Malam dan Irama Pulau

Kulihat bintang memantul di muka air.
Lampu perahu di entah dimana juga membaur di warna malam yang ditinggalkan purnama.
Suara-suara musim yang hendak berganti pun telah bernyanyi.
Laut teduh dan nelayan beraksi menemukan rezekinya.
Di ujung dermaga, para remaja belajar mengenal perasaan.
Di atas pulau, lain pula jenis hiburannya.
Banyak fragmen terurai di sini.

Di antara kegelapan dan kecemburuan sosial.
Bintanglah yang paling setia.
Air dan kotoran yang menyatu mengisi semesta.
Kepuasan ada pada saat insting praktis itu diselesaikan.
Tidak ada kecerobohan yang paling fatal selain mengabaikan masa depan.
Dunia yang singkat juga keinginan yang silih berganti.

Orang pulau yang gerah. Sebab dingin dibawa angin.
Malam yang cemerlang. Hati yang dipenuhi ilusi kebahagiaan.
Keterbatasan dalam bingkai lautan.
Antara hal-hal yang tidak ada dan suara-suara yang di seberang sana.
Tuhan memberi banyak, juga tak selalu dianggap ada.
Maka disitulah kepuasan selalu berjarak dengan isi kepala.

Puisi malam dilambaikan pendar gemintang.
Nada tanpa irama bergaung di ruang kenyataan.
Harapan yang terpisah dari kehidupan.
Orang-orang menyangka, bahagia tidak disini.
Jauh dari lautan, itulah tempatnya bersemayamnya surga dunia.

Tapi aku tak ragu, selalu ada doa dari banyak keyakinan.
Dan di hatilah kenikmatan hidup bisa dirasa.

 

Malam di Pulau Balikukup, 16 April 2017

 

gambar; twitter @luthfihahaha

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: