Melebur Apatisme

Ribuan pendar bintang menghias langit di atas Pulau Balikukup. Suara ombak dan suara mesin diesel bersaing mengambil tempat di ruang dengar manusia. Saat-saat ketika saya mulai membuka sosialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 100 Kwp dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, saya terlebih dahulu mengajak seluruh masyarakat yang datang di lokasi sosialisasi untuk memanjatkan puji syukur yang terukur atas karunia Tuhan pada Pulau Balikukup. Walau jumlah masyarakat tidak mampu saya kalkulasi sebab  lokasi sosialisasi di lakukan di tempat outdoor, tetapi saya menyakini banyak mata dan telinga yang diam-diam tak terlacak oleh mata saya turut menyimak materi sosialisasi pada malam itu.

Persiapan mental dan penyebarluasan informasi sebelum PLTS beroperasi sangat penting dilaksanakan dalam pembangunan suatu proyek atau fasilitas negara  yang akan dinikmati oleh masyarakat sendiri, sebagai bagian dari skema untuk keberlanjutan fasilitas tersebut dan demi tercapainya tujuan mulia melihat masyarakat di tempat-tempat terisolir mampu memahami hakikat dari sebuah pembangunan fasilitas pembangkit listrik dan demi terwujudnya keberdayaan masyarakat di bidang energi.

Sosialisasi yang saya lakukan di Pulau Balikukup didesain dengan nuansa nonformal di masing-masing RT, kecuali di RT 02 yang saya buat menjadi dua malam sosialisasi di tempat berbeda. Hal itu dilakukan untuk memaksimalkan penyerapan informasi dasar tentang PLTS Terpusat kepada masyarakat dan juga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dalam sosialisasi tersebut. Tentu saja modul surya bukan lagi hal baru bagi masyarakat pulau sebagaimana yang telah saya uraikan di tulisan saya yang dulu tentang SHS yang berumur pendek. Namun modul surya yang akan menjadi media terserapnya energi matahari pada PLTS Terpusat offgrid berbeda dengan SHS yang telah lazim mereka ketahui.

Terutama pada poin perawatan yang harus dilakukan bersama-sama dan dikontrol juga secara bersama-sama. Saya menjadi lebih bersyukur ketika menyaksikan sendiri respon masyarakat yang  begitu antusias menyimak materi sosialisasi dan keinginan merawat fasilitas pembangkit listrik yang akan segera terbangun di ujung pulau. Tentu saja terjadi komunikasi dan interaksi pada saat sosialisasi berjalan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terprediksi juga disampaikan langsung oleh masyarakat.

Beberapa pertanyaan yang umumnya muncul ketika sosialisasi PLTS Terpusat selalu menyangkut tentang besarnya daya yang diterima oleh masing-masing rumah. Pertanyaan tentang skema pembagian listrik juga tak ketinggalan ditanyakan oleh masyarakat pulau. Apa syarat rumah yang akan dialirkan listrik PLTS, apakah ada uang harus dibayarkan kepada pemasang instalasi rumah, bagaimana jika masyarakat ingin menambah daya karena volume rumah bertambah, dan masih banyak sekali pertanyaan yang memang wajar tersampaikan di acara sosialisasi tersebut.

Akan tetapi di saat-saat sosialisasi PLTS Terpusat tersebut setelah satu persatu pertanyaan masyarakat terjawab saya kemudian banyak menekankan akan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan PLTS Terpusat tersebut. Masyarakat pulau harus menyumbangkan sedikit banyak energinya untuk bergotong royong pada pembangunan fasilitas pembangkit tersebut. Partisipasi masyarakat sangatlah diharapkan untuk menciptakan sense of belonging pada fasilitas apa saja yang akan dibangun di kampung. Sebab kecenderungan pola pembangunan fasiitas selama ini banyak terjadi dengan metode top down, dimana ada kegiatan yang diprogramkan oleh pemerintah dan masyarakat tidak terlibat sedikitpun dalam prosesi pembangunan tersebut, dan akhirnya masyarakat menjadi apatis dan bahkan oportunis pada setiap program yang dikerjakan oleh pemerintah. Sesungguhnya mental proyek masyarakat  atau mengharap bantuan itu diciptakan oleh pemerintah sendiri. Pola-pola pemberdayaan masyarakat tidak diterapkan oleh program-program yang dicanangkan dan yang dilaksanakan oleh pemerintah di kampung-kampung.

Seyogiyanya, setiap program pembangunan haruslah mengacu pada keinginan masyarakat atau bottom up. Kalaupun ternyata tidak semua program harus bottom up, maka pola-pola persiapan mental sebelum program dijalankan haruslah dikerjakan terlebih dulu. Kesemuanya untuk melihat keberlanjutan atau sustainibility dari program yang dilaksanakan. Sebab jika program tidak dilakukan dengan pola bottom up atau tidak dilakukan persiapan mental, maka tunggu saja umur pakai dari fasilitas atau umur porgram tersebut akan sangat pendek.

Cukup sudah beberapa contoh kasus yang ada di depan mata masyarakat Pulau Balikukup. Fasilitas pemancar jaringan selular di tengah pulau yang usianya hanya hitungan bulan  dan kini menjadi prasasti atau bukti sejarah akan pernah adanya program pembangunan menara pemancar jaringan selular di Pulau Balikukup. Padahal jaringan selular adalah salah satu kebutuhan masyarakat pulau untuk memenuhi tuntutan komunikasi dan informasi yang semakin hari semakin mendesak. Kegagalan masa lalu selalu layak menjadi guru yang baik untuk menapaki masa depan.

Sehingga tahapan sosialisasi dan agitasi untuk menciptakan mental merawat dan mengelola bersama fasilitas negara atau fasilitas kampung memiliki peran yang mendasar untuk menciptakan keberdayaan kampung memenuhi apa saja jenis kebutuhan masyarakatnya. Pada sosialisasi yang empat kali saya laksanakan di Pulau Balikukup, tentu saja penekanan akan pentingnya masyarakat sendiri yang saling mengontrol dan merawat listrik dari PLTS Terpusat ini saya ulang beberapa kali dan semoga bisa menjadi retensi dan berbekas di long term memory  masyarakat pulau.

Sesungguhnya semua kampung memiliki potensi yang sama untuk menjaga dan merawat fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Hanya saja banyak diantara kampung-kampung menerima bantuan secara simultan dan kemudian lahirlah mental manja pada masyarakatnya. Apatisme adalah musuh terberat pada semua program pemerintah yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Tetapi apatisme ternyata dilahirkan secara tidak sadar oleh pemerintah sendiri. Semoga di Pulau Balikukup ini, sikap apatis dan oportunis itu bisa perlahan melebur dalam setiap agenda gotong royong yang dilaksanakan selama masa pembangunan PLTS Terpusat.

Ditulis di Pulau Balikukup, Kalimantan Timur pada akhir bulan agustus 2017.

#15HariCeritaEnergi

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: