Februari dan Catatan Bukan Surat (1)

catatan-bukan-surat

Februari dan semua hal yang tertunda. Janji yang kularutkan di  hujan penjemput senja. Aku merasa  sangat tidak terhormat sebagai lelaki yang hanya menyisakan remah harapan. Di antara semua kegaduhan itu, batinkulah yang paling menderita menanggung semua penyesalan penyesalan. Keputusan terakhir yang kubuat, justru menjadi awal dari kegundahan yang semakin tak nampak ujungnya.

Di atas kereta, aku menulis suasana. Imajiku tak mampu melebur dengan realitas yang akan kuhadapi. Tuhan merencanakan ini sebagai hal yang harus kuyakini sebagai tangga menuju diriku yang lebih utuh sebagai lelaki. Tiadalah kesia-siaan dari pertempuran-pertempuran yang terus berkecamuk di dalam nurani. Seiring surya yang kian lenyap kupandang, aku berkesempatan menyempurnakan rencana terbaik yang mungkin bisa jadi obat pahit dari kegagalanku dalam membuktikan kelaki-lakianku.

Lagu lagu Efek Rumah Kaca mengiringi benang cahaya tersulam menjadi gelap dan tak ada lagi alam yang bisa kupandang. Hari-hariku sejujurnya bahagia saja, aku hanya terus membagi hayalku lebih adil. Satu cara untuk tidak tenggelam dengan jenuh atau rindu.

Malam tiba juga, dan tulisan ini berakhir di tiga paragraf. Orang orang boleh sibuk dengan dirinya sendiri, tapi aku terus terbayangi sosok masa depan. Sungguh hidup masa kini yang seperti merugi. Hidup tak nikmat dibelenggu obsesi. Aku ingin sekali menghentikan kebodohan ini, ingin sekali. Aku yakini, energiku akan lebih baik bila kualihkan untuk menuliskannya. Disini, ada untungnya terbebani status blogger.

Tapi aku menulis bukan untuk siapa-siapa lagi. Tak ada surat yang kutuju. Semacam ini hanya biar aku bisa berbicara dengan isi jiwaku sendiri. Masa lalu yang dituliskan bisa jadi masa depan yang terbaca. Ah, ada ada saja pembenaranku. Tapi lihatlah, banyak sekali orang yang ingin menulis tapi malu dan bahkan tak tahu isi hatinya. Aku sedikit beruntung soal ini, meski kadang ragu tapi urat maluku sudah kuputus. Kan asyik membuat teka teki masa depan dari bingkai masa lalu.

Hah, udara subuh telah jatuh di ujung perjalanan kereta. Aku sampai di tempat yang ingin kutuju. Yang belum kutahu hati yang akan kulabuhi. Selamat datang isian masa hari ini. Semoga ada orang yang merasa senang dengan aku datang kesini.

Gambar;

Advertisements

2 Responses to “Februari dan Catatan Bukan Surat (1)”

  1. Seperti yang kak Maruf pernah bilang, suka tulisan yg pakai kata-kata kiasa. Nah, itu juga jelas di tulisanta. Kata-kata kiasan atau kata-kata bukan makna sebenarnya dan tidak semua orang bisa melahap isinya.
    Tapi yang jelas ‘semoga ada seseorang yang merasa senang dengan kdatangan kak Maruf’, asseekk…..

  2. Uhuy…. 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: