Bersyukur di Pulau Balikukup

Dua bulan terisolasi dari literasi dan inspirasi. Insting sastrawiku beku oleh situasi dan gejolak menemukan resolusi. Di pulau ini, banyak hal positif yang bisa dibicarakan, namun hal krusial juga tak kalah pentingnya untuk segera dibenahi. Kehidupan pulau bertabur intrik dan kabar burung yang tak ada habisnya diomongkan orang-orang di sudut sudut pulau, di ujung dermaga, di beranda rumah, di lontang, di dalam masjid, dan semua udara pulau telah bercampur dengan nuansa politik yang dipahami picik.

Saya berbaur dengan segenap strategi mengamankan posisi awal sebagai fasilitator, berharap bisa peroleh bargaining posisi yang kuat untuk turut ambil bagian dalam skenario perubahan kampung ke arah yang lebih baik. Tidak ada peluang yang terlalu mudah dan tidak ada tantangan yang mustahil untuk ditaklukkan. Yang pasti hanyalah revolusi.

Orang-orang pulau yang haus hiburan menjadikan waktu adalah hiburan. Tak ada waktu yang tak bisa menawar kehausan itu. Maka jangan heran, isolasi lautan adalah vakum yang terus membentuk mental dan pola prilaku yang tak berpikir luas dan bervisi. Hidup itu sementara dan setelah itu, giliran generasi berikutnya yang mengurus dirinya sendiri. Sederhana dan itulah satu sudut pandang yang tak bisa dibilang keliru.

Apa yang dibutuhkan orang pulau dalam kamus bernama bahagia tidak boleh mendapat pretensi dari mindset orang darat. Hari demi hari, dan kebenaran kalau ikan dicipta untuk kehidupan dan hidup orang pulau dicipta dari ikan semakin mendekati hipotesis yang kubangun. Apapun caranya ikanlah sumber kehidupan dan pangkal kebahagiaan orang pulau.

Oh iyya, karena ini adalah tulisan pertama tentang pulau yang kusebut maka harus ku-sounding juga nama pulau ini, namanya Pulau Balikukup. Pulau kecil yang luasnya tak cukup 30 lapangan sepakbola dipadati seribuan jiwa. Asumsinya, dalam satu luasan sekira satu lapangan sepakbola diisi oleh 35 orang. Pulau yang dikelilingi pasir putih yang separuhnya sudah tertutupi oleh rumah-rumah pendudk yang membangun di atas jalur hijau. Bersyukurnya, pulau ini dikaruniai sumber air tawar yang tak mengenal kemarau.

Pulau ini lumayan berjarak dari daratan terdekat. Sekitar 14 mil laut. Pulau Balikukup cukup terkena dampak foodmiles sehingga harga seluruh barang di pulau (kecuali ikan) bisa sampai berlipat dari harga produsen. Tapi harga bukan alasan yang membuat manusia kelaparan. Harga seperti pegas yang menekan dan menarik pada waktunya masing-masing. Saya seperti ingin mengatakan, harga memang bisa jadi instrumen untuk mengkategorikan kemiskinan, tapi di Balikukup, instrumen kemiskinan semurni-murninya adalah kemalasan. Laut adalah misteri dan rejeki yang tidak kuasa diterka, namun anugerah kuasa Ilahi melimpahkan hewan laut yang tidak begitu menyusahkan untuk ditukar denga harga-harga kehidupan sekalipun kebahagiaan.

Pulau Balikukup, 17 April 2017

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: