Archive for February, 2017

Menjauhlah!

Posted in Sajak with tags , , on February 17, 2017 by mr.f

ciater

Aku baru saja berhadapan dengan pertanyaan masa depan yang kuyakini adalah kamu. Aku begitu berat di hadapan manusia-manusia. Terlebih ketika membiarkan diriku menjadi seperti bukan lelaki baik yang utuh bagi dirimu. Sebagian dari keberanianku terenggut di telan waktu yang berlalu. Aku mencermini diriku seperti hewan yang tak punya keyakinan.

Sebab itu, kucoba seseringkali melatih hatiku dengan menengguk kepahitan situasi. Kopiku tak lagi kuberi gula. Makanan yang kujejal ke dalam perutku tak lagi berperasa. Tubuhku kubiarkan terserap dingin perbukitan. Pandanganku rela tak berisi imajinasi. Semua seolah aku ingin menebus kesalahan dan menata langkahku. Maafkan, aku betul-betul tak tau jalan menuju pengakuan.

Rindu-rindu yang dulu, juga masa lalu yang begitu seru. Relakanlah untuk mungkin tak bisa kuulang lagi. Aku berubah dengan segala ketidakberdayaanku menaklukkan kemungkinan. Aku tak sehebat kata-kata yang kau baca dari diary-ku. Waktu berlalu, aku tak juga mampu memberi bukti. Dari kabarku yang terakhir kepadamu, disitulah kecerobohanku yang paling nyata. Tak ada lagi yang bisa kujanjikan. Akulah yang menghancurkan hubungan ini.

Sangat banyak aku menyebut Tuhan atas sesalku. Hati manusia yang kulukai, juga benih kepalsuan yang kubiarkan bertumbuh. Akulah yang menciptakan kegaduhan perasaanku saat ini. Tidak pernah ada salahmu disini. Jika kau membaca tulisan ini, jangan ikutan mengutuk dirimu juga.

Aku memang belum selesai dengan keegoanku. Dan tak pantas kau membalasnya dengan menunggu. Bermimpilah sebebasmu, aku tak layak ada disitu. Yang benar-benar mampu kubuat hanya menumpahkan kata kata. Janganlah kau menganggap aku merayu. Doaku kian tinggi setiap harinya, tapi rupanya langit tak kunjung tersentuh.

Telah tibalah saatnya kau bergerak bukan seperti khayalku. Jadilah mawar, melati, anggrek, atau apa saja kembang yang disukai orang. Aku ingin, ini menjadi tulisan penutup di awal tahun yang mengecewakanmu. Hujan tlah jatuh. Aroma tanah tlah menyatu. Jauh dan menjauhlah dari aku yang sedang tak baik ini.

Gambar; koleksi pribadi

Februari dan Catatan Bukan Surat (2)

Posted in flash fiction, Sajak with tags , on February 8, 2017 by mr.f

surat-untuk-februari

Sendiri, aku di Kediri. Februari yang kuhadapi juga menatap ke diri. Kutahu sesuatu lekat mengikuti bayanganku. Di jalan jalan yang penuh pesepeda. Disitu tak ada cara menutup mataku untuk tidak kembali menuju rindu. Hari yang juga lebih singkat kualami karena aku tak lepas dari waktu mengaduk masa lalu. Keberadaan yang tidak sepenuhnya ada.

Catatan kerisauan ini anggaplah wujud kalau aku tidak ingin berhenti memandang langit harapan. Disana ada kamu dan sejumlah keindahan yang tidak bercampur dengan kenyataan. Aku lagi lagi menikmati sisi gelap kenangan.

Keruntuhan pikiranku pada masa depan tak lain oleh keinginan-keinginan masa lalu yang tak kugenggam hari ini. Aku terperangkap nostalgia yang semu. Mendung sore hari yang tanpa senja melengkapi panjangnya kegelapan catatan bukan surat ini. Februari yang sama sekali tidak bersangkut dengan kasih sayang pada sebuah objek materi bernama perempuan.

Hidupku masih optimis. Tanpa jawaban rasional aku menulis gaya melankolis sebegini kronis. Hayalanku banyak menguasai peta pikiran yang kubangun di titian hari. Dan ujung malam datang lagi. Di Kediri aku hanyut pada angan jauh. Tapi aku bersyukur, kamu masih kuandalkan memenuhi relung relung fantasi itu. Nama lain tak punya aspek yang kubandingkan. Kamu melengkapi kepingan keinginanku.

Itulah alasan paling hebat yang kupunya untuk menahanmu sebagai masa depan. Sekalipun aku sadar kalau cerita seperti ini tak pernah benar benar sebagai kenyataan. Hidup pahit, tapi manis sebab aku menulis. Filosofi menulis itulah yang jadi tuntunan kalau kenangan punya hak untuk dicicipi sekalipun sakit.

Juga pada semua permainan dan misteri hari kelak yang pasti dilewati. Jurang-jurang yang memisahkan. Lembah dan bukit yang bergantian. Setapak yang sunyi. Terik dan hujan yang melengkapi. Hidup itu banyak, juga ceritanya. Yang kupelajari selama merawat rasa ini adalah; jangan merasa sanggup hidup sendiri!

Kediri, Februari 2017