5 Buku Terbaik yang Memicu Saya Membeli Buku

​Beberapa hari yang lalu saya memposting puisi berjudul “Aku, Buku, dan Ibuku”. Kemudian ada yang mengomentari, kalau dia lebih menyukai puisi itu dibuat menjadi “Aku, Kamu, dan Ibuku”. Lalu komentar itu kubalas, kalau sebenarnya ada bait yang  saya hapus pada bagian akhir.

Aku bukan tak ingat menyebut kamu

Saat ini aku belajar melupakan

Kuingin, kamu tak ada dalam rinduku.

Kenapa kupilih buku dibanding kamu dalam lukisan rindu itu? Karena buku lebih bisa menciptakan banyak kamu, sedangkan kamu belum mampu kugubah menjadi buku. Pun buku nikah.

Sebagian penulis buku, terinspirasi dari tokoh-tokoh kamu dalam melahirkan masterpiece-nya. Sedangkan saya sebagai pembaca sedang merangkak mencipta sosok fiksi kamu yang paling layak masuk dalam tulisan. Bila buku tak lagi terbaca, berarti ada yang salah pada seorang penulis. Maka, sangat mungkin untuk diragukan kemurnian sebuah tulisan yang bagus dari seorang penulis yang tidak terlibat pada aktivitas baca yang lebih besar dari aktivitas menulisnya. Tengoklah keributan yang ditimbulkan seorang bocah SMA yang tulisan-copasnya menghentak dunia maya. Sekaligus dunia literasi Indonesia.

Akan berbeda ceritanya dengan kisah penulis panutan saya dalam memulai karyanya saat juga masih berseragam SMA, Fahd Djibran atau sekarang mengubah nama penanya menjadi Fahd Pahdepie. Lahir dari rahim literasi yang sangat kuat, ditambah dengan pertemuannya dengan editor Penerbit Mizan, Irfan Amalee di awal karyanya membuat publikasi karya-karyanya terhindar dari kontroversi apalagi plagiasi.

Sayangnya buku-buku Fahd Pahdepie sampai saat ini belum ada yang saya tuntaskan utuh satu buku. Beberapanya hanya selesai separuh, dan sebagian besarnya saya nikmati dalam tulisan-tulisan pendek di status FB, caption Instagram, karya-karya kreatif lainnya dan juga di Inspirasi.co sebuah platform yang dibuat sendiri oleh Fahd Pahdepie. Oke, tentang Fahd Pahdepie saya akhiri disini.

Kemudian, mari saya sebutkan 5 buku yang membekaskan kesan hingga pada kehidupan saya, juga pada kesibukan-kesibukan saya selanjutnya di ranah literasi. Lima buku ini juga membuat saya ketagihan membeli buku untuk melengkapi seri atau buku dari penulis yang sama. Buku pertama saya nominasikan kepada buku yang berjudul Titik Nol, buku catatan perjalanan yang berisi renungan yang sangat dalam. Ditulis oleh Agustinus Wibowo, orang Lumajang Jawa Timur keturunan Tionghoa yang melakukan petualangan ke berbagai negara tidak sebagai wisatawan. Agustinus menceritakan banyak hal yang sarat pelajaran. Buku ini menjadi saya nomor satukan karena selain narasi deskripsi yang kuat, juga disertai foto-foto berkelas yang berhasil dijepret oleh kamera Agustinus.

Buku ini berhasil menggetarkan hati saya dengan sebuah perjalanan yang begitu bermakna. Melintasi batas, penaklukan jarak dan jenuh, perenungan nasib buruk dan manis, dan kemudian mengakhirkan dengan sebuah frase “Titik Nol”, tempat berpulang dan pusat dari semua pencarian. Bahwa setiap manusia memiliki satu titik yang menyentuh kesadarannya untuk melakukan, bertindak, kemudian selesai.

Selain cerita tentang perjalanan, di buku ini, ada juga dimensi lain yang sangat mendasar bagi seorang manusia, yaitu konflik keluarga yang fundamental menjadi akhir-akhir cerita dengan kematian Ibunda Agustinus Wibowo yang diperebutkan oleh keluarganya. Tentang bagaimana jasad Ibunya melewati prosesi pengembalian ke pangkuan Tuhan, prosesi pulang ke Sang Pencipta. Baru kusaksikan konflik yang begitu ideologis tentang kematian.  Yang mana begitu menimbulkan tanda tanya yang sangat besar bagi seorang pencari jalan menuju pulang, menuju Titik Nol. Jalan mana yang paling benar menghadap Tuhan.

Akhirnya, buku Titik Nol yang merupakan salah satu dari Selimut Debu dan Garis Batas ini semakin menguatkan pembacanya untuk tidak berhenti melakukan perjalanan menuju Ilahi, menjadi seorang yang taat beragama untuk bisa menemukan jalan pulang yang paling hakiki. Titik Nol menjadi buku pemicu bagi saya untuk menuntaskan dua buku perjalanan lainnya dari Agustinus. Buku buku yang berisi renungan perjalanan ke negara-negara pecahan  Uni Soviet, negara-negara Asia Tengah berakhiran -tan. Uzbekistan, Tajikistan, Kirgizstan, Turkmenistan, Kazakhstan, hingga Afghanistan.

Buku kedua, saya arahkan ke novel biografi Rasululullah Shallallahu alaihi wasallam, novel berjudul Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan, ditulis dengan riset dan pertarungan kondisi spritualis oleh Tasaro GK. Novel ini adalah novel referensi tentang sejarah kelahiran, kehidupan dan hingga detik detik kematian Nabi pada seri berikutnya.

Novel Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan adalah buku 1 dari tetralogi Novel Muhammad. Novel ini memiliki dua tokoh utama di dalamnya. Yang pertama tentang Nabi Muhammad dan tokoh kedua ada tokoh fiksi yang bernama Kashva dengan latar sejarah kerajaan Persia saat-saat perebutan tahta oleh anak-anak Kisro. Untuk bagian Nabi, sebagian besar mengutip dari hadits yang diolah oleh penulis menjadi narasi atau dialog. Deskripsi-deskripsi yang diciptakan juga begitu tajam. Untuk buku 1 dan buku 2, novel ini tidak berhenti membuat rasa penasaran pembaca untuk menanti penyelesaian. Sedangkan untuk buku 3 dan buku 4 belum sempat saya baca meskipun telah saya beli secara pre-order di penerbitnya.

Satu lagi yang membuat Novel Muhammad begitu berkesan, keponakan saya yang lahir di saat-saat saya menyelesaikan bacaan dua novel ini, saya beri nama Astvat Ereta Al Metreyya. Nama tersebut adalah nama lain dari Nabi Muhammad, nabi yang dijanjikan dalam kitab kaum Zoroaster yang menjadi sorot dalam novel Muhammad. Nama itu tertera di bagian cover buku 1, Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan. Yang kemudian menjadi misi bagi Kashva untuk menjumpai nabi yang dijanjikan itu.

Buku ketiga saya nobatkan kepada buku pandangan beragama dari Quraish Shihab yang berjudul Membumikan Alquran. Buku ini begitu bersejarah bagi saya, saya dapatkan ketika melakukan silaturrahim ke rumah Om saya di Kolaka, Sulawesi Tenggara pada tahun 2008. Kemudian waktu itu saya pulang membawa dua buku, satunya lagi bukunya Nurcholish Madjid yang berjudul Islam Kemodernan dan Keindonesiaan.

Membumikan Al-quran adalah buku yang kemudian menjangkitkan saya semangat untuk membaca buku-buku Islam lainnya. Buku ini begitu menegaskan Alquran sebagi panduan hidup. Tapi tidak lupa membuat kita kritis untuk memahami Al-quran tidak hanya sebatas tekstual namun lebih pada aspek-aspek lain yang lebih kontekstual, semacam asbabun nuzulnya.

Dari buku ini saya terobsesi mengoleksi karya-karya lain dari Quraish Shihab yang secara penampakan dibuat seperti seri Membumikan Al-quran oleh Penerbit Mizan, saya berhasil membeli empat buku lainnya itu, Wawasan Al-quran, Lentera Al-quran, Mukjizat Al-quran, Secercah Cahaya Ilahi. Saya juga begitu ingin memiliki koleksi Tafsir Al Misbah. Amin.

Buku ke empat, saya nobatkan ke novel Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru karya fenomenal dari Pramoedya Ananta Toer. Novel sejarah cikal bakal kemerdekaan Bangsa Indonesia. Menampilkan wajah asli Indonesia pada jaman penjajahan. Bagi seorang pembaca buku, rasanya belum lengkap referensinya sebagai pembaca bila belum membaca buku-buku dari Pramoedya. Selain nama besarnya, karya-karya Pramoedya memang sangat banyak memuat pelajaran untuk mengenal bangsa dan belajar sastra. Saya sendiri tersihir dengan buku Bumi Manusia hingga latah untuk mengoleksi buku Pramoedya lainnya.

Saya punya 13 judul buku dari Pramoedya yang didapatkan dengan berbagai cara. Ada yang memalak, ada meminta sebagai oleh oleh, ada pula sebagai buku hadiah ulang tahun. Harus saya akui, buku-buku Pramoedya memang terbaik.

Buku terakhir yang masuk dalam kategori buku terbaik yang saya baca dan memicu saya untuk membeli buku adalah novel Amba, karya Laksmi Pamuntjak. Membaca novel ini entah mengapa sebegitu kuat menyeret kita ke dalam deskripsi. Buku bergenre pengungkapan kebenaran tragedi penangkapan dan pengasingan pada tahun 1965 ini sangat apik menampilkan tokoh-tokoh.

Novel sejarah selalu berhasil membawa kita menelusuri lorong masa lalu untuk menemukan cahaya, cahaya kebenaran. Novel Amba ini menjadi pemicu bagi saya untuk selanjutnya membaca buku-buku segenre lainnya, semisal novel Pulang-nya Leila S. Chudori, novel-novel Ahmad Tohari dan sebagainya.

Demikianlah 5 buku yang menjadi terbaik sebagai pemicu membaca buku dan atau membeli buku. Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan seorang teman blogger yang entah juga dikutipnya darimana, kurang lebih semakna dengan kalimat ini, bila kau merasakan kesulitan untuk menulis, maka kau harus memeriksa bacaanmu.

Gambar; dokumentasi pribadi

#15HariMenulis

Advertisements

16 Responses to “5 Buku Terbaik yang Memicu Saya Membeli Buku”

  1. Kafasya Says:

    Ketika kata “kamu” berusaha begitu keras untuk dilupakan, disitu saya merasa bahwa tulisan itu tidak ingin dilupakan dan ketika kata “kamu” berusaha begitu keras untuk tidak menjadi rindu disitu saya merasa bahwa kata “kamu” menjadi sosok yang benar-benar dirindukan.

  2. Tia Anggraini Says:

    Salah satu buku yg the best itu adalah buku ke dua dari bawah, yang belum dibahas pada tulisan di atas.
    Salah satu kutipan yang saya suka :

    Jutaan waktu yang lalu
    ketika bumi hati terbakar simfoni
    pohon asmara mewarna subur
    hijau jiwa tumbuh menumbuh
    ada ranting kaku menahan daun

    cerita berganti derita
    asmara murka memerah wajah
    kekasih mata hilang sekejap dan dunia menunduk malu
    bukan kisah menahan rasa
    atau berbalik jadi penyesal
    hari ini dan masa lalu selalu ingin dibincang
    walau patah ranting di ujung lara…

    termasuk tulisan pada cover buku itu…
    Semoga penulis penulis di buku itu merelease buku buku selanjutnya.

  3. Sependek pengamatanku dibeberapa tulisanta toh kak, entah kenapa saya merasa cara berdiksita mirip sama Tasaro Gk, saya berpendapat seperti itu sebelum saya baca tulisan ini, eh ternyata, Tasaro Gk adalah salah satu pengarang yang bukunya “berpengaruh” bagi kita.

    • Iyyakah, alhamdulillah. Tasaro itu ada lagi satu buku kerennya selain Tetralogi Muhammad, judulnya Kinanthi Terlahir Kembali, sayangnga saya nda tuntas membacanya.

      Tasaro itu gimana yah, keren dia, hadits hadits dijadikan narasi, huuu, baru pandai sekali bikin penasaran. Fansnya Muhammad 2, layak dapat gelar fans penanti sejati, deuh berapa tahun itu ditunggui keluar Muhammad 3, baru bikin kaget, ternyata ada Muhammad 4. Grrrr. Gimana enddakk.

      • Iya kak, keren memang, bernalar orang baca tulisannya. Kayak tulisanta kak, diksinya bikin orang tarik nafas, saya kadang dak nyangka, bisa-bisanya kita pakai diksi yang orang lain mungkin dak kepikiran, hanya orang-orang beriman yang bisa cepat paham, kental skali diksi sastrata kak. Saya saja ta’hamburka analisiski.

      • Aduh kenapa sampe begitu yak. Nda usahlah dianalisis Bu Dosen, malu saya. Di kepala saya ada mental; jangan pakai diksi biasa, jangan ulang-ulang satu kata dalam satu tulisan, hindari kutipan lansung. Makanya saya sangat sulit bikin tulisan yang isinya dialog, padahal pengen banget nulis-nulis cerpen. Huuuhh

      • Dakji kak, saya senangji analisis tulisannya orang, jadi wadah belajar untuk saya (analisis wacana), dengan begitu saya bisa belajar ragam tuturan dan gaya menulis. Hehe….

      • Wiissss asik asik. Senang sekali rasanya saya, ada yang baca tulisan saya. Makasi Uni

      • Oh iya kak. Naskah coretan sudah saya edit dan sudah ada sama Fadli sejak dua Ramadhan.

      • waah alhmadulillah, mujahid deng saya sulama nda kontakan, begini sudah…

      • Behe. Ka sama-sama sibukki toh kak. Itu lagi file yang saya kirimkanki belumpi kayaknya na lihat-lihat, hehe….

      • Hahahah, begitulah kira-kira. Ketika projek buku tinggal projek. Insya Allah kita sama sama berjuang terbitkan. Yah yah yah?

      • Hehe. Iya kak, ammin.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: