Ketidakrinduan yang Ditakutkan

Hari ini, untuk kedua kalinya saya luput untuk sahur. Padahal sejak malam saya sudah menyiapkan makanan yang siap disantap. Cumi-cumi hasil pancing saya sendiri di samping rumah, gagal saya nikmati. Pun dengan sayur bayam yang terlanjur dimasak dan tak mungkin dipanasi hari ini. Dan yang tak lebih menyedihkan adalah kealfaan saya menghadiri shalat subuh berjamaah di masjid satu-satunya di pulau ini. Absen shalat subuh tadi adalah menjadi ketiga selama ramadhan ini.

Di pulau ini, saya senang berkarib dengan para jamaah masjid yang kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Ketika saya melewatkan dua shalat fardu berjamaah secara berturut-turut, maka kehadiran saya pada shalat setelah itu akan menjadi waktu dimana saya mendapatkan pertanyaan, “kenapa nda datang shalat berjamah tadi, saya kira Bapak sakit atau kenapa-kenapa?”

Kehidupan sosial seperti ini adalah kebutuhan bathin bagi saya. Saat-saat dimana peran keluarga hadir walau hanya dalam bentuk pertanyaan. Selain itu, berkerabat dengan jamaah dan masjid bagi saya adalah suatu pola exist strategy yang selalu saya terapkan. Masjid bukan hanya tempat menunaikan ibadah ritual, tapi di masjid saya menjalin habluminannas dengan begitu cepat dan lekat.

Lihat kaligrafi kuning emas di gambar sampul postingan ini, itu adalah karya saya bersama takmir masjid di pulau ini. Bukan karya murni, karena polanya saya tiru dari seorang kaligrafer Malaysia. Dengan kaligrafi itu terpasang di mihrab masjid, bukan membuat saya menjadi bangga, tapi menjadikan saya malu untuk melalaikan satu waktu shalat di masjid ini.

Menjadi takmir masjid juga pernah saya jadikan sebagai judul tulisan ketika bertugas di Papua Barat. Sangat penting untuk tidak mengambil jarak dengan masjid. Ada seribu alasan melalaikan panggilan shalat berjamaah di masjid, yang hanya lima kali dalam sehari. Tapi tidak ada secuil kuasa kita untuk mengingkari kebesaran Tuhan pada tiap takbir yang dikumandangkan.

Memakmurkan masjid adalah tuntunan dan merupakan konsekuensi kita menganut Islam, pun kita belum menyadari kenapa kita beragama Islam, apakah hanya warisan atau telah menjadi pilihan jalan hidup yang telah melewati lorong panjang pemikiran kritis. Atau kita cukup menyadari agama adalah hidayah, dengan begitu kita telah memikul tanggungjawab sebagai ummat, dilakukan atau diabaikan.

Masjid dimana saja adalah tetap masjid, yang harus dimakmurkan. Tidak peduli, kecil atau besar, megah ataukah sederhana, ber-AC atau hanya angin jendela, berlantai marmer atau berpasir, imamnya merdu atau sayup-sayup, jamaahnya banyak atau merangkap. Sebagai muslim, ketika uzur shalat di masjid sudah lebih besar dibanding keinginan melangkah, disitulah awal mula kita menjadi muslim yang tidak taat.

Makanya, hal yang paling saya takutkan di dunia ini adalah hilangnya kerinduan saya pada masjid. Naudzubillah. Dimanapun, di usia kapanpun nantinya, ingatkan saya tentang ketakutan saya ini. Ketika telah tercabut rindu pada masjid maka sama artinya bahwa hati telah menjauh dari Tuhan. Telah nadir pula iman di dada. Mungkin juga telah tiada cinta lagi kepada Nabi dan Ilahi. Telah menjadi mahluk kufur pada nikmat.

Sehingga, untuk melawan ketakutan itu, saya justru menumbuhkan rindu yang tidak pernah saya utarakan sebelumnya, rindu serindu-rindunya pada masjid-masjid di tanah haram. Memupuk rindu pada masjid di tanah haram adalah usaha memupuk iman, usaha untuk menerabas uzur-uzur duniawi yang menghalau langkah kaki ke masjid-masjid terdekat. Wallahu alam bisshawab.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

.

Advertisements

3 Responses to “Ketidakrinduan yang Ditakutkan”

  1. annafillaah Says:

    Akhirnya saya sampai di tulisan ini. yeay!
    Semoga syafaat 7 golongan yang diselamatkan dari Annaar bisa kita dapat kak. Mungkin suatu hari sosok “kamu” bisa terus mengingatkan agar tak lalai ke masjid.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: