Membelakangi Obsesi

2 tahun stuck, dibelenggu rasa enggan. Menjadi tidak produktif mengisi blog. Beberapa pemantik tak berkutik melewati garis waktu. Saya bertahan melawan rasa kecewa yang terlanjur berakar. Di balik semua peristiwa yang hingga kini terjadi, saya tak kuasa untuk melupakan, meskipun sejak dulu telah memaafkan. Juga telah kupadamkan rasa cemburu yang selalu mau untuk mengambil ruang pikiran.

Kemudian dari sekian banyak bujukan untuk kembali menulis, saya tak memilih salah satunya. Naluri thinking yang pragmatis, adalah terkuat. Saya mencoba timbul, perlahan menarik satu persatu kata kata yang semakin jauh untuk diramu. Tidak lantas menjadikan tulisan saya kaku, tapi saya mencoba mengaliri ceruk imajinasi yang mungkin saja sejak dulu telah beku.

Dunia bertambah luas, saya merasakan semakin banyak segmentasi yang membaca. Membuat saya berhati hati, meletakkan satu potong kalimat. Bagaimana pun, tidak semua orang bisa membedakan mana aliran imajinatif dan sisanya yang memang realistik. Asumsi saya, kebanyakan netizen telah berada di zona psuedo, absurditas kenyataan dan khayalan.

Anggap saja tulisan ini adalah portal menuju konsistensi menulis. Preambule untuk halaman selanjutnya juga sebuah doktrin bagi diri sendiri untuk lebih terlati meniti jalan pikiran ke ujung jari. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh oleh saya yang telah lama pergi. Membelakangi obsesi.

Tanjung Perepat-Berau, 8 April 2019

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s