Mengejar Ikan di Jaman Digital

mengejar-ikan-digital

Nelayan di Kampung Bamana pernah menggerutu karena hasil pancing mereka menurun drastis setelah kedatangan tim pemancing salah satu televisi swasta nasional. Nelayan di Kampung Bamana adalah nelayan tradisional dengan alat tangkap sederhana yang hanya berupa beberapa jenis pancing dan menggunakan perahu longboat. Para nelayan tidak hanya sekali dua kali mendapatkan hasil tangkapan yang nihil, sementara mereka juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membeli bahan bakar. Kampung Bamana sendiri adalah salah satu kampung pedalaman di Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat. Kampung Bamana, saya sebut pedalaman karena begitu sulit diakses dari pusat kota, Kaimana. Juga disana tidak ada jaringan telekomunikasi sedikitpun. Bahkan di pusat distrikpun kondisinya tidak jauh berbeda dengan Kampung Bamana. Tak ada transportasi reguler, tak ada sinyal telefon sama sekali dan tak ada listrik negara.

Tim pemancing dari salah satu stasiun televisi nasional itu sudah beberapa kali berkunjung dan menayangkannya di televisi. Nelayan menganggap ikan-ikan di wilayah pancingan mereka dibuat ‘cerdas’ oleh tim pemancing tersebut sebab menggunakan umpan bukan ikan, melainkan bahan sintetis yang dibuat menyerupai ikan kecil atau udang yang diyakini lebih menarik perhatian ikan-ikan target memancing. Sehingga para nelayan menjadikannya alasan kenapa ikan begitu sulit didapatkan dan kadangkala harus bertaruh dengan bahan bakar mengejar ikan hingga jauh dari kampung.

Saya dengar baik-baik gerutu para nelayan tersebut dan menimpali dengan mencoba menjabarkan sisi positif kedatangan tim pemancing dari televisi nasional tersebut. Kebetulan saya pernah menonton tayangan tim pemancing yang dimaksud. Dan saya lihat, kedatangan tim pemancing tersebut hanya melibatkan beberapa orang nelayan lokal saja. Nelayan-nelayan yang menggerutu adalah nelayan yang hanya mendengar selintingan informasi parsial tentang aktivitas pemancing dari televisi tersebut, dan sangat mungkin tidak menonton liputan di televisi. Sebab televisi di kampung hanya ada beberapa saja yang menyala, itupun di waktu malam hari saja. Padahal, dalam tayangan acara memancing tersebut diperlihatkan alat elektronik yang diberi nama fishfinder digunakan untuk melihat struktur, kedalaman, dan keberadaan ikan-ikan di dasar laut. Alat elektronik itu juga diserta dengan GPS (Global Positioning System) yang sebenarnya bisa membantu nelayan di kemudian hari.

Lalu saya katakan bahwa nelayan di kampung memang perlu sedikit sentuhan modernisasi dengan cara mereka memancing. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi juga perlu dipelajari secara seksama. Saya ceritakan bagaimana nelayan di kampung saya sendiri, di pelosok Sulawesi Selatan, memanfaatkan teknologi GPS untuk mengindetikasi keberadaan rumpon atau sarang ikan yang mereka pasang. Jelas, dengan begitu akan membuat nelayan lebih efektif dan efisien dalam banyak hal, termasuk waktu dan biaya operasional.

Pada satu kesempatan lain, saya ke pusat kota Kaimana yang sudah menggunakan jaringan 4G Telkomsel, lalu saya mengakses begitu banyak informasi yang akan saya gunakan setidaknya untuk sedikit membantu nelayan mengatasi kesulitannya. Alat elektronik berteknologi canggih yang diperlihatkan di dalam tayangan memancing untuk mengindetifikasi ikan masih terlalu mahal bagi nelayan, tetapi tidak berarti digitalisasi bagi nelayan tidak boleh mereka ketahui. Alat GPS yang tak kalah pentingnya juga belum mampu dibeli oleh nelayan di Kampung Bamana. Oleh karena itu, saya mengunduh peta sekitaran Kampung Bamana, yang saya duga menjadi area atau spot-spot memancing para nelayan. Gunanya memang hanya sebatas memberi gambar pasti tentang suatu posisi tertentu. Sebab seringkali sesama nelayan saling adu pendapat dalam memastikan suatu titik atau posisi manakala pada suatu saat mereka mendapatkan ikan yang banyak.

Nelayan menganggap bahwa ikan-ikan itu menetap pada suatu spot. Sehingga ketika berangkat memancing, para nelayan sudah memiliki tujuan spot yang juga seringkali meleset posisinya, sebab hanya mengandalkan firasat saja. Mungkin akan lain ceritanya jika mereka menggunakan GPS untuk menentukan posisi secara akurat atau alat digital fishfinder yang bisa lebih jitu mencitrakan pola dan sebaran ikan di bawah laut.

Itulah kisah nelayan di pedalaman Papua mengejar ikan di jaman digital, yang sebenarnya juga menginginkan digitalisasi di tengah kesempitan dan keterbatasan. Bahwa nelayan di pedalaman Papua juga berhak memahami dan memakai teknologi di tengah #IndonesiaMakinDigital.

Gambar dari dokumentasi pribadi

 

Advertisements

2 Responses to “Mengejar Ikan di Jaman Digital”

  1. waah.. ada ya teknologi semacam itu. hehe.. 😀 baru tahu.
    mungkin perlu diadakan pelatihan untuk nelayan bisa memanfaatkan aplikasi ini juga. 🙂

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: