Keseruan di Pulau Balikukup (1)

Sebelum saya teralihkan. Saya harus menuliskan kejadian kemarin, mungkin akan jadi salah satu cerita yang sulit terlupakan. Sehabis jumat, saya diajak oleh pemuda kampung untuk mencari balelo “siput laut” di sekitar pulau. Meskipun hanya di sekitaran pulau, kami tetap menggunakan perahu bermesin.

Saya suka bermain di laut, sebab walaupun udara begitu panas menyengat di atas pulau, maka hawa akan berbeda ketika kita bermain di air laut. Mencari balelo tidak begitu sulit, biasanya dicari di tempat dangkal yang berpasir atau di atas padang lamun, bukan di tempat berkarang. Ketinggian air yang efektif untuk mencari balelo adalah air setinggi perut orang dewasa tau lebih dangkal lagi.

Tapi menemukan tempat balelo tidak juga sembarang tempat, ada area khusus dimana balelo disitu banyak berkumpul. Kemarin, kami tidak beruntung menemukan tempat yang banyak balelo. Di tempat pertama hanya ada beberapa biji saja. Maka keputusan beralih untuk mencari spot snorkeling, bergeser sedikit menjauhi daratan, pemandangan karang mulai menarik. Nampak dari atas perahu beberapa spot masih terlihat karang yang kondisi bagus, namun adapula beberapa titik yang kondisi karangnya memprihatinkan, entah karena efek destructive fishing atau karena bleaching alami.

Karena telinga saya masih ada rasa sakit akibat infeksi ketika menoba menyelam di Labuan Cermin, saya memutuskan untuk tinggal di atas perahu saja, menjadi penonton teman-teman yang sudah asyik masyuk bermain air. Tetapi karena saya tidak tahan dengan godaan pemandangan air laut, akhirnya saya turun juga dan menjadi juru foto teman-teman di bawah air. Lama-lama saya ikut menyelam juga tapi tidak berlangsung lama, sebab kembali naik ke perahu karena sakit di telinga saya kambuh.

Pengalaman snorkeling pertama di sekitaran pulau disudahi hari itu. Perahu kami kembali bergeser mencari tempat yang diperkirakan banyak balelo-nya. Belum jauh bergeser dari tempat snorkeling, mesin perahu mati, ternyata bensinnya habis. Perahu pun berlabuh, jangkar dilego, pencarian balelo dilanjutkan di tempat dimana perahu kehabisan bensin. Daratan pulau masih nampak dekat. Air laut juga semakin surut. Di tempat lego jangkar itu, air hanya setinggi paha. Kondisi yang baik untuk mencari belelo. Akhirnya terkumpul juga balelo yang dianggap cukup untuk dibawa pulang. Hari ini cukup jadi pelajaran saja. Foto bawah laut sudah ada. Balelo juga sudah cukup untuk berlima. Maka perjalanan kembali ke daratan pulau harus dengan mendayung yang harus melawan arus air yang surut.

Cerita belum selesai sampai disitu. Ada yang belum saya sebutkan dari awal. Bahwa di sekitaran Pulau Balikukup adalah juga tempat bermainnya penyu. Bukan Penyu Hijau atau orang pulau menyebutnya Penyu Sisik. Salah satu jenis penyu yang populasinya semakin langkah, sehingga termasuk hewan konservasi yang diawasi ketat.

Ketika mendayung pulang, di mana air semakin dangkal-setinggi lutut, ternyata masih ada beberapa ekor penyu yang terlihat menjauh dari perahu kami. Semakin dangkal, semakin nampak jelas penyu yang ada di sekitaran perahu. Salah satu dari kami berinisiatif menangkap penyu. Dan mulailah perburuan penyu di air dangkal. Tiga orang turun dari perahu dan mengepung pergerakan penyu. Di air dangkal, penyu tidak bisa maksimal berenang, sehingga dengan mudah dapat ditangkap. Satu ekor penyu berhasil ditangkap, kemudian salah satu dari kami juga berhasil mengejar dan menangkap penyu lagi. Saya juga tidak mau ketinggalan untuk merasakan sensasi mengejar penyu. Tapi saya menyisakan satu kekhawatiran untuk turun dari perahu, saya takut tertusuk ikan pari yang juga banyak berkeliaran di air dangkal. Akhirnya saya melihat penyu dan mengejar, cukup lelah ternyata karena harus berlari di atas air setinggi betis, sudah tentu butuh energi yang lebih. Usaha saya tidak sia-sia, dengan beberapa kali jeda karena lelah, saya berhasil melompati penyu dan menangkapnya. Akhirnya kami berhasil menangkap empat ekor penyu, tiga diantaranya terlihat sudah cukup tua dengan ukuran lebar cangkang sekitar 80 cm, sedangkan satunya masih kecil dari ukuran cangkangnya yang mungkin hanya sekitar 40 cm. Setelah puas mengamati penyu dari dekat, kami melepas kembali penyu-penyu tersebut.

Saya kepikiran dan merasa heran bagaimana orang begitu tega membunuh dan memakan penyu sedangkan penampakannya saja sudah menggugah empati dan rasa kasihan. Sebenarnya kejadian berkejaran dan menangkap penyu ini bukanlah cerita yang layak untuk disebarkan, tetapi saya menganggap tulisan ini adalah salah satu bagian dari bagaimana saya menikmati kehidupan pulau. Sama sekali tidak terbesit untuk melukai dan mengganggu keberlangsungan hidup penyu.

Gambar; dokumentasi pribadi

Pulau Balikukup, 20 Mei 2017

Advertisements

2 Responses to “Keseruan di Pulau Balikukup (1)”

  1. Aliimran Says:

    Penasaran pengen kesitu cari siput laut (balelo)

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: