Patriot Energi Sebelum ke Lokasi

Di hari ke sepuluh tantangan 15 hari menulis cerita tentang energi, saya akan melanjutkan cerita yang saya tulis di hari ke sembilan kemarin, tentang peristiwa-peristiwa yang dialami Patriot Energi sebelum diberangkatkan ke lokasi penempatan. Cerita kemarin berakhir perpisahan dengan Wanadri selaku intsruktur lapangan pelatihan hidup di alam bebas.  Setelah perpisahan di Rancaopas, kami kembali ke Subang, tepatnya di Desa Panaruban, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya kami sempat ke Jakarta selama tiga hari untuk memulihkan diri, tetapi lebih tepatnya disebut mengecek diri. Sebab kami berdelapanpuluh melakukan medical check up (MCU) di Rumah Sakit TNI Angkatan Darat di Jakarta. Barulah ketika usai MCU kami langsung diangkut lagi pakai truk tentara ke Subang, ke desa Panaruban.

Panaruban juga begitu terkenang, banyak pertemuan terjadi di tempat ini. Banyak sekali fasilitator dari berbagai bidang keahlian, namun semuanya menyangkut kompetensi pemberdayaan masyarakat, kompetensi ketiga. Walaupun nanti ada pula beberapa kali materi tentang kompetensi kedua, kompetensi keteknikan.

Saya akan menyebut orang-orang berkapasitas di bidangnya yang berhasil saya ingat hingga hampir dua tahun setelah pertemuan itu. Di Panaruban, kami bergaul dengan fasilitator hebat, saya sebut ada Kak David, Kak Mike, Kang Jalil, Kang Herri, Kak Kurnia, Kak Sintia, Kak Alvi, Kak Gabon, dan banyak lainnya yang belum sempat saya ingat lagi. Di Panaruban kami juga kedatangan beberapa pembicara, ada Pak Kuntoro Mangkusubroto, Menteri Pertambangan di Kabinet Pembangunan dan di Kabinet Reformasi Pembangunan. Ada Ibu Sri Palupi konsen membela tanah rakyat dari serobot pertambangan. Kang Suroto yang masih muda tapi sudah bergelut aktif di dunia perkoperasian Indonesia, dan juga kami kedatangan kembali Pak Hendro Sangkoyo, atau Pak Yoyok yang di kemudian hari menjadi teman korespondensi email saya yang panjang-panjang untuk mengkonsultasikan strategi pengorganisasian masyarakat yang releable sesuai dengan kondisi sosial masyarakat kampung, yang waktu itu saya belum lama di Kampung Sumentobol, Nunukan, Kalimanatan Utara. Oh tentu saja, saya tidak berkorespodensi di Kampung Sumentobol, sebab jangankan jaringan internet, listrik saja tidak ada di Sumentobol pada saat itu, hingga PLTS berhasil menerangi kampung yang pada hingga hari ini masih beroperasi dengan baik.

Selain itu ada orang-orang IBEKA, institusi yang didirikan oleh Ibu Tri Mumpuni dan Bapak Iskandar Kuntoadji. Fasilitator IBEKA adalah fasilitator kawakan yang sudah malangmelintang di dunia sosial pemberdayaan masyarakat, terutama pada aktivasi potensi energi terbarukan di tanah air. Sayangnya saya tidak mampu mengingat semua nama fasilitator IBEKA tersebut pada hari, akan tetapi beberapa fasilitator yang terus menjalin komunikasi dengan Patriot Energi hingga di tengah-tengah masa tugas atau di purna tugas, yaitu Kang Gun Gun dan Kang Iwak.

Dua minggu kami bergelut dengan materi dan praktek pemberdayaan masyarakat di Panaruban. Lalu kami akhirnya melangsungkan upacara pelepasan Patriot Energi ke ujung-ujung negeri. Kami dilepas langsung oleh Menteri ESDM yang pada saat itu adalah Sudirman Said, di sebuah malam bergantinya tanggal di puncak bukit bersama dengan penaikan bendera besar. Namanya Bukit Santiong. Bendera itu dikhtiarkan untuk dikibarkan terus dan akan diturunkan ketika para Patriot Energi usai melaksanakan tugasnya di ujung negeri, sekitar akhir Maret 2016 bila waktu-waktu itu tanpa halangan. Sayangnya bendera itu, di pertengahan masa tugas Patriot Energi angkatan pertama diturunkan secara paksa oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Ada banyak makna dari seremonial-seremonial yang dkerjakan selama pembekalan. Upacara bendera setiap pagi, olahraga di subuh yang dingin, makan menggunakan omprengan, minum dengan gelas bambu, kedisipilinan memanajemen diri sendiri, dan masih banyak aktivitas yang dilatihkan kepada Patriot Energi. Sebab pembekalan itu memanglah sangat aplikatif ketika saya berada di kampung-kampung yang dipenuhiketerbatasan dan menuntut penyesuaian diri yang cepat. Semua materi tentang pemberdayaan masyarakat itu menjadi begitu berperan untuk memudahkan pengorganisasian masyarakat penerima hibah bantuan pembangunan PLTS Terpusat.

Sebenarnya, inti keberadaan Patriot Energi di tengah-tengah masyarakat kampung di pedalaman negeri ini adalah bagaimana seorang Patriot mampu menyentuh alam kesadaran masyarakat yang mungkin selama ini merasa tidak dipedulikan oleh negara atau sebaliknya, merasa serba bergantung dengan negara. Saya mengalami kedua situasi sosial masyarakat itu, di Sumentobol, Nunukan, masyarakat menganggap negara tidak mampu hadir di tengah kesulitan-kesulitan yang terjadi di daerah-daerah terdepan, sebab Sumentobol sendiri termasuk kampung di daerah perbatasan yang menjadi jendela untuk melihat negara Indonesia. Sehingga kehadiran PLTS Terpusat berkapasitas 30 Kwp pada saat itu di Sumentobol menjadi indikasi yang baik bahwa negara telah melirik kampung-kampung terdepan yang selama ini terabaikan. Sebaliknya di Kampung Bamana, di Papua Barat, masyarakat justru sangat terbiasa dengan bantuan-bantuan yang diberikan oleh negara. Sehingga di semua kampung yang dibangun fasilitas pembangkit listrik, maka kata kuncinya tetaplah masyarakat sendiri harus mampu merawat dan mengelola fasilitas hibah tersebut. Di situlah peran besar Patriot Energi sebagai external activator, pihak luar yang mencoba mengajak masyarakat kampung untuk mengurusi PLTS yang dibangunkan. Kita sama-sama melihat begitu banyaknya fasilitas negara yang dibangun di kampung-kampung yang usianya sangat pendek dan masyarakat merasa tidak bertanggung jawab terhadap fasilitas tersebut.

Ada hal yang paling penting dari semua perkenalan Patriot Energi ini. Saya tidak mungkin luput mengenalkan orang-orang pemrakarsa Patriot Energi ini. Meskipun sudah sempat saya mention namanya sebagai pendiri IBEKA di bagian atas, tapi saya mutlak menghaturkan banyak terima kasih atas inisiatif pasangan ini mendeklarasikan Patriot Energi untuk para insinyur-insinyur muda di Indonesia. Pasangan inilah yang bekerja siang malam, menyiapkan segala hal yang bertalian dengan misi Patriot Energi ini. Beginilah jalan takdir meniti dan mempertemukan manusia-manusia dari berbagai tempat dan pulau-pulau se Indonesia. Bila ada yang belum mengenal Ibu kami Ibu Tri Mumpuni (yang ada di gambar postingan ini)  silakan searching di google dan pasti akan menemukan ketakjuban-ketakjuban pada profil beliau. Di samping pasangan Ibu Puni dan Pak Is, ada Kang Yan Yan orang kepercayaan pasangan itu yang bertindak lincah menyelesaikan urusan-urusan.

Bagian akhir dari tulisan ini, tentunya saya ingin menyebut dengan segala itikad baik kepada Kementerian ESDM yang memberikan ruang faedah bagi insinyur-insinyur muda mendapati dirinya di tengah keterasingan dan perbedaan yang banyak. Terima kasih Kementerian ESDM atas kesempatan yang diberikan kepada kami Patriot Energi, mengabdikan diri untuk negeri. Patriot Energi, Siap Membangun Bangsa!!!

#15HariCeritaEnergi

Gambar; tim dokumentasi Patriot Energi

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: