Cinta Pertama Perempuan Dayak Agabag

Bunyi gong bertalu-talu, lama sekali. Saya coba menerka-nerka, apa gerangan maksud gong dibunyikan di waktu sore. Di tengah masyarakat adat begini, pasti ada arti dari semua aktivitas yang tidak terjadi sehari-hari. Oh, rupanya sore ini ada tamu dari kampung lain yang hendak membicarakan pernikahan anak lelaki mereka dengan anak perempuan di kampung ini.

Saya bertanya ke salah satu warga, anak yang mana yang mau dinikahkan?

“itu anaknya si anu, yang pas di samping balai adat” jawab warga itu.

Saya menggali ingatan, anak perempuan yang dimaksud adalah anak yang masih sangat belia. Pernah saya lihat bermain volley di halaman sekolah. Usia anak itu saya pastikan belum cukup 15 tahun.

Pernikahan usia belia di kampung ini adalah sudah menjadi bagian dari tradisi. Tidak perlu ada orang yang menganggap pernikahan semacam ini menyalahi kaidah. Hanya orang luar dan dari kota yang selalu sinis melihat tradisi masyarakat adat di pelosok-pelosok. Orang kota selalu menganggap perlu memberi wejangan pelajaran biologis, memberi pertimbangan psikologis atau aturan-aturan pernikahan menurut negara. Padahal orang kota, tidak pernah belajar sejarah kehidupan masyarakat-masyarakat pedalaman, betul-betul tidak memahami kausalitas kejadian-kejadian.

Bagi masyarakat Kampung Sumentobol, kampung yang total penduduknya bersuku Dayak Agabag, cinta pertama tidak perlu ada. Setelah tanda biologis telah nampak pada seorang anak perempuan, maka itu artinya telah datang waktunya menyiapkan pasangan. Terkecuali untuk orang tua yang memiliki keinginan dan jaringan yang lebih untuk menyekolahkan anak perempuannya. Tetapi kebanyakan, dibanding menyekolahkan, menikahkan jauh lebih melegakan bagi orang tua. Terjadi untuk anak perempuan dan laki-laki.

Menyekolahkan anak perempuan sama halnya mempertaruhkan harga diri orang tuanya. Sekolah lanjutan yang bagus hanya ada di kecamatan yang jaraknya 6 jam perjalanan menggunakan perahu tempel melawan atau mengikuti arus sungai. Yang berarti anak perempuan mereka harus dititipkan di rumah kerabat atau lebih beresiko merelakan anak-anak mereka tinggal di rumah singgah milik kampung di jantung kecamatan. Sehingga, resiko bagi anak mereka untuk kandas atau terjangkit kehidupan dan pergaulan bebas sangat besar, yang bisa saja anak-anak mereka bukan pulang membawa ijazah, tapi datang berbadan dua. Juga begitu dengan anak lelaki mereka. Ancamannya sama. Cinta pertama yang tidak terarah bagi anak mereka akan sangat berbahaya.

Maka jalan terbaik bagi orang tua adalah menyiapkan sedari kecil anak perempuan atau anak lelaki mereka menjadi orang yang siap dewasa, dan tidak perlu merasakan cinta pertama. Anak perempuan belajar menjadi ibu dengan aktif menggantikan peran ibunya di ladang, perlahan membela kayu, menggendong berpuluh kilo singkong, membuat ilui (makanan tradisional dari singkong), juga tidak lupa harus belajar meracik isi tempayan (tempayan adalah guci yang berisi permentasi singkong yang bisa memabukkan.

Masyarakat Dayak Agabag di sepanjang sungai Lumbis, di Kabupaten Nunukan adalah masyarakat yang solid dan patuh pada aturan adat. Adat sangat menghendaki adanya tolong-menolong sesama warga. Apalagi pada urusan pernikahan. Menikahkan adalah tanggungan orang tua bahkan bisa jadi tanggungan orang sekampung. Karena pernikahan merupakan bagian dari adat, yang berarti pelaksanaan begitu kental nuansa gotong royongnya. Dalam satu acara pernikahan di kampung,nyaris seluruh aktivitas warga lumpuh total selama paling cepat tiga hari.

Orang Dayak Agabag yang hidup di hulu-hulu sungai ini tidak mengenal gengsi dalam persoalan pernikahan. Meskipun hal-hal semacam berian (semacam mahar dalam Islam) juga menjadi persyaratan dalam pernikahan. Namun, berian tidak lantas membuat suatu rencana pernikahan menjadi batal jika ada permohonan yang terlalu tinggi. Berian pun akan digotong-royong oelh seluruh warga. Jadi tidak ada yang terlalu menyusahkan dalam pernikahan orang Dayak Agabag. Kalau cinta bisa menjadi sederhana, kenapa dibuat rumit.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

Advertisements

2 Responses to “Cinta Pertama Perempuan Dayak Agabag”

  1. […] M Noor  https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/15/cinta-pertama-perempuan-dayak-agabag/ 2. Hasymi http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/kiran-dan-maran.html?m=1 3. Atrasina […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: