Archive for May, 2017

Keseruan di Pulau Balikukup (2)

Posted in balikukup, features, Patriot Negeri, Petualangan with tags , , , , on May 29, 2017 by mr.f

Keseruan di Pulau Balikukup pada tulisan sebelumnya yang berakhir dengan adegan kejar kejaran penyu ternyata tidak berujung disitu. Pada malam harinya, saya yang bertugas mengeksekusi balelo. Setelah shalat isya, saya kedatangan empat kawan yang pada siang itu yang terlibat di keseruan bermain hewan laut.

Balelo yang didapat tidak mampu dihabiskan oleh lima orang, meskipun sudah menggunakan pasangan sejati untuk menikmati balelo, apa yang bisa mengalahkan kedahsyatan cabe rawit yang diberi jeruk nipis untuk menemani balelo yang dimasak dengan air laut? Makan balelo ternyata tidak kalah serunya dengan cara mendapatnya di siang itu. Balelo itu unik cara masak dan cara makannya. Balelo harus dimasak dengan air laut, dan tidak usah dibersihkan, sebab akan langsung dimasak bersama dengan cangkangnya yang masih berlumut.

Sebab, orang sini bilang, jika balelo dimasak tidak dengan air laut, maka isi balelo akan sulit dikeluarkan, dan yang pasti mengurangi cita rasa hewan laut ini.

Ah, cerita balelo cukup sampai disini saja. Kita beralih ke keseruan keseruan selanjutnya. Di Balikukup, pada radius 500 meter kita bisa mendapatkan banyak hal-hal menarik. Masih ada terumbu karang, balelo, kima, bulu babi, ikan, udang pasir, dan tak kalah menakjubkannya adalah ratusan penyu yang bermain main di sekitaran pulau.

Maka, dua hari setelah keseruan pertama, tepatnya pada hari ahad, kami berlima kembali menjajal beberapa spot yang katanya terumbu karangnya masih bagus dan masih banyak ikan. Itu juga letaknya ternyata cuma sekitar 200 meter dari rumah saya. Dua orang dari kami turun dari perahu, saya dan seorang kawan melakukan snorkeling dan karena telinga saya masih terasa sakit, maka saya cukup jadi tukang foto saja. Sedangkan tiga kawan lainnya memancing dari atas perahu.

Saat snorkeling, ternyata kawan melihat beberapa biji kima. Terus terang ini kali pertama saya melihat kima yang langsung diambil dari dasar laut. Tentu ini termasuk pengalaman berharga lebih dari sekedar keseruan biasa. Hari itu, kami berhasil membawa pulang sembilan kima dari berbagai jenis, sebaskom balelo, empat ekor ikan hasil pancing, dan tidak lagi mengejar penyu.

Baru saya tahu juga, kima itu ternyata sejenis kerang yang menghasilkan mutiara. Itu saya buktikan saat membuka kima. Waw, ada beberapa biji mutiara yang sayangnya belum sempurna bentuknya. Mungkin atas alasan itulah, beberapa jenis kima kini dilarang oleh pemerintah untuk dieksploitasi. Kima memang enak, rasanya seperti isian capit kepiting atau daging udang lobster, yang menjadi beda adalah pada serat dagingnya yang lebih kasar dan potensi bikin sakit gigi.

Sedangkan daging ikan kerapu sungguh lembut dan balelo saya modifikasi menjadi bahan peramai nasi goreng. Malam itu pesta atas keseruan-keseruan di Balikukup kembali digelar. Saya selalu berhenti ketika gigi saya memberi alarm untuk juga berhenti mengunyah. Sampai berjumpa lagi di keseruan keseruan lainnya.

Gambar; dokumentasi pribadi

Pulau Balikukup, 29 Mei 2017

Advertisements

Keseruan di Pulau Balikukup (1)

Posted in balikukup, Blogger Kampus, features, Patriot Negeri, Petualangan with tags , , , , on May 21, 2017 by mr.f

Sebelum saya teralihkan. Saya harus menuliskan kejadian kemarin, mungkin akan jadi salah satu cerita yang sulit terlupakan. Sehabis jumat, saya diajak oleh pemuda kampung untuk mencari balelo “siput laut” di sekitar pulau. Meskipun hanya di sekitaran pulau, kami tetap menggunakan perahu bermesin.

Saya suka bermain di laut, sebab walaupun udara begitu panas menyengat di atas pulau, maka hawa akan berbeda ketika kita bermain di air laut. Mencari balelo tidak begitu sulit, biasanya dicari di tempat dangkal yang berpasir atau di atas padang lamun, bukan di tempat berkarang. Ketinggian air yang efektif untuk mencari balelo adalah air setinggi perut orang dewasa tau lebih dangkal lagi.

Tapi menemukan tempat balelo tidak juga sembarang tempat, ada area khusus dimana balelo disitu banyak berkumpul. Kemarin, kami tidak beruntung menemukan tempat yang banyak balelo. Di tempat pertama hanya ada beberapa biji saja. Maka keputusan beralih untuk mencari spot snorkeling, bergeser sedikit menjauhi daratan, pemandangan karang mulai menarik. Nampak dari atas perahu beberapa spot masih terlihat karang yang kondisi bagus, namun adapula beberapa titik yang kondisi karangnya memprihatinkan, entah karena efek destructive fishing atau karena bleaching alami.

Karena telinga saya masih ada rasa sakit akibat infeksi ketika menoba menyelam di Labuan Cermin, saya memutuskan untuk tinggal di atas perahu saja, menjadi penonton teman-teman yang sudah asyik masyuk bermain air. Tetapi karena saya tidak tahan dengan godaan pemandangan air laut, akhirnya saya turun juga dan menjadi juru foto teman-teman di bawah air. Lama-lama saya ikut menyelam juga tapi tidak berlangsung lama, sebab kembali naik ke perahu karena sakit di telinga saya kambuh.

Pengalaman snorkeling pertama di sekitaran pulau disudahi hari itu. Perahu kami kembali bergeser mencari tempat yang diperkirakan banyak balelo-nya. Belum jauh bergeser dari tempat snorkeling, mesin perahu mati, ternyata bensinnya habis. Perahu pun berlabuh, jangkar dilego, pencarian balelo dilanjutkan di tempat dimana perahu kehabisan bensin. Daratan pulau masih nampak dekat. Air laut juga semakin surut. Di tempat lego jangkar itu, air hanya setinggi paha. Kondisi yang baik untuk mencari belelo. Akhirnya terkumpul juga balelo yang dianggap cukup untuk dibawa pulang. Hari ini cukup jadi pelajaran saja. Foto bawah laut sudah ada. Balelo juga sudah cukup untuk berlima. Maka perjalanan kembali ke daratan pulau harus dengan mendayung yang harus melawan arus air yang surut.

Cerita belum selesai sampai disitu. Ada yang belum saya sebutkan dari awal. Bahwa di sekitaran Pulau Balikukup adalah juga tempat bermainnya penyu. Bukan Penyu Hijau atau orang pulau menyebutnya Penyu Sisik. Salah satu jenis penyu yang populasinya semakin langkah, sehingga termasuk hewan konservasi yang diawasi ketat.

Ketika mendayung pulang, di mana air semakin dangkal-setinggi lutut, ternyata masih ada beberapa ekor penyu yang terlihat menjauh dari perahu kami. Semakin dangkal, semakin nampak jelas penyu yang ada di sekitaran perahu. Salah satu dari kami berinisiatif menangkap penyu. Dan mulailah perburuan penyu di air dangkal. Tiga orang turun dari perahu dan mengepung pergerakan penyu. Di air dangkal, penyu tidak bisa maksimal berenang, sehingga dengan mudah dapat ditangkap. Satu ekor penyu berhasil ditangkap, kemudian salah satu dari kami juga berhasil mengejar dan menangkap penyu lagi. Saya juga tidak mau ketinggalan untuk merasakan sensasi mengejar penyu. Tapi saya menyisakan satu kekhawatiran untuk turun dari perahu, saya takut tertusuk ikan pari yang juga banyak berkeliaran di air dangkal. Akhirnya saya melihat penyu dan mengejar, cukup lelah ternyata karena harus berlari di atas air setinggi betis, sudah tentu butuh energi yang lebih. Usaha saya tidak sia-sia, dengan beberapa kali jeda karena lelah, saya berhasil melompati penyu dan menangkapnya. Akhirnya kami berhasil menangkap empat ekor penyu, tiga diantaranya terlihat sudah cukup tua dengan ukuran lebar cangkang sekitar 80 cm, sedangkan satunya masih kecil dari ukuran cangkangnya yang mungkin hanya sekitar 40 cm. Setelah puas mengamati penyu dari dekat, kami melepas kembali penyu-penyu tersebut.

Saya kepikiran dan merasa heran bagaimana orang begitu tega membunuh dan memakan penyu sedangkan penampakannya saja sudah menggugah empati dan rasa kasihan. Sebenarnya kejadian berkejaran dan menangkap penyu ini bukanlah cerita yang layak untuk disebarkan, tetapi saya menganggap tulisan ini adalah salah satu bagian dari bagaimana saya menikmati kehidupan pulau. Sama sekali tidak terbesit untuk melukai dan mengganggu keberlangsungan hidup penyu.

Gambar; dokumentasi pribadi

Pulau Balikukup, 20 Mei 2017