Archive for the Blogger Kampus Category

Refleksi Keberdayaan di Hari Kemerdekaan

Posted in #15HariCeritaEnergi, Blogger Kampus, features, patriot energi with tags , , , , , on August 17, 2017 by mr.f

Pada hari ini, selayaknya seluruh masyarakat Indonesia mengulang rasa syukurnya atas karunia kemerdekaan bangsa dan diri pribadi dari penjajahan dan pendudukan hak-hak hidup sebagai manusia. Tepat 72 tahun silam, oleh pendiri bangsa ini, Indonesia menyatakan kemerdekaan. Tentulah kemerdekaan itu hingga kini adalah sebuah hadiah yang tidak boleh dilupakan, sebab itu sepantasnya kita merayakannya dengan ritual-upacara beserta simbol dan nilai-nilai bangsa yang ditegaskan dalam berbagai kegiatan pra dan pasca hari bersejarah, 17 Agustus.

Dari perenungan yang dalam atas karunia kemerdekaan diri dan bangsa itu, tiap individu, tiap orang, sebagai lapis terbawah komponen bangsa ini harus aktif mengambil peran mengisi kemerdekaan, yaitu dengan menggalakkan semangat keberdayaan diri dan seluruh masyarakat.

Isi kemerdekaan yang paling urgen adalah keberdayaan. Walaupun seluruh bangsa telah mengamini kemerdekaan Indonesia, tetapi kenyataannya, isi kemerdekaan itu masih belum sepenuhnya kita miliki. Kita lihat bagaimana bangsa ini begitu tidak berdaya di hadapan dunia. Ketergantungan di banyak sektor mengindikasikan gejala bahwa bangsa ini belum seutuhnya merdeka, pun dengan usia yang sudah begitu matang. Sebab itulah, pada hari ini menjadi hari yang tepat untuk kembali merefleksi perjalanan diri, telah sejauh mana dan dengan apa kita berjalan mengisi kemerdekaan ini. Apakah kita telah turut mengambil peran dalam upaya keberdayaan diri atau jangan-jangan kita sendiri secara pribadi belum berdaya menjalani hidup, apalagi membicarakan keberdayaan bangsa. Maka dari itu, semangat keberdayaan adalah semangat yang harus terus bergelora di dalam diri. Memerdekakan diri dari segala kebergantungan pada pihak-pihak yang selama ini mengekang dan menekan hak sebagai manusia yang berdaya.

Pada komunitas masyarakat selevel desa, kesadaran akan pentingnya masyarakat berdaya dari segala ketergantungan selama ini adalah poin yang semestinya menjadi perihal utama yang harus terus diikobarkan oleh semua stakeholder yang turut menentukan arah kemana dan apa isi kemerdekaan sebagai sebuah desa. Keberdayaan desa mengatasai persoalan pangannya yang dilandasi semangat gotong royong dan tumbuh bersama, keberdayaan desa mengatur roda ekonomi dengan nilai koperasi, keberdayaan desa mengurus kondisi kesehatan dan lingkungan dengan mempertimbangkan aspek kelestarian alam dan keramahan lingkungan, dan keberdayaan desa mengatasi persoalan energi, terutama listrik, dengan memperhitungkan cadangan energinya. Kesemuanya itu adalah inti dan isi kemerdekaan yang harus kita perhatikan.

Bersyukurnya kita pada hari ini, bahwa semangat bekerja bersama mengisi kemerdekaan telah menjadi cara yang dipilih oleh pemerintah pada tingkat yang paling menentukan yakni tingkat kementerian. Kita lihat bagaimana nilai gotong royong untuk menggalakkan keberdayaan bangsa dalam skema kebijakan-kebijakan dikeluarkan oleh kementerian patut kita dukung dan apresiasi.

Sebagai contoh nyata, yang saya sendiri menjadi bagian dari pelaksanaan kebijakan tersebut, di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Sudah beberapa tahun ini terus melakukan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik di desa-desa yang terisolir. Dengan mencermati rasio elektrifikasi yang kian tahun kian meningkat, yang berarti setiap tahun persoalan kesenjangan listrik di desa-desa terisolir semakin teratasi. Setiap tahunnya ratusan desa yang terisolir diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk mencicipi karunia listrik, bahkan diberikan kewenangan untuk mengelola listrik tersebut, sehingga desa-desa semakin bisa menerapkan dan merasakan apa itu keberdayaan energi listrik.

Pengalaman dua tahun menjadi bagian dari pelaksanaan kebijakan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik tenaga surya di desa terpencil sebagai Patriot Energi  pada program Kementerian ESDM yang bernama PETA atau Penggerak Energi Tanah Air, membuka mata saya untuk memahami persoalan-persoalan keberdayaan energi yang terjadi di lapis akar rumput bangsa ini. Bahwa mental masyarakat di lapis terendah seperti desa masih terjajah atau tidak berdaya pada persoalan listrik. Mental kebanyakan masyarakat yang menganggap persoalan listrik adalah persoalan yang tidak mampu mereka upayakan secara mandiri. Mental kebergantungan pada pemerintah dalam bentuk bantuan, hingga pada persoalan pengelolaan setelah pembangunan infrastruktur selesai. Kita lihat bersama berapa banyak pembangunan infrastruktur pembangkit energi listrik yang mangkrak setelah ditinggal kontraktornya. Berapa banyak Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang beroperasi hanya dalam hitungan bulan. Berapa banyak Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tidak lagi menyuplai listrik ke rumah-rumah baru beberapa bulan setelah PLTS dinyatakan layak operasi. Dan masih begitu banyak infrastruktur dari sektor lain yang bernasib serupa dengan pembangkit-pembangkit listrik yang tujuan pembangunannya sangat mulia, untuk bagaimana seluruh masyarakat Indonesia bisa memiliki mental untuk berdaya dan merdeka dari segala kebergantungan. Bahkan kebergantungan pada pemerintah. Bukan bermaksud menghilangkan kewajiban pemerintah mengurusi warga negara, tetapi untuk menyaksikan hari-hari ke depan, hari-hari mengisi kemerdekaan selanjutnya akan diisi dengan semangat keberdayaan dan kemandirian.

Ada banyak pengalaman-pengalaman saya selama di lapangan mendampingi pembangunan PLTS dan mengorganisir masyarakat untuk memberdayakan segala kemampuan terpendam yang ada di dalam desa dalam mengelola dan menjaga keberlanjutan PLTS, pengalaman-pengalaman yang mengisyaratkan bahwa saudara-saudara kita di desa-desa terpencil masih sangat terbatas dalam memahami makna kemerdekaan dan keberdayaan. Memang ada banyak perpektif yang bisa menjadi bias bila membicarakan situasi di desa-desa terpencil yang pada perspektif tertentu menyatakan bahwa justru di desa-desa terpencillah kita bisa melihat keberdayaan itu seperti apa.

Namun sayangnya, situasi keberdayaan yang ideal itu, dimana saudara-saudara kita di desa terpencil pada kenyataanya begitu bergantung pada pihak lain. Kenyataan bahwa di desa-desa terpencil ada kedaulatan pangan, ada kedaulatan ekonomi, ada kedaulatan kesehatan, ada kedaulatan energi, itu tidak benar-benar ada. Seperti yang terjadi di desa pedalaman Suku Dayak yang dulu saya dampingi, yang meskipun terpencil, kedaulatan energi itu adalah teori, sebab kondisinya begitu berbeda. Di desa itu, dulu pernah ada yang mencoba membangun PLTMH skala kecil dan menggunakan sistem mekanik yang sangat sederhana, tetapi memang mental inlander kita masih begitu kuat, sehingga pada persoalan merawatpun masyarakat kita begitu terjajah dengan pemikiran-pemikiran merendahkan kemampuan.

Maka tugas kita mengisi kemerdekaan ini dengan keberdayaan masih begitu besar, bahwa masih begitu banyak saudara-saudara kita yang musti kita sadarkan akan kemampuannya untuk bisa mendayakan diri dan lingkungannya. Bahwa mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia tidaklah harus selalu di kota, tidak harus di Jakarta. Komponen penyusun bangsa ini adalah masyarakat di lapis desa. Mari bekerja bersama, dimulai dari diri sendiri yang berdaya.

Ditulis di Pulau Balikukup, Berau, Kalimantan Timur

17 Agustus 2017

#15HariCeritaEnergi

 

Mimpi Anak-Anak Pulau

Posted in #15harimenulis, balikukup, Blogger Kampus, features, Patriot Negeri with tags , , , , , on June 18, 2017 by mr.f

Berkaca mata Sela ketika tau dia dapat video sapaan dari luar negeri. Bocah kelas 5 SD di pulau ini punya mimpi menjadi seorang polisi wanita yang sukses.

Katanya, “aku ingin keliling dunia, kalau aku sukses nanti”.

Satu teman di samping duduknya membenarkan, “iyya, makanya kamu harus jadi polwan biar bisa keliling dunia”.

Teman duduknya melanjutkan, “aku saja yang tidak dapat video dari kakak di luar negeri, harus bisa meraih cita-cita, apalagi kamu dapat video dari Australia”.

Percakapan ini saya dengar ketika dua bocah SD ini selesai mengintip folder video sapaan yang saya koleksi dari beberapa Negara untuk memotivasi dan menginspirasi anak-anak di Pulau Balikukup.

Sela hanya satu dari puluhan anak pulau yang masih memiliki mimpi besar dalam hidupnya, menjadi polwan. Selainnya, anak-anak pulau merasa tidak perlu tau apa cita-cita mereka sendiri. Cita-cita tidak lebih hanyalah bahasa kiasan yang basa-basi dalam percakapan orang dewasa kepada anak yang masih bersekolah. Sebab, tak pernah ada pertanyaan cita-cita kepada bocah yang patah pensil.

Mimpi anak pulau adalah mimpi profesi yang lazim bagi bocah-bocah. Menjadi polisi, dokter, TNI, guru, dan sebagainya. Untung disini, dari 19 bocah yang menyetor mimpinya, tak ada bocah yang berminat menjadi pilot. Sebab jika itu hal itu terjadi, berarti pola pengenalan tentang cita-cita dan dunia mimpi di jenjang pendidikan dasar belum bergeser sejak puluhan tahun yang lalu. Saya dulu termasuk korban, bocah yang percaya bahwa hidup di masa depan (yang saya alami saat ini) hanya indah dengan menjadi profesional profesional di buku baku bahan bacaan guru, karena itulah, sekali saya pernah bermimpi menjadi pilot.

Kembali ke mimpi anak-anak pulau. Sangat penting untuk merawat dan membantu mewujudkannya. Pun kita sendiri mungkin tidak sedang berjalan menuju mimpi ideal kita. Tetapi jangan sampai, anak-anak pulau atau bahkan orang-orang di sekitar kita bertumbuh menjalani hidup tanpa punya visi dan mimpi yang mereka tuju.

Laut yang mereka lihat sehari-hari bisa saja telah menjadi kontrol diri bagi anak-anak pulau. Bahwa mimpi mereka terbatasi oleh lautan dan sekolah hanya mungkin mengantar mereka sampai pada gerbang pengetahuan saja. Setelah tahu berbagai ilmu dasar kehidupan, mereka berhak lupa dan tidak menyadari bahwa dari sekolah yang kemudian memiliki pengetahuan itulah yang akan menjadi titian untuk bisa meraih mimpi-mimpi besar di masa kecil mereka.

Satu situasi yang mewajarkan pikiran anak-anak pulau ini untuk acuh pada mimpi adalah anak-anak pulau ini tidak memiliki role model dari pendahulunya. Cita-cita yang mereka tulis itu rata-rata adalah cita-cita yang sampai saat ini belum ada orang pulau yang mewujudkannya. Mental anak pulau ini seakan terselubung oleh lautan, sehingga sungguh butuh pendobrak untuk memperlihatkan betapa besar kemungkinan anak-anak pulau ini bisa mewujudkan mimpinya. Dan tidak perlu mengutarakan argumentasi kuno, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini selagi ada kemauan. Sebab, kemauan sendiri telah menjadi ketidakmungkinan bagi sebagian anak pulau yang mimpinya belum tumbuh bahkan belum mereka tahu.

Karena itulah, berbagai jurus untuk mengenalkan betapa tidak terbatasnya dunia mimpi bagi anak-anak pulau harus diterapkan di sini. Lewat kiriman video-video motivasi dan inspirasi mimpi yang sedang saya kumpulkan dari berbagai kawan di lintas benua semoga bukanlah hal sia-sia bagi anak-anak pulau. Lewat inisiasi projek video lintas benua ini pula sekaligus saya meluncurkan gagasan turunan untuk #melawanpatahpensil di Pulau Balikukup.

#15HariMenulis

Gambar; dokumentasi pribadi