Archive for the Aliansi Category

Di Antara Mereka

Posted in Aliansi, Blogger Kampus, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Penalaran with tags , , , on September 1, 2015 by mr.f

Di Antara Mereka

Saya selalu punya kawan yang akrab dalam berbagai lingkar pergaulan. Sejak masih sekolah dasar, saat mulai mengenal emosi dan marah, saya telah punya kawan pelarian dan bolos sekolah untuk pergi mencari durian “orang” yang jatuh. Di hukum bersama, di jemur di lapangan upacara. Kawan yang selalu mau diajak ribut dan gaduh di kelas. Kawan yang punya peduli dengan tulus dan belum memahami individualism.

Di tingkat sekolah lainnya, saya berkawan akrab dengan beberapa orang dari berbagai desa berbeda. Kawan bersepeda ke sekolah, pulang dan pergi saling menunggu. Makan di kantin berbagi nasi. Bersaing meraih peringkat di kelas. Bersama ikut-ikutan les bahasa inggris, walaupun tak ada yang bisa di pahami. Mandi telanjang di sungai yang dilewati saat pulang sekolah. Dengan semua itu, saya belum berani mengatakan kalau saya dan beberapa kawan telah saling memahami. Kekonyolan bersama yang saya lakukan adalah kekonyolan yang akan dilakukan oleh semua orang saat keadaan memang mengizinkan untuk berbuat konyol.

Saat berseragam abu-abu, yang kejadiannya telah lampau sepuluh tahunan yang lalu, hingga sekarang kawan akrab di masa itu masih berstatus sahabat. Seingat saya, hanya tersisa saya seorang yang belum berani menerapkan teori percintaan yang dirangkum saat ada kegiatan malam mingguan di sekolah bertajuk Mabit “Malam Bina Iman dan Taqwa”. Tema pembicaraan di bangku sekolah saat jeda jam belajar memang lebih hidup dengan melibatkan nama-nama perempuan yang telah diujicobakan teori pendekatan emosional sebelum memacarinya.

Di tingkat yang lebih dewasa, ketika orang masing-masing ribut mengeja cita-citanya. Masa kuliah tidak hanya menjadi masa menuntut ilmu atau menerapkan teori percintaan yang lebih kompetitif dibanding saat masih bersekolah. Kuliah lebih menjadi seperti kertas putih tanpa bercak. Saya memberi warna yang banyak sekali. Di saat berkuliahlah saya bergaul tidak hanya dengan satu lingkar persahabatan.

Saya punya banyak teman kelas yang sangat solid. Pada masanya. Teman hedon dan menghabiskan waktu sisa kuliah, hingga kembali bertemu pagi keesokannya.Teman bepergian yang addict. Teman hura-hura di studio music, sampai simbal drum berhasil pecah-pecah karena emosi yang meledak melebihi dentuman bas. Teman yang suka berpura-pura serius di kelas saat ada tugas kuliah. Selama kurang lebih lima tahun, hampir semua soliditas itu menguap kembali terpapar oleh urusan yang lebih kini. Hanya tersisa sedikit saja kedekatan. Waktu adalah musuh yang nyata dalam perkara kenangan. Kalau bukan karena semakin canggihnya teknologi yang mendukung kekalnya pertemanan, maka mungkin ingatan saya tentang sahabat di lingkar kelas kuliah telah sirna tergerus jaman.

Di lingkar pertemanan lainnya, kehidupan kos-kosan di kota ternyata memberi ruang kita untuk berbaur dan mengenal lebih banyak suku. Percakapannya mungkin tidak tiap hari, tapi saat tak ada teman kuliah, aktivitas bersendagurau sesama penghuni kos bisa menjadi meningkat. Taraf kebaikan tetangga kos berbeda-beda, tak ada yang bisa dirangking dengan soliditas atau solidaritas. Satu-satunya hal yang bisa saya sebut adalah hanya kebaikan. Mereka semua teman kos yang baik. Baik untuk saya, dan semoga perbuatan meraka juga baik untuk mereka. Saya mulai lupa dengan banyak kebaikan mereka, meski lingkar pertemanan dengan mereka belum berlalu lama. Juga komunikasi dengan mereka, sekarang saya tak tahu bagaimana dan dari mana saya harus menyambung atau memulai.

Saat mahasiswa, bila ada angka yang menggenapkan kesempurnaan, maka organisasilah angka itu. Salah satu hal yang ingin saya bicarakan disini tentu hanya seputar garis singgungnya dengan pertemanan. Saya tidak ingin mengkhianati kebersamaan saat berada di payung organisasi dengan enteng menganggap bahwa semua itu terjadi karena pragmatism pertemanan. Sangat tidak etis menghitung untung dan rugi dalam urusan pertemanan. Apalagi dalam sebuah frame yang secara real berjuang bersama mencapai visi organisasi.

Namun sekali lagi, ingatan boleh diasah, sayangnya waktu menganjurkan kita untuk lupa. Kita boleh kuat mengingat, tapi dalam perihal merawat, kenangan tak mungkin lagi sedahsyat rasanya yang dahulu saat berbalut rasa bersama. Saya punya beberapa lingkaran pertemanan organisasi yang terkorelasi dengan wujud keberadaan saya berstatus mahasiswa.

Di organisasi tingkat jurusan, cukup lama saya mengekor dan mulai mengakar saat angka semester telah mencapai dua digit. Beberapa orang adik junior yang kali ini saya sebut sebagai teman akrab, tidak begitu sulit memvisualkannya. Di antara banyak orang yang bergabung dalam sebuah organisasi, tak ada motivasi yang lebih jernih selain keinginan belajar dan menyerap banyak cerita dan memperkaya jiwa. Bukan hanya ingin mengejar dialektika kata-kata yang berujung wacana hampa.

Lalu ada satu organisasi yang begitu dalam menancap ke rongga ingatan. Rasa-rasanya, tidak hanya sekadar menjadi ingatan, tapi justru menjelma menjadi masa depan. Bertahun-tahun saya hidup dalam satu atap, bahkan bantal dan piring makan, maka bila ada kemungkinan yang mustahil, maka kemungkinan untuk melupakan organisasi ini adalah kemustahilan.

Bahkan hingga saat ini, saat saya telah menjadi alumni sejak dua tahun lebih yang dahulu. Maka, jerat tali dan keterikatannya masih mempunyai rasa, walaupun jelas sekali sudah ada niat untuk menjauh dan menarik diri secara teknis.

Saya di antara mereka, adalah satu titik yang membentuk sebuah garis lingkar persaudaraan. Tidak peduli apakah saya adalah sebuah titik kecil yang terjepit atau bahkan menjadi titik besar yang menonjol dalam sebuah garis. Walaupun saya sangat menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa setiap hal yang diawali di dunia ini, maka mutlak akan ada akhir yang memutuskannya. Soal keabadian dalam pertemanan tidak mungkin lepas dari soal waktu yang menjadi dimensinya. Semua orang akan sepakat, bahwa di antara kami, kepergiaan dan kehilangan tinggal menghitung hari. Satu persatu sahabat menjauh, ada yang melangkah, berlari, melompat, atau bahkan ada yang terbang ke tempat setinggi bintang. Inilah hukum alam yang sangat nampak, ditambah selera melankolis kita yang membantu untuk mengakui sebuah kenyataan.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu di antara meraka, menggaris waktu tidak lebih dari dua tahun yang akan datang, sudah tidak ada keadaan yang semacam gambar di atas. Lalu saya memepetkannya, menggaris lebih dekat, tidak cukup setahun mendatang, saudara-saudara saya yang di atas itu akan mengalami pemisahan yang begitu jauh. Faktor usia menopang teori saya. Hampir semua saudara saya yang di atas, tidak lagi berada di wajah remaja. Pembicaraan nikah dan berkeluarga akhir-akhir ini mutlak akan segera dirasakan. Bantu saya mengaminkan perkataan saya sebelum kalimat ini.

Inilah lingkaran persaudaraan saya yang paling terakhir saat saya menulis cerita ini. Berada di antara mereka, dengan apa dan siapa saya yang paling murni dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena, mereka juga berada di antara saya dengan apa adanya saya yang paling asli.

“Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dialah ladang hatimu yang dengan kasih kau taburi, dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kau menghampirinya di kala gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan, kecuali saling memperkaya jiwa.” –Kahlil Gibran

Bagian Penjelas (16)

Posted in #30surat, Aliansi, Petualangan with tags , , , , , , on March 19, 2015 by mr.f

trip Apparalang

Surat ke-16 #30surat

Teruntuk Irtie Finadh Maricus

Sobahunnur

Surat kedua yang menyebut namamu. Dengan penulisan namamu yang seperti di atas, berasa seperti nama asing dari benua lain. Tapi kreativitas mengantarkan saya memodifikasi namamu menjadi jauh sekaligus dekat.

