Pulau-Pulau Sebelah yang Belum Saya Datangi


Ada banyak kesyukuran ditempatkan di pulau terluar. Pada awalnya saya sudah bersiap mengalami nasib serupa di dua penempatan sebelumnya, di Nunukan dan di Kaimana Papua Barat. Berhadapan dengan dunia gelap dan blank spot. Namun, disini di Pulau Balikukup, saya menikmati banyak hal sebagai seorang stranger. Tidak begitu merasakan keterasingan dan sebagai kaum minoritas. Ada fasilitas dan kenyamanan meskipun dalam keterbatasan.

Pulau Balikukup itu pulau kecil, yang luasnya tidak lebih dari 15 ha, atau 15 lapangan sepak bola yang dijejer. Sedangkan populasinya cukup padat, penduduknya lebih seribu jiwa dengan total kepala keluarga kurang dari 300 orang. Ada lebih 300 bangunan yang sebagian besar berada di jalur hijau atau di atas laut. Pulau ini menjadi begitu ramai karena dikaruniai rahmat dengan adanya sumber air tawar di sepanjang pulau yang bentuknya menyerupai teripang ini.

Pulau Balikukup sebenarnya berada dalam gugusan Kepulauan Derawan. Namun tidak pernah disebut karena potensi pariwisata di pulau ini tidak dimaksimalkan. Gugus Kepulauan Derawan itu termasuk Pulau Derawan sendiri, Pulau Maratua, Pulau Kakaban, Pulau Sangalaki, dan pulau-pulau di Kecamatan Biduk-Biduk. Kategori ini saya dapatkan di salah satu referensi objek wisata di Kabupaten Berau.

Posisi Pulau Balikukup itu berada di selatan Kecamatan Maratua, dan di utara Kecamatan Biduk-Biduk, tentunya di antarai oleh lautan. Di sekitaran Pulau Balikukup sendiri, ada beberapa pulau kecil tidak berpenghuni yang masing-masing punya keunikan. Misalnya di sisi barat ada Pulau Manimbora, pulau yang lebih kecil dari Pulau Balikukup. 

Pulau Manimbora mengantarai Balikukup dengan daratan Pulau Kalimantan. Pulau ini tidak berpenghuni. Di Pulau Manimbora, ada pemakaman leluhur Suku Bajau, yang kini dihantam abrasi. Pemandangan di Pulau Manimbora jauh lebih menarik dibanding di Pulau Balikukup, kata warga. Sebab saya belum sempat ke Pulau Manimbora, padahal setiap kali ke darat atau dari darat ke Balikukup pasti melintasi dan melihat penampakan Pulau Manimbora. Dan hanya bisa melihat siluet pohon kelapa. 

Sedangkan di sisi timur Pulau Balikukup ada dua pulau berdekatan, namanya Pulau Mataha dan Pulau Bilang-Bilangan. Dua pulau ini juga tidak berpenghuni karena disana tidak ada sumber air tawar. Dua pulau ini merupakan habitat alami penyu untuk bertelur, sehingga pulau ini juga terkenal dengan sebutan Pulau Telur. Saat ini Pulau Telur dalam konservasi oleh Yayasan Penyu Berau atau YPB. Secara administratif, Pulau Telur masuk dalam wilayah Kampung Pulau Balikukup. Pulau Telur akan kita lintasi ketika melakukan pelayaran ke arah Pulau Sulawesi, semisal ke Toli-Toli atau ke Palu. Sama dengan Pulau Manimbora, saya juga belum berkesempatan menginjakkan kaki di Pulau Telur.

Untuk sisi selatan Pulau Balikukup, ada beberapa pulau yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Biduk-Biduk, dan yang terkenal adalah Pulau Kaniungan Kampung Teluk Sumbang. Pulau ini berpenghuni dan diproyeksi menjadi objek wisata andalan yang akan menjadi paket wisata bersama dengan Labuan Cermin, karena letaknya tidak begitu jauh dari daratan. Nah kalau untuk Pulau Kaniungan pada bulan mei lalu saya berkesempatan berkunjung kesana.

Mari kita berbicara tentang kawasan utara Pulau Balikukup. Disana ada Kepulauan Maratua yang jaraknya cukup jauh dari Balikukup. Di Maratua, ada beberapa pulau populer lainnya yang sudah saya sebut di awal, yakni Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Sedikit informasi tentang nama Pulau Maratua, Derawan, Kakaban dan Sangalaki. Kepala Dinas Pariwisata Berau pernah bercerita tentang asal muasal nama pulau-pulau tersebut. Bahwa nama Maratua diambil dari kata “mertua”, Derawan dari kata anak “perawan”, Kakaban dari kata “kakak” dan Sangalaki berasal dari kata anak “laki-laki”. Entah kebenarannya seperti apa tentang sejarah nama-nama pulau ini.

Ke Pulau Maratua adalah salah satu agenda yang belum sempat saya taklukkan. Sebab bila sudah berada di Maratua, hanya takdir buruk yang tidak membolehkan kita ke Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Pada awal ramadhan lalu, sebenarnya saya sudah diajak oleh salah satu warga Balikukup untuk menumpang di perahunya ke Maratua, sayangnya masih banyak tugas yang lebih harus didahulukan.

Demikianlah pembicaraan tentang pulau-pulau. Sebagai anak pulau, mengunjungi pulau-pulau di atas adalah suatu penaklukkan.

#15HariMenulis

Advertisements

7 Responses to “Pulau-Pulau Sebelah yang Belum Saya Datangi”

  1. baru tahu saya kalau Maratua itu satu gugusan kepulauan dengan Derawan. selama ini saya kira Derawan dan Maratua itu beda lokasi hahaha

    Sudah pernah ke Nunukan, tapi ndak sempat ke Derawan karena hari terakhir baru sadar kalau Nunukan ke Derawan sudah dekat. Makllum, saya kalau kerja serius, ndak berpikir jalan-jalan #tsah #ngeles

    • Iyye Daeng, saya juga belum lama ini tau kalau Maratua dimasukkan ke dalam gugus kepulauan Derawan. Saya bingung, kok bisa pulau kecil (Derawan) menjadi nama gugus sementara Maratua yang punya banyak pulau-pulau kecil menjadi bagian dari Derawan.

      Lain kali Daeng kalo ke Kaltim atau Kaltara lagi, jangki terlalu serius, banyak spot keren terutama di Kabupaten Berau #bukanpromosi

  2. ahh iyaaa. aku juga punya penyesalan kenapa gak ke Labuan Bajo padahal bertugas di Maumere. hiks. hiks

    • Ada yang lebih ngenes sebenarnya kalo mau bicara masa lalu. Saya tugas di Papua Barat tapi nda sempat ke Raja Ampat, nda sempat ke Banda, nda sempat ke Tual. Huuu. Kalo ingat itu, huuu, kayak mau hapus kenangan kalo pernah tugas di Papua Barat.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: