Archive for the kaimana Category

Ketika Gonrong Masuk Masjid

Posted in Blogger Kampus, features, kaimana, Petualangan with tags , , , on October 18, 2016 by mr.f

santri

Akhir-akhir ini saya sering menghadapi perasaan yang menganggap saya sedang  berada tidak di tempat yang tepat karena memiliki rambut yang lebih panjang dari laki-laki pada umumnya. Tetapi perasaan itu hanya bersimpul di kepala saya sendiri. Orang lain belum pernah ada yang menanyakan lancang kepada saya tentang hal menganggu saya itu.

Ketika memasuki masjid dan mengambil shaf paling depan setelah imam berdiri, dengan rambut yang lebih panjang yang kadang juga saya kuncir kalau saya tidak memakai peci, membuat saya menjadi merasa tidak layak di tempat itu. Meskipun saya paham betul, persoalan ini bukan persoalan esensial dari sebuah ibadah yang tidak pernah menyoalkan rambut ke dalam rukun-rukun ibadah. Kecuali pada ibadah haji. Sebagai orang yang masih merasa muda di antara kebanyakan jamaah di masjid, rambut panjang yang dikuncir sebenarnya masih bisa dimaklumi secara sosial. Apalagi manakala saya hadiri sholat jamaah lalu saya hanya menggunakan baju kaos oblong dan celana jeans tanpa peci, maka semakin saya menjadi jamaah berpenampilan lain di dalam masjid. Namun sekali lagi, belum pernah ada yang mengomentari tampilan muda saya itu. Sampai saat ini, saya mengerjakan sesuatu yang masih berdasar kaidah fiqih sebatas saya ketahui. Landasan dan dalil tidak perlu saya hafalkan untuk semua tindakan-tindakan saya ,baik soal sosial maupun soal spiritual.

Saya paham kalau persoalan ibadah itu juga tidak melepaskan unsur lahiriah, bukan hanya bathin yang beribadah. Praktik-praktik syariat itu telah dicontohkan oleh nabi panutan kita terdahulu. Uswah segala kebaikan itu datang dari Baginda Nabi Muhammad. Sehingga level tarikat memang bukanlah level pembicaraan awam yang bisa dengan gampang dicerna. Tampilan lahiriah dalam ritual dan rutinitas itu sejujurnya adalah menjadi simbol keberagaman seseorang, bisa jadi juga adalah lambang keshalehan seseorang. Tidak juga bisa menjadi dasar tunggal untuk menyimpulkan karakter seseorang. Aspek tampilan bagi banyak orang itu adalah penting dan utama, tetapi saya lebih menekankan aspek praktikal akhlak dan moral jauh lebih baik untuk didahulukan dari sekedar keindahan dan keselarasan tampilan-tampilan lahiriah.

Poin ini tidak lantas mengkonotasikan bahwa kita boleh saja tak acuh dengan gambar lahiriah lalu membenamkan diri dalam fokus ibadah bathin, tidak. Bagi saya, seorang muslim tetap harus selalu waspada dengan hidupnya, dengan aturan-aturan hidup yang digaris oleh agama, memperhatikan rambu-rambu hukum segala aktivitas. Memahami kaidah dasar fiqih bahwa segala macam persoalan muamalah atau hubungan sosiologi itu adalah dibolehkan atau halal hingga ada dasar atau hukum jelas yang melarang atau mengharakamkannya, sedangkan kaidah fiqih ibadah itu adalah bahwa segala macam persoalan praktik ibadah mahdhah itu dilarang hingga ada anjuran jelas yang membolehkan atau menghalalkannya. Jadi soal tampilan lahiriah yang tidak menyinggung praktek peribadatan dan ritual itu tidak terkategori kedalam hal-hal yang dilarang dalam ibadah. Toh juga ada jauh lebih banyak orang berambut amat rapi dan klimis tapi kakinya begitu enggan melangkah dan memasuki masjid di waktu-waktu sholat, jadi sejujurnya tampilan yang sesuai dengan kelaziman itu memang penting, tetapi jauh lebih penting ketaatan pada moral dan ritual.

Lalu soal rambut, ini murni hanya perasaan saya yang merasa tidak melakukan kebiasaan banyak orang ketika sholat atau merasa menyalahi norma sosial dan tatanan kebiasaan masyarakat. Dulu, ketika rambut saya masih cepak atau pendek dan melihat ada jamaah yang antimainstream, saya secara tidak rasional memberi nilai minus pada ibadah orang itu dan memanggap bahwa cara ibadah kitalah yang paling benar dan paling layak mendapat pahala lebih banyak. Soal ini sederhana tapi lumayan sering saya alami. Saat ini, saya menempati posisi yang antimainstream. Saya tidak kaku dengan cara pandang saya saat ini, ketika saya mendapat informasi baru yang saya anggap lebih benar maka itulah yang akan jadi landasan gerak saya setelahnya.

Nah menyoal tentang pakaian dan tampilan fisik yang abnormal secara sosial masyarakat awam. Sebagian poin saya garis bawahi, terutama tentang pakaian khas muslim yang kita gunakan untuk sholat dan atau acara-acara keagamaan lainnya. Saya tidak punya banyak koleksi pakaian macam itu, hanya ada beberapa potong saja. Tapi saya lumayan total ketika memakainya, saya memakainya kebanyakan pada saat akan berhadap Tuhan. Ketika memakai baju muslim itu, saya merasa musti menjaga kemuliaan Islam dan betul-betul muraqabah. Memakai baju muslim seperti membawa beban berat atas nama agama. Bagi saya, pakaian muslim itu adalah tameng kejahatan. Saat memakai baju muslim juga saya merasa terjaga untuk melakukan keburukan, nah kan malu kalau sudah pakai baju muslim tapi masih ringan tangan bikin ulah tidak baik. Yah, salah satu harta seorang muslim kan harus menjunjung rasa malu setinggi-tingginya. Soal malu itu ada anjuran agamanya dalam hadits nabi. Saya kalau mau malu hati caranya mudah saja, saya pakai baju muslim. Cuma mungkin lain cerita dengan kaum perempuan yang sedang jaman menggunakan pakaian syari namun tetap saja memperlihatkan kelakuan syari. Itu di luar pembicaraan saya kali ini. Sehingga menurut saya, seorang penjahat-koruptor yang nyata-nyata telah jadi tersangka atau terdakwa menggunakan pakaian muslim itu sama saja seorang pandai yang tak punya malu pada Tuhan. Dengan tidak mengabaikan unsur tobat dan perubahan sifat seseorang.

Makanya saya selalu kagum dan takjub pada saudara-saudara saya yang punya koleksi baju muslim yang banyak dan sering memakai kemana saja, bahkan menjadi pakaian sehari-hari, pun bukan saat melakukan ibadah mahdhah. Bahkan ada banyak saudara-saudara saya yang melingkarkan sorban di kepala, berusaha semaksimal mungkin mengikuti sunnah Rasul. Saya punya cita-cita, suatu saat saya juga punya kekuatan untuk memuliakan agama ini, baik dari segi tampilan lahiriah dan bathiniyah dalam bingkai ahlakul karimah.

Kaimana, Oktober 2016

Advertisements

Panggil Saya Om Daeng

Posted in Feature, kaimana, kampung bamana, patriot energi, Petualangan with tags , , , , , on October 16, 2016 by mr.f

7

Anak-anak di Kampung Bamana tidak terbiasa dengan sapaan kakak pada orang yang lebih tua. Tidak ada sapaan khusus untuk orang yang lebih tua itu. Yang paling sering digunakan adalah sapaan Om untuk orang asing atau pendatang. Sedangkan untuk orang lebih tua yang tinggal di dalam kampung maka tidak ada embel embel kakak atau sapaan khusus di depannya, melainkan langsung menyebut nama. Hal yang lazim terjadi di seluruh kampung di Indonesia, termasuk di tempat asal saya, di Sulawesi.

Sayapun datang sedikit mengambil waktu untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak, saya cermati dulu kebiasaan anak-anak kampung menyapa orang yang baru dilihatnya. Jika biasanya saya mengenalkan diri dengan sapaan abang atau kakak, tapi kali ini di kampung pedalaman Papua ini saya mau tak mau mematuhi kebiasaan anak-anak memanggil saya dengan sapaan Om. Lalu nama saya yang terdengar kearab-araban saya ujikan ke bibir anak-anak Papua ini ternyata mereka agak kesulitan mengeja nama saya dan terdengar tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Maka saya berinisiatif menyebut diri saya dengan sapaan Om Daeng. Cukup mudah untuk disebutkan. Kejadian ini hampir sama ketika saya bertugas di Sumentobol, di Kaltara sana ketika nama saya bergeser cukup jauh ketika dilafalkan oleh anak-anak. Saya kadang lucu dan tergelitik sendiri mendengar nama menjadi Bang Malok atau Bang Marus. Jadi ketika di Sumentobol itu saya pasrah saja mendengar nama saya diplesetkan secara tidak sengaja. Bahkan orang yang lebih tuapun tak luput memanggil saya dengan Bang Maruk.

