Archive for the #30surat Category

Yang Jarang Saya Sadari

Posted in #30surat, Blogger Kampus, Komunitas Daeng Blogger, Sajak with tags on July 17, 2016 by mr.f

patriot energi

Di hari yang suci nan fitri, saya menemukan satu kesadaran yang sangat jarang muncul. Bukan tentang bait-bait rindu yang mengandung galau. Bukan lagi tentang keinginan maaf yang tak tuntas pada orang di rumah. Ini tentang semangat saya yang lumpuh layu tak menentu, antara satu keinginan memiliki dan kelapangan hati dalam memilih.

Dari lalulintas dunia maya yang bingar tak jelas salah dan benar. Saya kembali menyadari akan satu kelemahan yang selama ini sering luput saya perbaiki. Saya lupa memeriksa dunia sekitar, siapa yang sedang mengarahkan pandang, siapa yang menjulurkan tangan, siapa yang sedang lurus menunggu jawaban, siapa yang jujur mengutarakan isyarat, dan masih banyak siapa-siapa yang tak saya beri ruang untuk ditanggapi.

Bertalian dengan dunia penulisan saya, ucapan terima kasih yang saya beri jauh dari makna maaf pada khilaf yang saya lakukan pada orang-orang berjasa itu. Kebutaan membaca tanda adalah satu alasan saya harus menulis poin ini.

Sebelum saya kembali menjauh dari hingar dunia kosmos, memasuki dunia sunyi di barat Papua. Saya musti menancapkan niatan untuk memupuk rasa dengan cara menulis. Bukan bermaksud tidak menghargai situasi yang semestinya memang belum saatnya saya urai.

Bagian-bagian abstrak ini semata cara saya mengalihkan pandangan dari sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi. Tetapi selalu ada satu nama dalam satu ruang yang bernama harapan. Kelak suatu waktu, nama itu akan memetik semua makna yang tersirat dalam tulisan aforisme ini. Segala hal ada masanya, berpikir bahwa harapan adalah kesia-siaan, hanyalah taktik setan mengelabui hamba yang lemah keyakinannya pada kuasa Tuhan.

Sekali lagi, saya harus berterima kasih pada semua yang membuat saya kembali melihat diri ini. Siapa saja yang tak perlu ada yang merasa berjasa. Saya hanya meluapkan perasaaan yang sangat sulit diarahkan. Bahwa saya terlalu jauh melihat namun lupa meraba dunia terdekat.

Hari ini, berkat Tuhan dan perwaliannya pada mahluk, saya menemukan seutas tali penghubung yang mendekatkan doa dan ikhtiar saya menghadapi masa depan.

Dengan segala keadaan yang terus berubah. Dengan dinamisnya suasana yang gampang saja terbolak balik. Yang hari ini meninggalkan, lalu besoknya ditinggalkan. Yang kemarin meletakkan janji, lalu hari ini mengkhianati. Yang di masa lampau setia menanti, ternyata sudah tak punya empati di masa kelak nanti. Saya musti menegaskan hingga ke inti diri saya sendiri, bahwa doa tidak boleh terpisah dari tiap ikhtiar yang disembahkan. Bahwa takdir baik ada pada hati yang berprasangka baik pada Ilahi.

Dan untuk kesekian kalinya, saya tekankan disini. Tuhan tidak menguji seorang hamba lebih dari kemampuannya.

Ditulis di Pandegelang – Banten, 6 Juli 2016

Advertisements

Di Luar Konteks (31)

Posted in #30surat, Komunitas Daeng Blogger with tags , , , on May 24, 2015 by mr.f

di luar konteks

Surat ke 31

Kepada Perempuan Pembaca
Sobahunnur

Sobahunnur Perempuan Pembaca. Roda-roda jelas berputar. Analogi dan metafora itu sudah sangat tidak kreatif untuk sekadar ingin mengatakan kalau segala gejala alam kodratnya tidak statis. Untuk sekadar ingin mengatakan kalau hidup ini dinamis dan terus bergerak dan berganti-ganti.

Beberapa waktu yang dulu, saya yang suka sekali mengingatkan orang untuk tidak lupa dan abai dengan aktivitas menulisnya. Mengingatkan untuk mencatat apa saja yang bisa mengikat masa lalu. Mengingatkan untuk menulis apa saja yang bisa merawat sejarah dan eksistensi diri di waktu lampau. Mengingatkan untuk sebisa mungkin memberi penanda pada kesempatan-kesempatan yang akan membuat kita tidak lupa pada akar cerita kelak di suatu waktu nanti. Mengingatkan kepada siapa saja untuk selalu membudayakan dan membiasakan diri mencintai literasi.

Tapi waktu, yang pasti adalah apa yang sedang kita jalani. Yang dulu-dulu sudah bukan milik kita lagi. Yang dulu-dulu telah menjadi milik waktu dan ingatan. Sedang yang akan datang adalah milik Tuhan dan khayalan di kepala kita.

Sudah lebih sebulan sejak postingan terakhir di blog ini. Dan kamu Perempuan Pembaca ternyata terus melaju. Saya tertinggal di masa lalu, dan hanya mendengar ajakan-ajakan untuk memperbaiki diri mengahadapi masa di depan. Saya tidak mengutuk diri. Berulang kali saya bilang saya kehilangan motivasi menulis. Dan itu hal yang biasa. Bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Akhirnya saya sampai pada keputusan untuk membalas surat ke 28 mu di surat ke 31 yang tidak kita sepakati. Surat ke 31 sebut saja adalah pelontar saya untuk bisa menghentikan puasa menulis itu.

Anggaplah saya berbangga, tahu kalau kamu sudah semakin rajin membaca. Sebenarnya saya tidak punya kepentingan untuk mendikte bacaan kamu. Tapi percayalah, membaca lebih menyenangkan dibanding aktivitas membunuh waktu yang lain. Sejujurnya, mengatakan ini mudah, tapi saya sendiri sulit sekali mendapatkan momentum yang tepat untuk betul-betul membaca. Efek media sosial kuat sekali melingkar di aktivitas sehari-hari kita.

Sekarang, bahkan untuk menanggapi suratmu saja saya butuh menghirup banyak energi. Saya juga sebetulnya dalam kondisi yang di mana menulis tidak lebih menyenangkan daripada membaca cerita pendek. Apalagi bahan bacaan tidak meluluh harus yang berbentuk buku tercetak. Saya jadi ingat dan sangat iri dengan orang seperti Aan Mansyur dan Eka Kurniawan. Beberapa penjelasan Eka Kurniawan tentang kesenangannya dengan membaca dan menulis membuka mata saya lebar-lebar. Begitu juga Aan Mansyur yang menulis dan juga bernada iri terhadap Eka Kurniawan yang notabenenya juga sama-sama penulis yang umurnya belum cukup setengah abad.

Di internet, banyak yang legal, lebih banyak lagi yang ilegal. Tapi selama ada kesempatan, bacalah! Yang menghalangi seseorang dari membaca banyak buku, terutama di zaman sekarang, biasanya hanya rasa malas mencari dan membaca. – Eka Kurniawan.

Pada bagian ini, kamu boleh berkesimpulan kalau saya mengabaikan satu tema yang kau bahas di suratmu, yaitu filosofi kopi yang kamu benturkan dengan sisi kekecewaanmu yang saya pikir kamu belum bisa memaafkannya sampai sekarang. Kesimpulan yang menurut saya bisa kamu jadikan kesimpulanmu ini adalah hasil telaah saya secara semantik di beberapa paragraf suratmu. Begini bunyi suratmu, kan?

Sejak 5 April lalu, selalu ingin kucuri waktu, mengambil jarum jam dan menyembunyikannya di bawah kasur. Menghentikan waktu. Tapi itu tak berhasil, maka sebisanya kuhindari saja dirimu. Rasa kecewamu sepertinya tak bisa disembunyikan di balik kata dari surat terakhirmu, aku merasakannya, sangat merasa. Aku malu, sangat malu. Aku kikuk, sangat kikuk. Kadang bahkan aku merasa diabaikan. Sedikit sering diabaikan.

Jangan bilang aku terlalu sombong. Aku tidak begitu.

16 April, untuk pertama kalinya bisa kuhilangkan detak jarum jam yang mengganggu itu, walaupun tak bisa kucuri dan kupatahkan jarum itu. Tapi ketiadaan bunyinya membuatku merasa waktu berjalan sedikit longgar dan tidak mengejar. Ahh, ini saat yang baik pikirku! sudah kutanya pula temanku untuk menemaniku, sepertinya pikiranku sudah duduk bersama cangkir kopi yang kupesan di meja itu.

Tapi balasanmu, menumpahkan kopiku yang belum sempat kurasakan pahitnya. Jahat sekali pikirku!

Samar detak jam kembali terdengar, memuakkan. Apa yang harus kulakukan dengan kopi yang sudah kujanjikan itu! Saat penikmatnya sendiri menolak pemberianku. Kopi di kepalaku kini semakin hitam bukan pahit, tapi panas karna tertumpah, semakin menjadi hal bodoh yang pernah kujanjikan.

Kopi adalah jalan penyelesaian suatu perkara. Itu yang kakak katakan. Perkara, aku bolos menulis surat kita selesaikan dengan kopi. Kini perkara harga diriku harus kuselesaikan pula dengan kopi. Aku hanya tinggal mencari tempat minum kopi setiap bulan dan akan memberitahukan padamu bahwa perkaraku sedikit demi sedikit telah kuselesaikan.

Aku sering mencaci pahit. Terlebih kopi dengan kepahitannya. Tapi hari itu aku semangat sekali untuk menunjukkan padamu kopi terhitam pertama yang akan kuminum untuk menyelesaikan perkara kita. Temanku memesan kopi dingin, barangkali ia berusaha menetralisir kepahitan dan panasnya kopi yang kini ada di kepalaku. Idenya cemerlang dan aku sedikit terbantu dengan itu.

Pahit kopi terhitam itu tertandas di tenggorokanku Kak. Mendebarkan jantungku dan tubuh butuh penyesuaian terhadap minuman sejenis itu. Cafeinnya mampu menstimulan jantung berdetak lebih cepat, terlebih bagiku yang terlampau sangat jarang meminumnya.

Menjelang akhir bulan Mei ini, maka tentu kamu punya tantangan untuk menulis surat ke 29. Kamu masih berutang dua surat. Berutang kepada dirimu sendiri, karena setelah surat ke 30 yang lalu saya sudah menganggap surat menyurat kita berakhir. Selebihnya, saya berpikir suratmu yang setelah itu tak lebih dari beban moral dan untuk menghargai dirimu sendiri.

Saya sudah mengucap maaf. Kala itu dengan instan saya dipersalahkan karena kamu menganggap saya jahat. Dan katamu, saya mesti menunggu lebaran untuk dimaafkan. Ini konyol, tapi itu hakmu. Menyalahkan dan menunggu maaf adalah pekerjaan orang yang lemah. Bila hendak jujur, pada satu sudut pandang, saya pun sebetulnya tak berhak lagi bertalian dengan perkara surat-surat ini. Saya ingin, membaca dan menulis saya tak semestinya tak menyenangkan. Kau tahu, kejujuran ada masanya tergadaikan oleh kontrol sosial. Bila realitas dan kehidupan kita terlalu sulit untuk terbuka membicarakan hati nurani, maka biarkan saja nuansa fiksi dan dan fakta dalam tulisan kita mempertanyakan dirinya sendiri.

Terakhir, saya ingin menanggapi beberapa postingan terakhirmu setelah surat ke 28-mu dengan satu pertanyaan. Bila pun ternyata itu di luar konteks korespondensi yang kita batasi waktu itu hanya pada postingan yang unsur faktanya hampir seratus persen. Maka tak masalah jika satu pertayaan akumulatif ini tak usah kau tanggapi.

Apakah postingan-postinganmu itu benar bernada mempertanyakan keterhubungan perasaan?

Semoga saya keliru.

Makassar, 24 Mei 2015

Tertanda
Lelaki Optimis

 

Gambar; jaes-injlualways.blogspot.com