SHS (Solar Home System) yang Berumur Pendek

Di pulau ini, pemandangan modul surya di atap rumah adalah pemandangan lazim. Karena Pulau Balikukup terkategori sebagai pulau kecil terluar, maka wajar saja pulau ini sudah beberapa kali menerima bantuan Solar Home System (SHS) atau pembangkit listrik standing alone. Pulau Balikukup sendiri adalah pulau kecil padat penduduk, dengan luas daratan pulau kurang lebih 15 ha yang kemudian dihuni oleh lebih dari seribu penduduk. Ada sekitar 334 unit bangunan yang berdiri di pulau ini, dan lebih dari separuhnya berada di jalur hijau atau di atas pantai. Pulau Balikukup berada cukup jauh dari daratan terdekat, sekitar 32 mil laut jauhnya dari daratan yang menjadi pusat kecamatan.

Tentu saja PLN tidak mampu menjangkau pulau ini dengan alasan apapun, termasuk hitungan kalkulasi ekonomis atau nilai komersial dari listrik yang akan dijual ke masyarakat pulau. Maka pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti energi matahari adalah jalan yang dinilai paling tepat untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia di pulau ini. Solar Home System atau SHS adalah jenis pembangkit listrik yang biasanya ditujukan ke kampung-kampung yang letak rumah atau bangunan terpaut jarak yang begitu jauh atau kampung-kampung yang dengan jumlah bangunan rumah tidak begitu banyak. SHS dipasang di masing-masing rumah atau standing alone dengan komponen yang umum adalah modul surya dengan kapasitas penyerapan energi di bawah 200 wattpeak, aki atau baterainya berkapasitas dibawa 100 Ah, dan kemudian dilengkapi dengan Solar Charge Controller (SCC) atau system kendali pengisian baterai dan juga tentunya adalah instalasi rumah berstandar nasional. Kemudian tentu saja arus listriknya masih menggunakan arus DC (direct current).

Di Pulau Balikukup, rumah yang terpasang SHS sudah berjumlah puluhan namun yang masih beroperasi normal hingga sekarang dapat dihitung jari. Salah satu rumah yang keseluruhan komponennya masih berfungsi dengan baik ada di rumah Ketua RT 02, Pak Wahyan. Pak Wahyan sendiri sangat menyayangkan bantuan dari pemerintah itu tidak mampu dirawat baik oleh warganya. Dalam satu kesempatan, Pak Wahyan menuturkan bahwa ada beberapa warganya yang justru menjual modul suryanya ketika sudah merasa SHS tersebut tidak mampu berfungsi optimal. Sungguh situasi seperti ini bukanlah menjadi kabar yang baik untuk si pemberi bantuan.

Akan tetapi mari kita telusuri beberapa gejala yang mungkin saja menjadi penyebab aksi jual menjual bantuan ini. Situasi pertama adalah terdapat pada persoalan data penerima bantuan. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi kampung-kampung pedalaman, bahwa sistem data base kampung sangatlah amburadul. Tidak adanya database yang menjadi pangkalan data bagi kampung dalam membuat dan menerapkan kebijakan menyebabkan setiap stakeholder atau aparatur kampung masing-masing memiliki data yang berbeda untuk persoalan yang sama. Situasi pertama ini adalah indikasi terjadinya nepotisme dalam pelaksanaan suatu kegiatan, projek atau bantuan.

Di Kampung Pulau Balikukup, situasi pertama ini tidak mampu kita menutup mata untuk menyaksikannya. Penerima-penerima bantuan SHS kebanyakan tidak lagi berdasarkan kondisi ekonomi rumah dalam hal memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari atau berdasarkan data sosial ekonomi, melainkan para penerima SHS adalah rumah-rumah yang memiliki kedekatan secara personal dengan aparat penentu penerima bantuan.

Situasi selanjutnya adalah tidak meratanya pengetahuan para penerima bantuan dalam hal perawatan dan cara mengoptimalkan fungsi SHS dengan baik. Rendahnya pemahaman terhadap sistem SHS menyebabkan kebanyakan SHS berumur pendek. Bahkan hanya dalam hitungan bulan saja, fungsi aki atau baterai sudah tidak baik lagi. Para penerima bantuan selalu bermental bahwa bantuan yang diberikan adalah bantuan yang tidak lagi perlu untuk dipelihara. Dan yang berhak mengetahui cara memelihara barang-barang bantuan adalah hanya dari para enjiner dari luar pulau yang biasanya dari Jakarta atau Bandung.

Kemudian situasi yang lain yang turut membuat SHS menjadi bantuan berumur pendek adalah mutu atau kualitas barang yang didatangkan. Dua komponen SHS yang paling rentan atau paling cepat rusak di tangan penerima adalah aki dan SCC-nya. Padahal di kedua komponen inilah justru menentukan umur pakai SHS. Rendahnya kualitas aki dan dipadu dengan mental merawat yang tidak baik, maka jadilah SHS menjadi sebuah prasasti di dalam rumah.

Ada juga kondisi yang menentukan optimal atau tidaknya SHS beroperasi adalah kondisi cuaca atau faktor alam. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sumber energi dari SHS adalah dari alam atau dari matahari. Bila alam tidak bersahabat maka tentu bisa saja mengakibatkan SHS tidak memberikan kepuasan bagi pemilik rumah. Seperti contoh di Pulau Balikukup, justru intensitas matahari begitu tinggi, sehingga bila komponen SCC yang bermasalah dan tidak bermutu baik, maka bisa dipastikan aki atau baterai juga akan cepat jebol.

Kesemua situasi tersebut dapat ditemui di Pulau Balikukup. SHS berumur pendek dan berujung dengan aksi jual menjual. Komponen yang semula bermasalah hanya SCC-nya mengkibatkan aki juga turut bermasalah. Namun tidak juga kita bisa menyudutkan satu pihak saja, semisal penerima SHS, sebab di tempat terluar seperti di Pulau Balikukup ini, ada banyak sekali keinginan yang terbatasi oleh lautan. Mungkin bisa saja, komponen yang rusak tersebut diperbaiki, namun karena akses ke pusat kota sangat tidak terjangkau, membuat rasa malas meningkat dan terjadilah kerusakan-kerusakan di komponen lain. Selanjutnya bila SHS sudah menjadi prasasti di dalam rumah, maka mungkin dirasa ada baiknya untuk menjual modul suryanya.

Beruntungnya di Pulau Balikukup, pada tahun 2017 ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bermurah hati membangun fasilitas  Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dengan kapasitas 100 Kwp, sehingga kabar tidak mengenakkan tentang SHS ini bisa teredam. Di lain postingan akan saya gunakan untuk menceritakan pengalaman saya mensosialisasikan sistem PLTS.

Ditulis di Pulau Balikukup, 19 Agustus 2017

#15HariCeritaEnergi

Gambar: dokumentasi pribadi

Advertisements

One Response to “SHS (Solar Home System) yang Berumur Pendek”

  1. […] have several drawbacks. One of the most noticeable problems that rural people encountered is the lack of knowledge to maintain the system. Since in every home there is one system, each household are expected to […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: