Sebelum dan Setelah Ada Listrik

Sebelum listrik dari PLTS menyala di kampung, ada banyak sekali hal yang tidak bisa terjadi akan tetapi setelah listrik menyala juga ada beberapa tidak terduga yang terjadi. Di kampung-kampung pedalaman yang menjadi sasaran penerima bantuan PLTS Terpusat yang dibangunkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, kehadiran listrik di tengah kampung tentu adalah anugerah yang telah lama mereka nantikan. Kehadiran listrik juga bagi kampung-kampung yang menjadi beranda Indonesia di bagian perbatasan juga sekaligs menandakan kehadiran negara yang selama ini seolah menutup mata terhadap nasib rakyat di daerah terdepan Indonesia.

Saya sudah banyak menulis tentang faedah yang sangat besar yang dirasakan masyarakat yang kampungnya dibangunkan PLTS oleh Kementerian ESDM. Di Kampung Sumentobol di Nunukan, di Kampung Bamana Papua Barat dan sebentar lagi di Pulau Balikukup Kalimantan Timur, masyarakat begitu bersyukur dengan lsitrik masuk kampung, yang tentu saja pemerintah telah menimbang matang besar dana yang dikeluarkan dengan kemungkinan manfaat yang bisa dirasakan oleh rakyat di kampung-kampung yang masih sangat sulit untuk teraliri listrik dari PLN.

Di Sumentobol misalnya, sebelum listik PLTS ada, tidak kita temukan proses belajar malam pada anak-anak sekolah. Interaksi sosial terputus oleh kegelapan kampung. Juga dengan roda-roda ekonomi menjadi berhenti berputar di saat malam hari. Dan setelah listrik PLTS menyala, hal-hal di atas bisa teratasi. Anak-anak tentu saja tak perlu lagi berbagi lampu dengan penghuni rumah lainnya untuk menerangi aktivitas belajar malamnya. Interkasi sosial bisa terjadi meskipun malam telah datang, sebab lampu jalan menerangi kampung setiap 30 meter jauhnya. Roda ekonomi berputar, ibu-ibu bisa menganyam rotan, bisa membuat tempayan, bisa mengolah ilui, masih bisa terus membuka kiosnya, walaupun malam.

Saya menyaksikan peristiwa itu, tetapi hal lain rasanya juga perlu saya tuliskan untuk mengimbangi faedah dari kehadiran listrik. Di Kampung Bamana, di Papua Barat sana, kehadiran listrik di tengah kampung mereka justru menimbulkan hal lain yang sebelum listrik menyala tidak perlu terjadi. Sebab lampu mampu menyala dari senja hari hingga pagi, maka listrik itu dimanfaatkan untuk menerangi aktivitas negatif yang masyarakat terbiasa mengerjakan cukup di siang hari. Masyarakat melanjutkan aktivitas perjudian hingga pagi hari kmenggunakan penerang dari PLTS. Meskipun aktivitas ini terkategori perputaran ekonomi, tetapi secara moral, tentu tidak seperti itu yang diharapkan oleh pihak pemerintah, terutama dari Kementerian ESDM.

Pembangunan PLTS Terpusat berkapasitas 30 Kwp di Kampung Bamana sejak awal memang telah memperlihatkan gejolak dan aura tidak benar. Kampung Bamana bukanlah kampung yang ditetapkan sebagai kampung penerima manfaat fasilitas pembangkit listrik tenaga surya dari Kementerian ESDM. Akan tetapi ketika saya tiba di Kota Kaimana, Propinsi Papua Barat, kampung penerima manfaat ini dipindahkan ke Kampung Bamana yang ternyata memiliki garis sejarah dengan kepala daerah terpilih pada saat itu. Kampung yang semestinya adalah sebuah pulau bernama Kayu Merah atau Kampung Siawatan, akhirnya berpindah ke Kampung Bamana yang menurut Bupati pada saat saya meminta klarifikasi, Kampung Bamana akan diproyeksikan sebagai pusat kecamatan di daerah setempat.

Akhirnya listrik PLTS menyala di Kampung Bamana, kampung yang sebelumnya memiliki instalasi jaringan listrik tenaga diesel. Listrik tenaga diesel ini juga merupakan bantuan negara yang sayangnya tidak terpelihara dan terawat dengan baik. Kemudian listrik tenaga diesel ini satu per satu tidak beroperasi dengan baik lagi, sebab sumber listrik atau mesin diesel dibagikan ke masing-masing dusun  sebanyak tiga buah, dan pengelolaannya dipegang oleh masing-masing kepala dusun.

Pelajaran berharga dari sejarah kegagalan pengelolaan  listrik diesel menjadi opini yang sangat hangat untuk dibicarakan ke masyarakat kampung, sehingga dengan begitu umur pakai PLTS akan menjadi kontrol bersama dengan teknisi lokal yang telah ditraining oleh kontraktor selama beberapa bulan.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada kampung-kampung yang saya dampingi pembangunan pembangkit listriknya kemudian membuka ruang memori masa lalu saya. Masa lalu yang terjadi di kampung halaman saya, di kampung yang nyaris pedalaman di Sulawesi Selatan. Sebab baru pada tahun 2008 listrik dari PLN mengaliri rumah-rumah di kampung saya. Sebelum listrik PLN masuk ke kampung, tentu saja banyak kondisi yang mengalami keterbatasan. Masa-masa sekolah saya dari SD hingga SMA, dihiasi dengan belajar malam bersama lentera atau pelita, pelita yang membuat lobang hidung menjadi hitam karena asapnya. Setrika baju yang masih menggunakan bara tempurung kelapa. Permainan lampu jalan yang menggunakan tutup botol dan biji kelapa sawit. Mitos-mitos tentang mahluk halus yang menghuni tempat gelap. Dan masih banyak sekali hal-hal tradisional dan konvensional yang harus terjadi karena listrik belum memadai.

Kemudian kehadiran listrik dari PLN pada tahun 2008 seolah menjadi jalan terjadinya perubahan peradaban di kampung saya. Lentera atau pelita ditinggalkan, setrika bara api digantikan dengan setrika listrik, permainan lampu dari biji kelapa sawit tak perlu lagi. Listrik telah masuk kampung, peradaban baru telah menunggu. Mitos-mitos tentang mahluk halus yang berkeliaran di tempat gelap berkurang perlahan. Sejarah terukir karena  listrik. Listrik adalah bahan sinisme bagi masyarakat kampung.

Begitulah kehadiran listrik pasti akan mampu mengubah jalannya sejarah kehidupan manusia. Di kampung-kampung pedalaman pun, kehadiran listrik tentu saja memiliki faedah yang sangat besar dan bisa juga menjadi sesuatu yang tak disangka berdampak pada terjadinya perubahan sosial ke arah yang tidak diharapkan.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; dokumentasi pribadi

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: