Archive for January, 2017

Mengukur Diri; Antara Keinginan dan Lingkungan

Posted in Opini with tags , , on January 22, 2017 by mr.f

bukit santiong

Ada yang jatuh dan kemudian bangkit lalu melangkah lagi. Ada yang mengalir tanpa ambisi apapun, berhasil dan mengklaim telah menemui ujung jalan tanpa persimpangan. Ada yang tersesat, tapi tak merasa, seolah labirin sudah menjadi caranya menapaki jalan. Ada yang mengutuk kegelapan dengan segala sumpah dan melempar batu masalah pada siapa saja yang dianggapnya layak menjadi biang persoalan. Ada yang bersemangat, penuh misi dan optimisme, tapi seringkali lupa bersyukur dan tak menyadari bahwa menjangkau langit adalah bahasa lain dari menjadi budak mimpi yang ketinggian. Ada juga sebagian, tidak menyoalkan fisik, selama jiwa terisi dengan kepuasan, itu sudah cukup untuk menjalani waktu, detik demi detik.

Hingga pada kesimpulan, hiduplah dengan keunikan cara berpikir dan cara melangkah masing-masing. Jangan menghakimi kehidupan orang lain dan melabeli perbuatannya dengan subjektivitas pengetahuan yang kita miliki. Tidak ada rumus mutlak menjadi manusia. Bagian terpenting dari hidup manusia hanyalah kebaikannya atau sebaliknya. Sederhananya, manusia yang baik adalah manusia yang tidak merugikan orang lain, lingkungan, dan dirinya sendiri. Bila mampu menjadi berguna bagi orang lain, jelas itu tingkatan yang lebih dari sekadar baik. Tidak peduli, di atas keyakinan apa dia berdiri.

Untuk menjangkau itu semua, yaitu menjadi baik atau menjadi lebih baik, tidaklah mungkin kehidupan itu dijalani sendiri, sejauh apapun kita menghindar dari perbuatan merugikan orang lain. Maka kata kuncinya, manusia yang sendiripun tetaplah membutuhkan lingkungan.

Paragraf pembuka di atas menjadi dasar, bahwa seseorang sangat perlu memperhatikan lingkungannya. Menyadari keberadaannya, mengukur kebermanfaatan atau kerugian yang diakibatkan atas dirinya. Atau memutar logikanya, seberapa besar lingkungannya membuat pengaruh atas tindakannya. Itulah dalam anjuran beragama yang saya yakini, introspeksi atau muhasabah diri adalah sebuah kontinuitas yang tak boleh lepas dari ingatan dan kesadaran seorang manusia.

Sebab itulah, saya berargumen, lingkungan amat penting untuk menjadi bahan atau mungkin acuan dalam mengukur diri. Tidak berarti kalau kemampuan bakat bawaan bukan hal utama. Bakat dan lingkungan adalah benturan sekaligus perpaduan. Yang selanjutnya musti dicermati adalah peluang atau kemungkinan-kemungkinan diantara bakat dan lingkungan itu sendiri. Dari keduanya, mana yang melemahkan atau menguatkan. Kecermatan membaca situasi tersebut menentukan langkah. Kapan melangkah hijrah ataukah menunggu hingga kesempatan membuat perubahan tiba.

Ingat ketika Nabi Muhammad berhijrah meninggalkan Makkah, tanah kelahiran yang begitu dicintainya. Nabi membuat pilihan dari sekian peluang yang sejalan dengan misi hidupnya. Contohnya hijrahnya Nabi itu adalah sebaik-baik pesan yang perlu ditelaah oleh ummatnya. Juga riwayat hijrah Ibnu Sina yang memperlihatkan semangat berubah meningkatkan kualitas dirinya dengan berpindah pindah dari satu guru ke guru yang lain, dari satu tanah ke tanah yang lain. Dari lingkungan yang satu ke lingkungan yang lain.

Namun, konteks sejarah tidak tepat jika dilihat dari satu potong cerita saja. Nabi berhijrah ke Yastrib dari Makkah, Ibnu Sina berpindah pindah ‘sekolah’ dalam waktu singkat. Lalu, ternyata Nabi dan Ibnu Sina pada akhirnya kembali ke lingkungan asalnya, dengan cerita singkat, membuat perubahan dengan segenap kapasitas yang dirangkum di lingkungan lain, di tanah hijrah. Sehingga lingkungan, kapasitas diri, dan keinginan-keinginan adalah variabel yang bisa diukur.

Lingkungan adalah kontrol sosial sekaligus stressing bagi sebagian orang. Lingkungan positif akan menumbuhkan relasi dan interaksi positif pula. Lingkungan negatif akan menyingkirkan kesadaran kritis dan kemudian menjadi jebakan yang sangat dalam hingga tak mampu melihat dunia secara objektif. Banyak orang tak membuat pilihan atas lingkungannya. Seolah, takdir hari ini adalah garis buta yang tak bisa diberi warna lain. Keterkungkungan akan informasi dan referensi tak diperlukan lagi untuk takdir selanjutnya.

Lingkungan adalah atmosfir yang bisa dikendalikan oleh manusia. Perasaan dan kenyataan yang dinikmati. Lingkungan menjadi sangat penting untuk menjawab cita-cita dan pertanyaan atas masa depan. Lingkungan adalah pilihan dari sekian tanda tanya. Tujuan hidup memiliki garis singgung yang sangat tegas dengan lingkungan. Tidak ada keinginan yang bisa diwujudkan tanpa membuat pilihan terhadap lingkungan.

Gambar; dokumentasi pribadi

Orang Palopo dan Sagu

Posted in Opini with tags , , , on January 22, 2017 by mr.f

Ada banyak sekali cara untuk mengingat dan mengenal suatu tempat di Indonesia yang kaya budaya, ragam alam, juta pesona adat istiadat, serta kelezatan makanan sepanjang nusantara ini. Ada kalanya, nama tempat-tempat di Indonesia dihubungkan dan dikenalkan dengan budaya dan adat istiadatnya, dengan pesona keindahan alamnya, dan tidak sedikit yang dilekatkan dengan makanan khasnya di tempat tersebut.

Kali ini saya mau bercerita pada poin makanan atau kuliner di nusantara ini sesuai yang pernah saya alami. Siapa yang tidak mengenal Empe-empe Palembang, Soto Betawi atau juga Soto Banjar, Coto Makassar, Mie Aceh, Nasi atau Masakan Padang, Bubur Manado? Itu hanya sebagian kecil nama makanan khas di Indonesia yang dilekatkan nama daerah asalnya.

Saya punya pengalaman terkait dengan makanan daerah ini. Ketika saya bilang orang Palopo, orang lain bilang sagu. Itu saya sadari dimana-mana. Tidak hanya ketika berada di Sulawesi Selatan sebagai propinsi yang mungkin semua orang kenal Palopo dan sagu yang lekat dengannya. Tetapi juga terjadi ketika saya mengenalkan diri di Jawa, di Kalimantan, di Papua, di Bali, dan dimana saja ketika saya mengenalkan asal daerah saya. Rupa-rupanya, dari banyak hal yang bisa menjadi ciri dari orang Palopo, sagulah yang paling bisa melekat di kepala banyak orang. Bagi orang Palopo sendiri, saya bertaruh memang sudah takdir di darahnya mengalir unsur sagu. Siapa sih orang Palopo yang tidak pernah mengecap rasa sagu di lidahnya. Jika benar ada orang Palopo yang bilang tidak pernah merasakan nikmatnya sagu, maka isi perutnya boleh dibedah untuk dibuktikan.

Orang Palopo yang saya maksud adalah orang yang hidup di Tana Luwu. Sebab jika kita tidak sedang di Tana Luwu, dalam budaya tutur atau komunikasi verbal maka akan lebih efektif menyebut diri orang Palopo. Walaupun sebenarnya, Palopo hanyalah nama sebuah kota di Tana Luwu. Tetapi itu lebih mudah dimengerti oleh banyak orang ketimbang menyebut orang Luwu, yang bisa saja menimbulkan salah paham dan mengarah pada Luwuk Banggai. Saya kira, improvisasi semacam itu tidak terlalu mengurangi spirit primordialisme pada nama Tana Luwu.

Dengan tidak bermaksud mengucilkan daerah lain, memang tidak ada cara yang lebih baik untuk menikmati sagu selain sebagaimana cara orang Palopo mengolahnya. Saya pernah ke Sulawesi Tenggara, ada keluarga menyuguhkan penganan dari sagu yang diberi nama ‘sinonggi’, dan rasanya tidak bisa dibandingkan dengan bagaimana cara orang Palopo memperlakukan sagu. Saya juga pernah hidup berbulan-bulan di pedalaman Kalimantan, berbaur dengan Suku Dayak dan disuguhkan penganan dari sagu dari waktu ke waktu yang diberi nama ‘ilui’, penganan ini sangat mirip dengan ‘sinonggi’-nya orang Tolaki. Lalu kini saya di Tanah Papua, orang mengolah sagu menjadi ‘papeda’ dan ‘sinoli’ semuanya tidak senikmat olahan dan penganan sagu racikan orang Palopo.

Tetapi rasa tidak bisa dipaksakan, sebab soal lidah adalah soal selera. Hanya saja bila ada kesempatan saya selalu menceritakan bagaimana sagu bisa berubah menjadi sumber karbohidrat yang punya cita rasa tinggi di tangan orang Palopo. Di daerah-daerah lain dalam kenyataannya, sagu menjadi sumber karbohidrat pada sebuah hidangan yang hanya bisa punya satu rasa, yaitu hambar. Akan lain cerita, jika orang Palopo menyulapnya menjadi ‘kapurung’ yang bisa punya variasi rasa dalam satu mangkok. Pedas, asin, asam, dan gurih dalam satu suapan. Dan jangan tanya kandungan gizi dari kuliner berbahan dasar sagu ini. Sebab dalam semagkok kapurung, berbagai kandungan nutrisi tersaji disitu. Jelas ada karbohidrat dari sagu itu sendiri, ada protein dari makanan laut yang sudah jadi takdirnya mendampingi kapurung, seperti ikan, udang, kerang, dan sejenisnya. Ada vitamin dan kalsium yang diambil dari sayur-sayuran yang juga adalah kesejatian dari sebuah hidangan kapurung, ada kacang, tomat, cabai, dan asam yang semuanya dari bahan alami yang memperkuat selera makan. Tenang saja, kapurung akan rusak rasanya bila ditambah dengan penyedap rasa. Menambah penyedap rasa bukanlah keahlian orang Palopo dalam membuat kapurung.

Palopo atau Tana Luwu sendiri dikenal dengan Tanah Empat Dimensi; gunung, lembah-rawa, sungai, dan laut. Maka tak heran, kapurung juga meyiratkan filosofi empat dimensi itu, terlihat dari bahan-bahan yang tersaji di hidangan kapurung itu. Sayuran dari gunung, sagu dari rawa, penguat rasa yang diambil tanaman yang tumbuh subur di sepanjang garis sungai, dan tidak terlupa sumber protein yang berasal dari hewan-hewan laut. Sehingga tidak salah lagi, kapurung juga memperlihatkan ketekunan dan keterampilan orang Palopo membuat kreasi olahan makanan laut.

Satu lagi, kapurung selalu menciptakan suasana akrab dan hangat, sebab sagu sendiri selalu disajikan dalam keadaan yang masih panas dan akan dimakan bersama-sama. Semangkok kapurung memperlihatkan filosofi kehidupan. Lihatlah, ada begitu rupa rasa kehidupan disitu. Apalagi kapurung dalam proses pembuatannya memerlukan skill dan cita rasa yang tinggi, keseriusan dan takaran terukur. Belum lagi potongan bulat kecil yang disebut ‘dui’ menyiratkan kesatuan dalam keragaman semangkok kapurung.

Dimana-mana, bila menyinggung sagu, maka akan saya lanjutkan bahwa bagi orang Palopo, sagu adalah bahan pokok yang tidak pernah lepas dari sebuah rumah orang Palopo. Dalam pengalaman pribadi saya sendiri, sebagai anak kampung di salah satu pelosok Luwu Utara, di atas meja makan seperti mutlak ada unsur sagu disitu. Tidak ada hari yang bisa terlewat dari keberadaan ‘dange’ di meja makan. Dange sendiri adalah olahan lain dari sagu, dipanggang dalam cetakan tanah liat, rasanya hambar tapi gurih. Lebih sering menjadi makanan utama dibanding menjadi pengganti nasi. Kadang juga dalam satu kali waktu makan, orang Palopo memakan dua-duanya. Nasi dan dange sama-sama mendampingi lauk pauk di menu makan.

Sagu dan orang Palopo memang adalah sebuah keniscayaan. Lihat saja dalam semua hajatan yang dilaksanakan oleh orang Palopo, sagu tidak pernah dilupakan. Sagu seperti bagian yang telah menyatu dalam diri orang Palopo, maka akan menjadi wajar bila semua logo pemerintah daerah kabupaten dan kota di Tana Luwu meletakkan pohon sagu di bagian pusatnya.

Sagu juga menjadi perekat temali silaturrahim bagi orang Palopo. Saat sagu telah telah masuk dalam pembicaraan makanan, maka leburlah lebih dahulu semua perbedaan latar belakang kehidupan sebelum dinikmati bersama. Sempurnalah sagu menjadi perekat Tana Luwu, perekat dan pelengkap nama orang Palopo.

Gambar; beritamks.com