Archive for the Blogger Kampus Category

Perjalanan Afirmasi tanpa Itenerary

Posted in Blogger Kampus, Feature, Having Fun with tags , , , , , on April 6, 2018 by mr.f

Tiga tahun yang lalu saya begitu ingin menapaki Tanah Rencong. Seperti muncul hasrat untuk bertualang melihat betapa indahnya Indonesia dimulai dari tanah paling barat. Kemudian hasrat itu menjadi nyata setelah berselang tiga tahun, yang ternyata di tiga tahun itulah petualangan-petualangan yang tidak terencana untuk melihat Indonesia lebih dalam justru terjadi begitu saja.

Di penghujung tahun 2015, saya berkesempatan mengunjungi pedalaman Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di situ saya mendapatkan pengalaman berharga sebagai manusia yang minoritas, juga turut merasakan derita warga perbatasan dan bisa bercerita kepada dunia melalui blog pribadi saya. Kemudian pada tahun berikutnya, tanpa terencana saya juga dikarunia kesempatan untuk menjejakkan kaki di pedalaman tanah Papua. Di Papua saya belajar banyak, membedakan mitos atau fakta yang selama ini saya dengar. Tentu tidak lupa saya bercerita banyak melalui blog tentang kehidupan saya selama kurang lebih enam bulan di pedalaman Papua Barat.

Petualangan untuk menjelajahi Indonesia belum berakhir di Papua. Saya masih punya janji pada diri sendiri untuk melihat sisi terbarat Indonesia. Kemudian setahun terakhir, sebelum akhirnya ikrar diri sendiri itu diwujukan, ternyata saya kembali diberi kuasa untuk berbuat sesuatu di salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur. Kesempatan inilah yang membukakan mata saya lebar-lebar, bahwa kehidupan kita di dunia sangatlah memerlukan perbuatan baik. Orang-orang di pedalaman atau di pulau-pulau kecil tidaklah akan mengukur diri seseorang dari materi yang dimiliki melainkan dari tingkah dan perbuatan sehari-hari. Keselerasan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dikerjakan. Sebab selain itu, rasanya kita tidak akan mendapat penilaian yang utuh sebagai manusia.

Barulah kemudian setelah usai aktivitas dan prosesi menjadi manusia berakhir di pulau terluar itu, saya menunaikan ikrar untuk melihat Indonesia di Tanah Rencong. Dengan menemukan kawan yang juga punya afirmasi untuk menjejak di Bumi Serambi Mekah, kami memulainya bersama menuju Sabang, di Kilometer Nol. Setelah itu tidak ada rencana yang matang hendak akan kemana petualangan berlanjut. Namun kekuatan sosmed nampak di sejak awal perjalanan. Sebab saya beberapa kali mengunggah gambar di dunia maya tentang keberadaan saya di Aceh, maka datanglah beberapa ajakan dari kawan-kawan saya yang bermukim di Tanah Andalas.

Barulah dari Banda Aceh, kami mulai menyusun rute yang sangat tentatif dan sangat bisa berubah manakala ada kondisi dan kemungkinan lain di sepanjang perjalanan. Dari Banda Aceh, tentunya setelah berkunjung di Titik Nol Kilometer, Pulau Weh dan memahami sejarah Aceh dan tragedi tsunami dari satu museum ke museum yang lain, kami bergerak menuju Kota Takengon, Aceh bagian tengah, mengikuti ajakan kawan dari Banda Aceh. Di Takengon secara tidak terencana kami menginap beberapa malam dan merasakan kehidupan warga Aceh, juga menyempatkan singgah di salah satu gua stalakmit di pinggiran Danau Takengon, namanya Goa Loyang Koro. Kami juga menikmati kopi dan sajian kuliner kaya rempah dari dataran tinggi yang tersemat sebuah danau yang memberkahi kehidupan manusia.

Barulah kemudian setelah usai aktivitas dan prosesi menjadi manusia berakhir di pulau terluar itu, saya menunaikan ikrar untuk melihat Indonesia di Tanah Rencong. Dengan menemukan kawan yang juga punya afirmasi untuk menjejak di Bumi Serambi Mekah, kami memulainya bersama menuju Sabang, di Kilometer Nol. Setelah itu tidak ada rencana yang matang hendak akan kemana petualangan berlanjut. Namun kekuatan sosmed nampak di sejak awal perjalanan. Sebab saya beberapa kali mengunggah gambar di dunia maya tentang keberadaan saya di Aceh, maka datanglah beberapa ajakan dari kawan-kawan saya yang bermukim di Tanah Andalas.

Barulah dari Banda Aceh, kami mulai menyusun rute yang sangat tentatif dan sangat bisa berubah manakala ada kondisi dan kemungkinan lain di sepanjang perjalanan. Dari Banda Aceh, tentunya setelah berkunjung di Titik Nol Kilometer, Pulau Weh dan memahami sejarah Aceh dan tragedi tsunami dari satu museum ke museum yang lain, kami bergerak menuju Kota Takengon, Aceh bagian tengah, mengikuti ajakan kawan dari Banda Aceh. Di Takengon secara tidak terencana kami menginap beberapa malam dan merasakan kehidupan warga Aceh, juga menyempatkan singgah di salah satu gua stalakmit di pinggiran Danau Takengon, namanya Goa Loyang Koro. Kami juga menikmati kopi dan sajian kuliner kaya rempah dari dataran tinggi yang tersemat sebuah danau yang memberkahi kehidupan manusia.

Puas dari Takengon, pilihan kami jatuh untuk melihat Medan melalui jalur darat. Sebab tak ada tujuan yang jelas di Medan, kami hanya beberapa jam saja kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Berastagi, Karo. Kemudian melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Sibayak. Ketika kami tepat berada di puncak, Gunung Sinabung mengeluarkan erupsi terhebatnya. Dari sini saya juga belajar bahwa kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh resiko, tidak peduli dimana kita berada. Abu vulkanik yang dimuntahkan oleh Gunung Sinabung adalah sebuah alarm bagi manusia untuk kembali menengok kondisi lingkungan dan alam sekitar.

Masih di Sumatera Utara, seorang kawan merekomendasikan kami untuk mengunjungi Danau Toba. Sebab, apa kata dunia bila ke Sumut tapi tak ke Toba. Begitu komentar kawan saya di facebook. Dan betul terjadi, komentar kawan saya bernada rekomendasi itu memberikan pilihan baru kepada kami untuk menentukan kemana arah perjalanan selanjutnya. Di Danau Toba, seharian kami mengelilingi Pulau Samosir dan begitu takjub pada kepingan surga yang terhampar di seluruh sudut pandang.

Dari Danau Toba, kami melanjutkan perjalanan darat menuju Tanah Minang. Kami memulainya dari Bukitinggi, tepatnya di Rumah Kelahiran Bung Hatta dan berjalan kaki mengunjungi tempat-tempat keren yang berada berdekatan di tengah kota, seperti Jam Gadang dan Ngarai Sianok. Setelah hujan menghentikan langkah kami, kebingungan kembali terjadi, kemana langkah berlanjut setelah bukit tinggi. Dan sekali lagi, berkah dunia maya kembali saya rasakan. Selepas mengunggah gambar di Instagram, saya diajak oleh kawan saya yang saat itu ternyata berada di Kota Solok, dua jam perjalanan darat dari Kota Bukitinggi. Dan sampailah kami di tengah-tengah kehidupan Minang yang sesungguhnya. Kami berpuas diri dengan menginap dua malam di rumah kawan di Solok yang tepat berada di kaki Gunung . Dari Solok kami diantar ke Kota Padang. Dan menyasar beberapa kali di tengah Kota Padang yang mulai dipenuhi manusia. Setelah Padang saya memutuskan dengan segala pertimbangan untuk menggunakan jalur darat menuju Palembang dengan terlebih dulu melintasi Jambi. Barulah di Palembang saya berpuas diri berpesiar ke tempat yang seketika itu muncul di benak saya dan menjadi rekomendasi. Di Palembang saya mengunjungi salah satu spot wisata religi, yakni Alquran Raksasa kemudian saya lanjutkan untuk wisata kuliner di warung terapung di tepian Sungai Musi yang menampilkan keperkasaan Jembatan Ampera. Perjalanan yang tidak terencana ini saya juluki dengan nama perjalanan tanpa penyesalan, sebab semua rangkaian perjalanan saya adalah perjalanan yang sangat saya nikmati, tanpa adanya deadline dan aturan aturan yang membatasi pergerakan.

Advertisements

Partisipasi Masyarakat untuk Keberlanjutan PLTS Terpusat

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Blogger Kampus, Feature, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , , , on August 27, 2017 by mr.f

Kabar gembira tersebar dengan cepat di seluruh sudut pulau. Kabar tentang kepastian dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat di Kampung Pulau Balikukup dengan mudah menjadi konsumsi percakapan sehari-hari masyarakat pulau. Begitulah arus informasi di pulau kecil begini, kabar apa saja gampang terbang dibawa angin, dan jadilah kabar angin. Berhembus dari mulut yang satu ke telinga yang lain, kemudian dari telinga yang satu tak absah bila tak juga dikeluarkan dari mulut ke telinga yang lain lagi. Pulau ini memang kecil tapi lumayan padat, luasnya tak cukup 15 ha namun penduduknya lebih dari 1000 jiwa. Ada lebih dari 300 rumah dan bangunan yang mengisi ruang di atas pulau. Maka tentu bisa dibayangkan begitu rapatnya bangunan di pulau ini.

Bila seseorang kentut di dalam rumahnya, maka tetangganya sangat mungkin mendengar suara kentut tersebut. Namun berbeda dengan hal selain arus informasi. Masyarakat pulau yang cukup plural, membuat beberapa persoalan tak selalu bisa dirasakan bersama. Keragaman seringkali membuat adanya gabe di antara masyarakat itu sendiri. Seperti dalam persoalan listrik. Pemandangan yang lumrah di saat malam sebelum listrik dari PLTS beroperasi adalah rumah yang terang berselang seling. Listrik di kampung pulau ini diurus oleh masing-masing rumah. Bila penghuni rumahnya memiliki kemampuan untuk menerangi rumahnya di waktu malam maka teranglah rumah itu selama beberapa jam, tergantung seberapa banyak bahan bakar yang disiapkan. Namun bila penguni sebuah rumah tidak cukup memiliki kemampuan finansial untuk membeli solar sebagai bahan bakar yang menyalakan mesin listrik rumah, tentu gelaplah rumah tersebut.

Angka rata-rata konsumsi solar setiap malam untuk sebuah rumah tanpa gandengan ke tetangga adalah sebanyak tiga liter, durasinya berkisar 4 sampai 6 jam, dengan harga solar yang umumnya 8000 rupiah per liter. Bila ada tetangga yang menggandeng, pasti akan mempengaruhi daya konsumsi mesin diesel yang digunakan terhadap bahan bakar. Sehingga bisa dibayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah rumah setiap malamnya untuk menyalakan listrik rumah saja. Meskipun di lingkungan kampung pedalaman seperti ini, kata tetangga tidak lantas mengkonfirmasi adanya hubungan keluarga disitu. Ada keegoan yang membelenggu seorang manusia untuk berperilaku baik, itulah individualisme yang bercampur dengan materialisme.

Akan tetapi ada juga masanya ketika individualisme itu melebur oleh keinginan yang bersama. Itulah gotong royong yang tulus dan penuh kerelaan. Mungkin sebab itulah, para pendiri bangsa ini meletakkan negara di atas nilai gotong royong. Ketika kabar gembira tentang kepastian pembangunan fasilitas PLTS Terpusat di pulau tersebar, banyak hal yang terjadi ayng sebelumnya teras suit dan cenderung dipaksakan. Salah satunya, menjadi begitu mudahnya masyarakat untuk diarahkan bergotong royong.

Saya pernah melihat gotong royong sebelumnya di pulau ini. Gotong royong bagi orang pulau hanya bisa dilaksanakan pada hari jumat saja, sebab itulah hari yang menjadi hari libur bagi nelayan disini. Gotong royong pada saat itu untuk membersihkan lingkungan masjid dan pemakaman. Tetapi pada saat saya meminta masyarakat untuk bergotong royong membersihkan lahan PLTS Terpusat, disitu saya menyaksikan begitu berbedanya massa masyarakat yang terlibat gotong royong dibanding gotong royong pada jumat-jumat sebelumnya.

Sebab pulau Balikukup adalah salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur yang sedikit lagi menjadi batas perairan Indonesia dan Filipina, maka pulau ini tentu saja terkategori sebagai tempat-tempat yang sulit akses. Sebagian masyarakat kurang menerima jika kampung ini disebut pedalaman atau terpencil, sebab terminologi pedalaman atau terpencil bagi masyarakat adalah terminologi yang diberikan bagi kampung-kampung di daratan, terutama di dalam-dalam hutan atau gunung-gunung.

Kepastian pembangunan PLTS menstimulus gerak ikhlas orang pulau untuk bekerja sama. Listrik murah yang mereka impikan berpuluh-puluh tahun, bahkan sejak pulau ini mulai dihuni pertama kali mendapat jawaban pada tahun ini. Warga pulau menyambut hangat pembangkit listrik dari matahari ini dengan suka cita. Bahkan beberapa warga pulau menyangka PLTS ini akan segera menyala dan mereka bisa secepatnya berhenti dari kebocoran ekonomi dari sisi pembelanjaan bahan bakar untuk menyalakan listrik.

Dengan sambutan hangat seperti itu, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan PLTS Terpusat dapat dengan mudah kita upayakan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan fasilitas seperti pembangkit listrik sangat penting demi usia dan keberlanjutan fasilitas tersebut. Dengan partisipasi masyarakat, maka akan sangat memungkinkan lahirnya soliditas rasa memiliki pada fasilitas tersebut. Sebab bagaimanapun tingginya mutu dan kualitas dari sebuah fasilitas yang diberikan atau dibantukan oleh pemerintah, tetapi jika masyarakat tidak memiliki sense of belonging pada fasilitas tersebut dan mental masyarakat yang masih serba bergantung segalanya dari pemerintah, maka bisa dipastikan umur fasilitas tersebut tidak akan panjang.

Sehingga mutlak adanya people power pada setiap agenda pembangunan yang direncanakan. Bila masyarakat yang menginginkan dan memiliki kemauan akan fasilitas tersebut, maka tentu masyarakat juga akan memiliki keinginan untuk menjaga dan merawat fasilitas tersebut. Juga tidak boleh kita lupakan satu hal lagi yang tak kalah pentingnya dalam pembangunan sebuah fasilitas, sebab mungkin tak cukup hanya dengan keinginan untuk menjaga dan merawat saja, melainkan sangat penting adanya tenaga terampil atau teknisi dari masyarakat lokal yang dilatihkan untuk mengelola fasilitas tersebut. Seperti yang terjadi di Balikukup, akhir-akhirnya cukup ribut soal siapa di antara warga pulau yang layak didapuk menjadi teknisi lokal dari PLTS Terpusat 100 Kwp yang dibangunkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Kemudian dengan berbekal pengalaman saya mendampingi pembangunan PLTS Terpusat offgrid di dunia lokasi, saya menganjurkan ke masyarakat untuk memilih tiga teknisi lokal yang akan mengurus dan mengelola keberlanjutan PLTS nantinya.

Saya mengajukan beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk menjadi teknisi lokal, seperti teknisi lokal haruslah orang yang bisa membaca dan menulis, tidak butuh warna, berusia muda dengan maksimal berusia 35 tahun untuk memudahkan kerja-kerja fisik yang bisa saja terjadi di kemudian hari ketika terjadi trouble pada PLTS, syarat selanjutnya adalah tidak terikat pada pekerjaan tetap, dan syarat terakhir yang saya berikan ke masyarakat adalah seorang calon teknisi lokal haruslah orang yang memiliki bakat dan minat pada bidang kelistrikan.

Saat ini, pembangunan PLTS Terpusat di Pulau Balikukup telah memasuki tahap pembangunan shelter atau rumah pembangkit, dan dalam waktu dekat semua material-material PLTS Terpusat akan segera tiba di pulau. Warga pulau sudah bersiap untuk bergotong royong membantu mempercepat pembangunan PLTS Terpusat 100 Kwp tersebut.

Ditulis di Pulau Balikukup, tanggal 27 Agustus 2017.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; dokumentasi pribadi