oleh orang asli Papua serta mentalnya bujukan dari kaum luar untuk melakukan perubahan membuat kehidupan berjalan lambat dan situasi alami tetap ingin dipertahankan sementara banyak hal termasuk perilaku atau pola konsumtif dan materialisme secara tidak sadar telah masuk dan jadi kebiasaan.

Beberapa orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan bukan membuat rendah hati dan mau menerima gempuran situasi untuk berbenah, malah masih sibuk dan ngotot mempertaruhkan primordialisme dan semakin mempertinggi rasa percaya diri. Kesempatan-kesempatan untuk memperbaiki diri terkadang juga dimanfaatkan secara individual oleh segelintir orang yang merasa memiliki pengetahuan. Disini letak batu pengganjal laju perubahan di pedalaman-pedalaman kampung.

Saat ini saya masih terus mengamati pola dan tingkah yang semoga ada celah yang bisa dimasuki untuk melakukan agitasi ke arah positif. Menjadi Patriot Energi dengan tugas empowerment di tanah Papua jelas bukanlah hal mudah. Tetapi saya masih punya waktu untuk menyelami situasi ini dan tetap optimis dalam ikhtiar. Tunggu cerita saya selanjutnya. Mari terus mengabarkan!

 

Mengejar Ikan di Jaman Digital

Posted in Feature, kampung bamana, lomba blog, Petualangan with tags , , , , , , , , on October 16, 2016 by mr.f

mengejar-ikan-digital

Nelayan di Kampung Bamana pernah menggerutu karena hasil pancing mereka menurun drastis setelah kedatangan tim pemancing salah satu televisi swasta nasional. Nelayan di Kampung Bamana adalah nelayan tradisional dengan alat tangkap sederhana yang hanya berupa beberapa jenis pancing dan menggunakan perahu longboat. Para nelayan tidak hanya sekali dua kali mendapatkan hasil tangkapan yang nihil, sementara mereka juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membeli bahan bakar. Kampung Bamana sendiri adalah salah satu kampung pedalaman di Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat. Kampung Bamana, saya sebut pedalaman karena begitu sulit diakses dari pusat kota, Kaimana. Juga disana tidak ada jaringan telekomunikasi sedikitpun. Bahkan di pusat distrikpun kondisinya tidak jauh berbeda dengan Kampung Bamana. Tak ada transportasi reguler, tak ada sinyal telefon sama sekali dan tak ada listrik negara.

Tim pemancing dari salah satu stasiun televisi nasional itu sudah beberapa kali berkunjung dan menayangkannya di televisi. Nelayan menganggap ikan-ikan di wilayah pancingan mereka dibuat ‘cerdas’ oleh tim pemancing tersebut sebab menggunakan umpan bukan ikan, melainkan bahan sintetis yang dibuat menyerupai ikan kecil atau udang yang diyakini lebih menarik perhatian ikan-ikan target memancing. Sehingga para nelayan menjadikannya alasan kenapa ikan begitu sulit didapatkan dan kadangkala harus bertaruh dengan bahan bakar mengejar ikan hingga jauh dari kampung.

Saya dengar baik-baik gerutu para nelayan tersebut dan menimpali dengan mencoba menjabarkan sisi positif kedatangan tim pemancing dari televisi nasional tersebut. Kebetulan saya pernah menonton tayangan tim pemancing yang dimaksud. Dan saya lihat, kedatangan tim pemancing tersebut hanya melibatkan beberapa orang nelayan lokal saja. Nelayan-nelayan yang menggerutu adalah nelayan yang hanya mendengar selintingan informasi parsial tentang aktivitas pemancing dari televisi tersebut, dan sangat mungkin tidak menonton liputan di televisi. Sebab televisi di kampung hanya ada beberapa saja yang menyala, itupun di waktu malam hari saja. Padahal, dalam tayangan acara memancing tersebut diperlihatkan alat elektronik yang diberi nama fishfinder digunakan untuk melihat struktur, kedalaman, dan keberadaan ikan-ikan di dasar laut. Alat elektronik itu juga diserta dengan GPS (Global Positioning System) yang sebenarnya bisa membantu nelayan di kemudian hari.

Lalu saya katakan bahwa nelayan di kampung memang perlu sedikit sentuhan modernisasi dengan cara mereka memancing. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi juga perlu dipelajari secara seksama. Saya ceritakan bagaimana nelayan di kampung saya sendiri, di pelosok Sulawesi Selatan, memanfaatkan teknologi GPS untuk mengindetikasi keberadaan rumpon atau sarang ikan yang mereka pasang. Jelas, dengan begitu akan membuat nelayan lebih efektif dan efisien dalam banyak hal, termasuk waktu dan biaya operasional.

Pada satu kesempatan lain, saya ke pusat kota Kaimana yang sudah menggunakan jaringan 4G Telkomsel, lalu saya mengakses begitu banyak informasi yang akan saya gunakan setidaknya untuk sedikit membantu nelayan mengatasi kesulitannya. Alat elektronik berteknologi canggih yang diperlihatkan di dalam tayangan memancing untuk mengindetifikasi ikan masih terlalu mahal bagi nelayan, tetapi tidak berarti digitalisasi bagi nelayan tidak boleh mereka ketahui. Alat GPS yang tak kalah pentingnya juga belum mampu dibeli oleh nelayan di Kampung Bamana. Oleh karena itu, saya mengunduh peta sekitaran Kampung Bamana, yang saya duga menjadi area atau spot-spot memancing para nelayan. Gunanya memang hanya sebatas memberi gambar pasti tentang suatu posisi tertentu. Sebab seringkali sesama nelayan saling adu pendapat dalam memastikan suatu titik atau posisi manakala pada suatu saat mereka mendapatkan ikan yang banyak.

Nelayan menganggap bahwa ikan-ikan itu menetap pada suatu spot. Sehingga ketika berangkat memancing, para nelayan sudah memiliki tujuan spot yang juga seringkali meleset posisinya, sebab hanya mengandalkan firasat saja. Mungkin akan lain ceritanya jika mereka menggunakan GPS untuk menentukan posisi secara akurat atau alat digital fishfinder yang bisa lebih jitu mencitrakan pola dan sebaran ikan di bawah laut.

Itulah kisah nelayan di pedalaman Papua mengejar ikan di jaman digital, yang sebenarnya juga menginginkan digitalisasi di tengah kesempitan dan keterbatasan. Bahwa nelayan di pedalaman Papua juga berhak memahami dan memakai teknologi di tengah #IndonesiaMakinDigital.

Gambar dari dokumentasi pribadi