Archive for April, 2017

Malam dan Irama Pulau

Posted in balikukup, Blogger Kampus, Patriot Negeri, Sajak with tags , , , , on April 26, 2017 by mr.f

Kulihat bintang memantul di muka air.
Lampu perahu di entah dimana juga membaur di warna malam yang ditinggalkan purnama.
Suara-suara musim yang hendak berganti pun telah bernyanyi.
Laut teduh dan nelayan beraksi menemukan rezekinya.
Di ujung dermaga, para remaja belajar mengenal perasaan.
Di atas pulau, lain pula jenis hiburannya.
Banyak fragmen terurai di sini.

Di antara kegelapan dan kecemburuan sosial.
Bintanglah yang paling setia.
Air dan kotoran yang menyatu mengisi semesta.
Kepuasan ada pada saat insting praktis itu diselesaikan.
Tidak ada kecerobohan yang paling fatal selain mengabaikan masa depan.
Dunia yang singkat juga keinginan yang silih berganti.

Orang pulau yang gerah. Sebab dingin dibawa angin.
Malam yang cemerlang. Hati yang dipenuhi ilusi kebahagiaan.
Keterbatasan dalam bingkai lautan.
Antara hal-hal yang tidak ada dan suara-suara yang di seberang sana.
Tuhan memberi banyak, juga tak selalu dianggap ada.
Maka disitulah kepuasan selalu berjarak dengan isi kepala.

Puisi malam dilambaikan pendar gemintang.
Nada tanpa irama bergaung di ruang kenyataan.
Harapan yang terpisah dari kehidupan.
Orang-orang menyangka, bahagia tidak disini.
Jauh dari lautan, itulah tempatnya bersemayamnya surga dunia.

Tapi aku tak ragu, selalu ada doa dari banyak keyakinan.
Dan di hatilah kenikmatan hidup bisa dirasa.

 

Malam di Pulau Balikukup, 16 April 2017

 

gambar; twitter @luthfihahaha

Berhenti Melupakan

Posted in Sajak with tags , , , on April 22, 2017 by mr.f

Sejak tulisan terakhir tentang ikhtiar menjauh dan melupakan, aku benar-benar tertimbun oleh aktivitas yang bisa tidak melupakan. Namun juga aku harus rela dengan kebenaran bahwa kamu dan tulisanku adalah paket dari sebuah komitmen. Tidak ingin ada cela untuk menyesal, tidak pula ada ruang untuk menyeka kerinduan. Semua sudah terjadi. Waktu beriring baik dengan irama takdir.

Aku mulai tidak mengingat hal-hal kamuflase yang sering kupakai membuat ilusi tentang masa depan. Kamu dan fiksi yang kusuka untuk ditulis. Ada banyak pertemuan berwajah tantangan yang hendak kukabarkan. Ada banyak wajah yang kutemui yang kusangka akan menjadi teman di waktu kelak. Aku berlaku baik seperti inginku orang akan baik kepadaku juga. Namun situasi banyak yang bukanlah sekeinginan dengan bayangan harap di dalam kepala.

Tulisan ini tidaklah bermaksud menjilat ludah untuk berhenti sejenak dari cerita menjadikan isu dalam tulisan. Aku terlampau rindu untuk tidak memberi cuitan sebentuk tulisan. Hanya pecundang yang tidak mengamalkan pengetahuannya. Dulu aku belajar mencipta aforisme. Saat aku seperti sekarang ini, justru aku melimpah sasaran tulisan. Roda jelas berputar. Suatu waktu, imajinasi mungkin tak lagi bersarang di langit ingatanku. Kembali belajar, dalam cerita dan cara pandang yang berbeda.

Aku kangen dengan aku menjadi diriku yang tidak peduli dengan orang lain menanggapi caraku mengobarkan semangat merangkai sajak atau apapun karya yang kugubah. Dunia hanya mengajari, manusia menyingkap kebijaksanaan dari sebuah lintasan waktu. Aku pernah merasakan sebagai pencari sejati, mungkin hingga kini. Aku tak menemukan apa yang kucari. Tapi itu bukanlah satu alasan untuk berhenti melupakan.

Berhenti melupakan atau bersabar menunggu seperti paradoks yang sedang kualami. Terus meniti waktu, dan banyak prediksi-prediksi yang bergejolak untuk dieksekusi. Hidup mutlak memilih, dan masa depan punya kuasa ilahi.

Tidak ada sejarah aku menyesali kakiku melangkah kemana. Yang kuhadapi dan yang jadi kenangan adalah peluang untuk selalu aku tuliskan. Juga masa depan yang selalu jadi ilusi. Aku mengandalkan harapan untuk masa depan. Doa-doaku tidak seberhenti aku melupakanmu. Hidup dengan ilusi dan melangkah dengan visi sangat nampak letak ketidaksamaannya. Semoga aku mampu bertahan dalam sabar, dan mimpi-mimpi akan berbuah manis.

Pulau Balikukup, 5 April 2017

Bersyukur di Pulau Balikukup

Posted in features, Patriot Negeri, Petualangan with tags , , , , , , , on April 22, 2017 by mr.f

Dua bulan terisolasi dari literasi dan inspirasi. Insting sastrawiku beku oleh situasi dan gejolak menemukan resolusi. Di pulau ini, banyak hal positif yang bisa dibicarakan, namun hal krusial juga tak kalah pentingnya untuk segera dibenahi. Kehidupan pulau bertabur intrik dan kabar burung yang tak ada habisnya diomongkan orang-orang di sudut sudut pulau, di ujung dermaga, di beranda rumah, di lontang, di dalam masjid, dan semua udara pulau telah bercampur dengan nuansa politik yang dipahami picik.

Saya berbaur dengan segenap strategi mengamankan posisi awal sebagai fasilitator, berharap bisa peroleh bargaining posisi yang kuat untuk turut ambil bagian dalam skenario perubahan kampung ke arah yang lebih baik. Tidak ada peluang yang terlalu mudah dan tidak ada tantangan yang mustahil untuk ditaklukkan. Yang pasti hanyalah revolusi.

Orang-orang pulau yang haus hiburan menjadikan waktu adalah hiburan. Tak ada waktu yang tak bisa menawar kehausan itu. Maka jangan heran, isolasi lautan adalah vakum yang terus membentuk mental dan pola prilaku yang tak berpikir luas dan bervisi. Hidup itu sementara dan setelah itu, giliran generasi berikutnya yang mengurus dirinya sendiri. Sederhana dan itulah satu sudut pandang yang tak bisa dibilang keliru.

Apa yang dibutuhkan orang pulau dalam kamus bernama bahagia tidak boleh mendapat pretensi dari mindset orang darat. Hari demi hari, dan kebenaran kalau ikan dicipta untuk kehidupan dan hidup orang pulau dicipta dari ikan semakin mendekati hipotesis yang kubangun. Apapun caranya ikanlah sumber kehidupan dan pangkal kebahagiaan orang pulau.

Oh iyya, karena ini adalah tulisan pertama tentang pulau yang kusebut maka harus ku-sounding juga nama pulau ini, namanya Pulau Balikukup. Pulau kecil yang luasnya tak cukup 30 lapangan sepakbola dipadati seribuan jiwa. Asumsinya, dalam satu luasan sekira satu lapangan sepakbola diisi oleh 35 orang. Pulau yang dikelilingi pasir putih yang separuhnya sudah tertutupi oleh rumah-rumah pendudk yang membangun di atas jalur hijau. Bersyukurnya, pulau ini dikaruniai sumber air tawar yang tak mengenal kemarau.

Pulau ini lumayan berjarak dari daratan terdekat. Sekitar 14 mil laut. Pulau Balikukup cukup terkena dampak foodmiles sehingga harga seluruh barang di pulau (kecuali ikan) bisa sampai berlipat dari harga produsen. Tapi harga bukan alasan yang membuat manusia kelaparan. Harga seperti pegas yang menekan dan menarik pada waktunya masing-masing. Saya seperti ingin mengatakan, harga memang bisa jadi instrumen untuk mengkategorikan kemiskinan, tapi di Balikukup, instrumen kemiskinan semurni-murninya adalah kemalasan. Laut adalah misteri dan rejeki yang tidak kuasa diterka, namun anugerah kuasa Ilahi melimpahkan hewan laut yang tidak begitu menyusahkan untuk ditukar denga harga-harga kehidupan sekalipun kebahagiaan.

Pulau Balikukup, 17 April 2017