Berhenti Melupakan

Sejak tulisan terakhir tentang ikhtiar menjauh dan melupakan, aku benar-benar tertimbun oleh aktivitas yang bisa tidak melupakan. Namun juga aku harus rela dengan kebenaran bahwa kamu dan tulisanku adalah paket dari sebuah komitmen. Tidak ingin ada cela untuk menyesal, tidak pula ada ruang untuk menyeka kerinduan. Semua sudah terjadi. Waktu beriring baik dengan irama takdir.

Aku mulai tidak mengingat hal-hal kamuflase yang sering kupakai membuat ilusi tentang masa depan. Kamu dan fiksi yang kusuka untuk ditulis. Ada banyak pertemuan berwajah tantangan yang hendak kukabarkan. Ada banyak wajah yang kutemui yang kusangka akan menjadi teman di waktu kelak. Aku berlaku baik seperti inginku orang akan baik kepadaku juga. Namun situasi banyak yang bukanlah sekeinginan dengan bayangan harap di dalam kepala.

Tulisan ini tidaklah bermaksud menjilat ludah untuk berhenti sejenak dari cerita menjadikan isu dalam tulisan. Aku terlampau rindu untuk tidak memberi cuitan sebentuk tulisan. Hanya pecundang yang tidak mengamalkan pengetahuannya. Dulu aku belajar mencipta aforisme. Saat aku seperti sekarang ini, justru aku melimpah sasaran tulisan. Roda jelas berputar. Suatu waktu, imajinasi mungkin tak lagi bersarang di langit ingatanku. Kembali belajar, dalam cerita dan cara pandang yang berbeda.

Aku kangen dengan aku menjadi diriku yang tidak peduli dengan orang lain menanggapi caraku mengobarkan semangat merangkai sajak atau apapun karya yang kugubah. Dunia hanya mengajari, manusia menyingkap kebijaksanaan dari sebuah lintasan waktu. Aku pernah merasakan sebagai pencari sejati, mungkin hingga kini. Aku tak menemukan apa yang kucari. Tapi itu bukanlah satu alasan untuk berhenti melupakan.

Berhenti melupakan atau bersabar menunggu seperti paradoks yang sedang kualami. Terus meniti waktu, dan banyak prediksi-prediksi yang bergejolak untuk dieksekusi. Hidup mutlak memilih, dan masa depan punya kuasa ilahi.

Tidak ada sejarah aku menyesali kakiku melangkah kemana. Yang kuhadapi dan yang jadi kenangan adalah peluang untuk selalu aku tuliskan. Juga masa depan yang selalu jadi ilusi. Aku mengandalkan harapan untuk masa depan. Doa-doaku tidak seberhenti aku melupakanmu. Hidup dengan ilusi dan melangkah dengan visi sangat nampak letak ketidaksamaannya. Semoga aku mampu bertahan dalam sabar, dan mimpi-mimpi akan berbuah manis.

Pulau Balikukup, 5 April 2017

Advertisements

4 Responses to “Berhenti Melupakan”

  1. Kafasya Says:

    Berhenti melupakan sama saja dengan terus mengingat…
    Menunggu ??? Menunggu untuk apa, jika yang sedang di tunggu tidak tahu kalau kau menunggu.
    Merindu ???? Merindu untuk apa, jika yang dirindukan tidak tahu kalau kau sedang menunggu.
    Bersabar ??? Bersabar untuk apa, jika tidak melangkah dan memberitahukan kalau “kamu” yang ditunggu dan yang dirindukan.
    Menunggu, merindu dan bersabar adalah satu paket yang harus diketahui oleh “kamu”.
    “Kamu” dalam hidupmu mungkin mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan itu.

    • Kafasya Says:

      Berhenti melupakan sama saja dengan terus mengingat…
      Menunggu ??? Menunggu untuk apa, jika yang sedang di tunggu tidak tahu kalau kau menunggu.
      Merindu ???? Merindu untuk apa, jika yang dirindukan tidak tahu kalau kau sedang merindu.
      Bersabar ??? Bersabar untuk apa, jika tidak melangkah dan memberitahukan kalau “kamu” yang ditunggu dan yang dirindukan.
      Menunggu, merindu dan bersabar adalah satu paket yang harus diketahui oleh “kamu”.
      “Kamu” dalam hidupmu mungkin mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan itu.

    • ini saya kayak baca pikiran saya sendiri yang orang lain menuliskannya. penasaran dengan Kafasya ini.

      • Jika melihat reply dari tulisan ini, sepertinya “kamu” tidak mengetahui jika kau begitu merindu dan menunggu dalam kesabaran.
        Jika hal itu benar terjadi, komunikasilah yang mungkin akan menyelesaikan semua itu.
        Komunikasi dengan penyampaian yang baik rindu dan menunggu mungkin akan tersampaikan secara tegas dan lugas. Tidak ada kata terlambat dalam komunikasi. Berikhtiar pada Tuhan sudah dilakukan, hanya tinggal berikhtiar kepada human agar menjadi lengkap dan menjadi nyata.

        Ah, apalah saya hanya mempu berkomentar dalam blog orang.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: