Lampu di Mata Bocah Pedalaman

Belum selesai saya sholat isya, beberapa bocah datang mengetuk pintu. Setelah menyebut nama saya dengan awalan Abang, mungkin satu persatu seperti mendapat giliran. Kemudian dengan tidak lagi kumembaca wirid, saya segera membuka pintu rumah. Ternyata ada lima bocah tersenyum-senyum. Sudah  saya tahu maksud mereka datang. Bocah-bocah ini ingin belajar,ada sedang semangatnya belajar mengeja, sebagian senang berhitung dengan metode undian, sebagian senang mewarnai gambar yang  saya buat, dan sebagian lainnya lagi mungkin hanya senang saja berkumpul dengan teman-temannya.

Bocah-bocah ini tahu kapan mereka bisa datang berkunjung ke rumah untuk belajar. Ada simbol yang secara tak sengaja mereka memahaminya sebagai isyarat bahwa saya sedang ingin mereka datang belajar. Sebab rumah-rumah di kampung pedalaman Dayak ini tidak memiliki penerangan di teras rumah, sehingga jika saya mengeluarkan lampu atau senter di teras rumah maka mereka segera menyadari bahwa lampu itu adalah untuk menerangi mereka ketika belajar.

Kampung Dayak ini memang pada saat itu belum ada penerangan, hanya rumah-rumah tertentu saja yang mampu membeli bensin untuk menyalakan mesin. Maklum saja, harga-harga barang di tempat terdalam seperti ini mengalami perbedaan yang cukup besar dengan harga di kota-kota. Pernah bensin menyentuh angka 17.000 rupiah perliter yang sebenarnya pada saat itu bensin di SPBU harganya tidak sampai mencapai 7000 rupiah. Jadi ada selisih lebih dari 10000 rupiah, lebih dari dua kali lipat harga dasarnya.

Kampung Dayak ini bernama Sumentobol. Berada di hulu sungai dan di tengah-tengah hutan perawan yang menjadi batas negara Indonesia dan Malaysia. Saya berada di kampung ini kurang lebih lima bulan lamanya, merasakan banyak sekali hal-hal baru. Saya bisa sampai di kampung ini karena saat itu saya bertugas sebagai Patriot Energi yang mendampingi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang merupakan hibah dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga mengorganisir masyarakat supaya masyarakat ikut terlibat dalam proses pembangunan PLTS sehingga muncul kesadaran memelihara atas dasar rasa memiliki fasilitas hibah tersebut. Selain itu saya juga membentuk organisasi pengelola PLTS yang akan mengurus PLTS ketika pengelolaan PLTS diserahkan ke pihak kampung.

Saya tinggal di rumah penduduk, yang juga tak memiliki penerangan yang memadai. Hanya ada dua lampu yang pada siang hari dicharger dengan menggunakan modul surya bekas SHS yang berumur pendek. Ketika malam, satu lampu digunakan di dapur dan satunya lagi biasanya untuk menerangi aktivitas saya di ruang tengah. Lampu-lampu ini tidak mampu bertahan hingga pagi, sebab kapasitas baterainya memang tidak didesain untuk waktu yang lama. Tetapi akan cukup jika sebagai penerang pada ruang berukuran kecil. Sebab itulah, sebelum PLTS di kampung ini menyala, lampu-lampu semacam inilah yang banyak menghiasi rumah-rumah penduduk.

Sebenarnya, di kampung hulu ini ada potensi energi terbarukan lain yang bisa dimanfaatkan. Ada sungai kecil yang debit dan konturnya cukup untuk menerangi beberapa rumah. Sayang sekali potensi energi tersebut tidak mampu dikelola dengan baik. Beberapa tahun sebelum PLTS dari Kementerian ESDM dibangun, ada “orang asing” yang datang ke kampung ini untuk menebang pohon dan membuat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sehingga berhasil menerangi beberapa rumah di sekitar pembangkit. Hanya beroperasi beberapa bulan, dinamonya terbakar, menurut warga sekitar pembangkit yang pernah menikmati aliran listrik tersebut, dinamo itu sudah beberapa kali diganti oleh warga yang patungan setelah “orang asing” meninggalkan Kampung Sumentobol. Setelah saya meninjau lokasi PLTMH tersebut, desain dan peralatannya memang masih sangat sederhana dan dipenuhi keterbatasan. Maka wajar saja sumber listrik yang dulu pernah menerangi kampung tersebut kini menjadi peninggalan sejarah. Masih bisa kita jumpai turbin kayu, pipa, dan dinamonya di lokasi PLTMH tersebut.

Kampung Sumentobol kembali merasakan malam-malam gelapnya. Membuat kampung ini ketika malam begitu mencekam ditambah dengan bunyi jangkrik dan lolongan anjing di sepanjang kampung. Bertahun-tahun kegelapan itu seolah menjadi takdir yang membuat lumpuhnya aktivitas di malam hari. Aktivitas perekonomian berhenti, aktivitas sosial pun tak ada interaksi, dan aktivitas pendidikan terlebih lagi, lumpuh sama sekali. Tidak akan kita jumpai anak-anak belajar malam atau mengerjakan PR-nya. Tidak akan kita dengar suara anak-anak mengeja karena belajar membaca.

Gelapnya kampung hampir secara psikologis mensugesti anak-anak untuk melihat masa depannya segelap situasi kampung. Belajar hanyalah peristiwa yang terjadi di sekolah, selain itu kegelapan menjadikan semua keinginan untuk belajar tertutup rapat. Kegelapan malam merenggut cita-cita anak-anak pedalaman. Meskipun idealnya, tantangan sebesar apapun tidaklah pernah layak untuk menghentikan langkah anak-anak untuk belajar dan menggapai cita-cita.

Saya melihat secara langsung betapa pesimisnya anak-anak di pedalaman ini untuk bersekolah tinggi. Saya melihat betapa tingginya angka pernikahan dibawah umur di kampung pedalaman ini. Saya melihat di mata orang tua mereka, bersekolah bagi anak-anak adalah  hanya agar supaya anak-anak mereka bisa membaca dan berhitung, sehingga bisa menjadi bekal di kehidupannya. Tapi saya juga melihat perubahan situasi psikologis itu ketika mereka telah menyaksikan kampungnya terang benderang ketika malam karena listrik yang bersumber dari PLTS Terpusat 30 Kwp yang merupakan bantuan dari Kementerian ESDM.

Saya hingga turut merasakan betapa rasa syukur mereka akan kehadiran pembangkit listrik di tengah kampung telah menjalar ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Anak-anak bisa belajar di rumah masing-masing. Aktivitas masyarakat tak perlu menunggu pagi ketika masih ada yang harus diselesaikan di waktu malam. Betapa energi listrik begitu menjadi kunci perputaran roda-roda kemajuan kehidupan masyarakat.

#15HariCeritaEnergi

Gambar; Dokumentasi Pribadi

Advertisements

2 Responses to “Lampu di Mata Bocah Pedalaman”

  1. kita yang tinggal di kota seharusnya bersukur, masih banyak teman kita di pedalaman sana yang hidup kegelapan di malam hari karena belum ada listrik

    • begitu semestinya saudaraku, sayang sekali mata kita begitu sempit melihat cahaya. baru kita diuji dengan kenaikan tarif listrik yang digunakan untuk mensubsidi pembangunan fasilitas listrik di desa-desa pedalaman, kita udah kayak yang paling mnederita karena listrik. trima kasih sudah berkomentar. 🙂

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: