Archive for the Feature Category

Cita-Cita; Patriot Energi!

Posted in #15HariCeritaEnergi, Feature, patriot energi with tags , , , , , on August 23, 2017 by mr.f

Lebih dari setahun yang lalu, saya mendaftar menjadi relawan pengajar di kegiatan Kelas Inspirasi Palopo. Agak bingung saat mengisi formulir tentang profesi, profesi yang dikira-kira akan menginspirasi anak-anak di sekolahan. Jika pada tahun sebelumnya lagi, tahun 2015 saya tak punya pilihan lain untuk mengisi kolom profesi kecuali sebagai penulis. Profesi yang sejujurnya kurang tepat pada saat itu saya tanggung, tetapi dengan banyak pembenaran dalam pikiran saya sendiri, akhirnya saya tetap diterima sebagai relawan di Kelas Inpirasi Gowa dengan profesi penulis.

Kelas Inpirasi menjadi ajang yang selalu saya tunggu untuk membagikan pengalaman-pengalaman hidup saya kepada anak-anak yang seringkali masih buta akan cita-cita. Sehingga pada tahun lalu, di Kelas Inpirasi Palopo, saya tak lagi mau menanggung profesi sebagai penulis, meskipun saya masih aktif menulis di blog, bukan penulis buku. Saya memilih menceritakan pengalaman saya setelah kepulangan saya bertugas di pedalaman Indonesia sebagai Patriot Energi. Tentulah anak-anak akan bertanya, profesi semacam apakah Patriot Energi itu?.

Di momen sehari mengajar itu, di sebelum saya jauh menceritakan tentang inspirasi apa yang bisa mereka dengar dari profesi sebagai Patriot Energi, maka tentu sangat perlu membangun komunikasi dengan anak-anak, membangun interaksi, dan menyatukan frekuensi situasi di dalam kelas. Kemudian masuklah saya dengan terlebih dulu mengajak anak-anak ini memahami kondisinya, menyerukan kata syukur di dalam ruang kelas sebab mereka masih bisa berangkat ke sekolah dengan mudah, sebab mereka masih mendapatkan guru-guru mereka di dalam kelas, sebab mereka semuanya bisa berbahasa Indonesia. Kesyukuran itu saya munculkan dengan cara membandingkan situasi pendidikan di pedalaman Kalimantan, di tempat dulu saya bertugas sebagai Patriot Energi.

Barulah selanjutnya saya bisa memberikan gambaran sederhana apa itu profesi Patriot Energi, profesi tidak lumrah, dan saya yakin baru kali itu mereka mendengar satu frase profesi yang sebelumnya mereka terbiasa dengan cita-cita menjadi presiden, menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi polisi, menjadi pramugari, menjadi guru dan masih banyak menjadi seseorang yang umum dituliskan di buku-buku dasar di sekolahan. Saya kenalkan nama saya dengan menuliskannya, kemudian meminta anak-anak mengulangnya beberapa kali dengan pancingan pertanyaan dari saya. Begitu juga dengan frase Patriot Energi yang menjadi menjadi profesi yang saya bawakan, saya tulis besar-besar dan anak-anak selanjutnya bisa melafalkannya dengan mudah. Satu catatan yang saya ingat dari briefing Kelas Inspirasi, relawan pengajar tidak diperkenankan memberikan hadiah berupa benda kepada anak-anak, terutama ketika anak-anak diajukan pertanyaan.

Saya tuturkan asal muasal Patriot Energi yakni dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, dan menanyakan apakah di antara anak-anak di dalam kelas itu ada yang tahu dan pernah mendegar apa itu Menteri, selaku pemimpin tertinggi suatu kementerian. Tidak lupa saya mengajak mereka untuk ada yang bercita-bercita menjadi menteri di kemudian hari. Kata energi juga menjadi kata kunci yang saya mereka mampu memahaminya dengan simulasi sederhana. Di kesempatan itu, saya membuat prototipe dari kardus bekas mengenai sistem kerja perubahan dari energi matahari menjadi energi lsitrik.

Pengenalan profesi Patriot Energi tidak perlu terlalu panjang, sebab ada misi lain yang juga ingin sekali anak-anak di dalam kelas ini mengetahui dan memahaminya. Saya menyampaikan ancaman global dunia, ancaman krisis energi jika generasi-generasi berikutnya tidak diberikan pemahaman-pemahaman yang mumpuni tentang jenis-jenis sumber energi yang digunakan manusia. Pemahaman yang komprehensif tentang kenapa kita perlu memikirkan optimalisasi dari pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan, mencari dan beralih ke sumber energi lain yang selama ini bersumber dari energi fosil, sumber energi yang tidak terbarukan.

Sejatinya  di Kelas Inspirasi, kita bisa membangun kepercayaan diri anak-anak untuk memiliki mimpi dan cita-cita setinggi-tingginya, tidak harus membuat anak-anak memiliki pikiran untuk bercita-cita seperti profesi yang sedang kita lakonkan. Satu sisi kita memang akan mendapatkan kepuasan setelah di akhir acara di saat anak-anak menuliskan cita-citanya di pohon mimpi, dan kita mendapati ternyata ada anak yang terinspirasi menjadi seperti kita. Seperti yang saya alami di Kelas Inspirasi Palopo, di saat membaca mimpi anak-anak tersebut di pohon mimpi yang disediakan, sangat tidak terduga ada dua anak yang memilih bercita-cita menjadi Patriot Energi. Tentu saya merasakan kepuasan tersendiri, seperti merasa telah berhasil mendoktrin bocah-bocah. Namun, kepuasan itu adalah semu dan selayaknya kita tidak perlu seolah memaksakan profesi kita menjadi mimpi anak-anak di kemudian hari.

Sebab, saat ini saya merasa bersalah dan mempertanyakan ke dalam batin saya, bagaimana nasib mimpi kedua anak tersebut yang dulu ingin menjadi Patriot Energi, sementara hari ini profesi tersebut sudah hilang ditelan kebijakan-kebijakan baru. Patriot Energi tetap dihati, menjadi penggerak energi tanah air dimana saja dan Patriot Energi bukan tinggal kenangan, melainkan pasti akan selalu terkenang.

Bulan depan, saya akan mengadakan event serupa dengan Kelas Inspirasi, namanya Kelas Impian di lima sekolah terdekat di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dengan begitu banyak keterbatasan, Kelas Impian dimaksudkan mampu mengilhami anak-anak di lima sekolah tersebut untuk memiliki mimpi yang tinggi setinggi tingginya. Tentu saja, sebagai eks Patriot Energi, sudah menjadi bahan yang harus dikunyahkan ke anak-anak adalah mengenai konservasi energi dan pengenalan potensi energi baru dan terbarukan. Memahamkan tentang pentingnya generasi berikutnya bertindak dan melakukan sesuatu untuk memaksimalkan sumber energi lain, yang begitu banyak tersedia di sekitar kita.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; dokumentasi pribadi

 

Iri Bicara Energi

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Blogger Kampus, Feature, lomba blog, Opini with tags , , , on August 22, 2017 by mr.f

Beberapa bulan yang lalu sebagian besar masyarakat Indonesia meributkan perihal kenaikan tarif dasar listrik. Gejolak itu begitu nampak di beranda-beranda sosial media. Kenaikan tarif dasar listrik seperti biasa akan memunculkan spekulasi tentang ketidakbecusan pemerintah mengurusi persoalan listrik di negeri ini. Ditambah lagi dengan pemadaman bergilir yang kerap terjadi di daerah-daerah tertentu yang pasokan energi listriknya mengalami ketidakstabilan karena suatu gangguan teknis menambah alasan untuk mempertanyakan hubungan antara tarif listrik dan layanannya yang semakin tidak memperlihatkan kurva yang linear. Tarif semakin mahal, tetapi layanan listrik masih saja sering padam secara berkala.

Di tempat saya sekarang tentu saja keributan itu tidak terjadi. Di kampung pulau seperti ini, yang seringkali diributkan malahan hanya persoalan bantuan sosial yang terkadang lambat ataukah tidak tepat sasaran. Tidak ada tarif lsitrik di pulau, dan yang ada hanyalah harga bahan bakar minyak yang harus dikeluarkan setiap malam untuk menerangi rumah, mungkin juga sekaligus untuk menerangi rumah tetangga atau keluarga. Jangkan di kampung pulau seperti di Pulau Balikukup yang berjarak dua jam perjalanan perahu ke daratan, kampung-kampung di daratan saja masih sangat banyak yang menggunakan alat penerang sendiri, alias  belum tersambung aliran listrik negara. Sedangkan daratan di Kalimantan adalah daratan yang di bawahnya tersimpan batu bara yang menjadi sumber listrik. Kita di Kalimantan dan kita sama tahu, begitu banyak kampung di hulu-hulu sungai yang belum merasakan listrik. Kita lantas boleh bertanya, batu bara yang disedot di Kalimantan apakah memang tidak layak untuk dinikmati oleh masyarakat di Kalimantan sendiri?

Kenapa bangsa ini masih saja ada soal tentang krisis energi, padahal bangsa kita adalah bangsa yang teramat kaya sumber daya alam dan potensi energinya. Mungkin ada baiknya kita sedikit membuka hati tidak mengapa menyatakan diri sebagai bansa yang iri pada bangsa lain di dunia ini, bangsa lain yang meskipun potensi energinya tidak seberapa, tetapi tidak terbayang dengan ancaman krisis energi.

Mari kita lihat bagaimana rasa iri bangsa ini dalam persoalan energi menjadi bukanlah hal yang sia-sia. Menjadi bukan hal bodoh yang harus kita lakukan. Rasa iri kita melihat bangsa lain mampu sedangkan kita baru saja merangkak dari kata kemauan. Kita belum selesai pada persoalan rasio elektrifikasi, angka yang memperlihatkan seberapa persen masyarakat indonesia telah menikmati listrik dari jumlah penduduk Indonesia itu sendiri. Masing-masing instansi mengeluarkan angka yang berbeda. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), belum lama ini melansir berita  tentang rasio elektrifikasi yang sudah mencapai angka 93%. Angka ini tentu masih sangat boleh kita perdebatkan kevalidannya, melihat angka lain yang dikeluarkan oleh lembaga lain, seperti IBEKA atau Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan yang menyatakan masih ada 33000 desa di Indonesia yang masih belum dialiri listrik. IBEKA sendiri adalah organisasi yang aktif menangani persoalan listrik di desa-desa terpencil dan berusaha untuk melistriki desa tersebut dengan menggunakan potensi air atau dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

Kita masih berdebat dengan angka ketidakpastian yang menyangkut hak dasar warga negara ini. Kita belum berdebat soal sumber energi yang digunakan oleh bangsa ini untuk menyalakan negara. Kita sadar bahwa selama ini listrik yang kita nikmati adalah bersumber dari energi fosil. Sumber energi yang sama kita ketahui sebagai sumber energi yang tidak terbarukan, kotor, dan akan habis suatu saat. Sedangkan bangsa lain, mari kita tengok, bagaimana Kosta Rika pada tahun 2015 menjadi satu-satunya negara yang 75 hari berturut-turut menggunakan sumber energi terbarukan, memecahkan rekor dunia. Kita menonton bagaimana India menyuplai konsumsi energinya dari tenaga air.

Kita sama menyaksikan bagaiaman China sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia juga menjadi negara yang mampu memaksimalkan potensi energi matahari yang sebenarnya di negara kitalah justru yang semestinya paling layak untuk memaksimalkan potensi ini, mengingat negara kita berada di garis khatulistwa yang mana menjadi daerah dengan tingkat paparan matahari paling maksimal. China mampu mengembangkan kapasitas solar power hingga 43 GWyang menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan kapasitas penyerapan energi matahari terbesar di dunia.

Kita lihat Jerman mampu menerangi negaranya dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti air dan biomassa, yang kemudian menjadikan Jerman sebagai negara nomor 1 di dunia penghasil energi terbarukan untuk biomassa. Kita lihat bangsa-bangsa lain di Eropa dan di Amerika bagaimana mampu terlepas dari ketergantungan sumber energi fosil, dan beberapa negara mampu menjadi menjadi negara-negara yang berdaulat energi, tidak bergantung dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan energinya. Kita lihat bagaimana bangsa-bangsa lain sudah mencita-citakan carbon-neutral di negaranya. Bangsa kita wajar iri membicarakan persoalan energi.

Kita perlu iri melihat bangsa lain mampu berdaulat energi, sedangkan kita belum semua rakyat merasakan listrik. Kita perlu iri melihat bangsa lain mampu memaksimalkan potensi energi terbarukan sedangkan kita masih menjadi bangsa yang begitu ngotot menghabiskan semua energi fosil yang terkandung di bawah tanah negara ini. Mungkin dengan rasa iri, bangsa kita bisa bereaksi lebih cepat menyelesaikan persoalan energi. Mungkin dengan rasa iri, bangsa kita tidak perlu gaduh dengan skema tarif dasar listrik yang dinaikkan untuk mensubsidi pembangunan fasilitas pembangkit listrik di desa-desa terpencil. Mungkin dengan rasa iri, kita bisa bergandeng tangan untuk sama-sama mau berhemat energi demi masa depan bangsa. Kita perlu iri yang begitu besar, juga tindakan-tindakan nyata yag sesegera mungkin. Sebab, sudah pasti iri saja tidak cukup.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; http://madyapalaumb.blogspot.co.id