Di kesempatan inilah mungkin akan saya gunakan untuk menulis catatan trip Apparalang. Semoga saya terhindar dari cara menulis seperti pada refleksi pendakian Gunung Bulusaraung kemarin.

Ah mungkin ada baiknya bila saya juga menyinggung tentang Rumah Aliansi. Tentu baik bila saya mengawalinya dengan itu. Trip Apparalang pada bulan Februari, tidak lepas dari konsolidasi yang intens di Rumah Aliansi. Kamu tahu, Rumah Aliansi adalah Rumah Nalar kedua. Selain karena berakar sejarah yang sama, letaknya juga masih dalam kategori tetangga. Masih dalam lingkup kompleks Patun Makateks Makassar.

Penghuninya pula adalah paling tidak alumni penghuni Rumah Nalar. Sekadar penegasan, saya bukan penghuni Rumah Aliansi. Status saya semestinya adalah tamu, atau pengunjung yang membaur sampai ke dapur. Sejauh ini, Rumah Aliansi menjadi rumah bersama bagi seluruh karib kerabat penghuninya. Rumah Aliansi sering orang menyingkatnya menjadi RA. Sehingga ada juga orang yang membuat RA menjadi kependekan dari Rumah Alumni.

Yang saya paham, empat penghuni awal Rumah Aliansi memiliki kesamaan yang fundamental. Saat itu, sama-sama menyandang status mahasiswa tingkat akhir, para mahasiswa dengan dua digit semester. Misalnya, waktu itu Ibe, Salim, dan Najib sama-sama semester 10 sedangkan Wahyu sudah masuk di semester 12. Sehingga rumah yang mereka kontrak bersama itu, mereka sebut dengan Rumah Aliansi Mahasiswa Semester Dua Digit.

Lama-lama orang hanya menyebut Rumah Aliansi saja, karena orang lain yang datang bersilaturrahim merasa menjadikan doa frase yang mengikut setelah kata Aliansi itu. Lalu, digeser sedikit mungkin ke ranah doa yang lebih baik, disebutlah RA menjadi Rumah Alumni.

Dengan menjelaskan Rumah Aliansi, saya merasa terdengar konyol dan membuang-buang waktu dan kata-kata saja. Apa pentingnya penjelasan itu semua bagi dunia? Ah saya tak mau terlalu banyak berpikir tentang penting atau abainya sesuatu yang saya tulis. Saya hanya perlu mencatat lebih banyak. Menulis lebih banyak. Semoga suatu waktu, ada yang menerima manfaat dari apa yang saya tulis.

Banyak sekali hal yang layak menjadi tulisan dengan latar peristiwa-peristiwa di Rumah Aliansi. Semisal tentang kebiasaan-kebiasaan memasak para lelaki di rumah itu. Atau tentang kecanduan trip orang-orang yang dibawah payung Aliansi. Ataukah tentang mimpi-mimpi terbang tinggi para pemuda di sana.

Yang sedikit memungkinkan untuk saya tulis sebagai bagian dari surat untukmu adalah pada bagian candu tripnya saja. Kurang lebih setahun lalu, orang-orang disana sering sibuk membicarakan agenda trip atau perjalanan. Kadang-kadang hanya menjadi rencana dan wacana saja.

Hampir semua orang senang melakukan bepergian. Menjauhi rumah. Lalu merinduinya lagi. Menghirup udara bebas. Lalu lekas pulang lagi. Memandangi pantai dan laut. Lalu pamer dengan banyak foto. Mendaki gunung, seperti mencari sesuatu yang hilang di hutan belantara. Menaklukkan puncak, seolah ada klimaks yang menjanjikan di atas sana. Menjejal aspal sampai beratus kilometer jauhnya. Tak ubahnya orang yang sedang mengukur syukur.

Seperti pada pertengahan februari lalu itu, wacananya tak lebih dari seminggu hingga orang-orang benar-benar telah berada jauh di Bulukumba. Beberapa orang dari personel yang ikut trip Apparalang telah membuat caption yang bagus-bagus di foto instagramnya. Saya juga telah mengunggah beberapa lembar gambar bersama dengan caption dadakan.

Apparalang adalah lokasi wisata bahari yang belum lama dibuka di Bulukumba. Tebing tinggi dengan air lautnya yang membiru kehijauan adalah pesona yang ditawarkan. Selain itu, ada beberapa keping bongkahan batu karang yang menonjol di air laut. Yang dari kejauhan menyerupai gugus pulau yang menghias luaran tebing. Cuma, agak berlebihan kalau dikatakan mirip miniatur Raja Ampat Papua.

Orang-orang banyak sekali menaruh rasa penasaran dengan nama Apparalang. Seketika melejit bagai roket yang disaksikan jutaan orang. Luas dan cepatnya peredaran gambar melalui sosial media berhasil menarik minat, mungkin ribuan orang setiap minggunya. Itu juga yang menyambar kepala saya dan beberapa orang di Aliansi.

Hari keberangkatan yang kami pilih bertepatan dengan hari yang banyak orang menyebutnya hari kasih sayang, atau valentine day. Kami baru berhasil meninggalkan Makassar seusai dhuhur. Padahal kami sudah bersiap-siap sejak pukul sepuluh pagi. Perjalanan bersama seringkali memang dilengkapi dengan menunggu orang atau menunggu sesuatu sampai semuanya benar-benar siap. Disitulah keegoisan mengalami peleburan.

Daeng Ewing kembali menjadi manager trip Apparalang. Beliau ahli dalam negosiasi, buktinya tempat menginap kami selama semalam di Bulukumba sudah berhasil dipastikan. Kediaman keluarga Penalaran, Tismi Dipalaya atau sekaligus Darul Syahdanul yang keduanya adalah saudara kandung.

Trip Aliansi sengaja didesain menginap, tapi tidak menginap di hotel atau penginapan. Desain menginap itu mengandalkan jaringan Penalaran. Kamu tahu kan anggota dan alumni Penalaran tersebar hampir di seluruh tempat di Sulawesi Selatan. Bila tempat yang dituju mentok tak ada rumah Laskar Nalar disana, maka tenda bulan akan siap digelar sebagai bagian dari trip murah.

Kedua orang loyalis Penalaran itu sebenarnya sedang tidak di rumahnya. Tapi kedua orang tuanya begitu welcome menerima saudara tak sedarah anak-anaknya itu. 2011 silam rumah itu memang pernah diserbu puluhan Laskar Nalar sehabis pelaksanaan Karya Bakti ilmiah di Desa Kahayya. Termasuk saya dan Daeng Ewing yang pada waktu itu kelelahan turun dari gunung.

Sepuluh orang bukanlah jumlah yang sedikit untuk predikat tamu. Tapi kami menerima suasana begitu akrab yang dibentangkan oleh kedua orang tuanya. Waktu yang lebih luang akan digunakan untuk mendengar banyak kisah dan pelajaran hidup yang menginspirasi dari Bapaknya Tismi. Sorot pandangnya tentang kebahagiaan begitu berbeda dengan banyak orang.

Pensiunan yang juga sedang mengoleksi batu cincin itu mengabarkan sejarah dengan cara yang sangat visioner. Betul-betul orang tua yang baik, kisah-kisahnya sama sekali tak mengandung indoktrinasi yang mengajak. Saya betah mendengar tanpa banyak komentar balik. Atau mungkin memang semua orang tua adalah orang yang baik bagi anak-anaknya. Saya sudah mulai kabur dengan ingatan tentang bapak, saya sudah kehilangan sosok bapak sejak baru masuk bangku SMP. Rasanya, saya tak mampu mengutip dengan baik banyak petuahnya.

Baiklah saya kembali ke topik Trip Apparalang. Apparalang, saat ditanyakan ke Bapaknya Tismi, beliau juga belum bisa memastikan letak lokasinya. Indikasi bahwa lokasi ini memang baru populer bukan isapan jempol. Buktinya, orang yang waktunya banyak dihabiskan di Bulukumba sendiri, belum begitu familiar dengan nama Apparalang.

Dengan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber,kami melaju mendekat di jalur Pantai Bira. Internet dengan google maps-nya sangat membantu kami terhindar dari tersesat dan salah arah. Memang lumayan ektrim medan menuju tebing itu. Ada beberapa turunan dan tanjakan. Ditambah dengan kondisi jalan yang masih beralas sirtu.

Bila sekali lagi saya kesana, saya akan melengkapi diri dengan peralatan snorkeling. Saya sebenarnya sengaja membawa kacamata renang. Tapi karena kurang puas, lalus aya meminjam kacamata seorang bocah yang lebih besar di sana. Naasnya, kacamata yang saya pinjam itu, mengalami patah setelah saya paksa untuk dieratkan di wajah. Sebagai ganti tidak enak saya, maka saya berikan saja kacamata renang punya saya ke bocah itu.

Hal lain yang juga perlu saya ceritakan, bahwa saya berhasil menaklukan ketakutan saya untuk melompat di tebing Apparalang. Saya menaksir, tinggi tebing itu tidak kurang dari 13 meter. Di antara ribuan orang di sana, hanya beberapa orang saja yang masuk kategori berani. Termasuk dua dari personel Aliansi. Saya dan Fitrah.

Seminggu setelah saya dari Apparalang, saya masih merasakan pegal dipunggung dan tulang belakang. Saya meyakini, pegal itu adalah pegal yang disisakan dari lompatan di tebing. Dan kabar lain yang tak kalah mengagetkannya adalah kabar tentang seorang yang meninggal di Apparalang gegara salah mendarat di air saat melompat dari tebing. Kejadiannya, saya kira-kira tidak telalu lama setelah hari saya melompat di tebing itu. Dengan insiden itu, maka tak ada lagi aktivitas melompat dari tebing di sana.

Surat ini rasanya sudah menjadi begitu membosankan dan semakin jauh dari apik yang kita inginkan. Maafkan saya, tulisan-tulisan yang tersulap surat ini adalah aliran pikiran yang sudah saya ceritakan berulang ke orang-orang. Sekali lagi, saya hanya khawatir suatu saat ingatan saya menjadi aus dan tidak lagi mampu berkisah. Mungkin ada bagian yang kau langkahi di surat ini karena jenuh dengan kalimat monoton yang saya paparkan. Perihal membaca adalah perihal mood dan motivasi. Tapi yang ingin saya pesankan, rajinlah-rajinlah membaca. Karena menulis adalah dua kali membaca.

Luwu Utara, 19 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis

Sibuk (11)

Posted in #30surat, Aliansi with tags , , , , , , , , on March 14, 2015 by mr.f

puncak bulusaraung

Surat ke-11 #30surat

Kepada Perempuan Kedua

Sobahunnur

Awal-awal surat ke-11 ini saya terlebih dulu ingin meminta maaf. Di surat sepuluh saya sempat mengatakan kalau saya akan merampungkan surat ke-11 dengan cerita trip Apparalang. Kemarin saya lumayan banyak urusan. Beberapa hal saya persiapkan, orang di rumah juga banyak pesanan yang harus saya bawa pulang besok. Semalam, mungkin belum jam 10 saya sudah terkapar di atas kasur.

Saya mulai mencermati surat-suratmu. Kamu sedikit demi sedikit bagai tirai yang terbuka. Membahas hal-hal yang lebih “rasa”, ini sebuah kemajuan di surat-menyurat kita. Semoga saja, kita terus menulis dengan jujur, paling tidak kejujuran atas khayalan kita sendiri.

Oh iya, jika kamu menyimak dengan baik beberapa surat saya sebelumnya, kamu mungkin sudah bisa menebak beberapa hal yang menjadi hobi saya. Saya belum berceritera, kalau pagi ini, setelah saya menerbitkan surat ini saya akan melakukan pendakian ke Puncak Bulusaraung.

Ini pendakian ketiga saya di Bulusaraung, akhir bulan Januari lalu, saya juga sempat ke puncak yang waktu itu pemandangan alamnya tertutup rapat dan hujan jatuh terus menerus. Pendakian pertama bersama para Aliansi, bulan juni 2014.

Hari ini saya berangkat bersama adik-adik saya yang se-kampung se-halaman. Mereka anak-anak muda yang baru mekar dan begitu mencari banyak pengalaman. Dulu, sudah lama sekali memang pernah saya janji ke mereka akan melakukan pendakian bersama. Barulah kali ini saya konfrontir mereka. Takutnya, kalau saya gagal kali ini mendaki bersama mereka, saya tidak punya kesempatan lagi untuk melunasi janji.

Dan sedikit info, dua dari delapan mereka adalah adik kandung saya. Yang setahun lalu juga saya ajak menanjak di Lembah Ramma Pegunungan Bawakaraeng. Semoga surat ke-11 ini cukup untuk dikatakan surat.

Saya tidak bisa berpanjang-panjang di surat ke-11 ini. Saya mungkin akan memposting dua surat pagi ini sekaligus. Surat ke-11 dan ke-12. Saya akan memaklumi daengan rapel tiga suratmu, dan imbalannya kamu juga mesti memaklumi rapel surat ini. Terima kasih bila sudah memaafkan saya, dan lebih terima kasih bila kamu masih sempat membaca dan membalas surat.

Makassar, 14 Maret 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis