Jangan Mendaki Sendiri!

Pernah saya singgung di postingan sebelumnya tentang pentingnya tertaut dengan komunitas positif. Komunitas yang bisa berfungsi sebagai alarm terhadap pegiatnya. Setiap manusia tentu punya komunitas, semandiri apapun manusia itu mampu memenuhi kebutuhan hidup dan harapannya.

Menjadi pemimpi ulung, lalu berubah pejuang mimpi, lalu penakluk mimpi, kemudian suatu saat mendapat gelar sebagai orang sukses atau orang yang menduduki posisi puncak dari mimpi-mimpinya. Meskipun dalam kamus keserakahan manusia, tidak mungkin ada orang yang mampu menaklukkan semua mimpinya. Selagi nafas dikandung badan, keinginan demi keinginan terus ada di pelupuk mata.

Namun tidak sedikit juga orang-orang bekerja keras meraih impian dan cita-citanya dengan menempuh segala usaha dan cara-cara yang mungkin tidak fair atau culas. Semua daya dikerahkan untuk mengubah harapan menjadi kenyataan. Banyak yang berjuang sendiri atau bahasa klisenya adalah mandiri, melepas diri dari ikatan-ikatan atau perkumpulan-perkumpulan. Atau kalau menjalin hubungan sosial, maka hanya akan menjadi seutas tali memuluskan jalan mencapai keinginan. Semua interaksi sosial berubah menjadi begitu pragmatis.

Maka menurut saya, ketika seseorang telah menempuh jalan mandiri dan tidak terlihat dan terlibat di komunitas sosial positif atau perkumpulan orang-orang terdekatnya, maka disitulah cikal bakal mental koruptor mewarisi kerja otak dan langkah-langkahnya menjadi orang sukses. Orang sukses yang koruptor, atau orang sukses dengan cara koruptor.

Saya ingat nasehat mantan Menteri ESDM Pak Sudirman Said, di pelepasan program Patriot Negeri Berau. Beliau mewanti wanti untuk tidak mendaki gunung sendirian. Pesan itu sebagai ilustrasi kuat dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk para pejuang mimpi.

Bahwa orang yang mendaki gunung dan menaklukkan puncak sendirian sangatlah rentan bahkan cenderung tidak memiliki kontrol atas perilaku dan cara-cara yang ditempuh sampai ke puncak. Kita paham, mendaki gunung dan menapaki tangga kehidupan sangat tepat sebagai analogi.

Di pendakian, tentu kita akan menanjak, menemui persimpangan, jalan berbatu, atau sesekali turun lembah dan kembali menanjak di tepi tepi jurang. Namun disitulah juga ada sensasi dan pemandangan indah yang tidak banyak orang menyaksikannya. Jangan kira kelelahan yang didapatkan, capek sekali.

Kalau pendakian gunung dan puncak dilakukan sendiri, maka segala pertimbangan dan beban ada pada diri sendiri. Terpeleset, tertatih, terjatuh, atau bahkan resiko paling mengintai adalah tersesat hilang arah. Begitulah gambaran para pejuang mimpi yang melepas diri dari komunitas. Lepas kontrol dan tak ada alarm apabila jalan yang dilalui telah melenceng dari nilai kebaikan atau ketika sedang berada dalam ancaman serius yang bisa mematikan fitrah dan karakter kebajikan yang kita bawa sejak lahir.

Maka dari itu, penting sekali untuk merawat pertemanan positif, terbenam dalam lingkungan positif, terlibat di komunitas yang suatu hari nanti akan menjadi kontrol dan alarm. Bila suatu hari ternyata komunitas menjadi ladang pragmatism atau nepotism, maka tengoklah dari sisi berbeda, tengoklah komunitas itu sebagai area luas ladang silaturahim dan sebagai networking. Manfaat praktis atau materi hanyalah dampak, bukan menjadi tujuan.

Kediri, 9 februari 2017

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: