Archive for the Having Fun Category

Tamu Tak Sendiri

Posted in Blogger Kampus, features, Having Fun, Opini, patriot energi, Run Away with tags , , , , on August 3, 2016 by mr.f

kaimana

Disini, Agustus kedatangan tamu yang manja. Juga ada tamu yang hendak pergi. Aku sedang di Papua. Di Kaimana, kota senja warisan tentara Trikora. Di Papua Barat pada bagian selatan leher burung pulau Papua. Tempatku kini berhadapan dengan laut Aru.

Aku disini merasa disayang Tuhan. Terlebih aku datang bersama tamu yang lain. Aku datang disini tak diduga, tapi tamu yang satu selalu ada waktunya. Tamu yang satu tamu yang manja, selalu betah berlama-lama di siang hari, juga sering di pengujung malam. Tamu ini banyak ditunggu juga banyak dikeluh. Manusia selalu ragu berada di pihak tak menentu. Kata banyak manusia, tamu ini membawa berkah akan tetapi seringkali juga beriring bencana.

Aku suka tamu yang lain itu. Dingin tapi tidak sampai membekukan. Walaupun aku juga merasa terkurung oleh tirainya yang tak henti menjuntai ke bumi. Aku bisa mengelabuinya, tapi aku memilih tidak. Kutahu, tamu ini sudah lazim jadi bahan gunjingan manusia-manusia hipokrit. Suatu kali meminta, lain harinya mencercah. Dasar hujan yang tak pengertian pada manusia.

Sedangkan tamu yang lainnya lagi, kini diharap pergi jauh dari bumi manusia. Dari lautan tempat banyak hidup bergantung disana. Tamu ini jauh lebih ditakuti. Bahkan disegani oleh manusia. Hanya ada beberapa orang bandel, merasa tamu laut ini bukanlah perkara. Orang bandel ini percaya, hidupnya di laut. Jadi apapun jenis ancamannya sudah seperti orang kerabat, tahu mana yang harus dijaga dan mana yang dijarah.

Angin timur bukanlah hal biasa-biasa selain nelayan. Dialah momok di bulan agustus seperti ini. Apa saja bisa ikut gelombang dibuatnya. Angin timur yang dingin sebab hujan juga bersama dengannya. Aku sudah sekali tahu rasanya mabuk laut di laut Aru disini. Aku merasa terhempas dan terombang-ambing di lautan Aru. Padahal kata nahkoda, itu belumlah ada apa-apanya. Hanya serupa salam kenal, meskipun nelayan disini yakin, tak lama lagi angin timur akan buat salam perpisahan yang mengesankan siapa saja di tengah laut.

Jadi aku tidak sendiri di Tanah Papua ini sebagai tamu. Aku harus hidup bersama tamu yang lain itu. Juga bersama nelayan yang akrab dengan segala jenis fenomena alam. Aku akan bertahan hingga tahun depan. Doakan!

 

Kaimana – Papua Barat, 3 Agustus 2016

Kejutan dan Kenyataan di Kaimana

Posted in Blogger Kampus, features, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , , on July 25, 2016 by mr.f

kaimana

Lain harapan lain pula angan-angan. Lain kenyataan lain juga kejutan. Kalau setiap kelainan itu diartikan sebagai masalah maka memang betul setiap saat kita berhadapan dengan masalah hidup. Maka, sudah tentu kita harus punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah, atau sekadar mengompromikan masalah dengan standar-standar kegundahan dan kebahagian kita sendiri. Ini hal yang penting, sebab tidak semua orang punya standar gundah dan bahagia yang sama. Ada orang dengan level tantangan-masalah sama yang diberikan ke orang lain, begitu mudah merasa gundah atau sebaliknya gampang saja merasa itu bukan hal yang layak dia gundahkan. Sehingga perluasan cakrawala dan sudut pandang tentang pemaknaan kenyataan itu sangat penting, itu bisa didapatkan dengan banyak melakukan perjalanan atau serupa kontemplasi.

Bahwa setiap tempat memiliki standar masalah tersendiri adalah keniscayaan. Dalam cakupan kebudayaan, setiap kebudayaan mengajarkan cara pandang berbeda memaknai keadaan. Misalnya belum lama ini, saya ketika berlebaran di daerah Banten, ketiadaan opor ayam bukanlah sebuah hal yang diperbincangkan. Malah yang justru seperti wajib adalah daging kerbau yang diolah sedemikian rupa. Ini baru satu perkara kecil, soal menu makanan lebaran. Tentu hal ini bisa jadi masalah bagi saya bisa pula tidak, itu tergantung saya memaknainya menggunaka standar yang mana. Atau ketika saya di Jakarta lebih dari sebulan, tidur dalam kamar ber-AC dan segala macam kenyataan yang menyenangkan. Ternyata, tidak semua kawan menyenangi keadaan menyenangkan itu, beberapa kawan justru tak sanggup tidur di dalam kamar ber-AC.

Dan hari ini memasuki hari ke empat saya di Kaimana, saya juga harus banyak melakukan kompromi dan improvisasi sudut pandang. Kebenaran dan kesalahan itu mungkin bergantung situasinya. Penyeusaian pertama adalah perbedaan waktu dari tempat saya sebelumnya di Jawa. Dua jam itu cukup membuat pola aktivitas sehari-hari kebingungan. Seperti pola tidur. Ini bukan hal besar bukan pula yang gampang disepelekan, intinya saya mutlak melakukan kompromi.

Saya datang ke Kaimana dengan banyak sekali harapan, angan-angan, asumsi-asumsi juga ada beberapa kecemasan. Dengan begiu banyaknya informasi yang tersadur di kepala saya terkait dengan budaya orang timur terkhusus Papua, membuat saya harus selalu siap menghadapi keadaan, tidak berarti saya sudah tahu rupa-rupa kejutan. Jumat, hari pertama saya di Kaimana, saya akan urutkan beberapa kejutan yang saya dapatkan. Pertama, di toilet Bandara Utarum – Kaimana, saya disuguhi pemandangan tidak biasa, bukan pemdangan alam yang saya tidak perlu terkejut lagi tetapi pemandangan di westafel yang berceceran bercak merah yang saya tebak adalah bekas sirih dari mulut orang lokal disini. Ini memang kali pertama saya ke Tanah Papua, tetapi saya tidak betul-betul menyangka kebiasaan bersirih sampai di ruang bandara. Yang pernah saya lihat di televisi, sirih itu banyak dikerjakan orang di kampung-kampung atau di pasar-pasar. Bukan di tempat modern seperti bandara ini.

Lalu kejutan kedua, masih di toilet bandara. Sungguh tidak menggambarkan toilet level bandara.. Bau kakus membuat saya dejavu ke toilet SD saya jaman dahulu kala. Ya Tuhan, ini toilet bandara tapi baunya luar biasa. Dan parahnya lagi, di toilet berstandar Amerika  itu masih dipenuhi berak yang belum disiram. Sebenarnya saya ingin memotretnya, tapi hal itu menjadi tidak mungkin saya lakukan dalam situasi tidak terduga dan memualkan seperti ini.

Kegagalan asumsi selanjutnya adalah, kata senja yang dipaketkan dengan kata Kaimana. Ini juga adalah sebuah pengharapan yang berlebihan. Tiga sore hari saya mengamati senja yang fenomenal itu, tapi itu seperti ilusi.Sungguh jauh lebih jingga senja di Pantai Losari dibanding obsesi saya tentang senja di Kaimana. Meskipun kenyataan ini bisa dikoreksi dengan kenyataan lain, bahwa setibanya saya di Kaimana, langit memang lebih banyak mendung daripada terik yang saya waspadai.

Ada juga asumsi saya yang tidak jauh meleset dari keadaan yang betul-betul saya saksikan disini. Walaupun disini adalah jantung kota Kaimana, tetapi kita masih sangat bisa menyaksikan dengan mudah orang mabuk di pagi hari. Pagi hari loh, bukan malam hari. Sehingga, saya mulai mengerti perbincangan saya dengan sopir angkot di hari kedua, tentang ancamankeselamatan diri  di malam hari dari para pemabuk yang berseliweran di tengah-tengah kota.

Ada satu lagi hal menarik yang saya dapat selama beberapa hari di kota ini. Setiap hari sandal saya berganti tiap kali saya ke masjid untuk sholat. Karena saya selalu keluar masjid paling akhir, maka saya selalu menemukan sandal saya berubah bentuk, berubah warna, berubah pasangan, dan berubah-berubah. Padahal di bagian pintu masuk masjid yang lain, tersedia hampir sepuluh pasang sandal dengan label masjid yang digunakan untuk keperluan jamaah ke tempat wuduh.  Ini pengalaman saya kehilangan sandal yang unik.

Akan tetapi saya tidak hanya menerima hal-hal sedikit negatif itu di Kota Kaimana ini. Saya tentu juga harus menuliskan tentang banyaknya orang baik di tengah masuknya peradaban di Kota Kaimana ini. Ketika ada orang lokal yang kami tidak saling mengenal lalu menawarkan kebaikan untuk menyediakan rumah singgah. Ketika ada sepasang ibu bapak yang ramah berkomunikasi. Ketika ada bocah tulus yang dalam sekejab merasa akrab dan dekat dengan saya. Ketika ada pemilik toko yang tidak menjual barang dagangannya karena tau barang itu akan cepat rusak.

Memang bukan hal yang bijak untuk membuat generalisasi tentang sebuah kota, atau sebuah suku hanya karena ulah beberapa orang saja, pun itu adalah sebuah kebiasaan atau bisa jadi adalah kebudayaan lokal di suatu tempat. Akan tetapi selalu ada nilai positif yang ditawarkan dari sebuah tradisi dan kebudayaan dan juga selalu ada telur yang busuk dalam satu periode ayam mengeram.

Terlepas dari kejutan-kejutan itu, saya tetap harus memilki harapan-harapan dan optimisme kebajikan untuk tinggal disini selama setahun ke depan. Bukan di tengah kota ini, tetapi di sebuah kampung nun jauh dari kota ini. Kampung yang sebelumnya kita harus mengarungi lautan. Kampung yang menawarkan kesunyian. Kampung yang sangat mungkin menentramkan kebisingan dan kekhawatiran. Kampung yang mungkin saja disanalah ada senja yang saya cari di Kaimana.

Kota Kaimana, 25 Juli 2016

Gambar; koleksi pribadi