Archive for the Blogger Kampus Category

Partisipasi Masyarakat untuk Keberlanjutan PLTS Terpusat

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Blogger Kampus, Feature, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , , , on August 27, 2017 by mr.f

Kabar gembira tersebar dengan cepat di seluruh sudut pulau. Kabar tentang kepastian dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat di Kampung Pulau Balikukup dengan mudah menjadi konsumsi percakapan sehari-hari masyarakat pulau. Begitulah arus informasi di pulau kecil begini, kabar apa saja gampang terbang dibawa angin, dan jadilah kabar angin. Berhembus dari mulut yang satu ke telinga yang lain, kemudian dari telinga yang satu tak absah bila tak juga dikeluarkan dari mulut ke telinga yang lain lagi. Pulau ini memang kecil tapi lumayan padat, luasnya tak cukup 15 ha namun penduduknya lebih dari 1000 jiwa. Ada lebih dari 300 rumah dan bangunan yang mengisi ruang di atas pulau. Maka tentu bisa dibayangkan begitu rapatnya bangunan di pulau ini.

Bila seseorang kentut di dalam rumahnya, maka tetangganya sangat mungkin mendengar suara kentut tersebut. Namun berbeda dengan hal selain arus informasi. Masyarakat pulau yang cukup plural, membuat beberapa persoalan tak selalu bisa dirasakan bersama. Keragaman seringkali membuat adanya gabe di antara masyarakat itu sendiri. Seperti dalam persoalan listrik. Pemandangan yang lumrah di saat malam sebelum listrik dari PLTS beroperasi adalah rumah yang terang berselang seling. Listrik di kampung pulau ini diurus oleh masing-masing rumah. Bila penghuni rumahnya memiliki kemampuan untuk menerangi rumahnya di waktu malam maka teranglah rumah itu selama beberapa jam, tergantung seberapa banyak bahan bakar yang disiapkan. Namun bila penguni sebuah rumah tidak cukup memiliki kemampuan finansial untuk membeli solar sebagai bahan bakar yang menyalakan mesin listrik rumah, tentu gelaplah rumah tersebut.

Angka rata-rata konsumsi solar setiap malam untuk sebuah rumah tanpa gandengan ke tetangga adalah sebanyak tiga liter, durasinya berkisar 4 sampai 6 jam, dengan harga solar yang umumnya 8000 rupiah per liter. Bila ada tetangga yang menggandeng, pasti akan mempengaruhi daya konsumsi mesin diesel yang digunakan terhadap bahan bakar. Sehingga bisa dibayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah rumah setiap malamnya untuk menyalakan listrik rumah saja. Meskipun di lingkungan kampung pedalaman seperti ini, kata tetangga tidak lantas mengkonfirmasi adanya hubungan keluarga disitu. Ada keegoan yang membelenggu seorang manusia untuk berperilaku baik, itulah individualisme yang bercampur dengan materialisme.

Akan tetapi ada juga masanya ketika individualisme itu melebur oleh keinginan yang bersama. Itulah gotong royong yang tulus dan penuh kerelaan. Mungkin sebab itulah, para pendiri bangsa ini meletakkan negara di atas nilai gotong royong. Ketika kabar gembira tentang kepastian pembangunan fasilitas PLTS Terpusat di pulau tersebar, banyak hal yang terjadi ayng sebelumnya teras suit dan cenderung dipaksakan. Salah satunya, menjadi begitu mudahnya masyarakat untuk diarahkan bergotong royong.

Saya pernah melihat gotong royong sebelumnya di pulau ini. Gotong royong bagi orang pulau hanya bisa dilaksanakan pada hari jumat saja, sebab itulah hari yang menjadi hari libur bagi nelayan disini. Gotong royong pada saat itu untuk membersihkan lingkungan masjid dan pemakaman. Tetapi pada saat saya meminta masyarakat untuk bergotong royong membersihkan lahan PLTS Terpusat, disitu saya menyaksikan begitu berbedanya massa masyarakat yang terlibat gotong royong dibanding gotong royong pada jumat-jumat sebelumnya.

Sebab pulau Balikukup adalah salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur yang sedikit lagi menjadi batas perairan Indonesia dan Filipina, maka pulau ini tentu saja terkategori sebagai tempat-tempat yang sulit akses. Sebagian masyarakat kurang menerima jika kampung ini disebut pedalaman atau terpencil, sebab terminologi pedalaman atau terpencil bagi masyarakat adalah terminologi yang diberikan bagi kampung-kampung di daratan, terutama di dalam-dalam hutan atau gunung-gunung.

Kepastian pembangunan PLTS menstimulus gerak ikhlas orang pulau untuk bekerja sama. Listrik murah yang mereka impikan berpuluh-puluh tahun, bahkan sejak pulau ini mulai dihuni pertama kali mendapat jawaban pada tahun ini. Warga pulau menyambut hangat pembangkit listrik dari matahari ini dengan suka cita. Bahkan beberapa warga pulau menyangka PLTS ini akan segera menyala dan mereka bisa secepatnya berhenti dari kebocoran ekonomi dari sisi pembelanjaan bahan bakar untuk menyalakan listrik.

Dengan sambutan hangat seperti itu, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan PLTS Terpusat dapat dengan mudah kita upayakan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan fasilitas seperti pembangkit listrik sangat penting demi usia dan keberlanjutan fasilitas tersebut. Dengan partisipasi masyarakat, maka akan sangat memungkinkan lahirnya soliditas rasa memiliki pada fasilitas tersebut. Sebab bagaimanapun tingginya mutu dan kualitas dari sebuah fasilitas yang diberikan atau dibantukan oleh pemerintah, tetapi jika masyarakat tidak memiliki sense of belonging pada fasilitas tersebut dan mental masyarakat yang masih serba bergantung segalanya dari pemerintah, maka bisa dipastikan umur fasilitas tersebut tidak akan panjang.

Sehingga mutlak adanya people power pada setiap agenda pembangunan yang direncanakan. Bila masyarakat yang menginginkan dan memiliki kemauan akan fasilitas tersebut, maka tentu masyarakat juga akan memiliki keinginan untuk menjaga dan merawat fasilitas tersebut. Juga tidak boleh kita lupakan satu hal lagi yang tak kalah pentingnya dalam pembangunan sebuah fasilitas, sebab mungkin tak cukup hanya dengan keinginan untuk menjaga dan merawat saja, melainkan sangat penting adanya tenaga terampil atau teknisi dari masyarakat lokal yang dilatihkan untuk mengelola fasilitas tersebut. Seperti yang terjadi di Balikukup, akhir-akhirnya cukup ribut soal siapa di antara warga pulau yang layak didapuk menjadi teknisi lokal dari PLTS Terpusat 100 Kwp yang dibangunkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Kemudian dengan berbekal pengalaman saya mendampingi pembangunan PLTS Terpusat offgrid di dunia lokasi, saya menganjurkan ke masyarakat untuk memilih tiga teknisi lokal yang akan mengurus dan mengelola keberlanjutan PLTS nantinya.

Saya mengajukan beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk menjadi teknisi lokal, seperti teknisi lokal haruslah orang yang bisa membaca dan menulis, tidak butuh warna, berusia muda dengan maksimal berusia 35 tahun untuk memudahkan kerja-kerja fisik yang bisa saja terjadi di kemudian hari ketika terjadi trouble pada PLTS, syarat selanjutnya adalah tidak terikat pada pekerjaan tetap, dan syarat terakhir yang saya berikan ke masyarakat adalah seorang calon teknisi lokal haruslah orang yang memiliki bakat dan minat pada bidang kelistrikan.

Saat ini, pembangunan PLTS Terpusat di Pulau Balikukup telah memasuki tahap pembangunan shelter atau rumah pembangkit, dan dalam waktu dekat semua material-material PLTS Terpusat akan segera tiba di pulau. Warga pulau sudah bersiap untuk bergotong royong membantu mempercepat pembangunan PLTS Terpusat 100 Kwp tersebut.

Ditulis di Pulau Balikukup, tanggal 27 Agustus 2017.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; dokumentasi pribadi

Advertisements

Patriot Energi Sebelum ke Lokasi

Posted in #15HariCeritaEnergi, Blogger Kampus, Feature, lomba blog, patriot energi, Petualangan with tags , , , , on August 26, 2017 by mr.f

Di hari ke sepuluh tantangan 15 hari menulis cerita tentang energi, saya akan melanjutkan cerita yang saya tulis di hari ke sembilan kemarin, tentang peristiwa-peristiwa yang dialami Patriot Energi sebelum diberangkatkan ke lokasi penempatan. Cerita kemarin berakhir perpisahan dengan Wanadri selaku intsruktur lapangan pelatihan hidup di alam bebas.  Setelah perpisahan di Rancaopas, kami kembali ke Subang, tepatnya di Desa Panaruban, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya kami sempat ke Jakarta selama tiga hari untuk memulihkan diri, tetapi lebih tepatnya disebut mengecek diri. Sebab kami berdelapanpuluh melakukan medical check up (MCU) di Rumah Sakit TNI Angkatan Darat di Jakarta. Barulah ketika usai MCU kami langsung diangkut lagi pakai truk tentara ke Subang, ke desa Panaruban.

Panaruban juga begitu terkenang, banyak pertemuan terjadi di tempat ini. Banyak sekali fasilitator dari berbagai bidang keahlian, namun semuanya menyangkut kompetensi pemberdayaan masyarakat, kompetensi ketiga. Walaupun nanti ada pula beberapa kali materi tentang kompetensi kedua, kompetensi keteknikan.

Saya akan menyebut orang-orang berkapasitas di bidangnya yang berhasil saya ingat hingga hampir dua tahun setelah pertemuan itu. Di Panaruban, kami bergaul dengan fasilitator hebat, saya sebut ada Kak David, Kak Mike, Kang Jalil, Kang Herri, Kak Kurnia, Kak Sintia, Kak Alvi, Kak Gabon, dan banyak lainnya yang belum sempat saya ingat lagi. Di Panaruban kami juga kedatangan beberapa pembicara, ada Pak Kuntoro Mangkusubroto, Menteri Pertambangan di Kabinet Pembangunan dan di Kabinet Reformasi Pembangunan. Ada Ibu Sri Palupi konsen membela tanah rakyat dari serobot pertambangan. Kang Suroto yang masih muda tapi sudah bergelut aktif di dunia perkoperasian Indonesia, dan juga kami kedatangan kembali Pak Hendro Sangkoyo, atau Pak Yoyok yang di kemudian hari menjadi teman korespondensi email saya yang panjang-panjang untuk mengkonsultasikan strategi pengorganisasian masyarakat yang releable sesuai dengan kondisi sosial masyarakat kampung, yang waktu itu saya belum lama di Kampung Sumentobol, Nunukan, Kalimanatan Utara. Oh tentu saja, saya tidak berkorespodensi di Kampung Sumentobol, sebab jangankan jaringan internet, listrik saja tidak ada di Sumentobol pada saat itu, hingga PLTS berhasil menerangi kampung yang pada hingga hari ini masih beroperasi dengan baik.

Selain itu ada orang-orang IBEKA, institusi yang didirikan oleh Ibu Tri Mumpuni dan Bapak Iskandar Kuntoadji. Fasilitator IBEKA adalah fasilitator kawakan yang sudah malangmelintang di dunia sosial pemberdayaan masyarakat, terutama pada aktivasi potensi energi terbarukan di tanah air. Sayangnya saya tidak mampu mengingat semua nama fasilitator IBEKA tersebut pada hari, akan tetapi beberapa fasilitator yang terus menjalin komunikasi dengan Patriot Energi hingga di tengah-tengah masa tugas atau di purna tugas, yaitu Kang Gun Gun dan Kang Iwak.

Dua minggu kami bergelut dengan materi dan praktek pemberdayaan masyarakat di Panaruban. Lalu kami akhirnya melangsungkan upacara pelepasan Patriot Energi ke ujung-ujung negeri. Kami dilepas langsung oleh Menteri ESDM yang pada saat itu adalah Sudirman Said, di sebuah malam bergantinya tanggal di puncak bukit bersama dengan penaikan bendera besar. Namanya Bukit Santiong. Bendera itu dikhtiarkan untuk dikibarkan terus dan akan diturunkan ketika para Patriot Energi usai melaksanakan tugasnya di ujung negeri, sekitar akhir Maret 2016 bila waktu-waktu itu tanpa halangan. Sayangnya bendera itu, di pertengahan masa tugas Patriot Energi angkatan pertama diturunkan secara paksa oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Ada banyak makna dari seremonial-seremonial yang dkerjakan selama pembekalan. Upacara bendera setiap pagi, olahraga di subuh yang dingin, makan menggunakan omprengan, minum dengan gelas bambu, kedisipilinan memanajemen diri sendiri, dan masih banyak aktivitas yang dilatihkan kepada Patriot Energi. Sebab pembekalan itu memanglah sangat aplikatif ketika saya berada di kampung-kampung yang dipenuhiketerbatasan dan menuntut penyesuaian diri yang cepat. Semua materi tentang pemberdayaan masyarakat itu menjadi begitu berperan untuk memudahkan pengorganisasian masyarakat penerima hibah bantuan pembangunan PLTS Terpusat.

Sebenarnya, inti keberadaan Patriot Energi di tengah-tengah masyarakat kampung di pedalaman negeri ini adalah bagaimana seorang Patriot mampu menyentuh alam kesadaran masyarakat yang mungkin selama ini merasa tidak dipedulikan oleh negara atau sebaliknya, merasa serba bergantung dengan negara. Saya mengalami kedua situasi sosial masyarakat itu, di Sumentobol, Nunukan, masyarakat menganggap negara tidak mampu hadir di tengah kesulitan-kesulitan yang terjadi di daerah-daerah terdepan, sebab Sumentobol sendiri termasuk kampung di daerah perbatasan yang menjadi jendela untuk melihat negara Indonesia. Sehingga kehadiran PLTS Terpusat berkapasitas 30 Kwp pada saat itu di Sumentobol menjadi indikasi yang baik bahwa negara telah melirik kampung-kampung terdepan yang selama ini terabaikan. Sebaliknya di Kampung Bamana, di Papua Barat, masyarakat justru sangat terbiasa dengan bantuan-bantuan yang diberikan oleh negara. Sehingga di semua kampung yang dibangun fasilitas pembangkit listrik, maka kata kuncinya tetaplah masyarakat sendiri harus mampu merawat dan mengelola fasilitas hibah tersebut. Di situlah peran besar Patriot Energi sebagai external activator, pihak luar yang mencoba mengajak masyarakat kampung untuk mengurusi PLTS yang dibangunkan. Kita sama-sama melihat begitu banyaknya fasilitas negara yang dibangun di kampung-kampung yang usianya sangat pendek dan masyarakat merasa tidak bertanggung jawab terhadap fasilitas tersebut.

Ada hal yang paling penting dari semua perkenalan Patriot Energi ini. Saya tidak mungkin luput mengenalkan orang-orang pemrakarsa Patriot Energi ini. Meskipun sudah sempat saya mention namanya sebagai pendiri IBEKA di bagian atas, tapi saya mutlak menghaturkan banyak terima kasih atas inisiatif pasangan ini mendeklarasikan Patriot Energi untuk para insinyur-insinyur muda di Indonesia. Pasangan inilah yang bekerja siang malam, menyiapkan segala hal yang bertalian dengan misi Patriot Energi ini. Beginilah jalan takdir meniti dan mempertemukan manusia-manusia dari berbagai tempat dan pulau-pulau se Indonesia. Bila ada yang belum mengenal Ibu kami Ibu Tri Mumpuni (yang ada di gambar postingan ini)  silakan searching di google dan pasti akan menemukan ketakjuban-ketakjuban pada profil beliau. Di samping pasangan Ibu Puni dan Pak Is, ada Kang Yan Yan orang kepercayaan pasangan itu yang bertindak lincah menyelesaikan urusan-urusan.

Bagian akhir dari tulisan ini, tentunya saya ingin menyebut dengan segala itikad baik kepada Kementerian ESDM yang memberikan ruang faedah bagi insinyur-insinyur muda mendapati dirinya di tengah keterasingan dan perbedaan yang banyak. Terima kasih Kementerian ESDM atas kesempatan yang diberikan kepada kami Patriot Energi, mengabdikan diri untuk negeri. Patriot Energi, Siap Membangun Bangsa!!!

#15HariCeritaEnergi

Gambar; tim dokumentasi Patriot Energi