Keseruan di Pulau Balikukup (2)

Keseruan di Pulau Balikukup pada tulisan sebelumnya yang berakhir dengan adegan kejar kejaran penyu ternyata tidak berujung disitu. Pada malam harinya, saya yang bertugas mengeksekusi balelo. Setelah shalat isya, saya kedatangan empat kawan yang pada siang itu yang terlibat di keseruan bermain hewan laut.

Balelo yang didapat tidak mampu dihabiskan oleh lima orang, meskipun sudah menggunakan pasangan sejati untuk menikmati balelo, apa yang bisa mengalahkan kedahsyatan cabe rawit yang diberi jeruk nipis untuk menemani balelo yang dimasak dengan air laut? Makan balelo ternyata tidak kalah serunya dengan cara mendapatnya di siang itu. Balelo itu unik cara masak dan cara makannya. Balelo harus dimasak dengan air laut, dan tidak usah dibersihkan, sebab akan langsung dimasak bersama dengan cangkangnya yang masih berlumut.

Sebab, orang sini bilang, jika balelo dimasak tidak dengan air laut, maka isi balelo akan sulit dikeluarkan, dan yang pasti mengurangi cita rasa hewan laut ini.

Ah, cerita balelo cukup sampai disini saja. Kita beralih ke keseruan keseruan selanjutnya. Di Balikukup, pada radius 500 meter kita bisa mendapatkan banyak hal-hal menarik. Masih ada terumbu karang, balelo, kima, bulu babi, ikan, udang pasir, dan tak kalah menakjubkannya adalah ratusan penyu yang bermain main di sekitaran pulau.

Maka, dua hari setelah keseruan pertama, tepatnya pada hari ahad, kami berlima kembali menjajal beberapa spot yang katanya terumbu karangnya masih bagus dan masih banyak ikan. Itu juga letaknya ternyata cuma sekitar 200 meter dari rumah saya. Dua orang dari kami turun dari perahu, saya dan seorang kawan melakukan snorkeling dan karena telinga saya masih terasa sakit, maka saya cukup jadi tukang foto saja. Sedangkan tiga kawan lainnya memancing dari atas perahu.

Saat snorkeling, ternyata kawan melihat beberapa biji kima. Terus terang ini kali pertama saya melihat kima yang langsung diambil dari dasar laut. Tentu ini termasuk pengalaman berharga lebih dari sekedar keseruan biasa. Hari itu, kami berhasil membawa pulang sembilan kima dari berbagai jenis, sebaskom balelo, empat ekor ikan hasil pancing, dan tidak lagi mengejar penyu.

Baru saya tahu juga, kima itu ternyata sejenis kerang yang menghasilkan mutiara. Itu saya buktikan saat membuka kima. Waw, ada beberapa biji mutiara yang sayangnya belum sempurna bentuknya. Mungkin atas alasan itulah, beberapa jenis kima kini dilarang oleh pemerintah untuk dieksploitasi. Kima memang enak, rasanya seperti isian capit kepiting atau daging udang lobster, yang menjadi beda adalah pada serat dagingnya yang lebih kasar dan potensi bikin sakit gigi.

Sedangkan daging ikan kerapu sungguh lembut dan balelo saya modifikasi menjadi bahan peramai nasi goreng. Malam itu pesta atas keseruan-keseruan di Balikukup kembali digelar. Saya selalu berhenti ketika gigi saya memberi alarm untuk juga berhenti mengunyah. Sampai berjumpa lagi di keseruan keseruan lainnya.

Gambar; dokumentasi pribadi

Pulau Balikukup, 29 Mei 2017

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: