Pembekalan Patriotisme Patriot Energi

Hari kesembilan di tantangan 15 hari menulis cerita bertema energi, saya memilih untuk menerangkan lebih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Patriot Energi diterjunkan ke kampung yang akan didampingi pembangunan dan pengelolaan PLTS-nya. Meskipun hari ini Patriot Energi yang tersisa hanya cerita sejarah tapi akan saya gunakan gaya cerita seolah saya adalah Patriot Energi yang selamanya Patriot Energi. Akan saya awali dengan perkenalan dengan gaya tutur yang berbeda. Perkenalkan, saya seorang patriot. Bukan patriot dari militer. Saya Patriot Energi Indonesia dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Tugas saya menggerakkan energi tanah air. Terdengar begitu heroik, berciri seorang calon pahlawan. Bila betul, saya menggerakkan energi di tempat bertugas dan energi itu berkelanjutan, maka boleh jadi saya betul-betul layak mendapat gelar kehormatan patriot energi yang sejati. Akan tetapi gelar dan kehormatan bukanlah menjadi tujuan dari misi kedatang Patriot di kampung-kampung.

Sebelum bertugas di daerah yang tertinggal energi listrik, untuk membantu masyarakat mencapai kedaulatan energi. Selama sebulan saya mendapat pembekalan dan internalisasi nilai patriotisme. Empat kompetensi dasar seorang patriot penggerak energi tanah air. Yang pertama kompetensi kejuangan, yang di dalamnya tertanam ketahanan fisik, kekuatan mental dan kebaikan moral. Kompetensi kedua seorang patriot energi adalah tentunya kompetensi keteknikan, yang bermuatan akan pengetahuan teknik, kemampuan rekayasa teknik, dan kemampuan transfer pengetahuan teknik.

Kompetensi yang ketiga adalah kompetensi pembangunan berbasis masyarakat. Kompetensi ketiga ini meliputi pengetahuan keberlanjutan, kemampuan seputar kemasyarakatan, dan kemampuan perberdayaan masyarakat. Kompetensi terakhir, sekaligus menjadi kunci kompetensi patriotisme adalah kompetensi keikhlasan. Kompetensi ini mencakup hal abstrak dan mahaluas, tapi ada beberapa poin penting yang harus dipahami seorang patriot energi dalam menjalankan tugasnya. Poin-poin itu seperti pemahaman tentang posisi diri dan tanggung jawab sosial, empati dan akal sehat, serta kemampuan egaliter atau demokratisasi.

Selama pembekalan dan internalisasi nilai patriotisme itu, jiwa saya memang telah mengalami pergolakan sepanjang hari. Meleburkan kebiasaan-kebiasaan individulisme bawaan dari kehidupan sebelumnya, bukanlah hal mudah. Tidak hanya sampai di pergolakan jiwa itu, integritas yang murni juga diuji. Integritas yang selama ini tak lebih dari integritas semu yang miskin kejujuran, kini harus menampakkan wajah sejatinya. Wajah integritas yang sebenar-benarnya tanpa kamuflase. Saya suka dengan semua metode pelatihan yang diterapkan selama pembekalan.

Di mulai dengan pertemuan bersama beberapa tokoh nasional. Diskusi dengan Bang Ricky Elson (pencipta mobil listrik Indonesia), dengan Pak Hendro Sangkoyo, Menteri ESDM Sudirman Said pada saat itu dan mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan , dan masih banyak tokoh nasional lainnya yang kini tidak mampu saya tuliskan namanya, namun tentunya ilmu yang didiseminasikan kala itu masih membekas di ruang ingatan.

Lalu setelah bertatap dan bercakap dengan tokoh nasional di Jakarta, kami digiring ke daerah dingin bernama Dusun Buni Kasih. Saya tidak tahu persis letak administratif dusun ini. Selain karena kami berdelapan puluh diangkut dengan mobil tentara yang tertutup, smartphone juga tidak diperkenankan untuk dibawa pergi, saya juga asing dengan daerah-daerah baru di Jawa Barat itu. Tapi bisa saya ingat, dusun itu mungkin masih di daerah Subang. Sebab terakhir kali saya ingat, di Subang atau waktu itu ada perkebunan teh yang elok bernama Ciater. Sekitar tiga jam rasa-rasanya kami di dalam truk tentara itu, terus menanjak dan akhirnya memasuki daerah yang dingin dan sunyi. Sebelum memasuki Dusun Buni Kasih kami disajikan dengan pemandangan alam hijau yang indah. Saat itu, pertarungan fisik telah dimulai. Semua orang masing-masing membawa carrier-nya yang tidak kurang beratnya 15 kilogram. Dan berjalanlah bagai kawanan semut yang panjang sepanjang kelok jalan di perkebunan teh itu. Paling tidak, jarak sejak kami diturunkan dari truk hingga ke dusun mungkin 4 kilometer, dengan durasi perjalanan sekitar tiga jam.

Dusun Buni Kasih, dusun yang dingin, tetapi masyarakatnya sama sekali tidak dingin. Dusun ini menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Ah, hampir saya lupa, dusun ini adalah dusun terakhir bila seseorang hendak mendaki gunung gunung di belakang dusun itu. Nampaknya tidak terlalu tinggi, itu juga yang membuat saya tidak terlalu penting untuk mengingat nama-nama gunung gunung itu.

Kami melewatkan Hari Raya Idul Adha, atau Hari Kurban di dusun kecil ini, pada dua tahun yang lalu. Semuanya menjadi sederhana, sebab sudah tentu dusun tanpa PLN ini adalah dusun yang sederhana  pula. Jaringan provider apapun disini juga menjadi sederhana dan nyaris tidak ada. Orang dusun terkadang menyoalkan hal itu di antara pembicaraan kami berikutnya.

Hanya tiga hari di dusun asri ini, kami bertolak ke Ciwidey, pastilah kami berjalan lagi menggendong ransel keluar dusun selama kurang tiga jam. Ciwidey itu seingat saya sepaket dengan wisata alam Kawah Putih.

Nah, disinilah hari-hari pengujian kekuatan fisik itu berlangsung, dan masuk pula ujian ketahanan mental menghadapi alam bebas. Kami digembleng oleh Wanadri selama total enam hari, siapa anak gunung yang tidak kenal Wanadri? Betul-betul enam hari itu hari yang panjang dan melelahkan. Saat menjalani waktu itu, rasanya seperti ingin melipat jarum jam, mempercepat waktu. Tetapi bukan patriot namanya kalau tidak menyiapkan ruang lapang dalam hati untuk mengikhlaskan segala kejadian hari-hari itu. Dan satu lagi, saya tidak sendiri, kala itu saya telah menjadi kami, jadi berdiri sama tinggi duduk sama rata. Semua harus menikmati hari-hari pembekalan fisik itu. Yang bisa dirangkum dalam beberapa hari bersama Wanadri adalah bahwa kami harus terlatih berada di titik nadir, berada dalam segala keterbatasan fasilitas, survival di bumi ini. Semuanya memang bersama tapi kami harus bertanggung jawab atas diri dan kawan di samping kanan kiri. Dan tak kalah membekasnya adalah internalisasi nilai nasionalisme Indonesia, metodenya sederhana dengan menggunakan metode repetisi. Kegiatan atau ucapan yang diulang-ulang akan menimbulkan pembiasaan dan pendalaman hingga ke sukma. Saya tidak akan melupakan Indonesia yang diteriakkan setiap tiga langkah sekali, dan upacara-upacara penaikan dan penurunan bendera setiap harinya. Rupanya menjadi Patriot Energi pun harus memasukkan Indonesia yang sejati jauh ke dalam sanubari.

Hari bersama Wanadri usai bersama titik hujan di suatu upacara perpisahan di lokasi bernama Rancaopas. Sejujurnya saya tidak bisa mengatakan saat itu saya bergembira karena telah usai hari yang terasa panjang itu, tetapi sedikit dari diri saya masih tetap ingin menjalani pelatihan yang menguras energi itu. Sebab sungguh banyak pengalaman baru yang didapat selama berhari-hari di alam bebas. Tidak terhitung banyaknya ceritera yang terjalin di sepanjang hari-hari itu. Tetapi perpisahan adalah suatu keniscayaan dari sebuah pertemuan. Maka pembekalan tetap harus dilanjutkan di tempat dan dengan pendekatan yang pasti akan berbeda lagi.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; Tim Dokumentasi Patriot Energi

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: