Iri Bicara Energi

Beberapa bulan yang lalu sebagian besar masyarakat Indonesia meributkan perihal kenaikan tarif dasar listrik. Gejolak itu begitu nampak di beranda-beranda sosial media. Kenaikan tarif dasar listrik seperti biasa akan memunculkan spekulasi tentang ketidakbecusan pemerintah mengurusi persoalan listrik di negeri ini. Ditambah lagi dengan pemadaman bergilir yang kerap terjadi di daerah-daerah tertentu yang pasokan energi listriknya mengalami ketidakstabilan karena suatu gangguan teknis menambah alasan untuk mempertanyakan hubungan antara tarif listrik dan layanannya yang semakin tidak memperlihatkan kurva yang linear. Tarif semakin mahal, tetapi layanan listrik masih saja sering padam secara berkala.

Di tempat saya sekarang tentu saja keributan itu tidak terjadi. Di kampung pulau seperti ini, yang seringkali diributkan malahan hanya persoalan bantuan sosial yang terkadang lambat ataukah tidak tepat sasaran. Tidak ada tarif lsitrik di pulau, dan yang ada hanyalah harga bahan bakar minyak yang harus dikeluarkan setiap malam untuk menerangi rumah, mungkin juga sekaligus untuk menerangi rumah tetangga atau keluarga. Jangkan di kampung pulau seperti di Pulau Balikukup yang berjarak dua jam perjalanan perahu ke daratan, kampung-kampung di daratan saja masih sangat banyak yang menggunakan alat penerang sendiri, alias  belum tersambung aliran listrik negara. Sedangkan daratan di Kalimantan adalah daratan yang di bawahnya tersimpan batu bara yang menjadi sumber listrik. Kita di Kalimantan dan kita sama tahu, begitu banyak kampung di hulu-hulu sungai yang belum merasakan listrik. Kita lantas boleh bertanya, batu bara yang disedot di Kalimantan apakah memang tidak layak untuk dinikmati oleh masyarakat di Kalimantan sendiri?

Kenapa bangsa ini masih saja ada soal tentang krisis energi, padahal bangsa kita adalah bangsa yang teramat kaya sumber daya alam dan potensi energinya. Mungkin ada baiknya kita sedikit membuka hati tidak mengapa menyatakan diri sebagai bansa yang iri pada bangsa lain di dunia ini, bangsa lain yang meskipun potensi energinya tidak seberapa, tetapi tidak terbayang dengan ancaman krisis energi.

Mari kita lihat bagaimana rasa iri bangsa ini dalam persoalan energi menjadi bukanlah hal yang sia-sia. Menjadi bukan hal bodoh yang harus kita lakukan. Rasa iri kita melihat bangsa lain mampu sedangkan kita baru saja merangkak dari kata kemauan. Kita belum selesai pada persoalan rasio elektrifikasi, angka yang memperlihatkan seberapa persen masyarakat indonesia telah menikmati listrik dari jumlah penduduk Indonesia itu sendiri. Masing-masing instansi mengeluarkan angka yang berbeda. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), belum lama ini melansir berita  tentang rasio elektrifikasi yang sudah mencapai angka 93%. Angka ini tentu masih sangat boleh kita perdebatkan kevalidannya, melihat angka lain yang dikeluarkan oleh lembaga lain, seperti IBEKA atau Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan yang menyatakan masih ada 33000 desa di Indonesia yang masih belum dialiri listrik. IBEKA sendiri adalah organisasi yang aktif menangani persoalan listrik di desa-desa terpencil dan berusaha untuk melistriki desa tersebut dengan menggunakan potensi air atau dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

Kita masih berdebat dengan angka ketidakpastian yang menyangkut hak dasar warga negara ini. Kita belum berdebat soal sumber energi yang digunakan oleh bangsa ini untuk menyalakan negara. Kita sadar bahwa selama ini listrik yang kita nikmati adalah bersumber dari energi fosil. Sumber energi yang sama kita ketahui sebagai sumber energi yang tidak terbarukan, kotor, dan akan habis suatu saat. Sedangkan bangsa lain, mari kita tengok, bagaimana Kosta Rika pada tahun 2015 menjadi satu-satunya negara yang 75 hari berturut-turut menggunakan sumber energi terbarukan, memecahkan rekor dunia. Kita menonton bagaimana India menyuplai konsumsi energinya dari tenaga air.

Kita sama menyaksikan bagaiaman China sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia juga menjadi negara yang mampu memaksimalkan potensi energi matahari yang sebenarnya di negara kitalah justru yang semestinya paling layak untuk memaksimalkan potensi ini, mengingat negara kita berada di garis khatulistwa yang mana menjadi daerah dengan tingkat paparan matahari paling maksimal. China mampu mengembangkan kapasitas solar power hingga 43 GWyang menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan kapasitas penyerapan energi matahari terbesar di dunia.

Kita lihat Jerman mampu menerangi negaranya dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti air dan biomassa, yang kemudian menjadikan Jerman sebagai negara nomor 1 di dunia penghasil energi terbarukan untuk biomassa. Kita lihat bangsa-bangsa lain di Eropa dan di Amerika bagaimana mampu terlepas dari ketergantungan sumber energi fosil, dan beberapa negara mampu menjadi menjadi negara-negara yang berdaulat energi, tidak bergantung dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan energinya. Kita lihat bagaimana bangsa-bangsa lain sudah mencita-citakan carbon-neutral di negaranya. Bangsa kita wajar iri membicarakan persoalan energi.

Kita perlu iri melihat bangsa lain mampu berdaulat energi, sedangkan kita belum semua rakyat merasakan listrik. Kita perlu iri melihat bangsa lain mampu memaksimalkan potensi energi terbarukan sedangkan kita masih menjadi bangsa yang begitu ngotot menghabiskan semua energi fosil yang terkandung di bawah tanah negara ini. Mungkin dengan rasa iri, bangsa kita bisa bereaksi lebih cepat menyelesaikan persoalan energi. Mungkin dengan rasa iri, bangsa kita tidak perlu gaduh dengan skema tarif dasar listrik yang dinaikkan untuk mensubsidi pembangunan fasilitas pembangkit listrik di desa-desa terpencil. Mungkin dengan rasa iri, kita bisa bergandeng tangan untuk sama-sama mau berhemat energi demi masa depan bangsa. Kita perlu iri yang begitu besar, juga tindakan-tindakan nyata yag sesegera mungkin. Sebab, sudah pasti iri saja tidak cukup.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; http://madyapalaumb.blogspot.co.id

Advertisements

2 Responses to “Iri Bicara Energi”

  1. mantap, bro…

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: