Archive for the #AskBNI Category

Rekening Tunggal, Simbol Loyalitas Tanpa Batas

Posted in #AskBNI, Blogger Kampus, Feature, Petualangan with tags , , , , , , on May 26, 2016 by mr.f

IMG_0230

Setiap manusia akan cenderung kuat merawat hal-hal terbaik pada masa lalu. Menyukai nostalgia untuk peristiwa berkesan. Manusia pandai menyenangkan dirinya dengan mempermainkan ingatannya. Untuk hal-hal berkesan, selalu ada tempat untuk bersembunyi dari timbunan ingatan yang kian bertambah setiap saat.

Satu ciri masa lalu yang dinikmati adalah masa lalu yang sering diceritakan. Dan satu ciri masa lalu yang akan abadi adalah masa lalu yang dituliskan. Manusia yang menuliskan ingatannya tidak berarti mencoba melawan takdir akan fananya segala apa yang ada di dunia.

Saya punya banyak sekali hal berarti dalam hidup di masa lalu dan begitu pula saat sekarang. Bila hendak mengingat semuanya, maka saya musti menggali ingatan. Salah satu dari banyak hal berarti itu adalah kesempatan untuk berkuliah di perguruan tinggi negeri di Makassar. Sebagai anak rantau yang hidup berjarak dengan keluarga, maka kehidupan kota yang sudah berkonotasi buruk sejak dari kampung musti disiasati dengan segala kemampuan dan kesempatan yang ada.

Jangan coba-coba berbicara tentang susahnya bersekolah jika belum pernah merasakan jadi anak kos-kosan dengan biaya hidup pas-pasan dan kiriman dari kampung yang selalu datang entah kapan. Sebabnya karena ibu saya petani yang single parent yang harus bertarung hidup demi delapan saudara kandung saya yang lain.

Biaya kuliah saya bersumber dari hal-hal tidak terduga yang selalu diyakini oleh ibu saya. Ada banyak susah di masa kuliah itu, masa yang ketika susah pun mutlak dinikmati. Tidak ada jalan keluar untuk berbahagia bila hidup semasa kuliah habis untuk digerutui hanya karena soal isi rekening yang tak pernah tersisa. Nah cerita soal rekening inilah yang ingin saya urai sedikit disini.

Semasa kuliah saya hanya punya satu nomor rekening. Rekening tunggal andalan yang saya dapatkan sepaket dengan kartu mahasiswa saya di Universitas Negeri Makassar sewaktu menjadi mahasiswa baru. Kartu mahasiswa yang sekaligus kartu ATM ini dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia atau BNI, bank terbaik dan teramah bagi anak rantau. Ramah, karena sangat rendahnya biaya administrasi bulanan yang diterapkan. Saran saya, bila anda mahasiswa rantau dan berusia di bawah 25 tahun, maka pakailah rekening BNI  Taplus Muda. Jenis tabungan ini memiliki fitur yang sangat relevan bagi kehidupan seorang mahasiswa rantau.

Kartu mahasiswa yang juga kartu ATM BNI inilah yang menjadi satu-satunya jalur lalu lintas keuangan satu arah yang saya miliki. Di awal-awal menjadi mahasiswa, ketika segala kebutuhan keuangan bergantung total pada kiriman ibu, maka melalui kartu mahasiswa inilah segala kemudahan dapat saya syukuri.

Orang tua di kampung yang lebih dulu mengaplikasikan SMS Banking BNI tak perlu repot ke kota mengantri untuk urusan semacam ini. Di saat-saat tuntutan dana begitu mendesak, saya juga tidak perlu repot-repot mencari ATM. ATM BNI begitu mudah dijangkau dimana saja, apalagi dengan adanya label ATM Bersama, maka menarik kiriman tidak perlu ada alasan untuk menunda.

Lalu, cerita menarik lainnya terkait kartu mahasiswa-ATM BNI ini adalah ketika saya lupa dimana meletakkan buku tabungan rekening kartu ATM BNI tersebut hingga akhirnya berstatus hilang, tetapi saya acuh untuk mengurusnya. Buku tabungan rekening tersebut sebenarnya tidak begitu sering saya gunakan dalam transaksi, sebab sebagaimana yang saya katakan di awal, bahwa kartu ATM BNI tersebut adalah lalu lintas keuangan satu arah, dimana saya hanya menerima dan hampir tidak pernah mengirim dana melalui kartu ATM BNI tersebut.

Hingga suatu kali, ketika saya mendapat rejeki dari arah yang tidak disangka, saya musti menyimpannya di tempat yang aman, dimana lagi kalau bukan di rekening tunggal BNI yang saya miliki itu. Meski tanpa buku tabungan, saya selalu merasa yakin dan aman dengan dana yang saya simpan itu. Bank BNI sama sekali tidak memberi keraguan akan hal itu.

Ada lagi satu poin yang tidak boleh saya lewatkan di kesempatan mengungkit masa lalu di jaman mahasiswa ini, bahwa kartu mahasiswa yang sekaligus kartu ATM BNI tersebut tetap saya gunakan meskipun saya telah bukan lagi mahasiswa. Regulasi penarikan kembali kartu mahasiswa di kampus saya tidak begitu ketat sebagai syarat kelulusan, sehingga kelebihan dan kemudahan-kemudahan dari fitur kartu ATM-Mahasiswa tersebut tetap layak untuk dipertahankan dan menjadi kartu pamungkas penghuni dompet selama hampir sepuluh tahun lamanya.

Hampir sepuluh tahun, saya menikmati dan menggunakan kartu mahasiswa-ATM BNI tersebut. Dari yang semula hanya jalur lalu lintas keuangan satu arah menjadi lalu lintas keluar masuk yang utama. Saya heran, kartu mahasiswa ini masih bisa digunakan di tahun ke sepuluh sejak dikeluarkan. Andai saja, bukan faktor fisik kartu yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk digunakan, saya pasti masih tetap setia dengan satu kartu mahasiswa-ATM BNI itu. Sehingga saat ini, saya tetap menggunakan nomor rekening yang sama dengan nomor rekening bawan dari kartu mahasiswa, saya hanya mengkonversi tabungan menjadi tabungan BNI Taplus.

Beberapa kali juga kartu mahasiswa itu menyelamatkan saya dari deadline pembayaran sebuah transaksi. Terutama ketika hendak melakukan pembayaran transaksi online, seperti untuk pembelian tiket pesawat yang selalu ada batas waktu pembayarannya atau saat berbelanja online. Di saat saldo rekening tak mencukupi, maka Bank BNI yang menyediakan ATM untuk setoran tunai menjadi solusi terbaik menyelesaikan soal semacam ini.

Pengalaman saya menjelajahi banyak tempat, hanya Bank BNI yang menyediakan ATM setoran tunai terbanyak, yang tersedia bahkan di tingkat kecamatan. Saya ingat, waktu itu saya berada di Pelabuhan PLBL Liem Hie Djung, Tanah Merah, Nunukan, Kalimantan Utara. Lalu, tiba-tiba sebelum menaiki speedboat, saya dihubungi adik yang sedang berkuliah di Makassar dan meminta tolong untuk ditransferkan dana secepatnya sebelum tenggak waktu pembayaran SPP. Maka saya pun bingung, bagaimana menyelesaikan urusan ini, sebab saldo di rekening BNI tidak mencukupi untuk ditransfer melalui SMS Banking. Ternyata sekitar pelabuhan ada ATM BNI setoran tunai. Saat itulah, saya menyaksikan bagaimana keseriusan Bank BNI melayani dan memenuhi kebutuhan nasabah bahkan di tempat yang tidak saya duga akan ada ATM setoran tunai disana.

Pengalaman-pengalaman bersama kartu mahaiswa-ATM BNI itulah yang menjadikan saya selalu setia dan loyal pada Bank BNI. Sebab, hal-hal berjasa dalam hidup kita selalu punya tempat untuk dikenang, dihargai, dan diceritakan. Mungkin tidak semua orang gampang menyepelekan, tetapi hampir semua gampang melupakan. Satu keburukan biasanya akan menghapus seribu kabaikan sebelumnya. Begitu pula dengan kartu mahasiswa yang menjadi kartu ATM tunggal saya itu, meski pernah terhambat untuk penarikan tunai karena adanya batas tertentu saat hendak membeli laptop, tidak lantas menjadikan saya mengutuk keterbatasan itu. Sebab pilihan bijaksana selalu ada setiap kali kita ditimpah masalah.

Satu kekecewaan tidak harus melupakan sejuta kepuasan terdahulu. Maka pada siapa dan apa yang saja yang telah terlibat dalam kisah masa lalu, baik kesulitan yang diciptakan atau kebahagiaan yang ditimbulkan, kita hanya perlu berterima kasih lebih banyak. Bukankah pelajaran masa lalu adalah sebaik-baik batu loncatan.

Sehingga kepada kampus yang telah mengorbitkan saya ke dunia, Universitas Negeri Makassar dan  kepada pihak Bank BNI 46 yang dengan segala kemudahan dan kemurahan hati melayani nasabah alias mahasiswa beruntung seperti saya, maka saya musti melipatgandakan rasa syukur dan terima kasih, pun saat ini saya masih bukan siapa- siapa dan belum punya apa-apa. Tetapi segala hal niscaya akan berubah oleh usaha, doa, dan optimisme. Salam loyalitas tanpa batas.

Gambar; Dokumentasi Pribadi

Bertanyalah Sebelum Didenda!

Posted in #AskBNI, Blogger Kampus, Feature, patriot energi, Petualangan with tags , , , , , on January 23, 2016 by mr.f

image

Berada di kampung rantau adalah sebuah pertarungan keterampilan bertahan hidup. Salah kaki melangkah, maka akan masuk ke lubang neraka. Salah mulut bicara, maka akan disalah makna. Salah tangan bertingkah, maka akan terkena denda.

Sudah tiga bulan saya terselip di desa perbatasan Indonesia – Malaysia. Tepatnya di desa Sumentobol, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Menjadi minoritas di antara masyarakat suku Dayak, suku asli penghuni pulau Kalimantan.

Saya adalah satu dari 80 relawan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dalam sebuah program pendampingan masyarakat bernama Patriot Energi dengan jargon “Penggerak Energi Tanah Air”.

Saya ditugaskan untuk mengidentifikasi dan mengaktivasi potensi energi baru terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan di desa yang masih tertutup oleh segala akses modernitas. Di desa tempat saya bertugas itu tidak ada listrik, sinyal, dan transportasi selain transportasi sungai. Bisa dibilang dunia di desa itu adalah dunia gelap Indonesia.

Dalam keseharian sebagai warga minoritas di segala hal. Adalah kemestian untuk selalu menjaga sikap dan tingkah laku. Desa tempat saya bertugas adalah termasuk salah satu desa adat di Kalimantan. Aturan hidup nomor satu adalah mematuhi hukum adat yang berlaku di desa. Desa ini tetap memiliki kepala desa, namun tata kehidupan di luar perihal administrasi desa dikendalikan oleh seseorang dengan jabatan Ketua Adat Kampung.

Roda kehidupan diatur oleh norma adat. Baik dan buruk ditimbang dengan takaran adat yang berlaku. Begitu pula dengan kaidah benar dan salah yang masyarakat anut.

Dalam lingkungan masyarakat yang masih memegang erat norma adat ini, tentu juga masih begitu kental keyakinan terhadap kekuatan-kekuatan mistis yang kadang jadi bahan untuk menumbuhkan ketakutan dan kepatuhan terhadap aturan adat.

Seorang pendatang semacam saya tidak terlepas dengan norma adat yang berlaku. Pendatang atau tamu tidak berarti bebas nilai terhadap aturan. Justru pendatanglah yang musti tunduk dan patuh pada segala adat istiadat di desa.

Di balik adat istiadat itu, maka tentu ada ganjaran atau denda yang akan dikenakan kepada siapa saja yang melanggar hukum adat. Sebuah tindakan kecil yang bisa saja tidak menjadi masalah di daerah lain, di desa ini akan menjadi hal yang rumit untuk dipahami. Banyak sekali kebiasaan di desa ini yang bagi orang pendatang adalah hal yang sangat tidak biasa di daerah lain.

Seorang perempuan yang berjalan di depan seorang lelaki adalah pantangan yang bermakna hina. Seorang tamu yang tidak mencicipi jamuan dari tuan rumah, berarti sang tamu tidak menghargai atau setara dengan menganggap remeh martabat sang tuan rumah. Seorang pemuda yang bertamu sendiri tidak boleh masuk ke rumah seseorang yang di dalamnya hanya ada seorang perempuan, meskipun masih dalam garis keluarga dekat. Dan masih banyak sekali poin aturan dan pantangan adat yang berlaku di desa.

Sebagai orang yang setiap hari berstatus tamu di desa adat ini, tentu saja banyak kerepotan yang saya hadapi. Oleh karena itu, kemampuan yang paling musti dikembangkan setiap hari adalah kemampuan untuk bertanya. Mempertanyakan banyak perkara dengan cara yang pelan dan halus. Sebab satu kendala utama dalam percakapan di desa ini, adalah kemampuan berbahasa Indonesia masyarakat yang masih sangat rendah.

Tetapi saya tidak boleh berhenti bertanya untuk terus menemukan kebaruan-kebaruan informasi yang ada di desa. Dalam kapasitas saya sebagai relawan untuk mengaktivasi energi bersih di desa terisolir seperti ini, saya memang harus pandai-pandai berkomunikasi. Menggali pehamaman masyarakat terhadap energi. Mengagitasi para local champion untuk menumbuhkan sikap skeptis terhadap dunia luar. Mendiseminasikan pengetahuan teknologi secara praktis. Dan kesemua itu saya harus teliti memilih kata dalam percakapan, sebab bisa saja orang di desa akan salah menangkap makna dari ucapan kita, lalu akan diperhadapkan dengan perkara adat.

Sehingga selalu tidak ada salahnya untuk rajin bertanya. Seandainya saya malu bertanya di awal-awal kedatangan saya di desa, maka saya pasti sudah beberapa kali mengalami sidang pelanggaran norma adat. Jadi, mari membiasakan diri untuk selalu mau bertanya. Mau bertanya nggak sesat di jalan #AskBNI

Sedangkan dalam kehidupan manusia modern, kita memang musti proaktif menyambut banyaknya perubahan, termasuk metode bertanya. Dalam dunia perbankan contohnya, kita seringkali menemui kebingungan dan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita masing-masing. Bank BNI sebagai salah satu bank terbaik di Indonesia menawarkan solusi praktis yang sangat memudahkan konsumen atau nasabahnya. Hanya dengan mengirim DM (direct message) via twitter lalu menuliskan pesan atau permasalahan nasabah dengan mengikutkan hashtag atau tagar #AskBNI maka nasabah akan segera menemukan jawaban atas permasalahannya. Silakan dicoba kalau tidak percaya. Saya juga sudah pernah membuktikannya.

Gambar; koleksi pribadi