Archive for the kampung bamana Category

Sebelum dan Setelah Ada Listrik

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, kampung bamana, patriot energi with tags , , , , on August 28, 2017 by mr.f

Sebelum listrik dari PLTS menyala di kampung, ada banyak sekali hal yang tidak bisa terjadi akan tetapi setelah listrik menyala juga ada beberapa tidak terduga yang terjadi. Di kampung-kampung pedalaman yang menjadi sasaran penerima bantuan PLTS Terpusat yang dibangunkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, kehadiran listrik di tengah kampung tentu adalah anugerah yang telah lama mereka nantikan. Kehadiran listrik juga bagi kampung-kampung yang menjadi beranda Indonesia di bagian perbatasan juga sekaligs menandakan kehadiran negara yang selama ini seolah menutup mata terhadap nasib rakyat di daerah terdepan Indonesia.

Saya sudah banyak menulis tentang faedah yang sangat besar yang dirasakan masyarakat yang kampungnya dibangunkan PLTS oleh Kementerian ESDM. Di Kampung Sumentobol di Nunukan, di Kampung Bamana Papua Barat dan sebentar lagi di Pulau Balikukup Kalimantan Timur, masyarakat begitu bersyukur dengan lsitrik masuk kampung, yang tentu saja pemerintah telah menimbang matang besar dana yang dikeluarkan dengan kemungkinan manfaat yang bisa dirasakan oleh rakyat di kampung-kampung yang masih sangat sulit untuk teraliri listrik dari PLN.

Di Sumentobol misalnya, sebelum listik PLTS ada, tidak kita temukan proses belajar malam pada anak-anak sekolah. Interaksi sosial terputus oleh kegelapan kampung. Juga dengan roda-roda ekonomi menjadi berhenti berputar di saat malam hari. Dan setelah listrik PLTS menyala, hal-hal di atas bisa teratasi. Anak-anak tentu saja tak perlu lagi berbagi lampu dengan penghuni rumah lainnya untuk menerangi aktivitas belajar malamnya. Interkasi sosial bisa terjadi meskipun malam telah datang, sebab lampu jalan menerangi kampung setiap 30 meter jauhnya. Roda ekonomi berputar, ibu-ibu bisa menganyam rotan, bisa membuat tempayan, bisa mengolah ilui, masih bisa terus membuka kiosnya, walaupun malam.

Saya menyaksikan peristiwa itu, tetapi hal lain rasanya juga perlu saya tuliskan untuk mengimbangi faedah dari kehadiran listrik. Di Kampung Bamana, di Papua Barat sana, kehadiran listrik di tengah kampung mereka justru menimbulkan hal lain yang sebelum listrik menyala tidak perlu terjadi. Sebab lampu mampu menyala dari senja hari hingga pagi, maka listrik itu dimanfaatkan untuk menerangi aktivitas negatif yang masyarakat terbiasa mengerjakan cukup di siang hari. Masyarakat melanjutkan aktivitas perjudian hingga pagi hari kmenggunakan penerang dari PLTS. Meskipun aktivitas ini terkategori perputaran ekonomi, tetapi secara moral, tentu tidak seperti itu yang diharapkan oleh pihak pemerintah, terutama dari Kementerian ESDM.

Pembangunan PLTS Terpusat berkapasitas 30 Kwp di Kampung Bamana sejak awal memang telah memperlihatkan gejolak dan aura tidak benar. Kampung Bamana bukanlah kampung yang ditetapkan sebagai kampung penerima manfaat fasilitas pembangkit listrik tenaga surya dari Kementerian ESDM. Akan tetapi ketika saya tiba di Kota Kaimana, Propinsi Papua Barat, kampung penerima manfaat ini dipindahkan ke Kampung Bamana yang ternyata memiliki garis sejarah dengan kepala daerah terpilih pada saat itu. Kampung yang semestinya adalah sebuah pulau bernama Kayu Merah atau Kampung Siawatan, akhirnya berpindah ke Kampung Bamana yang menurut Bupati pada saat saya meminta klarifikasi, Kampung Bamana akan diproyeksikan sebagai pusat kecamatan di daerah setempat.

Akhirnya listrik PLTS menyala di Kampung Bamana, kampung yang sebelumnya memiliki instalasi jaringan listrik tenaga diesel. Listrik tenaga diesel ini juga merupakan bantuan negara yang sayangnya tidak terpelihara dan terawat dengan baik. Kemudian listrik tenaga diesel ini satu per satu tidak beroperasi dengan baik lagi, sebab sumber listrik atau mesin diesel dibagikan ke masing-masing dusun  sebanyak tiga buah, dan pengelolaannya dipegang oleh masing-masing kepala dusun.

Pelajaran berharga dari sejarah kegagalan pengelolaan  listrik diesel menjadi opini yang sangat hangat untuk dibicarakan ke masyarakat kampung, sehingga dengan begitu umur pakai PLTS akan menjadi kontrol bersama dengan teknisi lokal yang telah ditraining oleh kontraktor selama beberapa bulan.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada kampung-kampung yang saya dampingi pembangunan pembangkit listriknya kemudian membuka ruang memori masa lalu saya. Masa lalu yang terjadi di kampung halaman saya, di kampung yang nyaris pedalaman di Sulawesi Selatan. Sebab baru pada tahun 2008 listrik dari PLN mengaliri rumah-rumah di kampung saya. Sebelum listrik PLN masuk ke kampung, tentu saja banyak kondisi yang mengalami keterbatasan. Masa-masa sekolah saya dari SD hingga SMA, dihiasi dengan belajar malam bersama lentera atau pelita, pelita yang membuat lobang hidung menjadi hitam karena asapnya. Setrika baju yang masih menggunakan bara tempurung kelapa. Permainan lampu jalan yang menggunakan tutup botol dan biji kelapa sawit. Mitos-mitos tentang mahluk halus yang menghuni tempat gelap. Dan masih banyak sekali hal-hal tradisional dan konvensional yang harus terjadi karena listrik belum memadai.

Kemudian kehadiran listrik dari PLN pada tahun 2008 seolah menjadi jalan terjadinya perubahan peradaban di kampung saya. Lentera atau pelita ditinggalkan, setrika bara api digantikan dengan setrika listrik, permainan lampu dari biji kelapa sawit tak perlu lagi. Listrik telah masuk kampung, peradaban baru telah menunggu. Mitos-mitos tentang mahluk halus yang berkeliaran di tempat gelap berkurang perlahan. Sejarah terukir karena  listrik. Listrik adalah bahan sinisme bagi masyarakat kampung.

Begitulah kehadiran listrik pasti akan mampu mengubah jalannya sejarah kehidupan manusia. Di kampung-kampung pedalaman pun, kehadiran listrik tentu saja memiliki faedah yang sangat besar dan bisa juga menjadi sesuatu yang tak disangka berdampak pada terjadinya perubahan sosial ke arah yang tidak diharapkan.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; dokumentasi pribadi

Advertisements

Menyaksikan Respon Masyarakat Pedalaman Terhadap PLTS

Posted in #15HariCeritaEnergi, Feature, kampung bamana, lomba blog, patriot energi, Petualangan with tags , , , , on August 18, 2017 by mr.f

Setiap orang punya standar untuk bersyukur. Kenikmatan-kenikmatan yang dirasakan sudah memiliki ukuran sehingga tahu kadar kenikmatan tersebut berada di level biasa saja atau telah menjadi suatu keadaan yang diluar kebiasaan. Namun mungkin tidak semua orang tahu cara bersyukur. Dan mungkin juga tidak semua orang punya kemauan untuk bersyukur. Sebabnya bisa saja adalah karena tidak semua orang memiliki kadar kebutuhan, atau bahkan tidak semua orang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan.

Kesempatan ini akan saya gunakan untuk menuliskan dua respon situasi yang berbeda terhadap pemberian kadar kenikmatan yang sama. Dasar tulisan ini tentu saja adalah pengalaman saya sendiri selama bertugas menjadi Patriot Energi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia di dua tempat yang berbeda. Kondisi kampung bisa dibilang sama-sama terpencil dan sangat susah akses. Tempat yang pertama di Kelompok Kampung Sumentobol di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan tempat yang kedua adalah di Kampung Bamana, Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat.

Kedua kampung ini sama-sama menerima paket bantuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 30 Kwp dari Kementerian ESDM namun berbeda tahun pembangunan. Di Kelompok Kampung Sumentobol di Nunukan, pembangunan PLTS 30 Kwp tersebut dimulai pada akhir tahun 2015 hingga bulan maret 2016 sedangkan di Kampung Bamana di Papua Barat PLTS dibangun sejak pertengahan tahun 2016 hingga bulan desember 2016. Kedua kampung ini masing-masing memiliki kontur tersendiri yang membuatnya terkategori sebagai kampung terpencil sehingga dinyatakan layak untuk menerima bantuan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik.

Di Kampung Sumentobol, letak kampungnya berada di hulu sungai yang cukup dekat dengan garis batas dua negara, Indonesia dan Malaysia. Kampung Sumentobol sendiri adalah kampung yang sangat unik karena merupakan kampung yang di dalamnya terdiri dari tujuah kampung berbeda yang ketujuh kampung tersebut masing-masing memiliki struktur pemerintahan. Ketujuh kampung tersebut berada dalam satu hamparan di tepi sungai Lumbis yang masing-masing kampung maksimal memiliki 30 kepala keluarga, bahkan ada dua kampung yang jumlah kepala keluarganya kurang dari sepuluh kepala keluarga. Kalau dari segi bangunan rumah, maka ada kampung yang hanya memiliki lima bangunan rumah saja. Sehingga total bangunan rumah dari ketujuh kampung tersebut pada akhir tahun 2015 hanya 85 unit saja, termasuk fasilitas umum seperti tiga Balai Adat, Puskesmas Pembantu, dan Sekolah Dasar.

