Ingin-Ingin yang Tinggi

ingin-ingin-tinggi

Sebenarnya catatan ini ingin sekali saya buat di hari lahir september lalu. Sebab, akhir-akhir ini beberapa kawan bilang saya makin kuat bikin refleksi. Jadi beban sendiri kalau ada momentum sekali setahun terlewat tanpa refleksi. Tapi apa ingin dikata, tidak selalu kita lakukan yang terbaik, kadang-kadang hanya yang ‘sempat’ saja yang bisa dikerjakan.

Saya ingat betul, di jaman sibuk berorganisasi di kampus, saya suka bilang refleksi dan proyeksi. Namun sejujurnya, semakin kesini, semakin refleksi bisa dengan sering saya lakukan. Tiap hari saya bikin sesuatu, ketika saya tau itu hal yang tidak baik (dosa) ketika itu juga saya sedang melakukan refleksi. Saat ini saya berusaha meresapi setiap ‘istighfar’ yang saya lisankan, yah untuk menjadi refleksi. Refleksi yang menghunjam ke dada, bukan hanya perulangan tanpa makna. Maka dari itu ada anjuran agama untuk beristighfar selepas sembahyang. Itu selepas ibadah loh, bukan selepas bikin dosa. Artinya, kita diminta rutin merefleksi diri lewat istighfar.

Lalu, dimana letak proyeksi? Saya dangkal soal etimologi bahasa. Tapi saya bisa mendalami terminologi kata, sedalam yang saya ketahui atau yang telah saya lalui. Refleksi dan proyeksi itu paket bagi saya. Hanya orang sombong yang tidak punya proyeksi dalam hidupnya. Untuk beberapa kasus bolehlah gunakan kata mutiara dari para pertapa untuk mengalir bagai air saja. Tapi untuk saya, proyeksi setelah kita melakukan sesuatu itu penting, proyeksi setelah refleksi.

Dalam kitab suci juga ada anjurannya untuk ‘melihat-lihat’ sesuatu yang telah dikerjakan dan tidak lupa tetap bekerja keras untuk melangkah ke urusan yang lain. Diantara dua sesuatu itulah, otak kita bekerja mengeja situasi melakukan proyeksi. Proyeksi itu bukan angan-angan terbang saja, tapi musti juga ingin-ingin yang realistis optimis. Tidak berarti, tidak boleh terbang tinggi. Justru disitulah letak proyeksi, ingin-ingin yang tinggi, yang dilangitkan lewat doa, dibumikan dengan usaha.

Saya selalu bilang di banyak catatan reflektif-proyektif saya, bahwa kata-kata yang telah saya sebar ke muka bumi lewat postingan-postingan di blog ini, itu tidak lain adalah salah satu cara untuk membuat kontrol eksternal terhadap langkah saya selanjutnya. Pun jika ada menganggap bahwa ada manfaat lewat kata-kata saya itu, berarti bonus dari ikhtiar saya yang berniat untuk menjadi lebih baik sepanjang usia.

Serupa dengan kali ini, kembali saya sounding ingin-ingin saya yang tinggi terhadap hidup saya ke depannya, jika Tuhan masih memberi nikmat nafaskepada saya. Sebab setahun ini saya tidak sekali mengucap apa keinginan saya di waktu yang kelak.  Bahwa saya bilang, saya ingin terlibat dalam pembangunan atau pendirian sebuah pesantren. Saya ingin, nama saya tercatat oleh malaikat sebagai manusia pendiri tempat ibadah, tempat anak manusia menimbah ilmu, terlebih ilmu agama.

Sebab itulah, dalam masih garis yang sama, sebelum ingin itu dinyatakan Tuhan, saya ingin belajar dahulu menjadi santri, merasai kondisi dalam pondok yang beorientasi ilmu dan ibadah. Berguru pada kiyai secara langsung. Mendaras Alquran dan kitab-kitab fondasi mental dan wawasan keagamaan. Mengukuhkan tauhid dan aqidah. Mempertebal pengetahuan fiqih sebagai landasan gerak, dan mendalami seluruh ilmu penopang kehidupan manusia, selayaknya sebagai khalifah.

Salah satu hal yang sering saya adukan ke Tuhan adalah masa lalu saya yang tidak sempat menjadi santri. Itu hal yang cukup membuat saya menjelajahi takdir dan waktu-waktu lampau dalam pengandaian. Oleh karena pengandaian itu belum berakhir, saya tidak juga berhenti mengirim doa supaya diberi kemampuan untuk menuntut ilmu di pesantren. Bukankah memburu ilmu tidak pernah disekat oleh usia, bahkan agama berpesan melintasi jarak sekalipun di belahan dunia yang berbeda. Saya ingin punya ilmu  yang tinggi agar amal-amal tidak ditinggal jauh kaidahnya. Saya ingin taat dalam syariat dan kuat dalam hakikat. Saya ingin punya manfaat dalam hidup yang singkat ini. Saya ingin menjadi hamba yang shaleh ritual terlebih shaleh sosial. Saya ingin sebagai manusia setaatnya manusia.

Kaimana, 15 Oktober 2016
(42 hari setelah hari lahir saya)

Advertisements

One Response to “Ingin-Ingin yang Tinggi”

  1. […] Sumber: Ingin-Ingin yang Tinggi […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: