Archive for the balikukup Category

Prakondisi Organisasi PLTS

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , , , , on August 30, 2017 by mr.f

Setelah tahapan sosialiasi PLTS Terpusat dilakukan masih ada lagi tahapan yang tak kalah pentingnya untuk diselesaikan dalam rangkaian rencana pengelolaan listrik kampung yang menggunakan sumber energi baru dan terbarukan. Tahap ini dinamakan pengorganisasian. Di tahap pengorganisasian ini juga musti diprakondisikan dengan berbagai serapan aspirasi masyarakat sendiri. Pada tahap sebelumnya, sosialisasi tentang PLTS Terpusat telah dilakukan berbagai macam metode. Metode sosialisasi yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya yang berjudul Melebur Apatisme adalah metode akhir sosialisasi. Sosialisasi secara door to door telah dilakukan, meskipun tidak murni door to door sebab situasi demografi pulau yang sangat rapat sehingga sangat memungkinkan ditemukannya titik simpul massa di mana-mana. Di simpul massa itulah informasidan gambaran awal tentang  PLTS Terpusat mulai didiseminasikan. Ada juga sosialisasi melalui para local champion  yang diproyeksikan mampu memberi pemahaman bahkan intervensi kepada orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya, seperti kepala kampung, ketua RT, bhabinkamtibmas, paramedis, guru, pemuda, tokoh agama dan pengusaha.

Pengalaman mendampingi pembangunan PLTS Terpusat offgrid di dua kampung pedalaman sebelumnya, tentu saja menambah poin kredit kepercayaan masyarakat pada apa yang sedang saya bicarakan tentang PLTS Terpusat. Apalagi diidukung dengan dokumentasi-dokumentasi foto dan video yang memperlihatkan bahwa PLTS Terpusat bukanlah proyek yang selesai begitu saja setelah diserahterimakan ke pemerintah kampung. PLTS Terpusat offgrid sangat membutuhkan perawatan dan pemeliharaan yang serius untuk menyaksikan fasilitas pembangkit listrik itu mampu berumur panjang dan terus menerus menerangi kampung yang tidak mungkin dialiri PLN. Perawatan dan pemeliharan PLTS Terpusat offgrid, baik komponen-komponen yang ada di rumah pembangkit (shelter) maupun instalasi jaringan listrik dan instalasi rumah sama utamanya.

Saya dengan mudah memberikan gambaran pengelolaan PLTS Terpusat yang serupa dibangun di Pulau Balikukup dengan PLTS Terpusat yang dulu saya dampingi pembangunan dan prakondisi organisasinya. Banyak informasi dan referensi yang saya paparkan, terutama dari PLTS Terpusat Kampung Sumentobol di Nunukan dulu. Organisasi PLTS Terpusat Kampung Sumentobol memang  tidak sempurna dan maksimal dari segala hal. Terutama dari kualitas sumber daya manusia. Akan tetapi niat dan usaha yang mereka perlihatkan cukup memberikana gambaran tentang masa depan PLTS Terpusat yang ada di kampung mereka mampu bertahan lama. Dimulai dengan semangat gotong royong mengangkat komponen pembangkit, menarik kabel, menggali tiang dan masih banyak lagi partisipasi-partisipasi aktif yang layak untuk diapresiasi. Bahkan pada musyawarah kampung yang dihadiri oleh perwakilan tujuh kampung yang ada di Sumentobol memperlihatkan semangat yang sangatbaik untuk kelangsungan PLTS Terpusat.

Masyarakat Kampung Sumentobol pada musyawarah kelompok kampung yang saya laksanakan untuk membahas tentang aturan-aturan terkait penggunaan listrik yang bersumber dari PLTS Terpusat serta konsekuensi-konsekuensi yang masyarakat harus tanggung, berhasil menyepakati secara mufakat penunjukan teknisi lokal yang telah terlatih selama proses pembangunan dan instalasi jaringan dan listrik, juga menyepakati konsekuensi denda yang dipadukan dengan aturan adat yang masih berlaku di kampung Dayak ini, serta iuran bulananyang telah dihitung tidak akan memberatkan masyarakat. Kemudian satu poin lagi dari kesepakatan msuyawarah tujuh kampung tersebut adalah kesepakatan untuk menggunakan energi listrik dari PLTS Terpusat berkapasitas 30 Kwp yang didistribusikan ke rumah-rumah dengan besar daya 300 Wh hanya pada malam hari saja, atau menggunakan skema 12 jam untuk mengoptimalkan penyerapan energi matahari di siang hari dan pengisian baterai. Kesepakatan itu mencerminkan keinginan yang besar dari masyarakat sendiri untuk menjaga aset pembangkit listrik.

Cerita-cerita hasil musyawarah kampung di Sumentobol selalu menjadi jualan saya kepada masyarakat Pulau Balikukup dalam rangka prakondisi organisasi pengelola PLTS Terpusat berkapasitas 100 Kwp yang merupakan bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Kementerian yang hari ini tengah berjuang keras menciptakan energi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita bisa secara sadar melihat upaya dari Kementerian ESDM ini di Kampung Balikukup yang hari mendapatkan pembangkit listrik berkapasitas 100 Kwp yang bersumber dari energi baru dan terbarukan yakni energi matahari dalammewujudkan misi energi berkeadilan itu.

Prakondisi organisasi PLTS Terpusat di Kampung Pulau Balikukup terus berjalan dengan seiring dengan pembangunan civil  di rumah pembangkit. Calon teknisi lokal juga telah berhasil ditemukan oleh masing-masing RT sebagai bentuk keterwakilan pastisipasi masyarakat dalam klaster RT. Sementara itu, prakondisi organisasi juga telah memasuki ruang-ruang pembicaraan di simpul-simpul massa untuk menyerap lebih banyak aspirasi masyarakat yang nantinya akan menikmati sekaligus merawat keberlanjutan PLTS.

Pengalaman meprakondisikan organisasi PLTS Terpusat yang saya ceritakan ke tokoh-tokoh kunci berhasil terserap dan disebarkan ke khalayak banyak . Tentu saja, ada banyak sekali situasi sosial yang berbeda antara kampung di pulau dengan kampung di hulu sungai. Secara demografi saja sangat berbeda, di hulu sungai, keseluruhan penduduknya adalah penduduk yang menetap di kampung dan nyaris tak ada penduduk dari luar kampung. Sedangkan di Pulau Balikukup, ada banyak sekali penduduk yang tidak terdata sebagai penduduk kampung karena sulitnya memonitor penduduk pulau yang dikelilingi oleh air. Orang luar bisa masuk kapan dari arah mana saja.

Topografi kampung pulau membuat membuat Balikukup menjadi kampung yang begitu mudah dimasuki oleh warga luar. Sehingga beberapa hal terkait prakondisi organisasi PLTS menjadi tantangan tersendiri. Ada banyak rumah di pulau yang sebenarnya hanya menjadi rumah sementara bagi penduduk luar yang sedang mancari ikan di sekitar Pulau Balikukup, akan tetapi menerima hak untuk dialirkan listrik dari PLTS nantinya, sedangkan konsekuensinya adalah rumah tersebut bisa kapan saja ditinggal pergi oleh pemiliknya. Selain banyak penduduk yang bukan penduduk tetap memungkinkan aturan-aturan kampung yang disepakati dalam rangka pengelolaan PLTS akan mental dan tidak mampu mengikat dengan tegas. Sebab itulah prakondisi organisasi di pulau masih berlangsung untuk mencari konsep yang tepat memecahkan tantangan sosial di pulau.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; dokumentasi pribadi

Advertisements

Melebur Apatisme

Posted in #15HariCeritaEnergi, balikukup, Feature, lomba blog, patriot energi, Patriot Negeri with tags , , , , , , on August 29, 2017 by mr.f

Ribuan pendar bintang menghias langit di atas Pulau Balikukup. Suara ombak dan suara mesin diesel bersaing mengambil tempat di ruang dengar manusia. Saat-saat ketika saya mulai membuka sosialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 100 Kwp dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, saya terlebih dahulu mengajak seluruh masyarakat yang datang di lokasi sosialisasi untuk memanjatkan puji syukur yang terukur atas karunia Tuhan pada Pulau Balikukup. Walau jumlah masyarakat tidak mampu saya kalkulasi sebab  lokasi sosialisasi di lakukan di tempat outdoor, tetapi saya menyakini banyak mata dan telinga yang diam-diam tak terlacak oleh mata saya turut menyimak materi sosialisasi pada malam itu.

Persiapan mental dan penyebarluasan informasi sebelum PLTS beroperasi sangat penting dilaksanakan dalam pembangunan suatu proyek atau fasilitas negara  yang akan dinikmati oleh masyarakat sendiri, sebagai bagian dari skema untuk keberlanjutan fasilitas tersebut dan demi tercapainya tujuan mulia melihat masyarakat di tempat-tempat terisolir mampu memahami hakikat dari sebuah pembangunan fasilitas pembangkit listrik dan demi terwujudnya keberdayaan masyarakat di bidang energi.

Sosialisasi yang saya lakukan di Pulau Balikukup didesain dengan nuansa nonformal di masing-masing RT, kecuali di RT 02 yang saya buat menjadi dua malam sosialisasi di tempat berbeda. Hal itu dilakukan untuk memaksimalkan penyerapan informasi dasar tentang PLTS Terpusat kepada masyarakat dan juga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dalam sosialisasi tersebut. Tentu saja modul surya bukan lagi hal baru bagi masyarakat pulau sebagaimana yang telah saya uraikan di tulisan saya yang dulu tentang SHS yang berumur pendek. Namun modul surya yang akan menjadi media terserapnya energi matahari pada PLTS Terpusat offgrid berbeda dengan SHS yang telah lazim mereka ketahui.

Terutama pada poin perawatan yang harus dilakukan bersama-sama dan dikontrol juga secara bersama-sama. Saya menjadi lebih bersyukur ketika menyaksikan sendiri respon masyarakat yang  begitu antusias menyimak materi sosialisasi dan keinginan merawat fasilitas pembangkit listrik yang akan segera terbangun di ujung pulau. Tentu saja terjadi komunikasi dan interaksi pada saat sosialisasi berjalan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terprediksi juga disampaikan langsung oleh masyarakat.

Beberapa pertanyaan yang umumnya muncul ketika sosialisasi PLTS Terpusat selalu menyangkut tentang besarnya daya yang diterima oleh masing-masing rumah. Pertanyaan tentang skema pembagian listrik juga tak ketinggalan ditanyakan oleh masyarakat pulau. Apa syarat rumah yang akan dialirkan listrik PLTS, apakah ada uang harus dibayarkan kepada pemasang instalasi rumah, bagaimana jika masyarakat ingin menambah daya karena volume rumah bertambah, dan masih banyak sekali pertanyaan yang memang wajar tersampaikan di acara sosialisasi tersebut.

Akan tetapi di saat-saat sosialisasi PLTS Terpusat tersebut setelah satu persatu pertanyaan masyarakat terjawab saya kemudian banyak menekankan akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan PLTS Terpusat tersebut. Masyarakat pulau harus menyumbangkan sedikit banyak energinya untuk bergotong royong pada pembangunan fasilitas pembangkit tersebut. Partisipasi masyarakat sangatlah diharapkan untuk menciptakan sense of belonging pada fasilitas apa saja yang akan dibangun di kampung. Sebab kecenderungan pola pembangunan fasiitas selama ini banyak terjadi dengan metode top down, dimana ada kegiatan yang diprogramkan oleh pemerintah dan masyarakat tidak terlibat sedikitpun dalam prosesi pembangunan tersebut, dan akhirnya masyarakat menjadi apatis dan bahkan oportunis pada setiap program yang dikerjakan oleh pemerintah. Sesungguhnya mental proyek masyarakat  atau mengharap bantuan itu diciptakan oleh pemerintah sendiri. Pola-pola pemberdayaan masyarakat tidak diterapkan oleh program-program yang dicanangkan dan yang dilaksanakan oleh pemerintah di kampung-kampung.

Seyogiyanya, setiap program pembangunan haruslah mengacu pada keinginan masyarakat atau bottom up. Kalaupun ternyata tidak semua program harus bottom up, maka pola-pola persiapan mental sebelum program dijalankan haruslah dikerjakan terlebih dulu. Kesemuanya untuk melihat keberlanjutan atau sustainibility dari program yang dilaksanakan. Sebab jika program tidak dilakukan dengan pola bottom up atau tidak dilakukan persiapan mental, maka tunggu saja umur pakai dari fasilitas atau umur porgram tersebut akan sangat pendek.

Cukup sudah beberapa contoh kasus yang ada di depan mata masyarakat Pulau Balikukup. Fasilitas pemancar jaringan selular di tengah pulau yang usianya hanya hitungan bulan  dan kini menjadi prasasti atau bukti sejarah akan pernah adanya program pembangunan menara pemancar jaringan selular di Pulau Balikukup. Padahal jaringan selular adalah salah satu kebutuhan masyarakat pulau untuk memenuhi tuntutan komunikasi dan informasi yang semakin hari semakin mendesak. Kegagalan masa lalu selalu layak menjadi guru yang baik untuk menapaki masa depan.

Sehingga tahapan sosialisasi dan agitasi untuk menciptakan mental merawat dan mengelola bersama fasilitas negara atau fasilitas kampung memiliki peran yang mendasar untuk menciptakan keberdayaan kampung memenuhi apa saja jenis kebutuhan masyarakatnya. Pada sosialisasi yang empat kali saya laksanakan di Pulau Balikukup, tentu saja penekanan akan pentingnya masyarakat sendiri yang saling mengontrol dan merawat listrik dari PLTS Terpusat ini saya ulang beberapa kali dan semoga bisa menjadi retensi dan berbekas di long term memory  masyarakat pulau.

Sesungguhnya semua kampung memiliki potensi yang sama untuk menjaga dan merawat fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Hanya saja banyak diantara kampung-kampung menerima bantuan secara simultan dan kemudian lahirlah mental manja pada masyarakatnya. Apatisme adalah musuh terberat pada semua program pemerintah yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Tetapi apatisme ternyata dilahirkan secara tidak sadar oleh pemerintah sendiri. Semoga di Pulau Balikukup ini, sikap apatis dan oportunis itu bisa perlahan melebur dalam setiap agenda gotong royong yang dilaksanakan selama masa pembangunan PLTS Terpusat.

Ditulis di Pulau Balikukup, Kalimantan Timur pada akhir bulan agustus 2017.

#15HariCeritaEnergi