Disini, di Kampung Bamana ini saya sedikit punya alternatif untuk tidak mengulang pemelesetan nama, saya juga oleh beberapa anak-anak yang ajar di sekolah dipanggil Bapak Guru. Namun lazimnya saya disapa Om saja. Itu sudah cukup memastikan bahwa yang disapa itu adalah saya.

Sapaan Om Daeng, tidak hanya dipakai oleh anak-anak tetapi juga oleh beberapa pace mace di kampung. Om Daeng seolah memberi garis tegas bahwa sukuisme atau primordialisme di kampung ini punya janin yang cukup kuat yang suatu saat bisa bertumbuh menjadi konflik sosial. Saya melihat potensi konflik primordialisme cukup besar, sebab sudah mulai dibicarakan oleh kalangan anak-anak atau remaja tanggung yang fubertas.

Orang-orang tua untuk maksud memudahakan identifikasi dan pemberian identitas pada seseorang diberi label asal atau sukunya atau apa saya yang berbau primordialisme. Ada orang yang tinggal di kampung puluhan tahun di panggil Pace Buton, ada pula yang dijuluki Pace Kei karena berasal dari Kei, ada juga yang mengerjakan pembangunan PLTS dipanggil Mas-Mas Jawa. Pemberian label asal atau suku itu menyiratkan asingnya perbedaan meskipun percobaan asimilasi ini telah berlangsung puluhan tahun.

Bapak Piara saya juga disini kerap dilabel Orang Bugis yang dipanggil Bapak Daeng. Tinggal di kampung ini nyaris dua puluh tahun, menyisakan banyak sekali kisah, apalagi terkait dengan intimidasi karena kondisi minoritas dari suku dan perbedaan lainnya. Beberapa kasus dan permasalahan seputar isu sara itu sudah terbiasa untuk dimaklumi. Saya bisa memahami hal-hal lumrah ini biasa terjadi dimana saja. Apalagi jika kaum pendatang atau perantau memperlihatkan kondisi signifikan dari segi kemapanan finansial dibanding dengan kaum asli atau penduduk lokal.

Sikap dan mental kaum minoritas memang terkadang bisa menjadi hal-hal sensitif yang sukar diterima warga asli dalam kampung. Keberadaan saya yang menampilkan perbedaan level kontras dari banyak sisi juga menimbulkan tantang tersendiri untuk menaklukan misi agitasi dan empowerment masyarakat sebagai bagian dari tugas utama seorang Patriot Energi. Bahwa tidak semua yang diomongkan orang pendatang rambut lurus seketika akan diterima dan dipercaya oleh masyarakat, namun malah akan menemui psicological barrier yang begitu tebal untuk ditembus. Rasa percaya diri dan memiliki wilayah yang dipeluk di dalam dada oleh orang asli Papua serta mentalnya bujukan dari kaum luar untuk melakukan perubahan membuat kehidupan berjalan lambat dan situasi alami tetap ingin dipertahankan sementara banyak hal termasuk perilaku atau pola konsumtif dan materialisme secara tidak sadar telah masuk dan jadi kebiasaan.

Beberapa orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan bukan membuat rendah hati dan mau menerima gempuran situasi untuk berbenah, malah masih sibuk dan ngotot mempertaruhkan primordialisme dan semakin mempertinggi rasa percaya diri. Kesempatan-kesempatan untuk memperbaiki diri terkadang juga dimanfaatkan secara individual oleh segelintir orang yang merasa memiliki pengetahuan. Disini letak batu pengganjal laju perubahan di pedalaman-pedalaman kampung.

Saat ini saya masih terus mengamati pola dan tingkah yang semoga ada celah yang bisa dimasuki untuk melakukan agitasi ke arah positif. Menjadi Patriot Energi dengan tugas empowerment di tanah Papua jelas bukanlah hal mudah. Tetapi saya masih punya waktu untuk menyelami situasi ini dan tetap optimis dalam ikhtiar. Tunggu cerita saya selanjutnya. Mari terus mengabarkan!