Tentu saja karena Kampung Sumentobol hanya dapat diakses melalui jalur sungai selama kurang lebih 5 jam menggunakan perahu tempel dari pusat kecamatan yang memiliki jalan darat menjadikan kampung ini layak menerima fasilitas pembangkit listrik, yang memang merupakan program Nawacita Presiden Jokowi, yakni membangun dari desa, terutama desa-desa terpencil.

Begitu juga dengan Kampung Bamana di Papua Barat yang letaknya hampir tepat di leher Pulau Irian dan tidak memiliki akses darat, membuat kampung ini harus ditempu dengan mengarungi Laut Aru selama kurang lebih 12 jam lamanya menggunakan kapal perintis. Maka hampir bisa dipastikan kalau kampung ini adalah termasuk dalam salah satu dari belasan ribu kampung di Indonesia yang tidak terjangkau oleh listrik negara. Sehingga pembangunan fasilitas pembangkit listrik yang merupakan pembangunan yang menggunakan anggaran murni dan langsung dari Kementerian ESDM telah tepat pada tempatnya.

Situasi demografi kedua kampung ini memiliki kemiripan dalam hal jumlah penduduk. Di Kampung Bamana ada kurang lebih 73 bangunan termasuk fasilitas umum. Begitu pula dengan kondisi topografi kedua kampung ini, kampung memanjang tidak lebih dari dua kilometer. Sehingga pembangkit listrik dengan kapasitas 30 kwp sudah sangat cukup menjawab kebutuhan penerangan rumah dan kampung.

Tetapi mari kita cermati respon masyarakat kedua kampung ini menerima pembangunan PLTS di kampung mereka. Tentu saja respon yang akan saya tuliskan ini adalah reduksi yang sangat subjektif dari pengalaman saya mengamati perilaku masyarakat kedua kampung dengan durasi live in yang hampir sama, yakni kurang lebih 5 bulan lamanya.

Masyrakat kedua kampung sama-sama memahami bahwa kampung mereka merindukan hak akan listrik yang sama dengan masyarakat di perkotaan. Menikmati listrik dari PLN dengan daya tinggi. Setelah puluhan tahun mendiami kampung tersebut, tentulah mereka juga menginginkan listrik hadir guna menjawab berbagai kebutuhan. Namun bagaimana mereka merespon pembangunan begitu berbeda. Masyarakat di Kampung Sumentobol, sangat bisa diklaim begitu antusias dan dengan tangan terbuka menerima pembangunan PLTS di tengah kampung mereka. Dan dengan kehadiran saya mempersiapkan mental mereka untuk membantu pembangunan secara swadaya dan mempersiapkan organisasi pengelola PLTS, maka keberadaan PLTS di Kampung Sumentobol menjadi sebuah karunia yang senantiasa mereka syukuri.

Dapat saya ceritakan bagaimana peran Kepala Adat Kelompok Kampung Sumentobol begitu dominan dalam hal membentuk opini membantu pembangunan PLTS secara swadaya, walaupun Kepala Adat tersebut harus berhadapan dengan tujuh kepala kampung. Kepala Adat tidak perlu dua kali memanggil masyarakatnya untuk ikut gotong royong menarik kabel ke sepanjang kampung, atau mengangkat aki dari tepi sungai yang miring ke lokasi shelter PLTS, atau ketika seluruh tiang-tiang harus diletakkan di posisi yang telah ditentukan. Masyarakat tidak begitu sulit untuk diarahkan mengambil peran dalam pembangunan PLTS.

Sedangkan situasi begitu berbeda di Kampung Bamana. Saya tidak bermaksud sinis dan menghakimi watak dan perilaku masyarakat di sana, tetapi memang seperti itulah kejadian di lapangan. Masyarakat kampung sama sekali tidak memiliki peran dalam pembangunan PLTS. Seluruh aktivitas pembangunan dipandang sebagai sebuah aktivitas proyek dimana setiap tetes keringat masyarakat harus memiliki imbalan uang. Mental proyek begitu kuat di tengah masyarakat. Dalam hal pemindahan material PLTS, semua gerakan yang dilakukan warga terukur dengan uang. Aki yang dipindahkan ke lokasi shelter, kabel yang ditarik, tiang yang diangkat. Semua harus dibicarakan persoalan imbalannya. Maka waktu itu, usaha saya mempersiapkan mental masyarakat tidak membuahkan hasil yang serupa dengan Kampung Sumentobol.

Sehingga sampailah saya pada kesimpulan bahwa cara orang bersyukur begitu jauh berbeda, bahkan bila kebutuhan yang telah lama diidamkan telah terpenuhi.

Ditulis di Pulau Balikukup, Berau, Kalimantan Timur

18 Agustus 2017

#15HariCeritaEnergi