Jujur Lebih Baik daripada Pintar

jujur-lebih-baik-daripada-pintar

Apa perbedaan antara kejujuran dan integritas? Pertanyaan ini pernah dilempar oleh Ibunda Tri Mumpuni ke forum pembekalan Patriot Negeri Berau. Lalu dijawab sendiri oleh Ibu Tri Mumpuni. Saya tidak ingat betul redaksi jawabannya. Tapi yang saya garis bawahi adalah pada soal imfact-nya. Kejujuran lebih berimfact pribadi sedang integritas cenderung berdampak sosial yang lebih luas. Ini hanyalah terminologi  akumulasi experience.

Kejujuran bukan hal yang dituturkan. Kejujuran ditunjukkan. Di sekitar kita saat ini begitu sulit melabel kejujuran. Apalagi integritas. Ketika seseorang berlaku jujur, yang tahu sebenarnya hanyalah dia sendiri. Jujur bisa berdiri sendiri. Namun tak bisa menampilkan diri.

Ada yang saya ingat dengan kata jujur. Di dua kali berkunjung dan tinggal beberapa bulan di kampung pedalaman Suku Dayak dan Papua. Jujur adalah kata yang tidak biasa diucapkan. Malah kebalikan dari jujurlah yang lebih populer di lidah masyarakat. Kalau anak Dayak sering bilang “botek” yang tebakan saya, kata ini adalah serapan dari bahasa bugis. Sedang di Papua anak-anak paling fasih bilang “jan tipu tipu”.

Nah, di satu kesempatan saya membuat semacam poster, tapi dilukis, untuk dipajang di sekolah dasar. Saya menulis frase “Jujur Lebih Baik daripada Pintar”. Sepintas bisa dibaca bahkan dimengerti secara harfiah. Tapi saya masih harus bekerja untuk memahamkan makna frase itu ke pikiran anak anak.

Saya tegaskan, tidak ada nilai yang lebih tinggi di dunia pada sikap manusia selain kejujuran. Kepintaran atau kecerdasan menjadi tak ada harganya jika tanpa kejujuran. Kejujuran adalah pengali nilai. Kejujuranlah muasal dari kepercayaan. Bahkan kesuksesan. Walau orang seringkali berkata “tak ada kejujuran di depan uang”. Siapa saja yang menemui kesempatan berhadapan dengan uang atau materi atau posisi, maka tergadailah kejujurannya saat itu pula.

Pada anak-anak tingkat dasar, pemahaman kejujuran harus lebih praktis. Saya bilang, pekerjaan atau hasil belajar yang dikerjakan tanpa mencontek punya teman akan lebih saya hargai, walaupun banyak salah, ketimbang nilai tinggi yang didapatkan dengan meniru. Maka disinilah nampak jelas bahwa “kebenaran tidak selalu berisi kejujuran”. Jawaban yang benar belumlah mutlak mengandung kejujuran.

Pada tingkat yang lebih advance, kejujuran yang dibenarkan bukan hanya pribadi melainkan orang lain pun bisa tau kalau kita sedang mempraktekkan kejujuran, itulah yang artikan dengan bahasa “integritas”. Integritas tak bisa dilekatkan tanpa kejujuran. Integritas berkomposisi konsistensi dosis tinggi. Kejujuran yang dilakukan terus menerus. Bila sekali saja keluar dari jalur konsistensi, maka reputasi  kejujuran akan sangat mungkin lenyap di pandangan khalayak.

Integritas itu berpadu dengan nilai positif lainnya setelah kejujuran. Termasuk, kepeduliaan dan belas kasih. Maka dari itu, di awal saya bilang integritas memiliki impact luas pada tatanan sosial kemasyarakatan. Integritas menurut saya bukanlah ambisi yang musti dikejar, melainkan sebuah perilaku yang tidak bisa terukur dan terawat tanpa basis komunitas atau lingkungan positif.

Maka dari itu, penting sekali untuk selalu membenamkan diri di dalam lingkungan positif. Postingan selanjutnya akan saya tulis betapa pentingnya berkomunitas.

Gambar; koleksi pribadi

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: