Mencermati Makian Orang Timur

mencermati-makian-orang-timur

Hal yang paling terasa berbeda berada di bagian timur Indonesia ini adalah saat mendengar nada bicara yang lebih tinggi dari orang Indonesia lainnya, apalagi ditambah dengan caci maki yang seperti bahasa pelengkap pada tiap kata yang keluar dari mulut. Tidak mengenal usia, makian itu bisa dari mulut seorang bocah yang baru mengenal bicara atau orang tua ompong yang sudah terbata mengeja kata.

Telinga-telinga juga seolah biasa saja dengan umpatan dan makian kasar yang terdengar dimana-mana. Saya bergaul dengan beberapa bocah yang duduk di sekolah dasar, ketika bicara kepada teman-temannya rasanya ada yang kurang lengkap ketika tidak ada tambahan makian di tiap kalimat yang dikeluarkannya. Bagi saya, itu sungguh kurang ajar dan sebagai guru bantu di sekolah saya belum punya kekuatan dan posisi berpijak untuk sekadar menghentikan atau mengurangi anak-anak berbahasa kasar.

Akarnya tidak perlu jauh digali, orang tua di rumah punya pengaruh besar dengan menanamkan ke dalam bawah sadar anak-anak untuk melengkapi kalimatnya dengan makian. Orang tua tidak segan membentak anak ditambah makian. Lama-lama anak-anak juga menjadi kebal dan seolah tutup telinga dengan makian kasar. Tidak perlu tersinggung ketika ada yang memaki, makian itu  sudah jadi pelengkap obrolan.

Di sekolah saya mengampuh kelas satu dan dua yang digabungkan dalam satu ruangan. Beberapa kali anak-anak itu bicara dengan nada tinggi sekali kepada saya, beberapa kawannya merespon dan membela saya sebagai gurunya dalam kelas dan hampir saja menampar siswa yang berbicara keras itu. Saya panggil anak itu ke atas dan saya ingatkan baik-baik untuk tidak lagi mengulangi caranya berbicara seperti itu kepada saya. Itu baru permulaan, atau seperti sebuah perkenalan lingkungan sekolah ala orang timur.

Besoknya, saya masuk kelas membawa rotan sebagai aksesoris guru yang semua guru di sekolah juga membawanya. Guru sini bilang bahwa anak-anak musti sedikit diberi kekerasan fisik dalam proses pendidikannya. Lingkungan rumah dan keinginan tinggi di sekolah punya jurang yang sangat lebar. Itulah yang membuat betapa sulitnya mengubah kebiasaan berbicara anak-anak tanpa makian. Juga, anak-anak dalam pergaulan sosial di luar sekolah memiliki jam yang lebih panjang ketimbang waktunya di sekolah. Di sekolah, anak-anak maksimal berinteraksi dengan guru selama tiga jam setengah. Sekolah dimulai pada pukul delapan pagi dan beristirahat pada pukul 9 lewat hingga pukul 10. Untuk siswa kelas satu dan dua, akan pulang pada pukul 11, sedangkan siswa lainnya akan pulang pada pukul 12 lewat 15 menit. Kurangnya jam interaksi dengan guru-guru setidaknya turut menyumbang faktor kasarnya anak-anak berbicara dan bersosialisasi. Apalagi lingkungan rumah tidak terkontrol dengan baik oleh orang tua, juga pun beberapa orang tua tidak punya peduli untuk hal-hal keterampilan dan kesopanan berbicara pada anak-anaknya. Tidak peduli bagaimana tajamnya mulut dan kasarnya bahasa yang digunakan anak-anaknya. Anak-anak di kampung akan tumbuh menjadi dewasa seiring waktu, menggantikan orang tua dan hidup berjalan begitu saja.

Belum lagi kebiasaan mengomongkan keburukan orang lain juga adalah hal lumrah di kampung-kampung. Tidak hanya terjadi di bagian timur atau Papua saja. Tetapi disini, membicarakan keburukan orang lain disertai makian itu aromanya beda. Saya beberapa kali secara tidak sengaja terlibat mendengarkan orang-orang kampung asyik masyuk membicarakan kekurangan orang lain yang saya kenal. Hati saya mendidih mendengarnya, tapi tidak bisa bikin apa-apa kecuali tunduk dan ikut senyum saja kalau ada hal yang bisa mengundang tawa.

Mendengar orang mengomongkan orang lain itu bikin saya jadi gelisah juga dan bukan tidak mungkin suatu saat nama sayalah yang akan dibicarakan, dimaki-maki sekenanya. Sebab beberapa orang merasa tidak kerasan tinggal di kampung karena alasan tidak tahan mendengar orang kampung saling bicara dan memaki seolah tanpa batas. Bidan Pustu baru saja meninggalkan kampung karena akumulasi perlakuan masyarakat sekitar. Puncaknya ketika Pustu diserang secara fisik oleh orang mabuk, dan menghancurkan jendela kaca. Sebelumnya Bidan bercerita tidak kuat menghadapi cara orang kampung berkomunikasi menyampaikan sesuatu. Juga pernah mendengar fitnah kejam tentang dirinya.

Cara bertutur dan berbicara adalah masalah sosial besar di kampung ini. Pembenahannya tidak hanya bisa dilakukan pada anak-anak. Orang tua juga musti selalu diingatkan akan hal laten itu. Jika tidak, situasi sosial ini akan terus memburuk dan bisa jadi biang malapetaka dan konflik horizontal terus menerus.

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: