Mengukur Diri; Antara Keinginan dan Lingkungan

bukit santiong

Ada yang jatuh dan kemudian bangkit lalu melangkah lagi. Ada yang mengalir tanpa ambisi apapun, berhasil dan mengklaim telah menemui ujung jalan tanpa persimpangan. Ada yang tersesat, tapi tak merasa, seolah labirin sudah menjadi caranya menapaki jalan. Ada yang mengutuk kegelapan dengan segala sumpah dan melempar batu masalah pada siapa saja yang dianggapnya layak menjadi biang persoalan. Ada yang bersemangat, penuh misi dan optimisme, tapi seringkali lupa bersyukur dan tak menyadari bahwa menjangkau langit adalah bahasa lain dari menjadi budak mimpi yang ketinggian. Ada juga sebagian, tidak menyoalkan fisik, selama jiwa terisi dengan kepuasan, itu sudah cukup untuk menjalani waktu, detik demi detik.

Hingga pada kesimpulan, hiduplah dengan keunikan cara berpikir dan cara melangkah masing-masing. Jangan menghakimi kehidupan orang lain dan melabeli perbuatannya dengan subjektivitas pengetahuan yang kita miliki. Tidak ada rumus mutlak menjadi manusia. Bagian terpenting dari hidup manusia hanyalah kebaikannya atau sebaliknya. Sederhananya, manusia yang baik adalah manusia yang tidak merugikan orang lain, lingkungan, dan dirinya sendiri. Bila mampu menjadi berguna bagi orang lain, jelas itu tingkatan yang lebih dari sekadar baik. Tidak peduli, di atas keyakinan apa dia berdiri.

Untuk menjangkau itu semua, yaitu menjadi baik atau menjadi lebih baik, tidaklah mungkin kehidupan itu dijalani sendiri, sejauh apapun kita menghindar dari perbuatan merugikan orang lain. Maka kata kuncinya, manusia yang sendiripun tetaplah membutuhkan lingkungan.

Paragraf pembuka di atas menjadi dasar, bahwa seseorang sangat perlu memperhatikan lingkungannya. Menyadari keberadaannya, mengukur kebermanfaatan atau kerugian yang diakibatkan atas dirinya. Atau memutar logikanya, seberapa besar lingkungannya membuat pengaruh atas tindakannya. Itulah dalam anjuran beragama yang saya yakini, introspeksi atau muhasabah diri adalah sebuah kontinuitas yang tak boleh lepas dari ingatan dan kesadaran seorang manusia.

Sebab itulah, saya berargumen, lingkungan amat penting untuk menjadi bahan atau mungkin acuan dalam mengukur diri. Tidak berarti kalau kemampuan bakat bawaan bukan hal utama. Bakat dan lingkungan adalah benturan sekaligus perpaduan. Yang selanjutnya musti dicermati adalah peluang atau kemungkinan-kemungkinan diantara bakat dan lingkungan itu sendiri. Dari keduanya, mana yang melemahkan atau menguatkan. Kecermatan membaca situasi tersebut menentukan langkah. Kapan melangkah hijrah ataukah menunggu hingga kesempatan membuat perubahan tiba.

Ingat ketika Nabi Muhammad berhijrah meninggalkan Makkah, tanah kelahiran yang begitu dicintainya. Nabi membuat pilihan dari sekian peluang yang sejalan dengan misi hidupnya. Contohnya hijrahnya Nabi itu adalah sebaik-baik pesan yang perlu ditelaah oleh ummatnya. Juga riwayat hijrah Ibnu Sina yang memperlihatkan semangat berubah meningkatkan kualitas dirinya dengan berpindah pindah dari satu guru ke guru yang lain, dari satu tanah ke tanah yang lain. Dari lingkungan yang satu ke lingkungan yang lain.

Namun, konteks sejarah tidak tepat jika dilihat dari satu potong cerita saja. Nabi berhijrah ke Yastrib dari Makkah, Ibnu Sina berpindah pindah ‘sekolah’ dalam waktu singkat. Lalu, ternyata Nabi dan Ibnu Sina pada akhirnya kembali ke lingkungan asalnya, dengan cerita singkat, membuat perubahan dengan segenap kapasitas yang dirangkum di lingkungan lain, di tanah hijrah. Sehingga lingkungan, kapasitas diri, dan keinginan-keinginan adalah variabel yang bisa diukur.

Lingkungan adalah kontrol sosial sekaligus stressing bagi sebagian orang. Lingkungan positif akan menumbuhkan relasi dan interaksi positif pula. Lingkungan negatif akan menyingkirkan kesadaran kritis dan kemudian menjadi jebakan yang sangat dalam hingga tak mampu melihat dunia secara objektif. Banyak orang tak membuat pilihan atas lingkungannya. Seolah, takdir hari ini adalah garis buta yang tak bisa diberi warna lain. Keterkungkungan akan informasi dan referensi tak diperlukan lagi untuk takdir selanjutnya.

Lingkungan adalah atmosfir yang bisa dikendalikan oleh manusia. Perasaan dan kenyataan yang dinikmati. Lingkungan menjadi sangat penting untuk menjawab cita-cita dan pertanyaan atas masa depan. Lingkungan adalah pilihan dari sekian tanda tanya. Tujuan hidup memiliki garis singgung yang sangat tegas dengan lingkungan. Tidak ada keinginan yang bisa diwujudkan tanpa membuat pilihan terhadap lingkungan.

Gambar; dokumentasi pribadi

Advertisements

One Response to “Mengukur Diri; Antara Keinginan dan Lingkungan”

  1. […] Sumber: Mengukur Diri; Antara Keinginan dan Lingkungan […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: