Panggil Saya Om Daeng

7

Anak-anak di Kampung Bamana tidak terbiasa dengan sapaan kakak pada orang yang lebih tua. Tidak ada sapaan khusus untuk orang yang lebih tua itu. Yang paling sering digunakan adalah sapaan Om untuk orang asing atau pendatang. Sedangkan untuk orang lebih tua yang tinggal di dalam kampung maka tidak ada embel embel kakak atau sapaan khusus di depannya, melainkan langsung menyebut nama. Hal yang lazim terjadi di seluruh kampung di Indonesia, termasuk di tempat asal saya, di Sulawesi.

Sayapun datang sedikit mengambil waktu untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak, saya cermati dulu kebiasaan anak-anak kampung menyapa orang yang baru dilihatnya. Jika biasanya saya mengenalkan diri dengan sapaan abang atau kakak, tapi kali ini di kampung pedalaman Papua ini saya mau tak mau mematuhi kebiasaan anak-anak memanggil saya dengan sapaan Om. Lalu nama saya yang terdengar kearab-araban saya ujikan ke bibir anak-anak Papua ini ternyata mereka agak kesulitan mengeja nama saya dan terdengar tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Maka saya berinisiatif menyebut diri saya dengan sapaan Om Daeng. Cukup mudah untuk disebutkan. Kejadian ini hampir sama ketika saya bertugas di Sumentobol, di Kaltara sana ketika nama saya bergeser cukup jauh ketika dilafalkan oleh anak-anak. Saya kadang lucu dan tergelitik sendiri mendengar nama menjadi Bang Malok atau Bang Marus. Jadi ketika di Sumentobol itu saya pasrah saja mendengar nama saya diplesetkan secara tidak sengaja. Bahkan orang yang lebih tuapun tak luput memanggil saya dengan Bang Maruk.

Disini, di Kampung Bamana ini saya sedikit punya alternatif untuk tidak mengulang pemelesetan nama, saya juga oleh beberapa anak-anak yang ajar di sekolah dipanggil Bapak Guru. Namun lazimnya saya disapa Om saja. Itu sudah cukup memastikan bahwa yang disapa itu adalah saya.

Sapaan Om Daeng, tidak hanya dipakai oleh anak-anak tetapi juga oleh beberapa pace mace di kampung. Om Daeng seolah memberi garis tegas bahwa sukuisme atau primordialisme di kampung ini punya janin yang cukup kuat yang suatu saat bisa bertumbuh menjadi konflik sosial. Saya melihat potensi konflik primordialisme cukup besar, sebab sudah mulai dibicarakan oleh kalangan anak-anak atau remaja tanggung yang fubertas.

Orang-orang tua untuk maksud memudahakan identifikasi dan pemberian identitas pada seseorang diberi label asal atau sukunya atau apa saya yang berbau primordialisme. Ada orang yang tinggal di kampung puluhan tahun di panggil Pace Buton, ada pula yang dijuluki Pace Kei karena berasal dari Kei, ada juga yang mengerjakan pembangunan PLTS dipanggil Mas-Mas Jawa. Pemberian label asal atau suku itu menyiratkan asingnya perbedaan meskipun percobaan asimilasi ini telah berlangsung puluhan tahun.

Bapak Piara saya juga disini kerap dilabel Orang Bugis yang dipanggil Bapak Daeng. Tinggal di kampung ini nyaris dua puluh tahun, menyisakan banyak sekali kisah, apalagi terkait dengan intimidasi karena kondisi minoritas dari suku dan perbedaan lainnya. Beberapa kasus dan permasalahan seputar isu sara itu sudah terbiasa untuk dimaklumi. Saya bisa memahami hal-hal lumrah ini biasa terjadi dimana saja. Apalagi jika kaum pendatang atau perantau memperlihatkan kondisi signifikan dari segi kemapanan finansial dibanding dengan kaum asli atau penduduk lokal.

Sikap dan mental kaum minoritas memang terkadang bisa menjadi hal-hal sensitif yang sukar diterima warga asli dalam kampung. Keberadaan saya yang menampilkan perbedaan level kontras dari banyak sisi juga menimbulkan tantang tersendiri untuk menaklukan misi agitasi dan empowerment masyarakat sebagai bagian dari tugas utama seorang Patriot Energi. Bahwa tidak semua yang diomongkan orang pendatang rambut lurus seketika akan diterima dan dipercaya oleh masyarakat, namun malah akan menemui psicological barrier yang begitu tebal untuk ditembus. Rasa percaya diri dan memiliki wilayah yang dipeluk di dalam dada oleh orang asli Papua serta mentalnya bujukan dari kaum luar untuk melakukan perubahan membuat kehidupan berjalan lambat dan situasi alami tetap ingin dipertahankan sementara banyak hal termasuk perilaku atau pola konsumtif dan materialisme secara tidak sadar telah masuk dan jadi kebiasaan.

Beberapa orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan bukan membuat rendah hati dan mau menerima gempuran situasi untuk berbenah, malah masih sibuk dan ngotot mempertaruhkan primordialisme dan semakin mempertinggi rasa percaya diri. Kesempatan-kesempatan untuk memperbaiki diri terkadang juga dimanfaatkan secara individual oleh segelintir orang yang merasa memiliki pengetahuan. Disini letak batu pengganjal laju perubahan di pedalaman-pedalaman kampung.

Saat ini saya masih terus mengamati pola dan tingkah yang semoga ada celah yang bisa dimasuki untuk melakukan agitasi ke arah positif. Menjadi Patriot Energi dengan tugas empowerment di tanah Papua jelas bukanlah hal mudah. Tetapi saya masih punya waktu untuk menyelami situasi ini dan tetap optimis dalam ikhtiar. Tunggu cerita saya selanjutnya. Mari terus mengabarkan!

 

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: